Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.
Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.
Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.
Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.
penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. kesedihan Alyssa.
Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan Alyssa sudah mulai berdamai dengan dirinya.
Ia tidak lagi memikirkan Arya kini ia disibukkan dengan dagangan kuenya.
Ya sejak mereka berpisah Alyssa memutuskan untuk memulai usaha sendiri, bukan usaha yang besar hanya kecil kecilan yang ia jalankan dari rumah.
"Ini kuenya nak."
Perhatian Alyssa seketika beralih menatap ibunya yang kini sudah berdiri disampingnya dengan kedua nampan kue ditangannya.
Wajahnya yang pucat serta tubuhnya yang semakin kurus membuat Alyssa merasa sedih, ia juga tidak tau mengapa ibunya bisa menjadi seperti itu padahal dulu ibunya terlihat bugar.
"Kenapa ibu masih membantu Alyssa bukankah tadi Alyssa menyuruh ibu untuk beristirahat?" Kesal Alyssa karena sang ibu tidak pernah mau menuruti kata katanya.
"Mana tega ibu membiarkan kamu begadang sendirian mengerjakan pesanan kue sebanyak ini nak." Ucap Manda duduk disamping Alyssa tangan tuanya hendak meraih kue kue dihadapannya namun Alyssa segera menghentikannya.
"Justru Alyssa yang tidak tega jika ibu terus membantu Alyssa seperti ini." Teriak Alyssa sedikit kasar. Matanya mulai memanas dadanya terasa sesak sementara bibirnya bergetar menahan tangis.
"Apa ibu tidak sadar, tubuh ibu semakin kurus. Mata ibu semakin cekung dan menghitam, setiap kali Alyssa tanya ibu kenapa, ibu hanya bilang kalau ibu baik baik saja, Mulut ibu mungkin bisa berbohong tapi tubuh ibu tidak. Batuk ibu semakin sering Alyssa juga melihat ibu sering terjaga ketika malam... Hiks hiks..."
Runtuh sudah pertahanan Alyssa akhirnya ia menangis dihadapan ibunya.
Hati Manda ikut sakit melihatnya, ia tidak bermaksud membohongi putrinya hanya saja ia tidak ingin sang putri semakin khawatir setelah mengetahui keadaannya.
Tidak tau saja dirinya jika kebungkaman yang ia lakukan justru semakin membuat Alyssa khawatir dan merasa tidak tenang.
"Maafkan ibu Alyssa...." Lirih Manda mulai meneteskan air matanya.
Rasa bersalah masuk kedalam relung hatinya, perlahan ia rengkuh pundak sang anak dan memeluknya erat.
"Sekarang Alyssa mohon katakan yang sebenarnya Bu, apa yang ibu rasakan?" Kepala Alyssa mendongak menatap mata ibunya dengan tatapan memohon.
Manda paling tidak bisa ditatap seperti itu oleh putrinya mau tidak mau ia harus mengatakan yang sejujurnya kepada sang anak.
"Maaf... Tapi ibu rasa umur ibu sudah tidak panjang lagi nak."
Tes...
Air mata kembali luruh membasahi pipi Alyssa. Ia tertegun ditempatnya mencerna setiap kata yang terlontar dari mulut sang ibu.
"Bohong... Ibu pasti membohongi Alyssa kan?" Tanya Alyssa berusaha untuk tidak mempercayai apa yang ibunya katakan.
Jiwa dan hatinya belum siap menerima hal itu, ia ingin mengelak jika memang ia mampu, tapi gelengan Manda seolah olah menjawab semua keraguan dalam hatinya.
Tangis Alyssa kembali pecah ia balas pelukan ibunya dengan tidak kalah eratnya ia sungguh tidak sanggup berpisah dengan orang yang sudah membesarkannya itu.
"Apa yang dokter katakan?" Tanya Alyssa berusaha untuk tegar.
