NovelToon NovelToon
Takdirku Bersma Sikembar

Takdirku Bersma Sikembar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

          Romeo melajukan mobilnya menuju klub yang semalam ia datangi bersama Tania. Hari ini ia sengaja mengambil cuti, membiarkan seluruh urusan kantor dipegang penuh oleh Satria. Sahabatnya itu memang selalu bisa diandalkan. Walau hubungan mereka sempat memanas, Satria tetap bersikap profesional, menuntaskan semua tanggung jawab tanpa banyak bicara. Padahal, akan sangat mudah baginya untuk meninggalkan Romeo dan kembali mengurus perusahaan keluarga yang sudah menunggu. Namun nyatanya, Satria sama sekali tak tertarik meneruskan bisnis warisan orang tuanya.

         Begitu tiba di klub yang masih lenggang dan belum beroperasi, Romeo langsung berhadapan dengan Edgar. Pria itu menyambutnya dengan tatapan jengkel yang sama sekali tak ia sembunyikan. Bukan tanpa alasan. Setelah mendengar penuturan Romeo dan Satria secara bergantian, Edgar akhirnya memahami duduk perkara yang sebenarnya. Dan kali ini, tak bisa dipungkiri, kesalahan itu memang sepenuhnya berada di pihak Romeo.

        “Masih mending kejadian itu terjadi di klub gue,setidaknya gue bisa langsung ngambil rekaman CCTV tanpa ribet.” kata Edgar dengan nada datar namun sarat kekesalan. 

        “Waktu itu Tania sama sekali nggak tahu kalau tempat ini punya lo.” ujar Romeo lirih. 

        “Bagus,akhirnya kelakuan dia kelihatan jelas di sini.” Edgar mendengus sinis.

        Entah karena perasaannya yang sudah terlanjur terikat terlalu jauh, Romeo tetap merasa tersinggung setiap kali kata-kata buruk diarahkan pada Tania. Amarah kecil itu masih ada, meski ia berusaha menekannya. Namun kali ini Romeo memilih diam. Bukan waktunya untuk berdebat. Yang ia butuhkan sekarang hanyalah bukti sesuatu yang bisa membuktikan dengan jelas apakah Tania benar-benar bersalah.

         Bukan hanya itu. Dari rekaman CCTV terlihat jelas bagaimana Tania diam-diam memasukkan sesuatu ke dalam minuman yang ia sodorkan pada Romeo malam itu. Semua kejadian terekam tanpa terlewat mulai dari momen di dalam klub, hingga saat Satria datang menjemput Romeo dan terlibat adu argumen dengan Tania. Tak ada lagi yang bisa disangkal. Setiap ucapan Satria ternyata benar adanya.

       Romeo mencengkeram rambutnya sendiri dengan keras, amarah dan kekesalan bertubrukan dalam dadanya. Namun kemarahan itu bukan semata karena Tania yang sadar atau tidak telah mengkhianatinya. Yang paling membuatnya muak justru dirinya sendiri. Kebutaannya, ketidak mauannya mempercayai dan mendengarkan semua peringatan yang sejak awal dilontarkan para sahabatnya.

        “Sekarang lo masih mau nutup mata?Kelakuan pacar kebanggaan lo barusan jelas kelihatan. Jujur aja, Rom kalau lo udah nggak sanggup sama istri lo yang sekarang, gue nggak keberatan ambil alih posisi itu.” Edgar menatap Romeo tanpa basa-basi.

        “Mulut lo dijaga!Otak kalian udah pada miring, ya? Satria tadi juga ngomong hal yang sama. Jangan samain istri gue sama barang yang bisa lo oper-oper!” bentak Romeo geram.

        “Justru karena otak gue masih jalan,makanya gue tertarik sama istri lo. Lah, kalau lo? Jelas-jelas udah nggak normal lebih milih nenek sihir daripada berlian di depan mata.” Edgar terkekeh sinis.

        “Brengsek.” geram Romeo melalui rahang yang mengeras.

