Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Mansion Paramitha - 30 Menit Kemudian
Begitu mobil berhenti di depan mansion, Anindita melompat turun dan berlari sekencang yang kakinya bisa.
"KAKEK! DITA PULANG!"
Suara cempreng itu menggema di seluruh mansion.
Dari dalam rumah, Darma Paramitha berlari—BERLARI—sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sejak bertahun-tahun karena usianya. Tapi saat ini, dia tidak peduli dengan lutut tuanya yang sakit atau nafasnya yang tersengal.
Cucunya pulang. Cucunya selamat.
"DITA!"
Darma berlutut tepat saat Anindita melompat ke pelukannya, menangkap gadis kecil itu dan memeluknya dengan sangat erat—begitu erat sampai Anindita sedikit kesulitan bernafas.
"Cucuku... cucuku..." Darma berbisik berulang-ulang, air matanya jatuh membasahi rambut Anindita. "Kamu dari mana? Kenapa tidak memberitahu siapapun kalau kamu pergi? Kakek sangat mencemaskanmu. Jantung Kakek hampir berhenti berdetak karena tidak melihatmu..."
Suaranya pecah, tubuhnya gemetar—reaksi dari ketakutan yang sudah dia pendam selama berjam-jam.
"Maaf, Kakek," Anindita memeluk leher kakeknya erat. "Dita tidak tahu Kakek akan khawatir. Dita cuma main sama Kak Zaverio. Kak Zaverio bawa Dita jalan-jalan ke tempat yang bagus!"
Wajahnya berbinar dengan excitement yang genuine. "Kak Zaverio kasih Dita kamar dengan foto-foto Mama dan Papa! Dita bisa ngobrol sama mereka, Kek! Dita bisa cerita tentang sekolah, tentang nilai bagus Dita, semuanya!"
Darma membeku. Foto-foto? Tempat khusus? Zaverio melakukan itu semua untuk Anindita?
Dia mengangkat kepalanya, menatap ke arah pintu mansion di mana Zaverio baru saja masuk—diapit oleh bodyguard, wajahnya tenang tapi mata hijaunya waspada.
Mata Darma dan Zaverio bertemu.
Dan untuk sejenak, Darma melihat sesuatu di mata anak berusia 11 tahun itu—sesuatu yang tidak seharusnya ada di mata anak-anak.
Ketakutan. Keputusasaan. Determinasi untuk melindungi dengan segala cara.
Sama seperti yang Darma rasakan saat kehilangan istrinya.
"Dita sayang," kata Darma lembut, menurunkan cucunya dan mengusap rambutnya. "Cucu Kakek. Kamu pergi bermain dengan Vyan dulu ya. Ada yang harus Kakek urus."
"Apa Kak Zaverio juga main sama kami, Kek?" tanya Anindita dengan harapan.
Sebelum Darma bisa menjawab, Zaverio melangkah maju. "Dita, Kakak harus bicara dengan Kakek Darma dulu. Nanti Kakak menyusul kalian, bagaimana?"
Anindita mengangguk, walau wajahnya sedikit kecewa. "Oke, Kak. Jangan lama-lama ya!"
Dia menarik tangan Vyan yang dari tadi berdiri diam di samping ayahnya. "Ayo main, Vyan!"
Vyan mengikuti Anindita, tapi matanya melirik ke belakang—menatap Zaverio dengan tatapan yang sulit dibaca. Ada rasa terima kasih di sana, tapi juga kecurigaan.
Setelah Anindita dan Vyan pergi—diikuti oleh lima bodyguard yang tidak akan lepas dari mereka seinci pun—Darma berbalik menghadap Zaverio.
Semua kehangatan di wajahnya menghilang. Digantikan oleh tatapan yang sangat dingin—dingin yang membuat udara di sekitar mereka terasa beku.
"Zaverio Kusuma," kata Darma dengan suara yang sangat tenang—terlalu tenang. "Jelaskan."
Bukan permintaan. Perintah.
Zaverio berdiri tegak, tidak mundur seinci pun walau dikelilingi bodyguard yang bisa dengan mudah "menghilangkan" seorang anak.
