Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.
Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.
Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.
Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 24
Matahari mulai merunduk, melukis garis-garis panjang berwarna merah darah di atas tanah Desa Memping yang porak-poranda. Di tengah ratapan yang memilukan, Cao Yi melangkah mendekati Yan Liao. Ia berdiri cukup dekat sehingga hanya sang Raja yang bisa mendengar bisikannya yang sedingin es di tengah deru angin sore.
"Kakak Raja," bisik Cao Yi, matanya tetap menatap lurus ke arah jalur selatan. "Aroma busuk jiwa mereka masih menggantung di udara. Mereka tidak jauh dari sini. Hanya sekitar lima kilometer di balik bukit berbatu itu."
Yan Liao tersentak kecil, namun ia cukup bijak untuk tidak menunjukkan reaksi berlebihan di depan para prajurit. Ia melirik adik angkatnya, melihat kegelapan yang mulai memerah di pupil mata gadis itu. "Kamu yakin mereka masih di sana? Mengapa mereka tidak langsung melarikan diri?"
"Keserakahan membuat langkah mereka lambat. Mereka merasa aman karena mengira pasukanmu akan sibuk dengan para pengungsi dan pemakaman," jawab Cao Yi. "Izinkan aku pergi. Jika pasukan besar bergerak, mereka akan menyadarinya dan menghilang seperti tikus. Aku akan menjatuhkan palu keadilan sendirian."
Yan Liao terdiam sesaat. Ia tahu kemampuan Cao Yi melampaui logika pendekar manapun yang ada di sini. Menahannya hanya akan membuat kemarahan gadis itu mencari pelampiasan lain. "Pergilah. Tapi pastikan tidak ada saksi yang melihat wajahmu jika kamu menggunakan 'kekuatan itu'. Aku akan tetap di sini mengurus warga sebagai pengalihan."
Cao Yi hanya mengangguk tipis. Tanpa suara, tubuhnya seolah memudar menjadi bayangan hitam, menyelinap di antara reruntuhan rumah dan dalam sekejap menghilang ke balik rimbunnya savana, mengikuti jejak energi kejahatan yang memancar kuat dari jiwa para perampok.
Lima kilometer dari desa, di balik celah bukit yang tersembunyi, terdapat sebuah benteng kecil yang dibangun dari kayu dan batu. Di sinilah markas sementara Kelompok Perampok Tengkorak berada.
Suasana di sana sangat kontras dengan kesunyian di Desa Memping. Suara tawa kasar, dentingan cawan arak, dan teriakan cabul memenuhi udara. Di tengah lapangan markas, api unggun besar menyala, membakar sate daging hasil curian. Puluhan pria berwajah sangar sedang berpesta pora merayakan hasil rampokan mereka yang melimpah.
Namun, di balik pesta itu, terdapat kegelapan yang jauh lebih dalam.
Di sebuah area yang sedikit terbuka di depan bangunan utama, belasan gadis muda tawanan dipaksa menari. Kondisi mereka sangat memprihatinkan, pakaian mereka compang-camping dan setengah telanjang, wajah mereka sembap karena air mata yang tak henti mengalir. Setiap kali mereka melambat, cambuk kecil perampok akan melecut kaki mereka, memaksa mereka tetap bergerak di bawah tatapan lapar mata-mata liar tersebut.
Di kursi paling tinggi, duduk seorang pria raksasa dengan luka parut di wajahnya. Ia adalah Jing Zhen, sang pemimpin yang dijuluki Pendekar Golok Penghancur Gunung. Di sampingnya bersandar sebuah golok hitam besar yang mengeluarkan aura tenaga dalam yang sangat menekan, ciri khas seorang Pendekar Ahli Puncak.
"Minum! Hari ini kita kaya!" teriak Jing Zhen sambil meneguk arak langsung dari guci besarnya. "Liungyi punya Raja yang lemah! Mereka sibuk menangis sementara kita bersenang-senang!"
