NovelToon NovelToon
Pernikahan Panas Sang Aktor

Pernikahan Panas Sang Aktor

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:867
Nilai: 5
Nama Author: MissKay

Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.

Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konferensi Pers

Brian mendekatkan mikrofon, suaranya terdengar berat dan sangat tenang. "Terima kasih sudah hadir. Saya tidak akan membuang waktu kalian. Ada banyak spekulasi liar mengenai hubungan kami, dan hari ini, saya bersama istri saya, Arumi, akan meluruskan."

Ia berhenti sejenak, melirik Arumi dengan tatapan lembut sebelum kembali menatap tajam ke arah kamera. "Benar, kami telah resmi menikah. Saya tidak akan memungkiri bahwa pernikahan ini adalah wasiat dari almarhum kakak saya, Adrian. Namun..." Brian memberikan penekanan pada tiap katanya.

"Saya menikahi Arumi bukan semata-mata karena sebuah kewajiban tertulis. Saya menerimanya dengan tulus, dan saya mencintainya. Wasiat itu mungkin pembuka jalan, tapi keputusan untuk menjadikannya istri adalah pilihan sadar saya sendiri."

​"Bagaimana dengan Jessy?" suara melengking seorang wartawan memecah keheningan. "Banyak yang mengira Arumi adalah orang ketiga di antara kalian!"

Brian tersenyum tipis, sebuah senyum dingin yang mengintimidasi. "Hubungan saya dengan Jessy sudah berakhir secara baik-baik dua hari sebelum kakak saya meninggal. Jadi, tolong hentikan narasi rendah tentang istri saya. Arumi tidak merebut siapa pun dari siapa pun."

​Keriuhan kembali pecah, namun Brian segera mengangkat tangan, menuntut perhatian kembali untuk pengumuman yang paling ditunggu.

"Satu hal lagi. Mulai hari ini, saya menyatakan pensiun dini dari dunia akting. Saya akan meninggalkan layar kaca untuk fokus sepenuhnya pada keluarga saya dan memimpin Aditama Group sebagai pewaris kedua, melanjutkan tanggung jawab almarhum Adrian."

​Hela napas panjang terdengar dari bangku media. Bintang besar itu benar-benar akan meninggalkan industri yang membesarkannya.

"Kedepannya, saya hanya akan mengambil tawaran iklan dan model secara selektif. Selebihnya, saya sedang membangun agensi saya sendiri untuk membina talenta baru. Dan datanglah ke acara pesta pernikahan kami. Mulai sekarang, hidup saya adalah untuk keluarga dan masa depan Aditama Group. Terima kasih."

​Brian berdiri, masih tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Arumi. Ia membimbing istrinya berdiri dan menuntunnya keluar dari ruangan melalui pintu samping, meninggalkan kericuhan wartawan yang masih haus akan jawaban.

Brian menggenggam erat tangan Arumi hingga mereka keluar dari hotel. Hendra dan Frans tampak sigap mengawal langkah keduanya menuju mobil, sementara di belakang mereka, kilatan lampu kamera dari para wartawan tak henti-hentinya mengabadikan momen tersebut.

Mobil pun melaju, dikawal ketat oleh kendaraan para pengawal. Tujuan mereka satu, sebuah kawasan pemakaman elite, tempat Adrian beristirahat selamanya.

​Setibanya di sana, Brian dan Arumi turun perlahan. Tangan Brian melingkar di pinggang Arumi, sementara tangan lainnya membawa sebuket bunga segar. Langkah mereka terhenti tepat di depan pusara Adrian.

Angin sore berembus pelan diarea pemakaman yang sunyi. Brian melepaskan rangkulannya, melangkah mundur beberapa tindak untuk memberikan ruang privasi bagi Arumi. Ia membiarkan wanita itu menumpahkan segala kerinduan dan kata-kata yang tersisa untuk kakaknya.

​Arumi berlutut, meletakkan bunga di atas makam yang masih tampak terawat itu. Ia menyentuh dan mencium batu nisan Adrian dengan lembut, lalu berbisik lirih.

​"Hai, Adrian... kita bertemu lagi. Apa kamu bahagia di sana? Aku di sini bersama Brian, kami baru saja selesai melakukan jumpa pers," ucapnya dengan suara bergetar.

​Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Kamu tenang di sana, ya. Sekarang, aku bahagia bersama adikmu."

Sedangkan Brian yang memperhatikan Arumi dari belakang, Brian tertunduk. Ia memejamkan mata rapat-rapat membiarkan hatinya bicara pada sosok yang kini telah beristirahat di bawah tanah itu.

'Kak Adrian...' batin Brian pilu.

​Di tengah keheningan itu, rahang Brian mengeras. Sebuah sumpah terucap di dalam benaknya, lebih tajam dari sembilu.

​'Aku berjanji, Kak. Aku tidak akan membiarkan kematianmu sia-sia. Siapa pun orang yang sudah berkhianat dan meracuni mu itu, aku akan menyeretnya dan membawanya ke hadapanmu. Aku akan menangkapnya dengan tanganku sendiri.'

