NovelToon NovelToon
Dark Impulsif

Dark Impulsif

Status: tamat
Genre:Kriminal dan Bidadari / Nikahmuda / Poligami / Tamat
Popularitas:112
Nilai: 5
Nama Author: Egi Kharisma

Tentang sebuah perceraian yang menghancurkan sebuah keluarga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Tak Terduga

Hujan sore itu turun tanpa ampun, menampar trotoar dengan suara yang nyaris menenggelamkan dengung kota. Langit kelabu, lampu-lampu jalan mulai menyala meski jam belum menyentuh pukul lima. Arvan berdiri di bawah atap sebuah toko printer tua yang bahkan sepertinya tidak lagi buka. Jaket tipisnya sudah setengah basah, rambutnya menempel di kening, dan napasnya terlihat berat. Bukan karena berjalan—tetapi karena hari ini sudah menjadi terlalu panjang sejak pagi.

“Kerjaan sialan,” gumamnya pelan, menendang kerikil kecil yang tersangkut di sela trotoar.

Sudah tiga hari ia tidur kurang dari empat jam. Proyek desain brosur perusahaan yang ia tangani bersama timnya terus-terusan direvisi oleh atasan. Dan, entah kebetulan atau nasib buruk, sebagian besar kesalahan selalu jatuh kepadanya—meskipun ia tahu jelas siapa sebenarnya yang membuat revisi itu kacau.

Riko.

Nama itu bergaung seperti racun dalam pikirannya.

Arvan merapatkan jaket dan memutuskan berlari ke kafe dekat perempatan. Itu satu-satunya tempat di sekitar kantor yang masih bertahan membuka pintu saat hujan turun seperti dunia hendak berlubang. Ia sudah hafal interior kafe itu—hangat, lampu kuning lembut, suara mesin kopi, dan wangi biji sangrai yang selalu membuatnya merasa sedikit lebih hidup.

Ia berlari menembus hujan, menyeberang dengan nekat, lalu mendorong pintu kaca kafe hingga lonceng kecil di atasnya berbunyi nyaring.

“Selamat datang,” suara lembut menyambut dari arah barista.

Arvan mengibaskan air dari jaketnya sebelum melihat siapa pemilik suara itu. Dan begitu ia menengok, langkahnya terhenti sepersekian detik.

Wanita di balik mesin espresso itu menatapnya dengan senyum kecil yang hangat namun… anehnya, ada sesuatu yang tak bisa ia baca di balik mata itu. Mata cokelat yang jernih, tapi seperti menyimpan sesuatu yang ditutup rapat.

Rambutnya tergerai sedikit acak, pipinya memerah karena uap panas dari mesin, dan apron hitamnya penuh coretan kecil dari kapur menu. Cantik? Iya. Tapi bukan itu yang membuat Arvan terpaku—melainkan aura tenang yang dibawanya.

“Numpang berteduh atau memang butuh kopi?” tanya si barista lagi, sedikit bercanda.

Arvan tersadar dan menahan senyum canggung. “Kalau saya bilang dua-duanya, dapat diskon khusus?”

Wanita itu tertawa kecil—suara yang ringan, tapi terdengar seperti seseorang yang sudah lama tidak betul-betul tertawa. “Maaf, diskon cuma buat pelanggan setia.”

“Wah, berarti saya harus rajin ke sini.”

“Silakan dicoba.” Senyumnya masih samar, seperti menahan sesuatu dalam diri.

Arvan menatap papan menu. “Satu cappuccino panas. Kuat. Kayak… semangat hidup saya yang hampir habis.”

Wanita itu mengangkat alis. “Baru jam lima, Mas. Masa sudah habis semangatnya?”

“Kalau kerja bareng orang toxic, jam dua pun sudah habis,” balas Arvan.

Wanita itu tertawa lagi, kali ini sedikit lebih tulus. “Oke, saya buatkan.”

Sebelum wanita itu berbalik, Arvan memperhatikan name tag kecil di apron-nya.

Nayla.

Nama itu terasa lembut di lidah. Dan entah kenapa, cocok dengan wajahnya.

Arvan duduk di kursi dekat jendela. Hujan masih deras, meneteskan garis-garis air yang memantulkan lampu jalan seperti serpihan cahaya. Kafe itu tidak ramai—hanya dua orang yang menunggu pesanan take away, dan seorang pria tua yang membaca koran di sudut.

Arvan menatap layar ponselnya. Notifikasi email dari kantor berderet, sebagian besar dari Riko.

"Revisi lagi."

"Warnanya kurang lembut."

"Jangan lewatkan deadline, Van."

Arvan mendengus. Jika Riko tidak menjadi atasan tidak resmi yang seolah-olah mengatur segalanya, mungkin hidupnya sedikit lebih ringan.

Seketika, secangkir cappuccino panas mendarat pelan di mejanya.

“Ini pesanan Mas Arvan,” ucap Nayla.

Arvan mengerutkan dahi. “Saya belum bilang nama saya.”

“Dompetnya kelihatan saat Mas buka jaket. Ada kartu namanya.”

“Oh.” Arvan tersipu. “Maaf, saya… kurang rapi.”