        Romeo mendengus kesal dalam hati. Menurutnya, Alya biasa saja tak ada yang istimewa dari segi penampilan. Namun yang membuatnya terusik justru kenyataan bahwa sahabat-sahabatnya malah melirik istrinya. Apa mereka benar-benar tak bisa melihat dengan jernih, atau ada sesuatu yang luput dari pandangannya sendiri. 

        Terus sekarang rencana lo apa?” tanya Edgar dengan nada rendah. 

        “Gue bakal tetap bersikap normal dulu,untuk sementara, gue mau nunggu waktu yang tepat  ngumpulin bukti yang cukup baru nanti minta penjelasan langsung sama Tania.” ujar Romeo setelah menarik napas panjang. 

        “Soal bukti, gue punya segudang,termasuk kalau lo mau bukti perselingkuhan Tania. Tinggal bilang aja.” ujar Edgar tenang namun menusuk. 

        Kata selingkuh membuat Romeo tersentak seketika. Tania berkhianat pikiran itu terasa mustahil baginya. Namun perlahan, semua ucapan sahabat-sahabatnya yang dulu ia abaikan mulai menemukan celah kebenarannya, terkuak satu per satu tanpa bisa ia sangkal lagi.

        “Kirim semua yang lo punya ke kantor gue,biar gue pelajari semuanya dan nyusun langkah yang tepat. Kalau dia memang terbukti salah, gue bakal pastiin Tania ngerasain akibatnya.” kata Romeo dengan suara datar namun mengandung ancaman.

         “Cara lo terlalu lembek, Rom,percaya deh, begitu semua bukti itu sampai ke tangan lo, gue jamin amarah dan benci lo ke perempuan itu bakal jauh lebih besar dari yang lo bayangin.” Edgar terkekeh miring.

       “Kita buktikan nanti.” jawab Romeo singkat. 

         Saat Romeo tiba di kantornya, aura dingin langsung menyelimuti ruangan. Wajahnya tampak datar tanpa ekspresi, sorot matanya keras dan tertutup. Tak satu pun staf berani menyapanya semua memilih diam, paham betul bahwa pria itu sedang berada dalam suasana yang tak bisa diganggu.

        Begitu Romeo melangkah masuk ke ruangannya, Amel tak bisa menyembunyikan rasa herannya. Pria itu jelas sudah mengajukan cuti sejak pagi, namun kini justru berdiri di hadapannya, dengan raut wajah yang sama sekali tak bisa dibaca.

        “Bapak kelihatannya sedang ada masalah?” tanya Amel lirih. 

        “Hm,Jangan biarkan siapa pun masuk ke ruangan ini. Pengecualian cuma Satria dan kamu, Rania.” Romeo menghela napas singkat.

        “Baik Pak. ” jawabnya singkat. 

         Amel hanya bisa menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. Dugaan terkuatnya, Romeo sedang bermasalah dengan kekasihnya. Biasanya, dalam kondisi apa pun, nama Tania pasti disebut dan pintu ruangannya akan selalu terbuka lebar jika perempuan itu datang. Namun kali ini berbeda tak ada satu pun nama yang terucap. Dan dari situ, Amel yakin, Romeo tengah berada di fase perang dingin dengan sang kekasih.

        “Syukurlah kalau lagi ribut,mudah-mudahan sekalian berakhir. Dari dulu gue udah enek sama perempuan itu.” gumam Amel nyaris tak terdengar.

        Di dalam ruangannya, Romeo terpaku menatap layar laptop yang menampilkan email dari Edgar. Satu per satu berkas terlampir terbuka, jumlahnya jauh lebih banyak dari yang ia perkirakan. Dadanya mengeras Edgar ternyata tidak main-main.

        Di sana terpampang jelas sederet gambar yang membuat dada Romeo sesak. Tania terlihat bermesraan dengan pria lain terlalu dekat untuk sekadar disebut kebetulan. Belum lagi foto-foto saat ia berada di Tokyo, di mana Tania tertangkap kamera sedang berpelukan intim dengan seorang lelaki di dalam kamar hotel. Entah berapa banyak lagi bukti pengkhianatan itu. Yang pasti, semuanya terlalu nyata untuk diingkari.

