NovelToon NovelToon
Dendam Paras Kembar

Dendam Paras Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Tumbal / Balas dendam pengganti / Balas Dendam
Popularitas:43
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: PERNIKAHAN DI ATAS ABU KEMATIAN

BAB 15: PERNIKAHAN DI ATAS ABU KEMATIAN

Hari yang paling ditunggu oleh seluruh Shimla akhirnya tiba. Gedung Grand Ballroom milik keluarga Raisinghania telah disulap menjadi istana musim dingin yang megah. Ribuan bunga lili putih—simbol kesucian yang palsu—menghiasi setiap sudut ruangan, kontras dengan aroma mawar merah yang kuat. Para tamu undangan dari kalangan elit, mulai dari politisi hingga pengusaha kelas kakap, telah memenuhi aula dengan gaun dan tuksedo mahal mereka.

Deep Raj Singh berdiri di depan altar, tampak sangat berwibawa dalam balutan tuksedo putih. Wajahnya yang biasanya dingin kini tampak memancarkan kebahagiaan yang langka. Baginya, menikahi Anjali Khanna adalah langkah terakhir untuk menghapus seluruh bayang-bayang kelam masa lalunya. Ia mengira Tara telah mati, dan Aarohi telah menjadi debu di penjara. Ia merasa sebagai pemenang mutlak.

Pintu besar aula terbuka. Musik organ pengiring pengantin mulai menggema, menciptakan getaran yang menggetarkan dada setiap orang yang hadir. Aarohi melangkah masuk, namun ia tidak lagi tampil sebagai Anjali yang lembut. Ia mengenakan gaun pengantin berwarna merah marun yang sangat gelap—bukan putih seperti tradisi biasanya. Cadar tipis menutupi wajahnya, menambah kesan misterius yang mencekam.

Deep mengerutkan kening sedikit melihat warna gaun itu, namun ia segera menepis keraguannya. "Dia selalu suka tampil beda," pikirnya sambil tersenyum bangga.

Saat Aarohi sampai di altar, Deep mengambil tangannya. Tangan itu terasa sangat dingin, sedingin es yang membeku di puncak Himalaya. Pendeta mulai membacakan sumpah suci. Suasana menjadi sangat sunyi, hanya suara pendeta yang bergema di ruangan luas itu.

"Deep Raj Singh, apakah kau bersedia menerima wanita ini sebagai istrimu, untuk saling mencintai dan melindungi dalam suka maupun duka?"

"Aku bersedia," jawab Deep dengan suara mantap, penuh keyakinan.

Pendeta kemudian berbalik kepada mempelai wanita. "Anjali Khanna, apakah kau bersedia menerima pria ini sebagai suamimu, untuk setia kepadanya seumur hidupmu?"

Hening. Satu detik, dua detik, hingga sepuluh detik berlalu tanpa jawaban. Para tamu mulai berbisik-bisik. Deep menatap Aarohi dengan cemas, mencoba mencari matanya di balik cadar.

"Anjali? Ada apa?" bisik Deep pelan.

Aarohi perlahan mengangkat cadarnya. Matanya tidak memancarkan cinta, melainkan kebencian yang begitu murni hingga membuat Deep tersentak mundur satu langkah.

"Namaku bukan Anjali Khanna," suara Aarohi bergema melalui mikrofon yang terpasang di altar, terdengar sangat jernih di seluruh penjuru aula. "Dan aku tidak bersedia menikahi seorang pembunuh."

Seluruh ruangan seketika menjadi riuh. Deep mematung, wajahnya memucat seketika. "Apa yang kau bicarakan, Sayang? Kau pasti sedang tidak enak badan..."

"Jangan panggil aku sayang dengan mulut yang memerintahkan pembakaran rumah orang tuaku!" teriak Aarohi.

