Cerita untuk 17+ ya..
Chika terpaksa harus menerima sebuah perjodohan dari orangtuanya. Perjodohan yang membuat Chika menolaknya mentah-mentah, bagaimana tidak? Dia harus menerima pernikahan tanpa cinta dari kakak pacarnya sendiri.
Kok bisa? Chika berpacaran dengan Ardi tapi dinikahkan dengan kakaknya Ardi yang bernama Bara. Seperti apa kelanjutan pernikahan tanpa cinta dari perjodohan ini? Mampukah Bara menakhlukan hati Chika? Lanjut baca Kak..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rena Risma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Aku masih diam, saat Bara masuk kedalam ruang rawat ku. Bara mendekat kearah ku, lalu duduk di kursi sambil memegangi tanganku. Aku memegangi perutku, menatap Bara dengan air mata haru. Rasanya aku benar-benar tidak sanggup kehilangan janin didalam perutku.
Bara mengusap air mataku, wajahnya terlihat begitu kecewa, namun dia berusaha untuk tersenyum menguatkan ku.
"Jangan menangis lagi! Percayalah, semua akan indah pada waktunya. Mungkin saat ini, Tuhan belum mengizinkan kita menjadi orang tua," ucap Bara sambil mencium keningku.
"Tapi,....." Aku kembali menangis, air mataku mengalir deras mewakili rasa sedihku.
"Sayang, kau harus kuat."
"Tetaplah bersamaku Mas! Jangan pernah tinggalkan aku," ucapku sambil menggenggam tangan.
Bara mengangguk sambil tersenyum, berkali-kali dia mengusap kepalaku lembut. Ayah dan Ibu Bara datang, mereka langsung masuk kedalam ruang rawat ku. Ibu Bara begitu panik, langsung memeluk tubuhku.
"Bagaimana keadaanmu nak?" tanya Ibu Bara.
"Aku tidak apa-apa Bu, hanya saja...." Aku tak melanjutkan kata-kataku, air mataku jatuh membasahi pipiku.
"Hanya apa Chika?" tanya Ibu.
"Janin didalam perutku, tidak dapat diselamatkan," ucapku sambil menangis keras.
"Apa? Janin?" Ayah dan Ibu Bara kaget mendengar ucapanku perihal kehamilan. Tapi apa yang membuat mereka terkejut? Kehilangan janin didalam kandunganku atau ada hal lain yang tidak aku ketahui.
"Ada apa? Kenapa Ayah dan Ibu terkejut mendengar Chika hamil?" tanya Bara heran.
"Tidak Nak, kami hanya terkejut!" ucap Ayah sambil mengusap dada.
"Bagaimana bisa?" Ibu berbisik pelan, tapi aku mendengar ucapannya.
"Ibu, Ayah, tolong jaga Chika sebentar! Aku mau mengurus administrasi dulu," ucap Bara.
"Ayah mau ikut denganmu Nak!" ucap Ayah sambil berlalu meninggalkan aku dan Ibu.
Tiba-tiba hening, Ibu hanya menatap kearahku tanpa bicara. Aku masih punya kejanggalan dari ucapan Ibu tadi. Apa yang Ibu dan Ayah kaget kan? Apa anehnya jika aku hamil?
"Ibu, aku mau tanya sesuatu padamu, boleh?" tanyaku.
"Apa nak?"
"Apa yang Ibu sembunyikan dariku? Kenapa Ibu dan Ayah begitu terkejut mendengar aku hamil?" tanyaku penasaran.
"Itu karena....." Ibu diam, dia tidak melanjutkan kata-katanya.
"Karena apa?"
"Bara pernah mengalami kecelakaan besar, beberapa tahun lalu. Waktu itu, Ibu dan Ayah yang membawa Bara ke rumah sakit. Dokter bilang, kecelakaan besar itu membuat fungsi alat reproduksi Bara rusak, kemungkinan besar Bara tidak bisa punya anak. Jadi, janin yang kau kandung itu...."
"Anak Ardi," ucapku sambil menangis. Rasanya aku sangat terkejut mendengar penjelasan dari Ibu. Kenapa mereka menyembunyikan hal sebesar ini padaku. Kenapa?
"Nak, Ibu mohon padamu, jangan pernah mengatakan hal ini pada Bara. Bara pasti sangat kecewa, jika mendengar berita buruk ini. Maafkan Ibu nak, maaf. Ibu tidak menceritakan hal ini padamu dari awal kalian menikah. Itu karena Ibu tahu, kau wanita yang baik, yang bisa menerima kekurangan Bara." Air mata Ibu tumpah, terlihat dia begitu tidak rela, anak laki-lakinya mengalami kejadian buruk itu.
"Ibu pernah melihat fotomu dikamar Bara, jelas Ibu kaget. Ternyata Bara menyukai kau, pacar dari adiknya sendiri. Tapi, mengingat hal pedih yang dialami Bara, aku terpaksa memisahkan kau dengan Ardi. Karena aku tahu, seperti apa dirimu! Kau baik, lembut, penyayang, dan aku begitu yakin, kau bisa membahagiakan anakku Bara." ucap Ibu lirih.