        Bukan hanya itu. Edgar juga menyertakan beberapa potongan video yang membuat rahang Romeo mengeras. Dalam rekaman itu, Tania terlihat membentak si kembar tanpa kendali. Bahkan ada momen ketika ia bersikap kasar hingga kedua anak itu menangis ketakutan. Semua sisi buruk Tania yang selama ini tersembunyi rapat akhirnya terbongkar jelas lewat video-video berdurasi singkat tersebut.

        Tak perlu ditanya bagaimana keadaan perasaan Romeo saat ini emosinya telah mencapai titik puncak. Amarah mendidih di dadanya, bercampur rasa muak dan penyesalan yang menyesakkan. Melihat semua itu membuat tangannya gemetar, bukan karena ingin bertindak gegabah, melainkan karena ia harus menahan dorongan gelap dalam dirinya agar tidak lepas kendali.

        “Perempuan tak tahu diri,semua sudah kuberikan kepercayaan, kenyamanan dan balasanmu justru pengkhianatan.” desis Romeo lirih.

        Satria melangkah masuk ke ruang kerja Romeo untuk meminta tanda tangan berkas perusahaan. Namun langkahnya sempat terhenti saat melihat raut wajah Romeo yang tegang, rahangnya mengeras seolah sedang menahan amarah besar entah kepada siapa.

       “Ada apa? Wajah lo kelihatan kayak mau meledak.” tanya Satria. 

        "Tania keterlaluan! Dia berani mengusik anak-anakku sampai putri-putriku menangis ketakutan!” ujar Romeo dengan suara ditekan.

       “Dari mana kau tahu soal itu?”

       “Kenapa lo nggak bilang dari awal?” tanya Romeo datar. 

         “Kalau waktu itu kita cerita, lo juga nggak bakal denger. Nah, sekarang lo tahu sendiri kenapa dia dapet julukan nenek lampir.” ucap Satria enteng tapi menusuk.

        “Sejak kapan ini terjadi?”

         “Dari awal semuanya udah kelihatan. Begitu lo dekat sama dia, anak-anak langsung jadi sasaran.” kata Satria tajam.

       “Dia selalu tampak lembut sama si kembar itu yang gue lihat.” kata Romeo lirih, masih berusaha membela.

        “Itu cuma sandiwara. Bibit ibu tiri kejam udah nempel kuat di dirinya. Lagian, harusnya lo lebih peka soal beginian.” decak Satria kesal.

        Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Romeo. Kenyataan berdiri kokoh di depan mata, menghancurkan kepercayaannya dan memupus ruang bagi Tania untuk berkelit.

        “Untuk sementara, jangan ikut campur. Ada hal yang harus gue selesaikan sama Tania.” kata Romeo datar.

         “Faktanya jelas. Dua tahun cukup buat dia menipu lo. Menunda cuma bikin keadaan makin berbahaya.” ujar Satria datar.

        “Berarti satu-satunya jalan, gue putusin Tania.” kata Romeo tanpa ragu.

        “Putus itu gampang. Tapi gue mau dia nggak bisa kabur. Kumpulin bukti dulu lagian satu fakta yang bikin berat itu dia pemakai.” kata Satria datar.

       Romeo tak menyangka, cinta yang ia rawat selama dua tahun justru berwujud kebohongan. Di balik wajah lembut itu tersembunyi niat gelap, dan rasa bersalah menghantamnya saat mengingat kedua putrinya.

       “Tolong kirim bukti itu sekarang. Jangan cuma satu. Gue nggak sanggup kalau sampai kecolongan lagi.” ujar Romeo menahan napas.

        “Nggak usah khawatir. Habis ini gue kirim ke lo.” ujar Satria mencoba menenangkan.

        “Sepertinya gue perlu ambil anak-anak sekarang. Kalau sampai ada masalah, urusan hak asuh bisa berbelit dan berpihak ke mertua.” ujar Romeo gusar.

