Dahlia seorang istri yang sangat dikecewakan suami yang sangat dicintainya. Namun Dahlia tetap memilih untuk bertahan mempertahankan rumah tangganya. Dahlia tidak mau seperti ibu dan kakaknya yang menyandang status janda juga. Dahlia pun lebih memilih melampiaskan kekecewaan dan rasa sakit hatinya dengan menjalin hubungan terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tujuh Belas
Pak Adnan sudah selesai makan siang bersama keluarga, dilanjutkan dengan shopping di Mall yang ada tidak jauh dari sana. Ada banyak yang dibeli oleh Melodi dan Richard.
"Pa, kita mau tinggal bersama papa tapi mama juga ikut."
Melodi merengek saat mereka akan memasuki mobil papanya.
"Kasihan mama kalau harus tinggal sendiri, mama kan udah biasa sama kita dari kecil. Nggak apa-apa, ya, mama tinggal sama kita?."
"Tinggallah."
"Bener, pa?."
"Iya, Mel."
Melodi langsung menelepon mamanya supaya langsung menuju rumah papanya, mereka akan tinggal bersama seperti keluarga yang utuh.
Pak Adnan sudah tiba di kantor setelah mengantar anak-anak dan mantan istrinya ke rumahnya. Dia juga nggak tahu rumah besar itu akan dihuni siapa lagi kalau bukan sama anak-anak. Beristri lagi pun sepertinya dia memiliki bayangan.
Dahlia masih sibuk dengan laporan yang harus diselesaikannya sore itu. Setelah selesai dia membawanya ke ruangan Pak Adnan.
"Oke, udah aku tanda tangan."
"Terima kasih, Pak."
Pak Adnan tidak merespon, dia kembali menatap layar monitor. Dahlia keluar dan meneruskan laporannya ke bagian yang berkepentingan.
Pak Adnan menahan langkah saat keluar dari lift, di lobi dia melihat Ryan yang turun dari mobil lalu membuka pintu mobil untuk Dahlia.
Setelah mobil Ryan pergi barulah Pak Adnan melanjutkan lagi langkahnya. Pak Adnan pulang ke rumah di mana sekarang sudah ada anak-anak dan mantan istrinya.
Vera menyambut kepulangan mantan suaminya.
"Aku udah siapkan air hangat kalau kamu mandi, ada teh hangat di meja kerja serta cemilan kalau kamu mau lanjut kerja."
"Terima kasih."
"Anak-anak udah tidur?."
"Belum, mereka masih main PS."
"Oke, aku ke kamar anak-anak aja dulu."
"Oke."
Sambil menahan napas, dia sudah menyiapkan semuanya tapi mantan suaminya tidak menghargainya. Tapi tenang saja, dia masih memiliki waktu untuk mengambil hati mantan suaminya lagi.
Cukil lama Pak Adnan berada di kamar anak-anaknya, cukup tenang berada di sana walau sangat berisik dengan suara teriakan keduanya yang terkadang sahut-sahutan atau bergantian.
Melodi yang lebih dulu keluar Richard, dia sudah mengantuk. Kemudian disusul oleh Pak Adnan, dia langsung masuk ke kamar lalu menguncinya. Sangat berbahaya jika dibiarkan begitu saja.
Malam di tempat lain, Ryan sedang sibuk membalas pesan dari seseorang yang terus memintanya untuk menemuinya karena ada hal penting yang harus disampaikan langsung pada Ryan.
Ryan melihat Dahlia yang sudah tidur membelakanginya. Dia pun mengendap, meriah jaket lalu keluar kamar.
"Mau ke mana malem-malem?."
"Aku mau ketemu Arfan di depan, ma."
"Kenapa kamu sangat rapi?."
"Menghindari angin malam, ma."
Mama pun mengangguk lalu Ryan keluar rumah.
Menemui Arfan hanya alasan Ryan saja, Sebenarnya dia menemui Liana di apartemennya.
"Ada apa memintaku ke sini?."
Kemudian Liana menujukkan alat tes kehamilan.
"Apa ini?."
Menatap Liana lalu mengambil alat tes kehamilan tersebut.
"Aku hamil anakmu, Ryan."
"Nggak mungkin!."
Ryan sangat menyangkal.
"Aku selalu pakai pengaman, kamu juga minum pil pencegah kehamilan. Kenapa kamu bisa hamil?."
"Beberapa kali aku nggak minum pilnya, siapa tahu pengaman kamu bocor jadi tetap anak di rahimku."
Ryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia lebih ke pusing dan merasa buntu jika sudah begini. Bukan ini yang diinginkannya. Bukan.