Salah satu perampok bertubuh kurus dengan tawa menjijikkan menarik paksa rambut salah seorang gadis tawanan yang sedang menari. "Kenapa menangis, cantik? Sini, layani aku dulu sebelum teman-temanku yang lain!" Ia mulai menyentuh bahu gadis itu dengan kasar, sementara perampok lain bersorak memberi semangat.
Gadis itu menjerit kecil, tubuhnya gemetar ketakutan, menutup matanya erat-erat sambil mengharap kematian datang lebih cepat daripada penghinaan ini.
SWING!
Suara siulan tajam membelah suara tawa yang riuh.
Dalam sepersekian detik, sebuah benda hitam melesat lurus seperti kilat hitam dari kegelapan hutan di luar pagar. Benda itu berputar dengan kecepatan yang menciptakan riak angin tajam.
CRAAAKK!
Tanpa ada yang sempat bereaksi, kepala perampok kurus itu tiba-tiba miring ke satu sisi secara tidak alami. Garis merah tipis muncul di lehernya, dan sedetik kemudian, kepalanya terpisah dari pundaknya, menggelinding tepat ke depan kaki gadis tawanan itu. Darah menyembur seperti air mancur, membasahi wajah dan baju si gadis.
Hening. Pesta itu membeku seketika.
Gadis-gadis tawanan itu berteriak histeris, jatuh terduduk di atas tanah karena ngeri. Para perampok yang sedang mabuk langsung menjatuhkan cawan mereka, tangan mereka gemetar mencari gagang senjata.
"SIAPA ITU?!" raung Jing Zhen sambil menyambar golok raksasanya dan berdiri dengan kemarahan yang meluap. Tenaga dalamnya meledak, menghancurkan meja di depannya.
Namun, tidak ada jawaban.
Kipas hitam yang baru saja merenggut nyawa itu tidak jatuh ke tanah. Benda itu justru melengkung di udara seolah memiliki sayap, lalu terbang kembali menuju kegelapan di luar jangkauan cahaya api unggun.
Di balik pepohonan yang gelap, sepasang mata darah sedingin es mengawasi mereka.
Suasana di markas Kelompok Perampok Tengkorak yang tadinya riuh dengan tawa cabul, kini berubah menjadi kesunyian yang mencekam. Mayat perampok tanpa kepala itu masih menyemburkan sisa darah ke tanah, sementara para gadis tawanan meringkuk ketakutan. Jing Zhen, sang Pendekar Golok Penghancur Gunung, mencengkeram erat senjata raksasanya, matanya menyapu kegelapan di luar jangkauan api unggun, lalu, terdengar suara langkah kaki yang sangat ringan.
Dari balik bayangan pepohonan, seorang gadis melangkah maju dengan tenang. Begitu sosoknya terkena cahaya api, seluruh perampok di sana tertegun, bahkan beberapa dari mereka tanpa sadar menjatuhkan senjata.
Gadis itu memiliki kecantikan yang tak masuk akal, melampaui standar kecantikan manusia di Negeri Liungyi. Wajahnya begitu sempurna, halus bagaikan pahatan batu kemala dari surga, namun memancarkan aura dingin yang membekukan udara. Namun, yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri adalah matanya. Pupil matanya berwarna merah darah yang menyala redup, seolah menyimpan lautan darah yang tak berujung di dalamnya.
Jing Zhen menjilati bibirnya yang kering, nafsu bejatnya seketika bangkit mengalahkan rasa waspadanya. "Luar biasa... aku sudah menculik ratusan wanita, tapi belum pernah melihat Dewi Surgawi seperti ini. Hei, Nona! Kamu jauh lebih berharga dari semua rampokan kami hari ini!"
Perampok lainnya pun mulai mengeluarkan air liur, mata mereka jelalatan menatap sosok Cao Yi. Namun, mereka tak menyadari bahwa "Dewi Surgawi" di hadapan mereka adalah sang Dewi Kematian.
"Kematian kalian... akan sangat lambat," ucap Cao Yi dingin.