       “Bawa istri lo. Anak-anak nggak mau sama siapa pun selain dia. Jangan sakiti mereka dengan sikap lo. Kalau lo angkat tangan, gue yang ambil alih.” ucap Satria datar.

       “Yang lo incar itu bekas gue.” katanya datar tapi menghantam.  

        “Jangan bertindak seolah dia sudah lo sentuh. Kalau lo nggak cinta, jangan sentuh dia. Kasihan, dia juga anak orang.” ujar Satria serius.

       “Dia istri gue. Apa yang gue lakuin itu hak gue.” ucap Romeo menahan emosi.

       “Lo cuma mikirin hak lo doang. Dia punya hak, Rom. Dan lo punya tanggung jawab ke dia.” sembur Satria.

       "Jadi Satria memang sungguh-sungguh menginginkan Alya." gumamnya dalam hati dengan perasaan campur aduk.

       Romeo terdiam, sorot matanya menajam ke arah sahabatnya. Ia memilih bungkam, sibuk bertarung dengan pikiran dan perasaannya sendiri.

       “Gue balik sekarang. Apa pun laporan yang masuk, kirim via email. Gue cek nanti.” ucap Romeo singkat, memilih menutup percakapan.

       “Hm, inget omongan gue, Romeo. Kalau lo nggak mau, gue, Arjuna, sama Edgar nggak bakal ragu ngambil dia dari lo.” ucap Satria tegas.

       “Kurang ajar lo.” hardiknya.

        Romeo pun meninggalkan perusahaan secepat mungkin. Berdebat dengan Satria terasa membuang waktu, meski peringatan itu terus terngiang di kepalanya. Bagaimana jika semua itu benar. 

       “Silakan kalau mau ambil. Dia tahu betul apa yang pernah gue lakuin buat dia.” ucapnya dalam hati. 

       Romeo segera mengetik pesan untuk Alya. Untung saja ia masih menyimpan nomor ponsel istrinya dari data yang pernah ia baca.

       “Bersiap dan ikut aku menjemput anak-anak. Jangan terlambat.”

       Sementara itu, Alya terdiam ketika membaca pesan yang baru saja masuk. Dari pilihan katanya saja, ia tahu itu dari suaminya. Tak ada sapaan manis, tak ada nada lembut hanya perintah kaku yang sudah ia kenal.

      “Sekarang tante ibu kalian. Tolong, jangan tinggalkan tante sendirian menjalani semua ini.” lirih Alya pada pigura itu.

         Alya memilih busana terbaiknya, mencoba tampak pantas di hadapan ayah mendiang ibu si kembar. Namun di balik ketenangan wajahnya, gelar ibu tiri menjadi beban besar yang menggerogoti pikirannya, terlebih saat mengingat sikap Romeo yang kerap merendahkannya.

       Alya melangkah cepat ke pintu utama. Ada rasa takut jika Romeo sudah di luar, menuntut kehadirannya tanpa peduli kesiapan hatinya. Ia menguatkan diri ia tak ingin menangis, tak ingin riasannya hancur bersama pertahanannya.

        Alya duduk di sofa teras, rambutnya tergerai alami. Ketika Romeo datang, ia diliputi rasa canggung lebih baik duduk di belakang, pikirnya, daripada dicap manusia yang gemar bersembunyi di balik gelar.

        “Sejak kapan aku jadi sopir untukmu?” ucap Romeo tajam.

         “Maaf, Tuan. Saya hanya tahu diri, tak ingin dituduh sok merasa sebagai nyonya.” kata Alya lirih tapi tegas.

         “Ke depan. Sekarang.” ucapnya rendah, sorot matanya tak memberi ruang bantahan.

        Alya menarik napas dalam, menekan gugup yang membuat tangannya bergetar. Ia berpindah ke kursi depan dan duduk di sisi Romeo, mematung menatap jalan di depan tak sadar sabuk pengaman belum terpasang.

        “Apa kau berharap aku yang memasangkannya? Singkirkan mimpi itu. Pasang sekarang.” bentak Romeo, membuat Alya tersentak.