"Kamu tahu aku nggak ada deket laki-laki lain selain kamu, Susan sama Arfan tahu itu. Aku nggak ragu kalau anak ini anakmu."
"Oke, aku akan tanggung jawab."
Liana tersenyum.
"Hanya pada anaknya aja tapi nggak sama kamu, karena kita melakukannya atas dasar suka sama suka."
"Loh, kok gitu?. Ya, nggak bisa. Kamu harus tanggung jawab sama anak ini dan aku juga. Aku minta dinikahi! Tapi bukan nikah siri, aku mau tercatat secara agama dan negara. Aku rasa Dahlia nggak akan masalah."
"Nggak bisa, aku nggak bisa nikahi kamu meski Dahlia nggak mempermasalahkannya."
Lalu Liana mundur beberapa langkah dengan tatapan yang sangat intens pada Ryan.
"Nikahi aku atau aku akan bongkar rahasia kamu pada Dahlia?."
Liana pun masuk ke kamarnya.
Ryan menaruh bokongnya di atas sofa, pikirannya sangat kacau. Dahlia sudah kembali bersamanya namun ada masalah pelik yang sekarang dihadapinya, kehamilan Liana yang di luar dugaan.
*
Pagi-pagi Dahlia sudah melihat balok balik beberapa slip gaji yang baru diterimanya secara rapel. Dia tidak melihat ada potongan utang yang dipinjamnya. Dia pun baru ngeh karena selama ini tidak pernah mengecek saldo ATM.
Dahlia menunggu kedatangan Pak Adnan di depan lift. Yang ternyata pagi itu Pak Adnan datang bersama Vera. Dahlia pun mundur, mengurungkan niatnya bicara langsung dengan Pak Adnan.
Dahlia melihat kedekatan yang terjalin antara Pak Adnan dan Vera yang terlihat sangat intens.
Apa mereka akan kembali rujuk?.
Pikiran itu sangat mengganggu Dahlia sepanjang hari ini. Dia banyak gagal fokus dan harus mengulang lagi pekerjaannya. Untungnya bukan pekerjaan yang kerja dead line atau pekerjaan yang ada hubungannya dengan laporan untuk Pak Adnan atau yang lain. Kalau iya bisa berabe.
Sambil menunggu suaminya menjemput, Dahlia mencoba menghubungi Pak Adnan setelah tahu Vera sudah pulang lebih dulu.
Langsung tersambung dan mendapatkan respon Pak Adnan.
"Halo, Pak."
"Ada apa?."
"Pak Adnan di mana?."
"Aku di ruangan, ada apa? Katakan saja."
"Boleh aku menemui Pak Adnan?."
"Kita ketemu di dekat lobi aja, ada ruangan kosong sebelah lift."
"Baik, pa."
Dahlia dan Pak Adnan sudah bertemu berhadapan.
"Perusahaan nggak memotong utangku, Pak. Apa Pak Adnan yang melunasinya?."
"Iya, ternyata ada alasan mulia dibalik pinjaman itu. Jadi aku hanya ingin membantu."
"Makasih banyak, Pak."
"Sama-sama."
"Ya, udah, Pak, saya hanya mau bilang itu aja."
"Oke."
Dahlia yang hendak membuka pintu langsung terdorong ke balik pintu berdempetan dengan Pak Adnan saat ada seseorang yang masuk. Seorang security yang sedang mencari sesuatu.
Pak Adnan dan Dahlia sama-sama berbagi napas, wajah mereka sangat dekat dan tubuh mereka tanpa jarak. Menempel sempurna.
Di momen seperti ini, baik Pak Adnan dan Dahlia sama-sama menahan perasaan yang tiba-tiba muncul di hati. Kali ini Dahlia yang berani lebih dulu menyentuh wajah Pak Adnan. Jemari tangan Dahlia menari-nari di atas wajah yang terlihat sangat tegang. Efek dari sesuatu di bawah sana yang ikut menegang pula. Bibir Pak Adnan pun tidak luput dari jari-jari Dahlia yang terus bergerak halus.
Tangan Pak Adnan juga sudah melingkari pinggang Dahlia sambil mengelusnya lembut. Tangan satunya lagi bergerak naik menyentuh bibir Dahlia.
Dahlia jinjit berusaha menyatukan bibirnya dengan bibirnya Pak Adnan. Namun belum sempet menempel daun pintu sudah ditarik security lalu menutupnya rapat.
Dahlia dan Pak Adnan hanya tersenyum saling memegangi bibir masing-masing. Namun tubuh masih mereka saling menempel satu sama lain.
"Aku harus pulang, Pak."
"Aku juga, Ia."
Namun tubuh mereka masih enggan menjauh.