Yuri meremas gaunnya yang cantik melihat mantan suaminya terlihat bahagia di atas pelaminan. Padahal 1 minggu yang lalu putusan cerai di sahkan oleh pengadilan. Yang menjadi istri baru mantan suami adalah Arimbi sahabat baiknya yang dengan tega merebut kebahagiannya disaat Yuri berjuang untuk mendapatkan sang buat hati.
Air matanya berusaha ditahan agar tidak tumpah membasahi dan merusak riasan wajahnya yang sudah sempurna. Disaat Yuri berusaha tetap tegar sebuah tangan menggenggam tangannya dan memberikan sebuah kekuatan baru.
"Apa kamu ingin membalaskan dendam mu kepada mereka?" ucap Gio
"Apa aku bisa??" jawab Yuri ragu -ragu
Gio yang merupakan atasannya ditempat kerjanya yg baru tak sengaja bertemu di pesta resepsi David dan Arimbi. Hubungan keduanya pun sebatas karyawan dan atasan.
"Menikahlah denganku dan lahirkanlah anak untukku"
"Itu tidak mungkin, aku mandul!!" Ucapnya tegas.
"Percayalah padaku. Kamu bisa menggunakan seluruh kekayaan yang aku miliki untuk membalaskan dendammu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terus Didesak
Sudah dua jam lamanya Belinda menunggu kepulangan Gio, ada hal penting yang harus dia bicarakan dengan anak tirinya itu. Siang tadi sebenarnya Belinda sudah datang ke perusahaan Y&G Dream namun tak berhasil bertemu dengan Gio. Selain Gio memang sedang berada di luar, Belinda pun mendapatkan blacklist sehingga di pintu gerbang pun tak diperbolehkan masuk.
“Sebaiknya Nyonya pulang saja dulu nanti simbok sampaikan kepada Den Gio jika Nyonya hari ini datang,” ucap Mbok Jum, salah satu ART di rumah Gio.
“Gapapa Mbok, saya tunggu sebentar lagi. Biasanya Gio pulang jam berapa?” tanya Belinda dengan ramah.
“Paling malam jam 10 sudah sampai di rumah Nyonya. Den Gio tidak pernah pulang lewat jam 10 malam. Apa Nyonya mau makan malam terlebih dahulu, biar simbok siapkan,” sahut mbok Jum.
“Nanti saja Mbok, saya menunggu Gio pulang saja terlebih dahulu.”
Mbok Jum pun hanya menganggukkan kepalanya, kemudian kembali ke area belakang untuk mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai. Belinda terus saja melirik ke arah jam tangannya menunggu kepulangan Gio.
Tak lama kemudian terdengar suara deru mesin mobil yang berhenti di depan rumah, tanpa Belinda cari tahu pemiliknya sudah pasti itu adalah Gio. Belinda pun segera menuju ruang depan untuk menemui Gio.
Sebelum keluar dari mobilnya, Gio sedikit merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal. Perjalanan selama tiga jam dari Kota Bogor membuat Gio cukup lelah karena harus berkendara sendiri, Ziyan yang biasa mendampingi harus tetap berada di perusahaan karena sedang ada audit internal.
Suka tidak suka Gio harus tetap turun tangan mengelola dan mengawasi salah satu anak perusahaan milik ayahnya yang ada di Kota Bogor. Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang periklanan yang cukup bonafit dan berkantor pusat di Jakarta. Namun tak kunjung menemukan pengganti direktur dan beberapa posisi manager inti membuat Gio sebagai CEO harus memegang alih sementara termasuk di kantor pusat.
Matanya menyipit saat melihat sebuah mobil yang tak asing baginya, Gio pun keluar untuk memastikannya lagi.
“Cihhh buat apa nenek gayung itu datang kesini?” decak Gio sambil melangkah ke dalam rumahnya.
Rasanya Gio sangat malas untuk pulang ke rumahnya setelah mengetahui jika Belinda ada di dalam. Namun Gio bukan tipe pria yang suka tidur di luar apalagi hotel jika bukan karena sedang berada di luar kota. Jika masih memungkinkan untuk pulang, Gio lebih menyukai pulang ke rumahnya jam berapapun itu.
“Akhirnya kamu pulang juga, masih ingat rumah rupanya.” Baru saja melangkahkan kaki beberapa langkah sudah terdengar suara yang tak ingin Gio dengar.
“Ada apa?” tanya Gio dengan dingin, dia tak ingin basa basi, apalagi membuat wanita itu berada lebih lama di rumahnya.
“ Sebaiknya kita makan malam dulu, Nak. Lihatlah Mbok Jum sudah menyiapkan makanan yang enak di meja makan,” ajak Belinda berusaha ramah.
“Cepat katakan ada urusan apa anda datang ke rumah saya? Jika hal yang tidak penting sebaiknya anda keluar dari sini!!” tukas Gio sambil menunjuk ke arah pintu keluar.
Belinda menghembuskan napasnya perlahan, niat hati ingin sekalian untuk memperbaiki hubungannya dengan Gio ternyata tidaklah mudah. Memang salahnya selama ini bersikap keras, itupun karena berbagai tuntutan dari suaminya.
“Kapan kamu akan melamar Cantika? Kedua orang tuanya sudah mendesak untuk segera menikahinya sebelum Cantika melanjutkan karirnya di Paris,” tanya Belinda langsung to the point.
“Tidak akan pernah!!”
“Gio!!” seru Belinda kesal.
“Bilang pada ayah, dia saja yang menikahi Cantika jangan tumbalkan saya untuk wanita macam dia,” tegas Gio, lelah selalu dituntut sesuatu yang tidak sejalan dengan keinginannya.