Aku menangis keras sambil memeluk tubuh Ibu Bara. Aku begitu tak berdaya mendengar kejadian buruk yang pernah dialami Bara dimasa lalu. Aku bisa merasakan kecemasan hati Ayah dan Ibu Bara. Jadi ini alasannya, alasan mereka menjodohkan aku dengan Kakak pacarku!
"Berjanjilah Nak, kau tidak akan mengatakan hal ini pada Bara."
"Aku janji Ibu," ucapku pelan.
"Berjanji juga padaku, kau tidak akan pernah meninggalkan Bara."
Aku mengangguk sambil mengusap air mata Ibu, rasanya hatiku benar-benar sakit saat itu. Impianku menjadi seorang Ibu, harus ku singkirkan jauh-jauh. Biar bagaimanapun, aku juga tidak mungkin meninggalkan laki-laki sebaik Bara. Tidak akan, tidak akan pernah! Hiks.. Hiks..
Bara dan Ayah masuk kembali kedalam ruang rawat ku, aku dan Ibu segera mengusap air mata kami agar Bara tidak curiga.
"Sayang, sudah.. Jangan menangis lagi! Kita akan punya anak, jika memang perlu kita bisa mengadopsinya. Bagaimana?" senyum Bara sambil mendekat kearah ku.
Aku hanya mengangguk, tapi air mataku, tidak bisa menahan kesedihan yang saat ini aku alami. Laki-laki yang sangat baik, bahkan berhati malaikat. Mana mungkin aku tega menceritakan padanya, hal yang sebenarnya terjadi.
"Ayah, Ibu, tidak apa-apa kan? Kami ingin mengadopsi anak," ucap Bara sambil menatap kearah Ayah dan Ibunya. Ayah dan Ibu Bara tersenyum sambil mengangguk.
"Kau lihat, tidak ada yang perlu kau cemaskan! Kita bisa punya anak besok, apapun demi kebahagiaan mu!" ucap Bara.
Aku memeluk tubuh Bara, air mataku tak terbendung mendengar kata-kata dari bibir Bara. Andai saja kau tahu, janin yang hilang dari perutku itu bukan janin milikmu, tapi janin dari Ardi. Rasanya hatiku sakit, sangat sakit! Mendengar kenyataan yang memilukan ini, membuatku merasa begitu hancur.
"Sayang, berhenti menangis! Aku tidak ingin kau bersedih. Aku sudah berjanji saat pernikahan kita, aku akan membahagiakan mu. Jadi, aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia!" senyum Bara.
"Terimakasih, karena kau sudah menjadi suami terbaik untukku," ucapku.
"Tentu sayang, karena kini kau adalah bagian dari hidupku." Bara memelukku erat seakan tidak mau melepaskan aku.
Bagaimana mungkin aku menyakiti hati orang baik seperti Bara? Tapi apa mungkin hubungan kami akan bertahan, tanpa kehadiran seorang anak? Bukankah pernikahan itu akan hambar tanpa sosok seorang anak? Lalu bagaimana dengan nasib pernikahan kami?
"Apalagi yang kau pikirkan sayang?" tanya Bara.
"Aku hanya takut, aku takut kau meninggalkanku, jika nanti kita tidak bisa memiliki keturunan!" ucapku.
"Kenapa kau berpikir begitu? Kita akan mengadopsi seorang anak, jika itu bisa buat hatimu tenang! Walaupun seandainya, Tuhan tidak mengizinkan kau dan aku memiliki keturunan, aku tidak akan sampai hati meninggalkan dirimu. Percayalah padaku, aku tidak akan pernah meninggalkan mu!" ucap Bara.
Sontak aku memeluk tubuh Bara, rasa tak percaya mendengar ucapan dari bibir Bara. Bagaimana bisa dia punya hati baik, dan selembut itu?
Kalau dia bisa berpikir sebijak itu, bagaimana bisa aku mengecewakannya? Dia menerimaku dengan begitu tulus, bahkan menerima segala kekuranganku. Tapi aku, kenapa aku begitu takut tidak bisa punya keturunan? Sementara laki-laki baik yang mendampingiku saja bisa menerima. Kalaupun seandainya saja kami memang tidak bisa memiliki keturunan, bukankah kami masih bisa mengadopsi anak dari panti asuhan. Bukankah itu sama saja? Walau anak itu tidak lahir dari rahimku, tapi aku dan Bara akan menyayanginya seperti anak kami.
Biarkan takdir saja yang menggariskan jalan hidupku, aku sudah cukup bahagia menjadi istri Bara. Laki-laki baik yang tidak pernah menyakiti hatiku, yang selalu menjaga pernikahan kami dengan sepenuh hati. Aku bisa kuat, aku bisa melewati ini semua bersama Bara.
Komennya ku tunggu, Like atau Jempol jangan sampai lupa ya! Vote sebanyak-banyaknya, dukung terus karya ini. Terimakasih ❤️😘
Pokoknya aku ga mau .............................
Tapi Kalo Ganteng, Baik, keren 👍👍👍 Aku mau 😂😂😂