Lanjutan dari novel "Nikah Paksa Jadi Cinta"
Yang belum baca musim pertama bisa baca dulu ya, hehe...
.
.
Karena sebuah perjodohan yang diatur oleh orang tuanya membuat Diandra harus kabur dari rumah.
Diandra tak ingin dikekang. Ia ingin bebas menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Kevin Andrea Geraldy. Seorang pria yang ia ketahui adalah mantan dari sahabatnya sendiri. Hidupnya berubah dan benih cinta antara keduanya mulai tumbuh.
Namun, disisi lain Diandra tidak ingin menyakiti sahabatnya sendiri. Apa yang akan Diandra lakukan?
Simak yuk ceritanya🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iLmaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19
"Pagi Bunda.. Pagi Papa.." sapa Diandra sambil mencium pipi mereka bergantian. Lalu duduk di kursi depan kedua orang tuanya.
"Sayang, ini makanlah," ucap Jiana sambil memberikan roti yang telah ia olesi dengan selai. Diandra tersenyum dan segera memakannya.
"Bagaimana persiapanmu sejauh ini?" tanya Raka.
"Papa tenang saja. Diandra pasti bisa kok," jawab Diandra. Raka tersenyum. Memang, keteguhan dan kepercayaan diri Diandra patut diapresiasi.
"Pa, Bunda... Diandra berangkat dulu ya," pamit Diandra setelah meneguk minumannya dan menghabiskan sarapannya.
"Hati-hati sayang," ucap Jiana. Diandra mengangguk.
Selepas kepergian Diandra, Raka juga bersiap untuk ke kantornya. Sedangkan Jiana membereskan peralatan yang mereka gunakan untuk makan tadi.
"Sayang, mas berangkat dulu ya." Raka menatap Jiana yang masih berdiri di dapur sambil mencuci piring. Jiana menghentikan aktivitasnya. Ia segera mencuci tangannya lalu menghampiri suaminya.
"Hati-hati mas," ucap Jiana sambil mencium punggung tangan Raka. Raka mendekatkan diri dan mencium kening istrinya dengan lembut. Lalu segera melangkahkan kakinya menuju mobilnya.
*
Hari ini Diandra tak sesibuk hari-hari yang lalu. Semua berkas dan persiapannya telah selesai. Tinggal menunggu esok dan ia akan membuktikan kepada Ayahnya jika Diandra mampu menyelesaikan tugas yang Ayahnya berikan.
Diandra menyuruh Jean dan John untuk ke kantor lebih dulu. Sedangkan ia ingin menemui Kanaya sebentar. Hari ini Kanaya sedang libur kerja. Dan memang mereka sudah lama tidak bertemu satu sama lain karena kesibukan mereka.
Diandra menuju kafe tempat favoritnya dengan Kanaya. Ia memilih mengendarai taksi daripada diantar oleh John. Karena Diandra akan lebih leluasa untuk berada di luar sana tanpa memikirkan John akan melaporkannya kepada Ayahnya.
"Nay, sudah lama?" Diandra langsung duduk begitu ia sampai di meja yang dipesan Kanaya.
"Baru saja. Kamu apa kabar? Masih bekerja di kantor Kevin?" tanya Kanaya penasaran. Diandra menggeleng pelan. Ia sudah resign dari sana beberapa minggu yang lalu. Dan sejak saat itu, setiap kali tanpa sengaja bertemu dengan Kevin, sikap Kevin padanya justru semakin dingin. Namun Diandra tak ambil pusing tentang masalah itu.
"Kenapa? Nay, jika kamu masih mencintainya, kenapa kamu tidak menerimanya kembali?" Diandra bertanya balik. Mungkin kesalahan di masa lalu mereka bisa diselesaikan dengan cara yang baik. Tak harus menyakiti dan memendam rasa cinta mereka.
"Kamu tidak tahu Di. Ibunya Kevin tidak pernah suka padaku. Mau berusaha seperti apapun, jika Ibunya tidak setuju aku bisa apa? Dan waktu itu aku melihat Kevin mesra sekali dengan perempuan lain. Aku takut Di... Aku takut kecewa lagi jika aku menerimanya kembali," tutur Diandra.
Diandra mengusap punggung tangan Kanaya dengan lembut. Ia bisa merasakan apa yang sahabatnya itu rasakan. Rasa sedih karena dikhianati seseorang yang benar-benar ia cintai.
Namun Diandra tak bisa berbuat banyak. Ia tak bisa selalu ikut campur dengan masalah Kanaya. Itu adalah urusan hati mereka. Tak bagus jika ia terus terseret dalam hubungan itu.
*
Pukul 11.00 siang.
Diandra baru keluar dari kafe tersebut setelah puas berbincang bersama Kanaya. Setidaknya Diandra bisa meringankan lelahnya selama hampir dua minggu ini.
Sebelum ke kantornya, Diandra menuju supermarket terdekat terlebih dahulu. Ia ingin membeli beberapa makanan ringan untuk ia bawa ke kantornya.