"Jantung.... Ibu memiliki penyakit jantung Alyssa dan untuk menyembuhkannya dibutuhkan operasi yang biayanya tidak sedikit meskipun kita menjual semua harta kita itu tidak akan mampu menutupi kekurangannya."
"Berapa pun kekurangannya Alyssa akan menutupinya Bu... Alyssa janji pada ibu yang penting ibu harus segera sembuh dan jangan pernah menyerah..." Belum sempat Alyssa melanjutkan perkataannya Manda sudah lebih dulu memotong.
"Dari mana kamu akan mendapatkan uang untuk menutupinya Alyssa, ibu tidak ingin kamu kesusahan. Lagi pula ibu sudah memutuskan untuk tidak menjalani operasi itu, mau sekarang atau besok jika Allah sudah memanggil maka kita harus siap."
Manda terlihat pasrah, mungkin ia sudah memikirkan segala kemungkinannya. Berbeda dengan ibunya Alyssa justru tidak setuju dengan apa yang ibunya katakan.
"Ngomong apa ibu ini, selama Aku masih bernafas, aku tidak akan menyerah Bu. Aku akan berusaha mendapatkan uang itu untuk ibu apapun caranya meskipun harus merelakan tubuhku."
Plak....
Sebuah tamparan keras mengenai pipi Alyssa hingga pipinya terasa perih dan kebas.
Tamparan itu diberikan oleh Manda sang ibu yang kini menatapnya dengan tatapan tajam yang sebelumnya tidak pernah wanita itu berikan kepada anaknya.
"Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu, dimana otakmu dari pada ibu mendapatkan uang dengan cara seperti itu lebih baik ibu mati. Ibu tidak mau dioperasi dengan uang haram Alyssa." Teriak Manda dengan nafas terengah enggah menahan emosinya.
"Lalu Alyssa harus bagaimana Bu... Alyssa tidak ingin kehilangan ibu. Hanya ibu yang Alyssa punya didunia ini."
Manda tidak tahan lagi ia ikut menangis bersama anaknya, jika ia bisa memilih ia juga ingin hidup lebih lama dan mendampingi anaknya tapi kesehatannya tidak memungkinkan untuk itu.
"Meskipun ibu tiada, kamu harus tetap bahagia."
"Tapi bahagiaku ibu... Duniaku ibu, hidupku juga ibu lalu bagaimana dengan aku jika ibu pergi?"
Manda tidak menjawab ia hanya tersenyum terharu dengan kata kata yang anaknya ucapkan.
"Apapun yang terjadi nanti, ibu tidak ingin kamu mengorbankan dirimu apalagi sampai memberikan tubuhmu pada laki laki hidung belang diluar sana Alyssa. Jika kamu melakukan itu, meskipun ibu hidup ibu akan sangat membencimu kamu tidak mau itu terjadi kan?" Tanya manda yang dijawab gelengan kepala oleh Alyssa.
"Bagus, ibu senang mendengarnya. Sudah jangan menangis lagi, lebih baik kita segera selesaikan semua ini agar kita bisa beristirahat." Alyssa hanya mengangguk lemah setelah itu ia segera membereskan kue kue dihadapannya.
Dalam hati kecilnya ia berharap semoga ia segera mendapatkan uang untuk biaya operasi ibunya dengan cara lain yang tidak bertentangan dengan sang ibu.
..
..
..
"Ibu puas sekali...." Teriak Rani memasuki rumahnya.
Wajahnya nampak sumringah sementara senyum terus menghiasi bibirnya sepertinya wanita itu baru saja mendapatkan berita bahagia.
Arya yang tengah sibuk membantu Rosa menyiapkan undangan pernikahan merekapun mengerutkan keningnya dalam.
Ia menatap Rosa sejenak seolah olah meminta jawaban dari wanita itu namun Rosa hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Ada apa Bu, apa ibu baru saja menang arisan?" Tanya Arya penasaran
"Tidak, ini lebih dari itu." senyum Rani penuh arti.