"Hi, Señorita!" Nero tersenyum miring seraya mengacungkan senjata api tepat di kening Elle.
"Kau ingin membunuhku?!" Elle terisak ketakutan saat pria itu hendak menarik pelatuk senjata apinya. Sebentar lagi dia akan mati.
DOR!
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nero ingin melenyapkan wanita yang sangat dicintai.
Penasaran? Ikuti terus kisahnya. Dan jangan lupa, Follow IG Author @Thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ele tahu semuanya
Ele terpanjat kaget dengan aksi Nero. Ia membuka mata, menatap Nero yang sedang asyik memainkan gunung kembarnya.
"Nero ... Apa yang kau lakukan?"
Pluk!
Nero melepaskan pucuk gunung itu, lalu menatap Ele tanpa merasa bersalah karena sudah menganggu waktu istirahat gadis itu. "Menurutmu?" Suaranya terdengar datar seperti biasanya.
Ele memutar kedua matanya dengan malas, mendengar jawaban pria itu. "Berhentilah menjadi bayi besar, astaga!" kesalnya lalu memukul pelan dada bidang itu.
"Kenapa aku harus berhenti? Ini ... Ini, dan ini adalah milikku, jadi kau tidak berhak melarangku!" balas Nero, menunjuk bibir, pipi, dan beberapa titik sensitif milik Ele.
"Kau gila!" umpat Ele kesal. Kepalanya masih pusing karena efek alkohol dan kurang istirahat karena ulah Nero.
"Anggap saja begitu," balas Nero dengan santainya, kemudian membuang selimut yang menutupi tubuh Ele ke sembarang arah, seketika itu tubuh naked Ele yang sexy dan mulus tanpa cela terpampang sempurna di depan mata, membuat gairah Nero kembali memuncak, kemudian mengungkung gadis itu dengan cepat.
"K-kau mau apa?" Ele tak bisa menghindar kala kedua tangannya di genggam di atas kepala. "Nero, sialan! Aku lelah!"
"Aku tidak!" balas Nero, dengan pelan dan dalam. Tak berselang lama penyatuan itu kembali terjadi.
*
Beberapa hari kemudian. Hubungan Nero dan Ele kian membaik. Mereka terlihat seperti pasangan kekasih pada umumnya.
"Apa dia sudah tumbuh di sini?" tanya Nero seraya mengusap perut rata Ele dengan lembut.
"Belum."
"Kenapa belum?"
"Karena belum waktunya. Kita bercinta baru beberapa hari yang lalu, ingat itu!" jawab Ele seraya balik badan, menatap Nero yang kini menyeringai mesum, membuat bulu kuduknya seketika berdiri.
"Padahal aku sudah bekerja keras. Seharusnya waktu seminggu sudah cukup untuk membuatnya hadir di sini," kata Nero lagi diiringi dengan decakan kesal.
Ele memutar kedua matanya dengan malas mendengar ucapan pria itu.
"Sepertinya ini bertanda kalau aku harus lebih giat lagi," lanjut Nero, kembali menyeringai mesum.
"Gila!" umpat Ele, jengkel. Tak menyangka pria dingin seperti Nero memiliki tingkat kemesuman luar biasa.
"U-hum, aku memang gila karenamu," jawab Nero lalu memeluk Ele dengan erat. "Bagaimana kalau kita menikah?"
Ele menggeleng, "aku takut jika kita menikah kau akan meninggalkan aku seperti dulu." Ia masih trauma dengan masa itu. Masa di mana Nero tiba-tiba memutuskan pertunangan dan meninggalkannya begitu saja. Bahkan saat ia pindah ke Barcelona, pria itu tak pernah sekalipun mencarinya.
"Itu tidak akan pernah terjadi," jawab Nero, merasa bersalah. Ternyata tindakannya di masa lalu melukai hati Ele begitu dalam.
"Kau yakin?" Ele mendongak menatap Nero dengan lekat.
Nero mengangguk yakin, "justru aku yang takut kalau suatu saat kau akan meninggalkan aku jika kau tahu siapa aku sebenarnya." Ucapan Nero membuat Ele terdiam sejenak. Ingatannya berputar pada peristiwa enam tahun yang lalu di mana Nero sedang adu tembak dengan sekelompok mafia yang ingin membunuhnya. Dari kejadian itu ia mencari tahu informasi tentang Nero secara diam-diam. Bahkan ia tak segan meminta bantuan daddy-nya.
"Aku sudah tahu semuanya."
"Apa?!" Nero terkejut mendengar pengakuan gadis ini.
"Aku sudah tahu siapa kau sebenarnya." Ele mengulang ucapannya dengan penuh keyakinan.
"Bagaimana bisa?"
"Mencari informasi tentangmu adalah hal yang mudah bagiku!" balas Ele, meniru gaya bicara Nero.
Nero berdecih mendengar ucapan Ele. Ia meraih pinggang Ele, memeluk gadis itu seraya menatapnya lekat-lekat, "kau tidak takut padaku?" ia berbisik tepat di depan bibir Ele yang sudah jadi candunya.
Ele menggeleng, "bahkan Daddy-ku pernah menyiksa nenek tua hingga tewas, dan meledakkan kepala musuhnya."
Deg!
Coba nanti muntah lagi tidak si Nero ini.
Salahnya Elle, Nero untuk sementara tidak boleh ngopi atau ngeteh. Nero pinter - minum susu cap nyonya boleh.
heeeemmm pas banget kebetulan d larang ngopi dan ngeteh jd nya ya nyusu aj.. 😜