Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.
Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.
Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.
Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.
Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"
Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Imam Shalat Sebelum Menjadi ImamMu
Satu minggu berlalu, Sebelum kegiatan Bazar UMKM dan Festival teh Desa Sukamaju dilaksanakan, warga Desa akan mengadakan peringatan Isra Miraj terlebih dahulu, baru keesokan harinya, Bazar akan dilaksanakan. Isra Miraj tahun ini terasa berbeda. Warga sepakat memusatkan acara di Pesantren Al-Hadid, jantung spiritual desa tersebut.
Panggung besar dengan dekorasi kaligrafi indah sudah berdiri di halaman pesantren, sementara lampu-lampu hias melingkar di dahan pohon sawo, menciptakan suasana yang hangat.
Undangan resmi bersampul putih bersih tiba di meja Arka. Isinya membuat jantung sang Pj Kades itu seolah berhenti berdetak sesaat. Ia bukan hanya diundang sebagai tamu VIP untuk duduk di kursi depan, melainkan diberi amanat berat yaitu Menjadi Imam Shalat Maghrib dan Isya berjamaah sebelum acara Tabligh Akbar dimulai.
"Pak Sugeng, ini serius?" tanya Arka dengan wajah pucat, tangannya sedikit gemetar memegang kertas undangan.
Pak Sugeng terkekeh sambil merapikan tumpukan berkas.
"Serius, Pak Kades. Ini permintaan langsung dari panitia dan sudah disetujui Kiai Hasan. Anggap saja ini ujian jalur langit"
Arka masih menatap undangan itu, ia masih gemetar dengan permintaan yang di tulis di sudut bawah surat resmi itu.
Sore hari tiba, halaman pesantren sudah memutih oleh ribuan jamaah. Arka datang mengenakan baju koko putih bersih, sarung tenun berwarna gelap, dan peci hitam yang terpasang rapi. Wajahnya terlihat tenang, namun di dalam hatinya, ia sedang mengulang-mengulang surat-surat pendek agar tidak ada satu huruf pun yang tergelincir.
Saat waktu Maghrib tiba, Kiai Hasan memberikan isyarat halus.
"Silakan maju, Nak Arka." bisik beliau lembut.
Arka melangkah menuju mihrab. Dadanya bergemuruh hebat. Di belakangnya, ribuan warga, santri, bahkan staf Balai Desa berdiri rapat membentuk saf-saf yang kokoh. Ia sempat melirik ke arah tirai pembatas jamaah wanita. Ia tahu, di balik sana, Zahwa pasti sedang mendengarkan dengan saksama.
"Allahu Akbar..."
Takbir pertama Arka sempat sedikit bergetar, namun perlahan ketenangan itu datang. Saat ia mulai melantunkan Surat Al-Fatihah, suaranya mengalun bening. Meskipun tidak sefasih qori internasional, setiap huruf dan tajwidnya terjaga dengan sangat hati-hati, untung setiap malam ia masih selalu belajar mengaji bersama Ustadz Yusuf.
Suasana masjid mendadak hening, hanya suara Arka yang menggema melalui pengeras suara, memecah kesunyian malam Sukamaju. Warga yang biasanya hanya mendengar Arka berpidato soal anggaran dan Sukamaju, kini terpukau mendengar pemimpin mereka melantunkan ayat suci dengan penuh penghayatan.
Ujian itu berlanjut hingga shalat Isya. Arka berhasil melewati kedua waktu shalat tersebut tanpa kesalahan fatal. Setelah salam, ia merasa seolah beban seberat satu ton baru saja diangkat dari pundaknya. Keringat dingin membasahi pelipisnya, namun hatinya terasa sangat lapang.
Sebelum Kiai Hasan naik ke mimbar untuk memulai Tabligh Akbar, Ustadz Yusuf guru ngaji Arka yang biasanya sangat galak soal hukum tajwid mendekat. Ia menepuk bahu Arka dengan kuat sambil mengacungkan jempol.
"Luar biasa, Pak Kades. Semua mulus tidak ada yang meleset," bisik Ustadz Yusuf dengan wajah bangga.
"Sepertinya Bapak memang sudah pantas jadi imam... bukan cuma imam shalat, tapi imam yang lain juga."
Arka hanya bisa tersenyum malu, wajahnya memerah mendengar candaan sang ustadz. "Ini semua berkat kesabaran Ustadz mengajar saya."
