Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34
Dunia terasa berputar terbalik bagi Nabila. Bau bensin yang menyengat dan asap tipis yang keluar dari kap mobil yang terguling di pinggiran jalan Surabaya menjadi latar belakang kesadarannya yang mulai pulih.
Kepalanya berdenyut hebat, cairan hangat merembes dari pelipisnya. Namun, di tengah rasa sakit yang mendera, hanya satu hal yang ada di pikirannya - Kotak logam Hendri.
Tangannya meraba-raba di bawah jok yang hancur, mengabaikan perih akibat serpihan kaca yang menyayat jemarinya. Keheningan sesaat setelah benturan itu pecah oleh suara langkah kaki yang mendekat dengan terburu-buru di atas aspal.
"Cepat, ambil barangnya sebelum orang-orang berdatangan!" suara itu dingin dan sangat familiar. Itu adalah anak buah Dante.
Nabila memaksakan tubuhnya untuk merangkak keluar dari sisi pintu yang ringsek. Ia melihat bayangan dua pria tegap mendekat ke arah kaca depan yang hancur.
Dengan sisa tenaga dan paru-paru yang terasa sesak, ia berteriak minta tolong sekuat mungkin. Suaranya serak, namun cukup untuk menarik perhatian warga sekitar yang mulai berhamburan keluar dari rumah dan warung.
Para pengejar itu, melihat kerumunan massa yang mulai berkumpul dari kejauhan, terpaksa mengurungkan niat. Mereka meludah ke tanah, menatap Nabila dengan kebencian, lalu melarikan diri dengan mobil hitam yang tadi menabrak mereka. Nabila selamat secara fisik, namun ia tahu, pelarian ini hanyalah prolog dari sebuah eksekusi yang jauh lebih kejam di ibu kota.
Dua hari kemudian, Jakarta menyambut Nabila bukan dengan empati, melainkan dengan penghakiman masal. Dante, pengacara berdarah dingin yang disewa Siska, tidak membuang waktu. Baginya, hukum bukan hanya soal pasal, tapi soal siapa yang paling lihai mengendalikan narasi di layar ponsel jutaan orang.
Di kantor hukumnya yang berlantai marmer di kawasan SCBD, Dante duduk di depan jajaran monitor yang menampilkan grafik interaksi media sosial. Di sampingnya, seorang ahli strategi digital memantau pergerakan bot dan akun-akun influencer bayaran.
"Unggah semua foto dari Singapura sekarang," perintah Dante sambil menyesap cerutunya. "Gunakan sudut pandang yang membuat Arga terlihat seperti penguntit yang terobsesi. Dan jangan lupa, serang istrinya. Tambahkan narasi bahwa Nabila adalah 'enabler' - istri yang sengaja mencarikan mangsa untuk suaminya demi mengamankan posisi Direktur Utama. Buat publik merasa jijik setiap kali melihat wajah mereka."
Sore itu, internet meledak. Sebuah utas panjang di platform X dan unggahan video di TikTok menjadi viral. Isinya adalah rangkaian foto Arga di Singapura yang telah dimanipulasi secara digital. Foto Arga yang sedang menepis tangan Siska diedit sedemikian rupa sehingga seolah-olah Arga sedang mencoba meraba paksa tangan Siska.
Yang lebih parah adalah rekaman audio yang diklaim sebagai 'bukti otentik'. Suara Arga yang sedang memohon agar Siska berhenti mengganggunya dipotong-potong sehingga terdengar seperti bisikan mesum. "*Aku menginginkanmu... biarkan aku masuk ke kamarmu*..."
Tagar 'PredatorAirborne dan IstriTerlibat' memuncaki daftar trending topic hanya dalam hitungan jam.
Nabila mendarat di Jakarta dengan kondisi fisik yang mengenaskan. Luka di dahinya ditutupi perban putih yang sedikit ternoda darah kering. Ia mengira bisa pulang dengan tenang dan langsung menuju kantor polisi untuk menyerahkan rekaman Hendri.
Namun, begitu pintu kedatangan otomatis terbuka, kilatan lampu kamera flash langsung membutakan pandangannya.
"Ibu Nabila! Benarkah Anda membiarkan suami Anda melecehkan Ibu Siska demi kenaikan jabatan?" teriak seorang wartawan infotainment sambil menyodorkan mikrofon tepat ke wajahnya.
"Apakah luka di kepala Anda itu hasil pertengkaran dengan korban semalam?" tanya wartawan lain dengan nada menuduh.
Nabila terpaku. Ia melihat layar televisi besar di lobi bandara sedang menampilkan wajahnya dan wajah Arga dengan tulisan besar - **SKANDAL MORAL DI AIRBORNE GROUP**.
"Minggir! Beri saya jalan!" Nabila mencoba berteriak, namun suaranya tenggelam oleh desakan kerumunan yang semakin agresif. Beberapa orang dari masyarakat umum yang ada di sana bahkan mulai meneriakinya dengan kata-kata kasar. "Dasar wanita tidak punya harga diri! Membela suami cabul!"
Nabila hanya bisa menunduk dalam, air mata yang ia tahan sejak di Surabaya akhirnya jatuh juga. Ia memeluk tas ranselnya yang berisi kotak logam itu seerat mungkin. Fitnah Dante bergerak jauh lebih cepat daripada kebenaran yang baru saja ia jemput. Di era ini, vonis sosial lebih cepat jatuh daripada ketukan palu hakim.
