Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.
Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.
kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.
namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.
apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..
devan lagi
Pagi itu laut tampak lebih tenang dari hari sebelumnya. Sinar matahari menyapu permukaan air, memantulkan gradasi biru yang lembut. Kapal phinisi mereka berlabuh tak jauh dari Pink Beach, pasirnya yang berwarna kemerahan terlihat kontras dengan laut jernih di sekelilingnya.
Rombongan mulai bersiap turun. Suasana pagi terasa ringan, dipenuhi obrolan santai dan tawa kecil. Beberapa orang sudah tidak sabar mengenakan perlengkapan snorkeling, sementara yang lain memilih menikmati pantai dengan berjalan santai atau sekadar duduk di tepi air.
Pak Surya dan Bu Mariana termasuk yang pertama turun. Mereka tampak antusias, berjalan perlahan di atas pasir pink sambil sesekali berhenti untuk berfoto. Bu Mariana bahkan sempat berkomentar betapa uniknya warna pasir di pantai itu, sesuatu yang jarang ia temui sepanjang perjalanan wisata mereka.
Rayya turun menyusul dengan langkah hati-hati. Kakinya memang masih sedikit bengkak, namun kondisinya jauh lebih baik dibandingkan kemarin. Ia mengenakan sandal datar dan berjalan perlahan, tidak ingin memaksakan diri. Tommy setia di sisinya, tangannya sesekali siap menopang jika Rayya kehilangan keseimbangan.
Rayya dan Tommy memilih berjalan agak menjauh dari keramaian. Mereka menuju ujung Pink Beach yang berbatasan langsung dengan area hutan kecil. Dari sana, pemandangannya memang terasa berbeda, laut terlihat lebih luas, warna pasir pink tampak lebih pekat, dan deretan pulau kecil di kejauhan membentuk siluet yang indah.
“Di sini bagus banget,” kata Tommy sambil mengangkat ponselnya.
“Iya,” jawab Rayya pelan, matanya berbinar. Rasa nyeri di kakinya seolah sedikit terlupakan karena keindahan di hadapannya.
Mereka mengambil beberapa foto dari berbagai sudut. Rayya berdiri menghadap laut, lalu berbalik ke arah hutan, sementara Tommy sibuk mengatur cahaya dan komposisi. Setelah merasa cukup, Tommy menyimpan ponselnya dan menoleh pada Rayya.
“Aku mau nyusul snorkeling dulu, ya. Kamu jangan jauh-jauh,” katanya.
Rayya mengangguk.
“Tenang aja. Aku paling foto-foto sedikit lagi, terus balik.”
Tommy pamit, melangkah cepat kembali ke arah pantai utama. Rayya pun tinggal sendiri di spot yang relatif sepi itu. Ia berjalan perlahan, mengambil beberapa foto tambahan, pasir yang berkilau, dedaunan yang tertiup angin, dan garis pantai yang melengkung lembut. Langkahnya hati-hati, namun fokusnya lebih banyak tertuju pada layar ponsel.
Saat hendak kembali menyusuri jalur sempit di antara pepohonan menuju rombongan, Rayya mendadak berhenti. Jantungnya serasa melonjak ke tenggorokan.
Seekor ular melintang di jalur itu.
Tubuhnya tidak terlalu besar, namun cukup panjang dan diam tak bergerak, seolah sedang mengamati. Rayya menjerit spontan, suaranya pecah oleh panik. Namun pantai terasa terlalu jauh, suara ombak dan riuh rombongan menelan teriakannya begitu saja.
Rayya mundur satu langkah, napasnya memburu. Tangannya gemetar saat meraih sebatang tongkat kayu yang tergeletak di dekatnya. Dengan sisa keberanian, ia mengayunkan tongkat itu perlahan, mencoba mengusir ular agar menjauh. Namun setiap gerak kecil justru membuat rasa takutnya semakin menjadi.
Ia melangkah lagi, mencoba memutar, namun jalur terasa sempit. Kakinya yang masih belum pulih sepenuhnya mulai terasa nyeri. Rasa sakit menjalar, tapi Rayya mengabaikannya. Dalam kepalanya hanya ada satu keinginan: menjauh dari tempat itu dan kembali ke rombongan secepat mungkin.
Di saat kepanikan mulai menguasai, dari arah bukit kecil tak jauh dari sana, Devan baru saja selesai mengambil beberapa foto. Ia memang memutuskan hiking singkat sendirian, bukitnya tidak terlalu tinggi hanya perlu beberapa menit untuk sampai keatas, dan dari atas, pemandangan laut tampak lebih dramatis. Saat menuruni jalur berbatu, matanya menangkap sosok Rayya di kejauhan. Gerakannya terlihat aneh, tergesa, pincang, dan jelas panik.