Malam itu, di bawah langit Sukamaju yang bertabur bintang, Arka bukan lagi sekadar pejabat kementerian yang sedang dibuang ke desa. Ia telah bermetamorfosis menjadi pemimpin yang diterima secara lahir dan batin oleh rakyatnya.
Acara Tabligh Akbar pun dimulai dengan sangat meriah. Kiai Hasan memberikan ceramah yang sangat menyentuh, namun di sela-sela ceramahnya, beliau sempat menyelipkan pujian. "Malam ini, kita melihat bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau sujud bersama rakyatnya."
Arka tertunduk haru. Desa ini telah memberinya jalan untuk kembali menemukan Tuhannya.
***
Keesokan harinya, Desa Sukamaju tidak lagi sama. Keberhasilan Arka menjadi imam di acara Isra Miraj semalam menjadi bahan perbincangan paling hangat, melampaui berita hasil panen teh.
Foto-foto dan cuplikan video Arka saat melantunkan ayat suci yang direkam secara diam-diam oleh para pemuda desa melalui ponsel mereka menyebar bak api di atas rumput kering. Grup pesa singkat warga, mulai dari grup "Rukun Tetangga" hingga grup "Persatuan Warga Sukamaju" dipenuhi oleh pujian.
Judul-judul di media sosial lokal pun sangat bombastis.
"Kades Idaman! Bukan Cuma Jago Benahi Jalan, Kades Arka Juga Benahi Iman!"
"Kades Arka, menjadi imam Shalat saat acara Tabligh Akbar semalam"
Di warung Bu Sari, kerumunan warga lebih ramai dari biasanya. Mereka tidak hanya sarapan, tapi sibuk memutar ulang video rekaman shalat Isya semalam.
"Coba dengar ini, suaranya tenang sekali ya," ujar seorang ibu sambil menunjukkan ponselnya ke arah Bu Sari. "Dulu kita punya kades yang boro-boro jadi imam, datang ke masjid saja pas ada bantuan sosial saja. Sekarang? Pak Arka benar-benar bikin kita punya harga diri di depan desa tetangga."
Bu Sari menepuk meja dengan bangga. "Makanya! Saya sudah bilang dari dulu, Pak Arka ini memang.. Langka! Sudah ganteng, pintar, sekarang jadi imam lagi. Kalau saya punya anak gadis, sudah saya pepet itu Pak Kades dari hari pertama!".
Gelak tawa warga pecah. Mereka merasa memiliki ikatan batin yang semakin kuat dengan pemimpinnya. Kepercayaan yang dulu sempat hilang karena ulah kades-kades sebelumnya, kini pulih seutuhnya. Arka bukan lagi orang Kota yang mampir, tapi sudah menjadi bagian dari keluarga besar Sukamaju.
Sementara itu, di Balai Desa, Arka disambut dengan suasana yang sangat meriah. Begitu ia melangkah masuk, para staf yang dipimpin Pak Sugeng langsung berdiri dan memberikan tepuk tangan riuh.
"Selamat, Pak Kades! Bapak sukses besar semalam!" seru Pak Maman sambil menyodorkan koran lokal yang memuat profil singkat Arka di halaman depan.
Arka yang baru saja turun dari motornya langsung salah tingkah. Wajahnya memerah padam. "Aduh, sudah ya... Ini berlebihan sekali. Saya cuma menjalankan tugas, Bapak-bapak."
Pak Sugeng mendekat, wajahnya penuh binar kebanggaan. "Ini bukan cuma tugas, Pak. Ini soal kepercayaan. Bapak lihat sendiri kan reaksi warga? Mereka merasa Bapak adalah pemimpin yang utuh. Pagi tadi bahkan ada warga yang datang ke sini bukan cuma buat titip salam, mereka menitipkan pisang rebus buat Bapak sebagai rasa syukur."
Arka duduk di kursinya dengan perasaan campur aduk. Ia senang, namun ia juga merasa tanggung jawabnya semakin berat. Di atas mejanya, ia melihat beberapa komentar positif dari warga di media sosial yang ditunjukkan oleh sekretaris desa.
Arka tersenyum kecil, akhirnya hal yang paling ia takutkan tidak terjadi, sejak awal ia khawatir dengan keadaan warga yang mungkin kurang mendukungnya, belum lagi staf desa yang terlihat acuh tak acuh, tapi hari ini semua sirna. Sekarang baginya, Sukamaju entah akan menjadi awal, atau akhir karena melihat keberadaan dirinya di sukamaju yang tidak lama ini.
...🌻🌻🌻...