"Aku akan menjelaskan semuanya, Kakek Darma," jawab Zaverio dengan tenang—tenang yang tidak natural untuk anak seusianya. "Tapi apa kita bisa bicara secara privat?"
Darma menatapnya lama—mata tua yang bijaksana itu seolah membaca jiwa Zaverio, mencari tahu apa yang tersembunyi di balik topeng tenang anak ini.
Akhirnya, dia mengangguk. "Ikut aku."
...****************...
Ruang Kerja Darma Paramitha - Lantai Dua
Darma duduk di kursi kulit besarnya, tangan terlipat di atas meja, menatap Zaverio yang berdiri di hadapannya dengan postur tegap—terlalu tegap untuk anak berusia 11 tahun.
"Bicara," perintah Darma. "Dan jangan bohong. Aku sudah terlalu tua untuk permainan anak-anak."
Zaverio menarik nafas dalam. Ini saatnya. Dia harus memberikan penjelasan yang masuk akal—penjelasan yang tidak akan membuat Darma melarangnya mendekati Anindita, tapi juga cukup jujur agar Darma mempercayainya.
"Aku membawa Anindita ke rumah peninggalan mamaku," mulai Zaverio dengan tenang. "Rumah yang Mama belikan untukku secara diam-diam sebelum dia meninggal. Tidak ada yang tahu tentang rumah itu kecuali aku dan asisten pribadi Mama."
"Kenapa?" tanya Darma tajam. "Kenapa kau membawa Anindita ke sana tanpa izin? Kau tahu betapa khawatirnya kami?"
"Aku tahu," jawab Zaverio, matanya menatap langsung ke mata Darma tanpa berkedip. "Dan aku minta maaf karena membuat Kakek khawatir. Tapi aku punya alasan."
"Alasan apa yang bisa membenarkan tindakanmu?!" Suara Darma meninggi.
"Karena Anindita membutuhkannya," jawab Zaverio simple tapi tegas. "Dia baru saja kehilangan ayahnya. Dia belum sembuh dari luka itu. Aku melihatnya pagi ini di ayunan, memeluk boneka sambil menangis sendirian. Dia bilang dia menunggu malam agar bisa bicara dengan papanya lewat bintang."
Darma terdiam, dadanya sesak.
"Aku tahu rasanya kehilangan, Kek." lanjut Zaverio, suaranya bergetar sedikit. "Mamaku meninggal saat aku masih kecil. Dan tidak ada yang mengerti aku waktu itu. Semua orang bilang 'kamu harus kuat', 'jangan menangis', 'laki-laki tidak boleh lemah'. Tapi tidak ada yang memberiku ruang untuk berduka dengan cara ku sendiri."
Dia menatap Darma dengan mata yang berkaca-kaca—untuk pertama kalinya, Darma melihat vulnerability di mata anak ini.
"Aku tidak ingin Anindita merasakan hal yang sama," bisik Zaverio. "Jadi aku membawanya ke rumah Mama, dan aku buatkan dia kamar dengan foto-foto keluarganya. Foto yang di-edit agar dia bisa melihat dirinya bersama papa dan mamanya—sesuatu yang tidak pernah dia miliki karena mamanya meninggal saat melahirkannya."
"Aku ingin memberinya tempat di mana dia bisa bicara dengan orangtuanya tanpa merasa diawasi. Tempat di mana dia bisa menangis sebanyak yang dia mau tanpa khawatir membuat orang lain sedih. Tempat yang aman untuknya."
Keheningan menggantung berat di ruangan.
Darma menatap anak berusia 11 tahun di hadapannya dengan perasaan yang sangat kompleks.
Kemarahan masih ada—karena Zaverio membawa Anindita pergi tanpa izin, membuat seluruh penghuni di mansion panik.
Tapi ada juga... rasa kagum? Terima kasih? Karena anak ini melakukan sesuatu yang bahkan Darma—kakek yang sangat mencintai cucunya—tidak pernah terpikirkan.