Devan langsung berlari.
“Rayya!” panggilnya, suaranya tegas. ia melihat seekor ular tak jauh dari rayya berdiri.
Rayya menoleh, matanya membesar karena lega.
“Dev—” suaranya tercekat.
Devan sudah sampai beberapa langkah darinya. Ia segera mengambil tongkat kayu dari tangan Rayya, memberi isyarat agar Rayya mundur dan tetap diam. Gerakannya tenang, terkendali. Ia tahu, satu kesalahan kecil bisa membuat ular bereaksi.
Dengan tongkat itu, Devan menggeser pasir dan semak di sekitar ular, mengarahkannya menjauh dari jalur. Ia tidak memukul, hanya memberi tekanan perlahan, memaksa ular itu mencari jalan lain. Beberapa detik terasa seperti menit yang panjang, sampai akhirnya ular itu meluncur pergi ke arah semak-semak dan menghilang dari pandangan.
Devan menghela napas panjang.
“Udah pergi.”
Rayya baru menyadari betapa keras jantungnya berdegup. Kakinya terasa lemas, tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. Devan refleks meraih lengannya.
ketika hendak melanjutkan perjalanan ke arah rombongan, rayya terlihat meringis. namun ia berusaha untuk melanjutkan perjalanan mereka.
“Duduk,” kata Devan cepat. Ia menuntun Rayya ke sebuah bebatuan besar yang cukup datar. ternyata dari tadi dev memperhatikan langkah rayya.
“Jangan dipaksa berdiri.”
Rayya menuruti, duduk perlahan. Tangannya masih sedikit gemetar.
“Terima kasih…” ucapnya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh napasnya sendiri.
Devan tidak langsung menjawab. Pandangannya turun ke pergelangan kaki Rayya yang terlihat sedikit lebih bengkak dari sebelumnya.
“Kakimu kenapa? Kamu berlari tadi, ya?”
Rayya mengangguk kecil.
“Aku panik.”
Tanpa banyak bicara, Devan berlutut di depannya. Dengan hati-hati, ia menyentuh pergelangan kaki Rayya, memeriksanya. Sentuhan itu membuat Rayya menegang sejenak, bukan karena sakit semata, tapi karena jarak mereka yang begitu dekat. Ada keheningan aneh di antara mereka, hanya diisi suara angin dan ombak dari kejauhan. hal yang sama juga di rasakan dev. namun keduanya berusaha normal.
Devan meremas perlahan, memijat dengan teknik yang sama seperti sebelumnya.
“Masih nyeri?”
“Iya… tapi masih bisa ditahan,” jawab Rayya, berusaha terdengar normal meski jantungnya berdegup semakin cepat.
Devan mengangguk, fokus pada tangannya. Ia berhati-hati, memastikan tekanannya tidak berlebihan. Rayya menatap wajah Devan dari atas, rautnya serius, penuh konsentrasi. Untuk sesaat, ia lupa pada rasa takutnya tadi.
“Kalau ada ular lagi atau apa pun,” kata Devan akhirnya, suaranya lebih lembut,
“jangan panik. Cari tempat aman, teriak, atau tunggu.”
Rayya mengangguk.
“Aku pikir… aku sendirian.”
Devan berhenti memijat, lalu berdiri.
“Kamu nggak sendirian sekarang. ada aku”
Ia mengulurkan tangan. Rayya menerimanya, bangkit perlahan. Setelah memastikan Rayya bisa berdiri dengan lebih stabil, Devan berjalan di sampingnya, menjaga jarak yang sopan namun cukup dekat untuk menopang jika diperlukan.
“Ayo,” kata Devan.
“Kita balik ke rombongan.” ajak devan. rayya pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.
namun setelah beberapa langkah, rasa sakit kembali menjalar di kaki rayya, ia mencoba untuk melawannya dan berusaha kuat di hadapan devan. namun langkah berikutnya rayya oleng, namun dengan sigap devan menahannya. melihat hal itu, devan pun mengambil inisiatif, tanpa meminta izin dari rayya, devan langsung membopong rayya, rayya yang terkejut hanya bisa pasrah. matanya melotot dan refleks mengalungkan tangannya di leher devan. devan langsung berjalan ke arah rombongan, namun rayya sempat meminta devan untuk membiarkannya berjalan sendiri.
"turunkan aku van, aku tidak mau berhutang banyak padamu." ucap rayya.
" aku akan menurunkanmu setelah memastikan kamu mendapat perawatan" sahut devan tanpa melirik kearah rayya. rayya pun bingung dengan perasaannya saat ini. di satu sisi ia tak ingin tommy melihat hal ini, di satu sisi ia merasa nyaman seperti ini.