Tanpa aba-aba, Cao Yi bergerak. Gerakannya bukan lagi seperti manusia, melainkan seperti bayangan hitam yang melesat di antara barisan perampok. Setiap kali tangannya bergerak, terdengar suara tulang retak dan jeritan pilu. Satu per satu perampok tewas dengan cara yang mengerikan; ada yang matanya meledak, ada yang jantungnya berhenti berdetak seketika hanya dengan sentuhan jari.
Pembantaian itu berlangsung tanpa ampun. Darah mulai menggenangi lapangan markas, namun anehnya, tak setetes pun darah yang mengenai gaun hitam Cao Yi.
"SETAN! MATI KAU!" raung Jing Zhen yang mulai panik.
Ia melompat tinggi, mengayunkan golok raksasanya dengan seluruh tenaga dalam Pendekar Ahli Puncak.
"TEBASAN PENGHANCUR GUNUNG!"
BOOM!
Tanah bergetar, debu beterbangan. Namun, serangan yang mampu membelah batu besar itu hanya menghantam tanah kosong. Cao Yi sudah berdiri di belakangnya, berdiri dengan anggun di atas ujung golok Jing Zhen.
Jing Zhen bertarung mati-matian. Ia memutar goloknya dalam serangkaian serangan badai, mencoba memotong tubuh gadis itu. Namun bagi Cao Yi, gerakan sang Pendekar Ahli Puncak itu terasa sangat lambat. Setelah bermain-main sesaat, Cao Yi mendarat di depan Jing Zhen.
Sebelum golok itu kembali terayun, tangan mungil Cao Yi sudah bergerak lebih cepat, mencengkeram wajah Jing Zhen dengan sangat kuat.
"Lepaskan... argh...!" Jing Zhen meronta, namun tubuhnya mendadak kaku.
Kabut hitam yang pekat merembes keluar dari telapak tangan Cao Yi, masuk melalui pori-pori wajah Jing Zhen. Dalam sekejap, suara hisapan yang mengerikan terdengar. Tubuh kekar Jing Zhen bergetar hebat, matanya membelalak hingga hampir keluar. Seluruh energi kehidupan, darah, dan tenaga dalamnya disedot habis tanpa sisa.
Hanya dalam hitungan napas, sang Pendekar Golok Penghancur Gunung berubah menjadi mayat kering yang keriput, kulitnya menempel erat pada tulang, wajahnya terdistorsi dalam rasa sakit yang abadi. Cao Yi melepaskan cengkeramannya, dan jasad tak bernyawa itu jatuh hancur seperti kayu lapuk di tanah.
Suasana menjadi sunyi total. Semua perampok telah tewas menjadi mayat-mayat yang tak lagi bisa dikenali.
Cao Yi kemudian mengalihkan pandangannya pada tumpukan harta rampokan. Dengan lambaian tangan, semua emas, perak, dan perhiasan itu lenyap seketika, masuk ke dalam cincin pusaka pemberian Dewi Zia Yuxi.
Ia kemudian berjalan mendekati para gadis tawanan yang masih menggigil. Mata merah darahnya perlahan memudar kembali menjadi hitam jernih.
"Jangan takut. Pakai ini," ucapnya pelan sambil mengeluarkan tumpukan kain pakaian bersih dari cincinnya. Ia juga meletakkan beberapa kantong berisi tail perak di depan mereka. "Gunakan ini untuk memulai hidup baru. Ikuti jejakku, aku akan membawa kalian kembali ke Desa Memping."
Para gadis itu tidak memperdulikan bagaimana cara Cao Yi menghilangkan harta rampokan itu dalam satu lambaian tangan, mereka hanya menangis, bukan karena takut, melainkan karena haru. Mereka bersujud di hadapan Cao Yi, menganggapnya sebagai dewi penyelamat yang diutus surga.
Malam itu, Cao Yi memimpin iring-iringan gadis-gadis tersebut kembali ke desa, meninggalkan markas yang kini menjadi tempat bangkai, mayat kering Jing Zhen menjadi monumen bisu bagi siapa pun yang berani mengusik rakyat di bawah perlindungan sang Dewi Kematian.