Tiba-tiba, layar raksasa di belakang altar yang tadinya menampilkan foto-foto romantis mereka berganti. Gambar berubah menjadi hitam putih—rekaman suara dan dokumen-dokumen dari brankas hitam yang ditemukan Aarohi semalam muncul dengan jelas. Suara Deep muda yang memerintahkan pembunuhan jaksa empat belas tahun lalu memenuhi ruangan, mengalahkan suara keributan para tamu.

"Pastikan tidak ada saksi yang tersisa di rumah itu. Bakar semuanya..."

Deep jatuh terduduk di lantai altar. Semua orang di ruangan itu kini menatapnya dengan pandangan jijik. Para wartawan mulai menyalakan lampu kilat kamera mereka, mengabadikan kejatuhan sang raja Shimla.

"Kau... bagaimana kau mendapatkan itu?!" desis Deep, suaranya parau karena panik.

"Karena aku adalah saksi yang kau biarkan hidup, Deep," Aarohi melepaskan tiara pengantinnya dan melemparkannya ke lantai. "Aku bukan Anjali. Aku Aarohi. Gadis yang kau jebak, istri yang kau khianati, dan putri dari pria yang kau bunuh!"

Pintu aula kembali terbuka dengan kasar. Kali ini, sepasang petugas polisi masuk. Namun, mereka tidak datang sendirian. Di belakang mereka, didorong di atas kursi roda, muncul seorang wanita dengan wajah yang hancur dan penuh perban.

"Tara?!" teriak Deep histeris.

Tara, yang berhasil diselamatkan oleh Abhimanyu dari tebing, menunjuk Deep dengan jarinya yang gemetar. "Dia... dia yang mencoba membunuhku! Dia memberikan perintah itu di depan Aarohi! Aku punya saksi! Aku punya bukti!"

Abhimanyu melangkah maju dari kerumunan tamu, mengenakan seragam inspektur kepolisian pusat. "Deep Raj Singh, Anda ditahan atas dugaan pembunuhan berencana, penipuan, dan percobaan pembunuhan. Seluruh aset Raisinghania telah dibekukan mulai detik ini."

Deep mencoba lari menuju pintu rahasia di belakang altar, namun Aarohi lebih cepat. Ia menjegal kaki Deep dan menodongkan pistol kecil dari balik gaunnya tepat ke dahi Deep.

"Dulu aku memohon padamu untuk percaya padaku, Deep. Sekarang, aku ingin kau memohon untuk nyawamu," desis Aarohi.

Deep menatap Aarohi dengan air mata yang mulai mengalir. Bukan air mata penyesalan, melainkan air mata kekalahan. "Kau merencanakan semua ini... sejak awal?"

"Bukan aku yang merencanakannya, Deep. Kejahatanmu sendirilah yang menulis naskahnya. Aku hanya memastikan kau mendapatkan akhir cerita yang pantas," jawab Aarohi dingin.

Polisi segera memborgol Deep dan menyeretnya keluar dari gedung pernikahan yang kini lebih mirip tempat kejadian perkara. Seluruh kemegahan itu hancur dalam hitungan menit.

Aarohi berdiri sendirian di altar yang kini kosong. Ia menatap ke arah langit-langit gedung, membayangkan wajah orang tuanya. "Ayah, Ibu... ini sudah berakhir. Keadilan sudah ditegakkan."

Namun, saat ia berbalik untuk pergi, ia melihat Tara di kursi rodanya. Tara menatapnya dengan senyum gila yang masih tersisa. "Kita memang punya wajah yang sama, Aarohi... tapi sekarang, kau juga punya tangan yang berdarah sepertiku. Kau menghancurkannya dengan cara yang sama jahatnya denganku. Selamat... kau telah menjadi kembaranku yang sesungguhnya."

Aarohi terdiam. Ia menatap tangannya yang gemetar. Ia menang, namun ia merasa hampa. Dendam telah selesai, tapi ia menyadari bahwa di tahun 2026 ini, tidak ada pemenang sejati dalam permainan cinta dan maut. Ia melangkah keluar dari gedung, meninggalkan abu dari masa lalunya yang kini benar-benar telah padam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!