NovelToon NovelToon
Milikku Di Atas Net

Milikku Di Atas Net

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Martha Wulan

Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.

Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.

"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."

Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.

Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Api yang Menyala

Para pembantu langsung menunduk dalam-dalam, tangan mereka berhenti bergerak. Livia tetap berdiri tegak, serbet masih tersampir di bahu seperti handuk latihan.

 Ia tidak langsung menjawab—teknik delay yang dia pelajari dari wawancara media pasca-kalah:  diam dan biarkan lawan kehilangan momentum.

“Maaf kalau Tante Lastri salah paham,” jawab Livia dengan tenang, sementara otakna bekerja keras memaki wanita tua yang memandanginya dengan tajam. “Ibu Ratna menyuruh saya bertanggung jawab atas makan malam keluarga besar. Beliau tidak bilang harus saya yang mengulek sendiri setiap bumbu. Yang penting hasilnya sempurna dan tepat waktu, kan?”

Tante Lastri tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya tak percaya. “Hasil sempurna? Anak bau kencur kaya kamu  pintar sekali mangkir dari tangung jawab. Nggak pernah ada sejarahnya di keluarga Adiwinata, menantu membantah ucapan mertuanya. Kamu baru saja menikah sudah berani membantah aturan orangtua, ya? Gimana nanti?"

Livia menahan napas sambil membatin yang bener aja gue disuruh masak. Apa gunanya punya pelayan? 

“Tante saya nggak mungkin memasak semuanya sendiri? Kalau saya mau enaknya, saya mungkin akan memesan lewat catering langanan temen Mami. Tapi kalau tante ingin yang proper, saya punya kenalan ..."

 “Catering?” Pekik Tante Lastri membuat seluruh dapur seolah membeku. Beberapa mbok langsung menunduk lebih dalam, takut terkena imbas.

Anehnya, Livia sama sekali tidak bergeming.

Livia tetap tenang, senyum tipis di bibirnya—senyum yang sama seperti saat dia tahu lawan sudah kehilangan fokus di game ketiga.

“Tante salah dengar kalau mengira saya serius mau catering,” kata Livia lembut, tapi nada di belakangnya seperti smash tersembunyi. “Saya cuma bilang, kalau efisiensi yang jadi masalah, itu pilihan termudah. Tapi saya pilih yang lebih sulit: masak sendiri, tapi dengan cara saya.”

Ia melangkah maju, mengambil ulekan besar dari tangan Mbok Nah yang gemetar. Dengan gerakan presisi seorang atlet, Livia mulai mengulek bumbu—tidak lambat seperti demonstrasi kesabaran, tapi cepat, ritmis, seperti dia lagi melakukan footwork drill. Bau bawang, cabai, dan kemiri langsung menyebar lebih kuat.

“Mbok, api tungku dinaikkan sedikit,” perintah Livia tanpa menoleh. “Kamu, tambah santan perlahan sambil diaduk—jangan sampai pecah. Kita punya 45 menit sebelum hidangan utama disajikan.”

Para pembantu langsung gerak lagi, kali ini lebih cepat—seolah mereka baru sadar bahwa “mandor” ini bukan sembarang orang.

Tante Lastri berdiri kaku di tempatnya, wajahnya memerah seperti cabe yang baru diulek. “Kamu... kamu berani bicara seperti itu di rumah ini?”

Livia berhenti mengulek sejenak, menatap Tante Lastri lurus. “Saya berani karena saya di sini bukan sebagai pembantu, Tante. Saya istri Rangga. Dan kalau Ibu Ratna mau makan malam keluarga besar sukses malam ini, biarkan saya selesaikan dengan cara yang saya tahu.”

Hening sesaat. Lalu, dari balik pintu dapur, terdengar suara langkah pelan tapi berwibawa.

Mama Ratna muncul, kebaya ungu tuanya masih rapi seperti pagi tadi. Matanya menyapu suasana: dapur yang kini berjalan seperti mesin, Livia yang berdiri di tengah dengan tangan penuh bumbu, dan Tante Lastri yang wajahnya seperti kepiting rebus.

“Lastri,” sapa Mama Ratna tenang, tapi nada itu cukup membuat adik iparnya langsung menunduk sedikit. “Kamu sudah lihat sendiri hasilnya? Hidangan malam ini akan jadi pembicaraan keluarga besar besok.”

Tante Lastri tergagap. “Tapi, Kak... cara dia—”

“Cara yang berhasil,” potong Mama Ratna halus. “Livia bertanggung jawab, dan hasilnya akan kita lihat nanti. Kamu boleh duduk di pendopo kalau mau istirahat.”

