[CERITA INI MASIH DALAM TAHAP REVISI] Pear akan dikembalikan seperti versi wa**pad mulai dari status pernikahan tokoh utama dan juga agamanya, sesuai First Impression kalian di sana. Kalian bisa lihat aku baru revisi sampe mana sesuai judul-judul di part-nya ya (aku harap pada ngeh :') yang udah aku revisi judul babnya itu "Chapter ...(...)", kalo ga gitu artinya belum sampe sana ✌🏻 so, sorry kalo kalian baca ceritanya jadi ga konsisten.
***
"Kalo lo masih sayang sama Devan, terserah," ucap Rafa bergetar, seolah tak kuasa mengucapkannya, tapi jika pada kenyataannya Vallen ingin dengan Devan, ia bisa apa.
"LUPAIN JANJI LO SAMA BUNDA! Berduaan lagi sana, lakuin hal MENJIJIKAN yang udah biasa lo pada lakuin!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Vanila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 (3)
Di kelas tidak ada yang mengajukan diri, tapi bukan berarti mereka sepi. Bu Anggi bahkan celingukan ke sana kemari saking riuhnya kelas. Banyak dari mereka yang berpendapat untuk meneruskan saja organisasi tahun kemarin, ok dan kemarinnya lagi.
"Yang lain tidak mau mencoba jadi pengurus kelas?" tanya Bu Anggi.
Oh nggak, makasih Bu. Ngurus diri sendiri aja repot.
Bu saya boleh sih jadi bendahara ....
Jangan! Uangnya kekumpul ... dia auto pindah sekolah!
Kacau kacau
Gue nyalonin deh jadi sekertaris!
Anj*r tulisan lo aja udah kayak rumput bergoyang gitu!
Dan masih banyak lagi perdebatan yang meramaikan kelas, hingga Bu Anggi mengetukkan tangan ke papan tulis. Semua pun diam.
"Acungkan tangan yang menjabat sebagai pengurus kelas tahun sebelumnya."
Kemudian mereka mengacung, Bu Anggi pun mengangguk menanggapi hal itu. "Apa ada yang keberatan untuk melanjutkan tugasnya?" Mereka yang ditanya saling berpandangan terlebih dahulu, tapi selanjutnya diam karena mereka juga berpikir, jika bukan mereka yang mengurus, bagaimana nasib kelas ini.
"Jadi intinya kalian mau diangkat kembali?"
"Iya, Bu ...," jawab mereka kompak.
"Baik, satu orang tolong ke depan, tuliskan jabatan beserta nama muridnya."
Seorang siswi yang duduk di paling depan mengambil spidol dan menulis di papan tulis, ia memanggil, "Ketua Kelas?" Ada yang mengacung, lalu siswi itu tulis namanya, begitu juga dengan jabatan lain.
Beberapa ada yang merutuk saat siswi itu menulis nama bendaharanya. Gawat, kata mereka dalam hati.
Tak lama sesi menulisnya pun selesai, didapat data sebagai berikut:
Ketua Kelas: Rafa
Wakil Ketua Kelas: Devan
Sekertaris: Bayu dan Nasya
Bendahara: Vallen dan Chela
...
Seksi Olahraga: Satria
...
Vallen memutar tubuhnya ke belakang. Lalu menatap Chela dengan mantap. "Semangat! Kita bisa!"
Chela mengangguk. "Harus bisa!" ucapnya di nada sedang karena tidak mau menjadi perhatian Bu Anggi, tapi suaranya cukup membuat gelora semangat Vallen makin berkobar.
"XII IPA 3 ...," Chela yang duduk di paling belakang menatap angkuh semua punggung temannya.
Vallen kembali menghadap ke depan seraya menyilangkan tangan. "Siapkan diri kalian untuk berhadapan dengan kami!"
Kejadian kelas 11 ....
Brakkkk!
"HARTA ATAU NYAWA?!
Dua pasang mata menatap tajam seorang korban. Tatapan mematikan yang bahkan membuat sang korban menurunkan bahunya. Tubuhnya bergetar hebat, bagaimana tidak, tadinya ia sedang membaca novel dengan santuy bahkan sesekali cekikikan, tapi tiba-tiba malapetaka datang.
Brak!
Chela kembali menggebrak meja dan Vallen melempar buku ke permukaan meja secara bersamaan.
"Empat bulan lo belum bayar!" Vallen berkata tegas.
Chela menyipitkan matanya. "Menurut lo ngisi spidol pake apaan? Oli bekas?"
"Minyak jelantah?"
"Air comberan?"
"Jawab! Gue tau lo lebih dari sekedar mampu buat bayar 3 ribu seminggu, susah amat sih!"
Dengan tangan bergetar, korban yang merupakan murid cowok berkacamata itu mengambil uang dan menyerahkannya. "Ke-kembaliannya buat bulan be-berikutnya aja."
Chela mengangguk sambil tersenyum. "Nice ...." Ia kemudian memberi uangnya pada Vallen agar langsung dicatat. Mata Chela pun melirik penghuni kelas yang lain, masih dengan tatapan kerasukan.
"N-n-ni-nih!" ucap salah satu bahkan banyak dari mereka seraya menyodorkan uangnya.
Chela menaikkan satu alis lantas menoleh pada Vallen, mereka mengangguk, bangga sendiri dengan kerja mereka.
"Tidak!!!!" teriak Satria yang menjadi salah satu orang yang begitu saja menyerahkan uang pada saat itu.
"Fa ..., mati kita Fa!" Satria mengadu pada Rafa yang malah tak berkutik sama sekali. "Rafaaa," teriak cowok itu sambil memasang wajah histeris karena dikacangi.
🍐 Bersambung ....
...✨ Jangan lupa vommentnya gaisss ☺️...
...Makasih ✨...
kan kasiaann.... padahal aku lebih Suka Devan dibanding Rafa.. Devan lebih besar cintanya ke vallen... hiks. hiks. hiks.