Setelah membayar barang yang ia beli, Diandra bergegas untuk memesan taksi. Diandra berjalan menepi. Namun, belum sampai ia berada di tepi jalan raya, Diandra tersandung oleh kaleng bekas dan membuatnya hampir terjatuh. Diandra sangat kesal. Apalagi banyak yang menatap dirinya dan menertawakannya meskipun hanya pelan. Diandra menendang kaleng bekas itu ke sembarang arah untuk melampiaskan kekesalannya. Ia malu dan kesal akibat kaleng tersebut.
"Aahh..." ucap seorang wanita. Ternyata kaleng yang Diandra tendang mengenai kaki wanita paruh baya itu. Diandra langsung membungkam mulutnya dengan tangan kanannya. Ia menghampiri wanita itu untuk meminta maaf.
"Tante tidak apa-apa?" ucap Diandra panik.
"Aduh, maafkan saya Tante. Saya tidak sengaja," ucap Diandra meminta maaf.
"Tidak apa-apa." Wanita itu menatap Diandra. Ia terkejut kala melihat Diandra.
"Tante, mari saya antar ke rumah sakit. Betis Tante berdarah." Diandra menuntun wanita itu dan segera menghentikan taksi. Ia membawa wanita paruh baya tersebut menuju ke rumah sakit terdekat.
Di dalam taksi, wanita itu masih menatap Diandra. Sesekali juga tersenyum kala melihat Diandra begitu mengkhawatirkannya.
"Bukankah dia gadis yang menjadi sekretaris Kevin?" batin Ayudia. Ya, wanita paruh baya tersebut adalah Ayudia yang tak lain Ibu kandung Kevin.
*
"Lukanya tidak parah. Beberapa hari kedepan jangan kena air dulu ya Bu. Jika merasa nyeri atau sakit bisa langsung menghubungi dokter," tutur seorang dokter yang merawat Ayudia.
"Syukurlah. Terima kasih dok," balas Diandra.
Setelah menyelesaikan administrasi, Diandra mengantar Ayudia untuk pulang. Diandra masih merasa bersalah. Ia harus memastikan Ayudia baik-baik saja.
"Terima kasih... Kamu gadis yang baik sekali," tutur Ayudia. Ia menyentuh pipi Diandra dengan lembut. Diandra hanya tersenyum. Ia membantu Ayudia untuk duduk di sofa ruang keluarga.
"Tante tinggal sendirian?" tanya Diandra yang melihat rumah itu begitu sepi.
"Iya," jawab Ayudia.
"Lalu anak dan suami Tante ke mana?" tanya Diandra penasaran.
"Suami Tante sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Sedangkan Tante hanya punya satu anak. Tetapi dia memilih untuk tinggal di luar," tutur Ayudia sedih. Tiba-tiba Diandra merasa kasihan.
Diandra tak lagi bertanya pada Ayudia. Ia merasa canggung karena mungkin telah membuka luka lama Ayudia yang ditinggal pergi oleh suaminya.
"Bu, Kevin dengar Ibu dari rumah sakit? Ibu sakit apa?" ucap Kevin yang tergesa-gesa untuk menemui Ibunya. Setelah mendapatkan kabar dari sopir pribadi Ibunya tadi, Kevin langsung menuju rumah sakit. Namun ternyata ia terlambat karena Ayudia sudah pulang.
"Kamu?" ucap Kevin dan Diandra secara bersamaan. Mereka saling menatap dengan tajam. Diandra berdiri dan menghampiri Kevin.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Diandra.
"Kalian sudah saling kenal? Vin, gadis ini yang membawa Ibu ke rumah sakit. Kamu jangan marah sama dia," tutur Ayudia. Padahal dari awal Ayudia sudah tahu jika Diandra adalah sekretaris Kevin.
Kevin menatap Diandra dengan lekat. Ia mendekatkan dirinya dengan Diandra.
"Apa yang kamu lakukan pada Ibuku?" tanya Kevin.
"Aku... Aku benar-benar tidak sengaja. Aku minta maaf," ucap Diandra merasa bersalah. Kevin menghela napasnya kasar. Dunia serasa sempit baginya. Setiap kali bertemu dengan Diandra.
"Vin dia tidak sengaja. Kamu jangan marahi dia." Ayudia membela Diandra. Kevin menatap Ibunya lalu duduk jongkok di depan Ibunya. Ia melihat betis Ayudia yang sakit. Hantaman yang mengenai betisnya cukup kuat. Sehingga tak sengaja melukai betis Ayudia.
"Sebenarnya ada apa Bu? Ibu membuat Kevin khawatir saja," tanya Kevin dengan lembut. Ayudia melirik Diandra sekilas. Ia tersenyum tipis.
"Tadi Ibu jatuh. Untungnya gadis ini segera membawa Ibu ke rumah sakit," balas Ayudia berbohong. Ia melakukan itu karena tidak ingin Diandra dan Kevin bertengkar.