Jauh di lubuk hatiku, aku menolak pernikahan ini. Tapi bagaimanapun, aku tidak bisa mengecewakan kedua orang tuaku.
Aku terpaksa menikah dengan laki-laki yang tidak aku cintai sama sekali. Ini di karnakan, pacarku yang akan menikah denganku, menghilang. Bisakah aku mengubah rasa terpaksa ini menjadi rasa cinta pada suamiku? Haruskah aku bertahan dengan orang yang dingin seperti Adya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Sejak keluar dari restoran hotel, hingga kami sama-sama duduk di dalam mobil, mas Adya tidak bicara sepatah katapun padaku.
Ntah apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Namun, sikapnya jelas sangat jauh berbeda sekarang. Tepatnya, sejak ia bertemu dengan bos dari luar negeri tadi itu.
"Mas, apa kamu baik-baik aja?" tanyaku memecah kesunyian di antara kamu berdua.
"Ya, aku baik-baik aja kok, Lala. Ada apa? Apa kamu melihat aku tidak baik sekarang?"
"Ngak, ngak papa kok. Aku rasa kamu juga baik-baik saja saat ini."
Tidak ada jawaban lagi, suasana di mobil ini kembali hening, tanpa sepatah katapun. Yang terdengar jelas hanyalah suara mesin mobil yang terus berbunyi.
Mas Adya terlihat fokus dengan jalan yang kami lalui malam itu. Tidak memperhatikan aku sedikitpun. Ia seolah-olah sedang berada sendirian di mobil ini.
Yang terpikir dalam benakku saat ini adalah, kedatangan aku bersama mas Adya kerestoran ini adalah kesalahan terbesar yang aku lakukan.
Setelah mobil berhenti di garasi rumah pun, mas Adya tetap saja tidak bicara apapun. Aku dan mas Adya hanya turun dan masuk kedalam rumah dengan membawa pikiran masing-masing.
Percuma saja aku menanyakan ada apa dengannya? Karna dia tetap tidak akan bicara apapun padaku.
.....
Aku terbangun saat adzan subuh berkumandang. Terdengar seperti berada di rumah ini, suara adzan itu. Padahal, suaranya datang dari masjid yang berada di seberang jalan sana.
Ku buka mata ini secara perlahan. Aku melihat sekeliling sambil terus mengerjapkan mata dengan berat dan malas.
Ku lihat samping tempat tidurku. Tidak ada siapa-siapa di sini. Dan, suhu kasur di sampingku juga, terasa dingin seperti tidak ada yang tidur di sini tadi malam.
"Kemana mas Adya? Apakah dia tidak tidur di sini tadi malam? Apa mungkin, ia sudah bangun sejak tadi?"
Berbagai pertanyaan terlintas di benakku. Aku merasa penasaran dengan apa yang terjadi tadi malam. Mungkin saja, mas Adya tidak tidur di kamar ini tadi malam.
Aku bangun dan bergegas menuju kamar mandi. Lalu mengganti pakaian ku dengan pakaian yang lain.
Sebelum aku turun kebawah, aku tidak lupa menyiapkan baju untuk mas Adya pergi kekantor.
Ketika aku melewati ruangn tamu, aku melihat mas Adya sedang terbaring di atas sofa panjang yang terdapat di ruang tamu.
Ku hampiri laki-laki yang telah bergelar suamiku saat ini. Yang sedang tertidur lelap di atas sofa, seperti orang tidak punya kamar saja.
"Mas, mas Adya," kataku sambil menepuk pelan pipi mas Adya yang terasa sedikit dingin karna tidur tanpa selimut di ruangan terbuka.
Perlahan-lahan, mas Adya sadar dari tidurnya. Ia membuka mata dengan malas, dan bergerak perlahan.
"Kaila," kata mas Adya dengan pelan dan terdengan sangat malas.
"Kok tidur di sini sih mas? Kenapa gak tidur di kamar aja sih?"
"Gak bisa tidur di kamar tadi malam, Lala. Makanya mas keluar, tapi ketiduran deh di sini."
"Kenapa gak bisa tidur di kamar?"
"Mungkin karna suhu yang panas, apalagi baru pulang dari pestakan."
Jawaban yang tidak bisa aku cerna dengan cepat. Karna apa yang mas Adya katakan, tidak masuk di akalku sekarang.
"Ya sudah, sebaiknya kamu mandi. Aku sudah menyiapkan air hangat dan handuk di atas kasur."
Aku pun meninggalkan mas Adya yang masih terbaring di atas sofa.
Suasana pagi yang sangat sejuk. Aku memilih untuk duduk di taman yang terasa semakin sejuk saja sekarang.
Aku tidak bisa masak, sehingga tidak bisa menyediakan sarapan pagi untuk suamiku. Aku hanya bisa pesan makanan secara online saja. Tapi sayangnya, mas Adya sangat tidak suka pesan makanan di luar.
Dalam lamunan ku itu. Tiba-tiba saja, aku memikirkan apa yang terjadi tadi malam. Dan perubahan sikap mas Adya juga terjadi sejak tadi malam.
Ada hubungan apa antara mas Adya dengan wanita itu. Kenapa ia bisa mengubah perilaku mas Adya hanya dengan tatapan mata saja. Apakah wanita itu, ada hubungannya dengan masa lalu mas Adya?
"Kaila!"
Aku terperanjat saat panggilan dan sentuhan secara langsung aku terima.
"Lho, kok gitu aja kaget sih?" tanya mas Adya yang ntah sejak kapan sudah ada di sampingku sekarang.
"Sejak kapam kamu ada di sini mas?"
"Udah beberapa menit yang lalu, Lala. Kamu kok melamun sih?"
"Gak kok, aku gak melamun kok mas."
"Kalo gak melamun, berarti, barusan itu mentimunlah ya."
"Apaan sih mas, kok malah kementimun segala."
"Ya habisnya, kamu itu mas panggil dari tadi juga, gak ada jawabannya sama sekali. Udah di sentuh pundaknya, eh malah kaget."
"Aku gak melamun kok. Hanya saja, udara di sini agak dingin. Jadinya, aku gak bisa konsentrasi sama suara kamu."
Mas Adya tersenyum saat aku mengatakan hal itu. Ntah apa yang lucu dengan jawabanku, tapi mampu membuat mas Adya terkekeh kecil, hanya mendengarkan jawaban asal-asalan yang aku lontarkan.
APA KATA BRAM TADI? CINTA SESAAT.. PENGEN NGAKAK AKU,APA BRAM AMNESIA? MALAH WAKTU ITU DIA SENDIRI NGAKU DENGAN MAYA DIA GAK MENCINTAI KAMU,NIKAH JUGA ORTU YG MAKSA,DIA BILANG TERGILA-GILA DENGAN MAYA,UDAH MAU NIKAH AJA MASIH SELINGKUH,ORANG KALO SEKALI SELINGKUH TETAP AKAN SELINGKUH,APAPUN ALESANNYA,DIA SUDAH MEMPERMALUKAN PIHAK KELUARGA WANITA..🙄🙄🙄