Pelarian Nabila berlanjut hingga ke kediamannya. Namun, apa yang ia temukan di sana adalah puncak dari kekejaman Siska dan Dante. Di lobi apartemen mewahnya, koper-koper miliknya sudah teronggok di atas lantai marmer yang dingin, dijaga oleh dua orang petugas keamanan yang menatapnya dengan pandangan menghina.
"Maaf, Ibu Nabila. Manajemen telah menerima surat keberatan dari perwakilan penghuni," ucap manajer gedung tanpa sedikit pun rasa simpati. "Keberadaan Anda di sini dianggap mencemari reputasi hunian kami. Berdasarkan klausul ketertiban umum dalam kontrak, kami terpaksa memutus sewa Anda secara sepihak. Silakan ambil barang-barang Anda dan tinggalkan area ini dalam satu jam."
Nabila tertawa getir, sebuah tawa yang penuh dengan keputusasaan. "Hanya karena rumor internet? Kalian mengusir saya padahal kasus ini belum disidangkan?"
"Rumor atau bukan, publik sudah memutuskan, Bu. Kami tidak ingin ada demonstrasi di depan lobi kami," jawab manajer itu dingin.
Malam itu, di bawah guyuran hujan yang seolah meratapi nasibnya, Nabila harus mengangkut koper-kopernya ke dalam sebuah mobil bak terbuka yang ia sewa darurat. Ia tidak memiliki tempat tujuan.
Firma hukumnya telah mengirimkan pesan singkat bahwa ia dinonaktifkan sementara demi menjaga nama baik kantor. Teman-temannya? Ponselnya sunyi, seolah-olah ia telah menjadi hantu yang dihindari semua orang.
Nabila akhirnya berakhir di sebuah kontrakan sempit di gang terpencil daerah pinggiran kota. Sebuah ruangan lembap dengan satu lampu neon yang berkedip redup. Ia duduk di atas lantai semen, menatap kotak logam Hendri yang kini menjadi satu-satunya alasannya untuk tetap bernapas.
Keesokan paginya, dengan sisa keberanian yang ada, Nabila mendatangi Mapolres. Ia harus memakai masker dan topi lebar untuk menghindari amukan massa yang kabarnya sering berjaga di depan kantor polisi untuk menghujat Arga.
Saat Arga dibawa keluar ke ruang besuk, Nabila hampir tidak mengenali suaminya. Arga tampak sangat kuyu, matanya cekung, dan ada memar baru di sudut bibirnya, tanda bahwa ia tidak diterima dengan baik oleh narapidana lain di dalam sel.
"Mas..." Nabila menempelkan tangannya di kaca pembatas.
Arga menatap perban di kepala Nabila dengan mata berkaca-kaca. "Nabila, hentikan semua ini. Pergilah dari Jakarta. Lihat apa yang mereka lakukan padamu! Kau terluka, kau terusir... aku tidak sanggup melihatmu hancur karenaku."
"Tidak, Mas. Aku sudah memegang rekamannya. Suara Siska yang mengancam Hendri lima tahun lalu ada di tanganku," bisik Nabila, mencoba memberikan harapan.
"Tapi media sudah memakan kita hidup-hidup, Nabila! Dante menyebarkan foto-foto editan itu. Bahkan polisi di sini menatapku seolah-olah aku adalah sampah!" Arga memukul meja dengan frustrasi.
Tiba-tiba, pintu ruang besuk terbuka. Dante masuk dengan langkah angkuh, memegang sebuah map berlogo emas. Ia memberikan isyarat pada petugas agar diberi waktu privat.
"Nyonya Mandala, tempat tinggal baru yang... sangat sederhana, bukan?" Dante mencibir sambil melirik pakaian Nabila yang kusut. "Saya di sini bukan untuk berdebat. Saya membawa penawaran terakhir dari Ibu Siska."
Dante meletakkan sebuah draf surat di atas meja. "Akui semua perbuatanmu, Arga. Katakan bahwa kau khilaf karena terobsesi pada Ibu Siska. Tanda tangani ini, dan Nabila akan mendapatkan kembali apartemennya, pekerjaannya, dan nama baiknya akan dipulihkan sebagai 'istri yang dikhianati'. Jika tidak..."
Dante mendekat ke arah Nabila, suaranya merendah menjadi ancaman yang nyata. "Rekaman dari Surabaya itu? Jika kau mencoba membawanya ke pengadilan, aku akan memastikan video 'pribadi' lain dari masa kuliah Arga beredar besok pagi. Kau tahu betapa lihainya tim saya dalam memanipulasi konten digital."
Nabila berdiri, menatap Dante dengan api amarah yang kini berkobar lebih besar daripada rasa takutnya. "Kau bisa memanipulasi layar ponsel semua orang, Dante. Tapi kau tidak bisa memanipulasi hati nurani Pak Roy selamanya. Sampaikan pada klienmu... aku sudah kehilangan rumah, aku sudah kehilangan pekerjaan. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk ditakuti. Aku akan melihat kalian berdua membusuk di pengadilan."
Dante tersenyum sinis, merapikan jasnya. "Kalau begitu, selamat menikmati malam-malam dingin di gang sempitmu, Nyonya Pengacara. Perang yang sesungguhnya bahkan belum dimulai."
Nabila berdiri tegak di tengah kehancurannya, sementara Arga menatapnya dengan rasa haru dan ngeri. Mereka kini benar-benar sendirian melawan dunia yang telah dibutakan oleh fitnah digital Siska.
...----------------...
Next Episode....
Pengen nonjok mulutnya Siska sampai bonyok Gedeg banget melihat tingkah laku manusia satu ni ..memaksa kemauannya sendiri yg kelewat batas wajar 😤😏
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