“Tidak apa.” Nayla menatapnya sejenak. “Semuanya baik-baik saja, kan?”

Pertanyaan itu sederhana, tapi nadanya seperti memahami sesuatu yang tidak terucap. Arvan menelan ludah. Tidak banyak orang bertanya begitu dengan nada sungguh-sungguh.

“Sejujurnya…” Arvan menatap kopi. “Tidak terlalu.”

Nayla tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, seolah bilang “It’s okay” tanpa kata.

Arvan mengambil tegukan pertama. Panas, sedikit pahit, tapi pas. “Enak.”

“Syukurlah,” katanya. “Kalau kurang, bilang saja.”

Arvan sempat ingin membalas dengan candaan, tapi sesuatu menghalanginya. Nayla memandang ke luar jendela, wajahnya berubah muram. Ada semacam bayangan gelap yang melintas di matanya—cepat sekali, tapi cukup untuk membuat Arvan sadar bahwa wanita itu juga sedang menanggung sesuatu.

Seolah bukan hanya ia yang membawa beban hari itu.

“Kayaknya kamu juga lagi banyak pikiran,” kata Arvan tanpa sadar.

Nayla menoleh perlahan, menahan senyum pahit. “Kerja di kafe itu melelahkan, tapi bukan itu masalahnya.”

“Masalah keluarga?” tebak Arvan.

Nayla terdiam sesaat. “Mungkin.”

Arvan hendak bertanya lebih jauh, tapi Nayla tiba-tiba memutar badannya dan berkata cepat, “Ah, maaf. Saya harus bantu pesanan dulu.”

Ia pergi dengan langkah terburu, meninggalkan Arvan yang merasa ia baru saja menyentuh sesuatu yang rapuh.

---

Hujan mereda sekitar tiga puluh menit kemudian. Kafe mulai sepi, hanya tersisa Arvan yang masih menatap laptopnya walau pada kenyataannya ia tidak sedang bekerja.

Nayla mendekat sambil membawa kain basah. “Sudah agak reda, Mas. Mau pulang?”

“Masih malas,” jawab Arvan jujur. “Hujan bikin suasana hati lebih… jujur.”

“Bahaya itu.” Nayla menghapus meja lain. “Orang bisa ngomong hal-hal yang biasanya mereka simpan.”

Arvan tersenyum kecil. “Kayak kamu?”

Gerakan Nayla berhenti. “Kenapa saya?”

“Karena kamu bilang kerja bukan masalahmu. Tapi tidak menjelaskan sisanya.”

Nayla mematung sebentar sebelum kembali mengelap meja. “Kalau saya cerita, Mas Arvan mau percaya?”

“Coba saja.” Arvan mengangkat bahu. “Siapa tahu saya bisa dengar tanpa menghakimi.”

Nayla tertawa kecil—tapi bukan tawa yang bahagia. Lebih seperti tawa yang menyembunyikan luka.

“Hidup saya tidak sederhana, Mas. Banyak hal… yang tidak bisa saya jelaskan begitu saja.”

“Karena keluarga?” tanya Arvan lagi.

Nayla tidak menjawab. Tapi matanya mengatakan iya.

Arvan menatapnya lama. Ada getaran samar di dada—bukan jatuh cinta, bukan juga iba. Lebih seperti koneksi dua orang yang sama-sama menyimpan retakan dalam hidup mereka.

Tiba-tiba pintu kafe terbuka. Lonceng kecil berbunyi. Masuk seorang pria berpayung hitam, jaket formal, wajahnya teduh tapi dingin.

Mata Nayla langsung berubah. Tegang. Kaku.

Pria itu mendekat, menatap Nayla dari ujung kepala hingga kaki seolah menilai.

“Kamu di sini,” katanya dingin. “Kupikir kamu sudah pulang.”

“Riko…” Nayla memaksakan senyum. “Iya. Masih kerja.”

Arvan tersentak kecil. Nama itu.

Riko?

Atasan manipulatifnya?

Riko melirik Arvan lalu berkata datar, “Oh. Kamu.”

Nada suaranya seperti melihat seseorang yang tidak perlu ada di ruangan itu.

Arvan mengepal tangan di bawah meja.

Nayla buru-buru memecah ketegangan. “Mas… Arvan pelanggan. Jangan—”

“Sudahlah.” Riko menyela. “Aku tunggu di luar.”

Ia berbalik tanpa salam.

Nayla menunduk… dan untuk pertama kalinya sejak Arvan masuk kafe itu, ia terlihat benar-benar rapuh.

“Dia… teman saya,” katanya pelan. “Maaf kalau tadi canggung.”

Teman?

Arvan tahu ada sesuatu yang lebih gelap dari itu.

Tapi ia tidak menekan. Tidak hari itu.

Ia hanya berdiri, membayar kopinya, dan berkata lembut:

“Kalau suatu hari kamu ingin cerita… aku di sini.”

Nayla mengangguk, meski matanya tidak menatapnya.

Ada sesuatu yang hancur dalam tatapan itu.

Sesuatu yang membuat Arvan paham bahwa hidup mereka berdua baru saja tersentuh oleh awal dari cerita yang jauh lebih gelap daripada hujan sore itu.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!