         Kini bukan hanya jemarinya yang gemetar, seluruh tubuhnya ikut bergetar akibat bentakan yang baru saja diterimanya. Dengan tergesa ia mencoba mengenakannya, namun berkali-kali keliru. Tatapan dingin Romeo yang mengancam membuat keberaniannya runtuh, hingga akhirnya ia memaksa diri untuk memasangnya dengan benar.

         Romeo meliriknya dengan pandangan dingin; Alya akhirnya berhasil memasangnya dengan benar. Entah karena amarah yang dipicu oleh bayangan tentang Tania, pria itu justru menginjak pedal gas lebih dalam, membuat mobil melesat tanpa ampun. Jangan tanyakan bagaimana detak jantung Alya saat itu ia memejamkan mata rapat, berdoa dalam diam, jika sesuatu yang buruk harus terjadi, semoga semuanya berakhir seketika tanpa rasa sakit.

        Seolah menemukan hiburan baru, Romeo tampak menikmati ketakutan yang jelas terpancar di wajah Alya. Kepuasan itu justru mendorongnya menambah laju kendaraan tanpa ragu. Entah sudah berapa kali umpatan dan klakson pengemudi lain menghujani mereka, namun Romeo tetap tak menggubris acuh, seakan dunia di sekelilingnya tak lagi berarti.

       Keduanya akhirnya tiba di kediaman orang tua mendiang istrinya. Meski perempuan itu telah tiada, ikatan Romeo dengan keluarga mertuanya tak lantas terputus hubungan itu masih bertahan, terjalin oleh masa lalu yang tak mudah dilupakan.

        “Hah! Hah! Hah!”

        “Masih bernapas?Akan jadi masalah besar buatku kalau kau mati di mobil ini.Turun. Dan ingat satu hal bersikaplah normal. Jangan beri alasan sekecil apa pun agar kedua putriku mencurigai sesuatu. Paham?” sindir Romeo dingin.

        “I-ya, saya mengerti.” katanya kaku sambil menunduk.

        “Dan satu hal lagi,jangan pernah memanggilku tuan. Mengerti?” ucap Romeo rendah penuh ancaman.

        Alya hanya mengangguk pelan. Sejujurnya, dorongan untuk menangis hampir saja pecah, namun ia menahannya sekuat tenaga. Ia tak ingin air mata itu merusak riasan di wajahnya satu-satunya hal yang masih bisa ia kendalikan saat ini.

       “Tak perlu menangis. Aku tak punya simpati untukmu. Jangan lupa satu pun dari perkataanku tadi.” Romeo merendahkan suaranya, tajam dan menekan.

        Keduanya turun dari mobil dengan wajah yang dipoles kepalsuan. Dengan keberanian yang dipaksakan, Alya menyelipkan lengannya ke lengan Romeo. Pria itu sempat melirik ke bawah, namun segera tersadar ia tengah memainkan perannya. Mereka melangkah masuk dengan senyum merekah, seakan tak ada badai yang baru saja terjadi, tampil layaknya pasangan sempurna yang sarat kemesraan.

       “Ibu! Papa sudah datang!” teriak keduanya riang sambil berlari menghampiri.

        Entah karena rasa rindu yang tak tertahankan, Alya pun melepaskan genggaman itu lalu berjongkok, menyambut pelukan hangat si kembar yang langsung memeluknya dengan penuh antusias.

       Si kembar langsung memeluk Alya dengan limpahan kasih sayang, tanpa sedikit pun rasa canggung atau takut. Pemandangan itu begitu berbeda dibandingkan saat Romeo datang bersama Tania di mana kedua bocah itu justru memilih berpaling, sama sekali tak menunjukkan minat untuk sekadar menyambut atau menyalami kekasih ayah mereka.

       “Perempuan itu benar-benar berhasil mengambil hati anak-anakku.” desis Romeo, wajahnya mengeras menahan rasa tak suka.

       'Ibu, di perut Ibu sudah ada adik kita belum?” tanya Selina lugu namun bersemangat.

       “A-adik…?” ucap pelan Alya dan Romeo.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!