NovelToon NovelToon
Paper Plane Memories

Paper Plane Memories

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Bullying dan Balas Dendam / Ibu Tiri / Balas Dendam / Romantis
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: SellaAf.

Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SMA Galaksi

Sedangkan di SMA Galaksi

"LO CUMAN ANAK HARAM! LO ENGGAK PANTES SEKOLAH DISINI! " suara teriakan Siswi perempuan bernama Moana membuat semua penghuni kantin menoleh ke arahnya. Mereka bertanya-tanya apa yang terjadi sampai membuatnya berteriak seperti itu.

Kantin yang tadinya damai kini berubah tegang, semua penghuninya sangat penasaran dengan keributan yang terjadi siang ini.

"Lo budeg!!!" Moana menggebrak meja dengan kencang, ia geram karena gadis di depannya tidak sama sekali merespons, justru malah asyik mengunyah mie ayam tanpa menghiraukan kemarahannya.

Merasa terganggu, Siswi bernama Aera Jelita menaikkan sebelah alisnya, ia menatap Moana dengan tatapan malas.

"Sumpah ya, suara lo jelek banget," ucapnya jujur. "Lain kali latihan dulu sebelum berteriak, jangan sampe suara lo dikira kambing kejepit."

Siswa/i yang mendengar celetukan Aera berusaha menahan tawa, mereka sudah tidak asing dengan celetukan Aera yang kerap kali menggelitik perut.

Kesal karena di permalukan, Moana kembali menatap Aera, kali ini lebih tajam, cenderung mengintimidasi. "JAUHIN COWOK GUE! LO ENGGAK PANTES DEKETIN, DEVANTA! "

"Oh, lo ceweknya si es fanta?" Aera manggut-manggut, kini ia mengerti mengapa gadis dengan make-up tebalnya itu sangat marah padanya.

"Es fanta? " Moana semakin geram, ia tidak terima karena Aera memanggil Devanta dengan sebutan mengejek.

"Devanta Sahetapy, kan? Anak IPA 3, keturunan jepang, yang hobinya main futsal itu? Yang matanya sipit, punya tanda lahir di tangan kiri, ayahnya seorang pebisnis, CEO Makko grup. "

Moana dan siswa/i yang lain terkejut kaget mendengar penuturan Aera. Mereka bertanya-tanya mengapa gadis itu sangat hafal dengan letak tanda lahir pada tangan kirinya Devanta. Bukankah itu termasuk urusan pribadi? Mengapa Aera tahu semuanya?

Dada Moana naik turun, amarahnya mulai tidak bisa di kendalikan lagi. Kini ia semakin yakin bahwa Aera memang gadis murahan, tidak sebanding dengannya yang berasal dari keluarga baik-baik.

"DASAR ANAK HARAM! ENGGAK TAU DIRI! LO CUMAN AIB DI SEKOLAH INI, LO ENGGAK PANTES SEKOLAH DISINI. "

"Heh!" Aera berdiri, ia berkacak pinggang layaknya mandor yang tengah memarahi bawahannya. "Emang anak halal itu kaya gimana? Yang pake logo halal, gitu?"

Aera kesal bukan main karena kalimat itu terus yang dilontarkan oleh mereka yang membencinya. Padahal setahunya, setiap anak yang terlahir ke dunia dalam keadaan suci, tidak ada istilah anak haram atau halal.

"Lo emang anak haram!" ucap Moana, ia kembali mencaci gadis di depannya itu. "Nyokap lo aja gak tau siapa?" ia tersenyum mengejek sambil melipatkan kedua tangannya di depan dada.

"Nah ini, contoh muka dan otak enggak seimbang," balas Aera. "Di mana -mana yang namanya pembuahan itu di hasilkan dari perempuan dan laki-laki yang saling berhubungan. Gimana ceritanya gue nggak punya orang tua? Lo pikir gue bisa membelah diri?"

"Kalau gitu tunjukkan di mana Nyokap lo itu?" Moana menantang, ia yakin kali ini Aera kalah telak.

"Bukan enggak mau nunjukin, gue takutnya nyokap kita sama."

"Kurang ajar!" Moana mengangkat tangannya hendak menampar wajah Aera.

Namun sayang, alih-alih menampar, tangan Moana justru di cekal oleh Aera kemudian dipelintir ke belakang.

"ARGHHH, LEPASIN GUE!" Moana meringis kesakitan, tak menyangka tenaga gadis itu begitu kuat.

"Jangan sok keras! Lo sama aja kayak gue, kita sama-sama pendosa," ucap Aera penuh penekanan.