​Brian menarik napas panjang, menatap nisan Adrian sekali lagi sebelum pandangannya beralih ke Arumi. Tatapan matanya yang tadi tajam penuh dendam, seketika melunak saat melihat bahu Arumi yang bergetar kecil.

'​Dan Arumi... aku akan menjaganya melebihi nyawaku sendiri. Tidak akan kubiarkan satu orang pun menghinanya lagi. Kau bisa pegang janjiku. Kak.'

​Setelah merasa cukup, Brian mendekat. Ia menyentuh pundak Arumi dengan sangat lembut, seolah Arumi adalah porselen yang bisa pecah kapan saja.

​"Sayang, sudah sore. Kita harus kembali ke mansion sekarang?" ucapnya pelan.

​Arumi mengangguk lemah, menghapus sisa air mata di pipinya. Mereka pun melangkah meninggalkan area pemakaman, tanpa tahu bahwa di luar sana, sebuah rahasia besar mulai terkuak satu per satu.

...***...

Matahari tepat berada di atas kepala saat mereka tiba kembali di mansion. Sejak meninggalkan makam Adrian, Arumi hanya diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Brian pun tidak banyak bicara. Ia memahami bahwa wanita itu butuh waktu untuk menata hatinya.

Begitu memasuki lobi mansion, Brian menghentikan langkah. Ia menatap Arumi dengan tatapan lembut namun tegas.

"Kembalilah ke kamar dan istirahatlah, Arumi. Kamu butuh waktu untuk menenangkan diri," ucapnya pelan.

​Arumi hanya mengangguk lemah tanpa membantah, lalu melangkah menuju lantai atas.

​Setelah memastikan Arumi menghilang di balik pintu kamar, ekspresi Brian langsung berubah dingin. Ia berbalik arah menuju ruang kerja, diikuti oleh Hendra dan Frans yang sudah menunggu sejak tadi.

​Di dalam ruangan yang kedap suara itu. Hendra segera menyodorkan sebuah amplop cokelat. "Tuan, kami mendapatkan ini. Foto seseorang yang tertangkap kamera pengawas dua hari sebelum kematian Tuan Adrian terjadi."

​Brian menerima foto itu dan memperhatikannya dengan saksama. Perlahan, sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah smirk yang penuh arti. Sosok di foto itu bukanlah orang asing baginya.

​"Ternyata benar dugaanku," gumam Brian dengan suara rendah yang mengancam. "Aku sudah mencurigainya sejak lama."

Ia meletakkan foto itu di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya. Matanya berkilat tajam. "Tapi kita tidak boleh gegabah. Biarkan dia merasa menang untuk sementara waktu, sebelum aku menghancurkannya sekaligus."

Suara ketukan pintu yang tiba-tiba mengalihkan perhatian mereka. Frans melangkah untuk membuka pintu. Ia tampak sedikit terkejut, namum tetap mempertahankan wajah datarnya saat menatap gadis muda yang berdiri di depannya.

"Sorry, di mana Kak Brian?" tanya Dona tanpa dosa.

​Frans memiringkan badannya, memberi jalan sekaligus menunjukan keberadaan Brian yang masih duduk di kursi kebesarannya bersama Hendra. Keduanya kini sedang menatap Dona dengan tatapan menyelidik.

​"Ada apa?" tanya Brian datar sambil mengangkat sebelah alisnya.

​Dona menyembulkan kepalanya ke dalam ruangan dengan cengiran lebar. "Apa aku bisa meminjam mobilmu, Kak?"

​"Mau ke mana kau?" Brian balik bertanya, nadanya menginterogasi.

​"Aku mau main ke rumah teman, Kak," jawab Dona singkat.

​"Bawa pengawal," ucap Brian mutlak.

"Tapi..."

​"Atau tidak sama sekali," potong Brian dengan nada tegas yang tidak bisa dibantah.

​Dona berdecak sebal, namun ia tetap masuk dan menghampiri Brian. Ia memeluk dan mencium pipi kakak sepupunya itu. "Ok, thanks, Brother!"

​Dona berbalik untuk pergi. Namun, tepat saat melewati Frans, ia sengaja mencolek pipi pria kaku itu sebelum akhirnya lari terbirit-birit keluar ruangan.

​Seketika, Frans menatap kepergian gadis itu dengan raut wajah kesal sekaligus bingung. Hendra yang melihat itu hanya bisa tersenyum tertahan, sementara Brian memperhatikan Frans cukup lama dengan senyum tipis yang penuh arti.

1
Miss Kay
Hi, reader ku tercinta. Terima kasih sudah mengikuti, membaca, dan menyukai cerita ini. Dukung terus cerita ini ya, agar aku semangat update. Berikan like, masukkan ke perpustakaan kalian, dan jangan lupa vote nya. 🤭🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!