"Kau tahu," kata Darma akhirnya, suaranya lebih lembut sekarang, "apa yang kau lakukan itu sangat berbahaya. Anindita bisa saja diculik. Bisa saja terluka. Dan kau—anak berusia 11 tahun—tidak akan bisa melindunginya kalau ada yang menyerangnya."
"Aku tahu," jawab Zaverio. "Tapi aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya. Aku akan mati terlebih dahulu sebelum membiarkan itu terjadi."
Cara dia mengatakannya—dengan convict
ion yang begitu kuat, begitu absolut—membuat Darma membeku.
Anak ini... dia bukan anak biasa. Ada sesuatu tentangnya yang sangat... dewasa. Seolah dia pernah hidup lebih lama dari usianya.
"Zaverio Kusuma," kata Darma perlahan, "apa kau menyukai cucuku?"
Zaverio tidak ragu sedetik pun. "Ya. Sangat."
"Kenapa?"
"Karena dia adalah cahaya di dunia yang gelap ini," jawab Zaverio dengan tulus. "Karena senyumnya membuat segalanya terasa lebih baik. Karena dia mengingatkanku bahwa masih ada kebaikan di dunia ini. Dan karena..." Suaranya bergetar. "Karena aku tidak bisa membayangkan dunia di mana dia tidak ada."
Darma tercekat.
Ini bukan perasaan anak kecil yang suka sama teman. Ini... ini sesuatu yang lebih dalam. Lebih mature.
"Berapa umurmu, Zaverio?" tanya Darma tiba-tiba.
"Sebelas tahun," jawab Zaverio bingung dengan pertanyaan itu.
"Tapi kau tidak bicara seperti anak sebelas tahun," kata Darma, matanya menyipit. "Kau bicara seperti... seperti pria dewasa yang pernah kehilangan sesuatu yang sangat berharga dan tidak ingin kehilangan lagi."
Zaverio membeku.
Dia tahu. Entah bagaimana, dia tahu ada yang berbeda denganku.
"Aku... aku hanya matang lebih cepat dari anak seusiaku," jawab Zaverio, berusaha terdengar normal.
Darma menatapnya lama, kemudian menghela nafas panjang.
"Aku tidak akan melarangmu bertemu Anindita," katanya akhirnya.
Zaverio tersentak, tidak menyangka.
"Tapi," lanjut Darma dengan nada peringatan, "lain kali kalau kau ingin membawa Anindita kemana pun, HARUS minta izin terlebih dahulu. Dan harus ada bodyguard yang ikut. Aku tidak peduli kau ingin memberinya privasi—keselamatan lebih penting."
"Aku mengerti, Kakek Darma," Zaverio mengangguk dengan hormat. "Terima kasih."
"Dan satu lagi," Darma berdiri, berjalan mendekat, dan meletakkan tangannya di bahu Zaverio. "Kalau ada yang mengancam Anindita—apapun, siapapun—kau langsung beritahu aku. Jangan coba-coba tangani sendiri. Kau masih anak-anak, Zaverio. Biar orang dewasa yang urus hal-hal berbahaya."
Zaverio ingin bilang bahwa dia bukan anak-anak biasa, bahwa dia sudah pernah hidup sebagai pria dewasa, bahwa dia tahu lebih banyak tentang bahaya daripada yang Darma bayangkan.
Tapi dia hanya mengangguk. "Aku mengerti."
Darma menatapnya sekali lagi, kemudian menepuk bahunya. "Pergilah. Anindita pasti menunggumu."
Zaverio membungkuk hormat dan berjalan keluar.
Tapi begitu pintu tertutup, ekspresinya berubah total—dari anak yang sopan menjadi pria dewasa yang waspada dan gelisah.
Ancaman itu masih di luar sana. Orang yang mengirim pesan itu masih mengawasi. Dan aku harus menemukan siapa mereka sebelum terlambat.
Tangannya meraih ponsel, membuka pesan ancaman itu lagi, membacanya berulang-ulang.
"Just like you took everything from me."
Siapa yang aku ambil segalanya? Di kehidupan yang mana? Yang dulu atau yang sekarang?
Dan yang paling penting—apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?