"Bedanya gue nggak munafik, nggak kaya lo yang sok suci."

Aera mendorong tubuh Moana agar menjauh darinya, kemudian menepuk tangannya berulang kali seolah tengah membersihkan kotoran yang menempel.

"Awas aja! Tunggu pembalasan dari gue." Moana pergi setelah memberikan ancaman, ia berjanji akan membalas perbuatan Aera yang sudah mempermalukannya.

Aera sendiri mengedikkan bahunya, tidak peduli dengan ancaman yang Moana ucapkan.

"Anak haram, anak haram kaya yakin aja duit bapaknya halal," gerutu Aera, ia masih saja kesal dengan ucapan tersebut.

Karena suasana hatinya membusuk, ia pun keluar dari kantin, niatnya ingin kembali ke kelas. Namun, baru beberapa langkah, matanya tidak sengaja melihat sosok tampan yang tengah berdiri di Ruang Mushola, tanpa menunggu lama, Aera melangkahkan kakinya, mendekat pada sosok itu.

"Jurusan hukum, semester enam. Assalamualaikum calon imam." Teriak Aera, ia menyapa dengan senyum sumringah.

Siswa laki-laki bernama  Devanta Sahetapy itu berjengit kaget, ia membalikkan badan sambil memegangi dadanya.

"Daun salam punya kinanti, Walaikumsalam mba kunti," balasnya tidak mau kalah.

"HEH! SEMBARANGAN YA ANDA!" Ia melotot, detik berikutnya tawa pun pecah.

Keduanya terbahak, menertawakan kebodohan masing-masing.

"Eh, by the way, anyway, busway, lo ngapain di sini? Lo enggak ada niatan buat nyolong kotak amal, kan?"

Devantra menyentil kening Aera, gadis itu memang suka asal bicara. "Gue habis ketemu sama pak Anwar. Lo sendiri dari mana?"

Mendapat pertanyaan itu seketika Aera teringat dengan kejadian di kantin tadi. Ia pun menceritakan nya pada Devanta dengan sangat menggebu, ia ingin tau kebenarannya.

"Emang bener lo pacaran sama Moana? Ko mau sih? Apa yang lo suka dari dia? Lo enggak liat mukanya full bedak? Kalau lu cium pipinya, pasti bibir lo penuh dengan foundation."

"Jangan percaya," ucap Devanta. "Gue sama dia enggak punya hubungan apa-apa."

"SERIUS?"

"Kalau gue pacaran sama dia, buat apa malam minggu kemarin gue ngajak lo jalan."

"Iya juga ya." Aera mengusap-usap dagunya.

"Tapi sayangnya di tolak, " lanjut Devanta, kali ini wajahnya menunjukkan kekecewaan.

Aera meringis, merasa tidak enak kepada pemuda itu. Padahal ajakannya tersebut sudah di bicarakan jauh-jauh hari dan ia menerimanya. Namun saat hari itu datang, ia justru menolak dengan alasan sedang sibuk membantu sang Oma dirumah.

Dan ya, alasan itu hanya akal-akalan saja!

Karena sebenarnya, malam minggu kemarin dia sedang mendapatkan musibah.

Udah dapet musibah di pukul pulak! Miris sekali nasibnya ini.

"Kan lo tau Alesan nya."

"Emang bener cewek kaya lo mau bantu beres-beres rumah?"

"Ya elah, jangankan beres-beres rumah, beresin hati yang berantakan juga bisa gue mah."

"Kalau gitu beresin hati abang dong, neng." Celetuk Ravindra—sahabat Devanta, yang baru saja datang.

Aera menoleh, kemudian melemparkan senyuman manisnya pada pemuda itu.

"Hati abang kenapa?"

"Hati abang berantakan nih."

"Wah, berarti sama dong kaya mukanya."

"Aera anjing!" Umpat Ravindra.

Tawa Aera pun pecah, ia segera menjauh setelah berhasil membuat pemuda itu kesal.

"Gemes, kan?" Devanta terus menatap punggung Aera, ia tidak bisa menahan senyumnya.

"Sayangnya ganjen, siapa aja di godain" ucap Ravindra.

Devanta tertawa. "Makanya kalau dekat Aera banyaki berdoa biar enggak baper."

"Udah kaya ketemu setan aja pake doa segala."

"Setan aja minder sama dia," ucap Devanta, yang di anggukki setuju oleh Ravindra.

Keduanya terbahak, menertawakan sikap Aera yang senang menggoda siapa aja. Namun anehnya, mereka tidak bener-bener berpikir Buruk tentang Aera, keduanya malah merasa terhibur.

1
SellaAf
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!