“Jangan berkata sembarangan Gio. Ayahmu sudah tua dan kamu juga sudah cukup umur, sudah saatnya kamu memiliki anak sebagai ahli waris. Dan Cantika memenuhi syarat itu semua, dia pasti bisa melahirkan anak untukmu,” terang Belinda.
“Kenapa tidak anda saja yang melahirkan anak, kenapa harus selalu menuntut saya. Bahkan kalian memberikan wanita bekas seperti itu? Apa yang dinilai? Hanya karena dia pernah hamil? Cihhh”
Belinda memejamkan matanya, nyatanya dia memang tak bisa memiliki anak. Rahimnya sudah diangkat setelah kecelakaan parah yang dialaminya, yang tak sengaja ditabrak oleh Rama, ayah Gio. Sehingga sebagai rasa tanggungjawabnya kepada Belinda, Rama menikahinya setelah 10 tahun menduda pasca meninggalnya ibunda Gio.
Gio memejamkan matanya menahan emosi, pikirannya saat ini sangat lelah setelah bekerja seharian di luar. Begitu pulang ke rumah bukannya ketenangan yang dia dapatkan justru mendapatkan hal yang selalu membuat hidupnya merasa muak.
“Apa di dalam otak tua Bangka itu hanya ada anak saja, tak peduli anak itu datangnya dari mana bahkan dari rahim seorang wanita malam sekaligus hah!! Jawab!!” Bentak Gio, dia sangat geram.
“Mungkin saja iya, yang terpenting anak itu datangnya dari benih milikmu. Kaya, miskin, cantik, janda yang penting dia bisa melahirkan seorang ahli waris keluarga Ghandika,” jawab Belinda merasa sendu, teringat dirinya yang tak bisa memiliki seorang anak, beruntung Rama mau bertanggung jawab meskipun pernikahan mereka hanya status.
“Baiklah jika begitu, akan saya berikan anak untuk tua bangka itu. Tapi satu syarat saya akan memilih siapa yang pantas untuk menjadi ibu dari anak saya. Yang pasti bukan Cantika.”
Ya jelas mana sudi Gio menjadikan Cantika sebagai istri dan ibu bagi anak-anak kelak walaupun secara penampilan wanita tampil sempurna sebagai seorang model. Masa lalu Cantika yang pernah hamil di luar nikah dan menggugurkannya tak pantas menjadi seorang ibu menurut Gio.
“Sure, boleh saja tetapi waktumu hanya 3 bulan untuk menikah dan satu tahun ke depan adalah batas istrimu nanti untuk hamil dan melahirkan seorang ahli waris keluarga Ghandika. Jika dalam tiga bulan ini kamu belum juga menikah maka mau tidak mau kamu harus menikah dengan Cantika,” ujar Belinda menatap Gio nanar, merasa kasihan dengan anak tirinya yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayahnya.
“Anda tahu bukan di mana pintu keluarnya?” Gio melangkah gontai menuju kamarnya, dia sangat lelah dan butuh istirahat.
Bbbraakkk
Bbrruugghhh
Pprranggg
Semua benda yang ada di dalam kamarnya sudah pasti menjadi sasaran kemarahannya. Jika sudah seperti ini tak ada yang bisa menghentikan apa yang di lakukan Gio, malam ini dia butuh pelampiasan. Tak tahu hingga kapan dia harus berperang dengan dirinya sendiri, memendam semuanya tanpa ada tempat untuk berbagi.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Tak banyak yang berubah pagi ini, rutinitas kantor tetap berjalan seperti biasa. Meskipun hanya beristirahat dalam hitungan jam, Gio tetap masuk kantor tepat waktu. Gio menjadi contoh atasan yang baik bagi seluruh karyawan. Secangkir kopi pahit tanpa gula mengawali rutinitas Gio pagi ini di kala setumpuk beban mengisi seluruh ruang dalam otaknya.
Tok
Tok
Tok
Rupanya sang asisten, Ziyan yang masuk ke dalam ruangan kerja Gio. Ziyan memberikan sebuah undangan berdesain mewah untuk Gio. Rasa penasarannya membuat Gio segera membukanya dan mencari tahu isi undangan tersebut.
“Jadi ini manajer pemasaran yang baru?” tanya Gio sambil membaca isi undangan tersebut.
“Iya Boss, hampir seluruh petinggi dan pimpinan diundang olehnya,” terang Ziyan, sebenarnya dia juga mendapatkan undangan tersebut.
Sambil mengusap dahinya, Gio membaca undangan pernikahan tersebut dengan seksama.
“Apa posisi wakil direktur masih kosong di PT Arekasa?” tanya Gio memastikan.
Ziyan hanya menganggukkan kepalanya, ada sedikit rasa penasarannya karena tak biasanya Gio menanyakan struktur kepemimpinan di perusahaan milik ayahnya itu.
“Bagus, tetap biarkan kosong untuk tiga bulan ke depan. Nanti saya yang akan memastikan posisi tersebut terisi oleh orang yang tepat.” Gio meletakkan undangan tersebut dan menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi.
“Apa gaun, tas dan sepatu yang saya minta semalam sudah kamu siapkan?” tanya Gio lebih lanjut.
“Sudah Boss, untuk gaun akhir bulan ini bisa selesai karena untuk ukuran yang diminta tidak tersedia. Tetapi saya pastikan semuanya akan siap sesuai keinginan anda, Boss.”
Sebuah senyuman tipis terukir di sudut bibirnya, Gio merencanakan sesuatu tanpa ada satupun yang mengetahuinya termasuk asistennya Ziyan. Kali ini Gio bergerak sendiri, karena dia ingin memberikan kejutan untuk seseorang.