Itu bukan saran. Itu perintah berbalut sutra. Tante Lastri mengatupkan bibir, lalu berbalik pergi dengan langkah yang kini tidak lagi klik-klak percaya diri.

Begitu pintu tertutup, Mama Ratna menatap Livia lama. Tidak ada senyum, tapi juga tidak ada kemarahan.

“Kamu pintar memimpin, Nduk,” katanya akhirnya. “Tapi ingat—di rumah ini, memimpin bukan berarti mengambil alih. Kadang harus tahu kapan mundur.”

Livia mengangguk hormat, tangannya masih memegang ulekan. “Saya mengerti, Ibu. Tapi kalau mundur terlalu sering, orang lupa kita pernah menang.”

Mama Ratna terdiam sejenak, lalu—untuk pertama kalinya—bibirnya melengkung tipis. Bukan senyum lebar, tapi cukup untuk membuat Livia tahu: set kedua, dia menang telak.

***

Hidangan disajikan tepat waktu. Gudeg manggar yang manis gurih, ayam lodho yang pedasnya pas, selat solo yang kuahnya kental sempurna. Keluarga besar—puluhan orang dari cabang Adiwinata—makan dengan lahap, pujian mengalir.

“Ini gudegnya enak sekali, lebih mantap dari biasanya!” kata seorang paman.

“Siapa yang masak?” tanya bibi lain.

Tentu saja bukan menantu baru kita, Livia, yang memasak. Tapi dia memang sangat pintar memerintah," ucap Ibu Ratna dengan nada yang terdengar seperti pujian, namun bermata dua.

Seketika, denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen melambat. Keluarga besar Adiwinata—yang standar moralnya masih tertinggal di abad ke-19—langsung menatap Livia dengan tatapan menghakimi.

“Kok bukan Livia yang masak? Memang kamu tidak mau belajar, Nduk?” tanya salah satu bibi dengan nada menyelidik yang kental.

“Iya, semua menantu di rumah ini harus pintar melayani suami. Itu sudah pakemnya,” hardik yang lain, seolah sedang memberikan kuliah moral mendadak.

Tante Lastri, yang rupanya masih menyimpan dendam karena otoritasnya digeser di dapur tadi, tidak mau ketinggalan momen. Ia menegakkan punggung, siap meluncurkan serangan pamungkas. “Dia juga sok tahu, masa menyarankan Ratna untuk menyewa catering? Benar-benar tidak ada hormatnya sama tradisi. Nak Rangga, istrimu ini...”

Livia merasa telinganya panas, namun ia bukan tipe wanita yang akan menangis di pojokan. Di bawah meja yang tertutup taplak putih bersih, ia memainkan jemarinya di paha Rangga, sebuah gerakan nakal yang membuat suaminya itu tersentak kecil.

 Livia menoleh sekilas, mengedipkan matanya dengan gaya femme fatale yang seolah berkata, “Your turn, Hubby. Selamatkan istrimu atau tidak ada jatah malam ini.”

Rangga berdeham, meletakkan sendoknya dengan gerakan yang sangat ningrat, namun tatapan matanya tajam menyapu seisi ruangan.

“Bi, sepertinya Bibi lupa kalau saya sendiri juga tidak terlalu suka masakan Jawa yang terlalu manis, kan?” bela Rangga, suaranya tenang namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah. “Saya tidak pernah menuntut Livia harus bisa masak atau tidak. Saya punya private chef untuk urusan perut, atau saya lebih suka masak sendiri. Kita ini atlet, terllau sibuk untuk memikirkan siapa yang memask?”

“Hati-hati lho, Nak Rangga, istrimu bisa jadi terlalu manja,” ucap sang paman dengan nada menggurui yang kental. “Perempuan Adiwinata itu harus paham kodratnya di dapur dan melayani suami.”

Rangga mendesah pelan, namun senyumnya tetap terjaga secara diplomatis. “Mendiang Eyang juga tidak pernah mengharuskan menantu-menantunya untuk bisa masak, kan? Beliau lebih menghargai perempuan yang punya prinsip.”

Suasana meja makan mendadak senyap, tapi ketenangan itu pecah saat seorang pelayan mendekat dan berbisik cemas ke telinga Ibu Ratna. Wajah Ibu Ratna langsung menegang.

“Ada apa?” tanya Rangga menyadari perubahan raut wajah ibunya.

“Pelatih kepala tim nasional putri baru saja mendarat di Solo,” jawab Ibu Ratna dingin sambil menatap Livia. “Dan dia membawa surat pembatalan kontrak atas permintaan keluarga kita.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!