Terperangkap pernikahan dadakan membuat Ustad Syamir harus menerima Syahira sebagai istrinya. Padahal dia hendak menikahi Zulaikha, wanita sholeha yang diidamkannya. Semua itu pupus karena kesalahan satu malam. Niat hati Ustad Syamir menolong Syakira justru berbuntut pengerebekan warga dan nikah paksa. Tak hanya batal nikah dengan Zulaikha, Ustad Syamir harus menikah dengan Syahira, wanita gaul dari Jakarta yang jelas-jelas tidak dikenalnya.
Ustad Syamir harus menelan pil pahit karena gunjingan orang ditambah lagi dia harus membatalkan pernikahannya. Selain itu dia harus mengantarkan Syakira ke Jakarta tanpa memiliki bekal yang cukup.
Apakah Syamir dan Syahira akan tetap bersama atau memilih bercerai mengejar mimpi mereka masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andropist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepakat
“Bayarkan my loan senilai seratus juta.” Ucap Edward dengan tersenyum licik.
Syahira kaget saat mendengar syarat yang baru saja Edward ucapkan. Banyak sekali uang yang harus Syahira bayarkan kepada Edward. Tetapi operasi itu penting, Syahira benar-benar bingung saat ini. mengingat waktu yang semakin berkurang, Syahira akhirnya segera mengambil keputusan.
“Baiklah, aku terima syaratnya.”
“Deal! gitu donk. Akhirnya, ada gunanya juga aku pernah jadi pacar kamu Sya. Gak sia-sia, hahaha.” Edward lalu pergi meninggalkan Syahira.
Pada hari itu Syahira akhirnya meninggalkan rumah sakit untuk menyiapkan sejumlah uang yang akan diberikannya pada Edward. Syahira lalu pergi ke rumah Nenenknya untuk mengambil buku tabungannya. Buku tabungan itu adalah hasil kerja Syahira selama menjadi dokter di rumah sakit ini. Ia tak pernah menggunakan gajinya sepeserpun karena ia masih tinggal bersama kedua orang tuanya dan orang tuanya juga memfasilitasi hidupnya. Syahira lalu segera mencairkan sejumlah uangnya untuk diberikan kepada Edward dan rumah sakit.
Ya, Syahira berencana akan membayarkan juga semua tunggakan biaya rumah sakit Ibunya Syamir. Mengingat ia telah menikah dengan Syamir, jadi ibunya Syamir juga kini adalah ibunya. Syahira tidak merisaukan perlakuan ibunya Syamir padanya. Padahal ibunya Syamir sudah memperlakukannya dengan kurang baik, tetapi Syahira tetap mau membayarkan biaya rumah sakit untuknya dan mencarikannya dikter untuk menanganinya. Syahira juga selalu mengingat kebaikan yang telah Syamir lakukan untuknya. Jadi apa yang ia lalukan kali ini tak sepadan dengan apa yang telah Syamir lakukan untuknya.
Sore itu, operasi pun dilakukan. Syamir dan Zulaikha tampak begitu tegang menunggu operasi yang tengah berjalan. Syamir lalu pergi ke mushola terdekat, ia melaksanakan shalat sunnah dan memanjatkan doa untuk kesembuhan ibunya. Sementara Zulaikha dengan sabar menanti di ruang tunggu operasi dengan selalu memanjatkan doa.
Syahira kini tampak gelisah di ruang prakteknya. Ia tak fokus menangani pasien selama sore itu. Pikirannya masih tertuju pada ibunya Syamir yang tengah menjalani operasi. Setelah beberapa jam kemudian, Syahira lalu pergi ke ruang operasi untuk menghampiri Syamir.
Syamir baru saja keluar dari mushola, ia lalu kembali ke ruang tunggu. Tak lama datanglah Syahira. Syamir merasa sedikit tenang saat Syahira menghampirinya.
“Syam.” Ucap Syahira.
“Sya.” Jawab Syam.
“Kau tenang ya, sebentar lagi operasi akan selesai. Ku harap semuanya berjalan lancar.” Syahira mencoba menenangkan Syamir. Syahira lalu memegang lengan Syamir.
“Aamiin.” Syamir menatap wajah Syahira, hatinya merasa sedikit lega saat melihat raut wajah Syahira.
Sementara Zulaikha, wanita itu hanya terdiam dan mencoba menhan air mata yang hampir menetes ke wajahnya. Zulaikha kini hanya berharap akan kesembuhan si Mbok, itu yang terpenting baginya saat ini.
Tak lama operasi pun usai. Dokter Edward lalu keluar ruangan, Syamir langsung menghampiri dokter Edward. Dokter Edward lalu melepas maskernya, ia melangkah mendekati Syamir.
“Bagaimana kondisi Ibu saya sekarang dok?” tanya Syamir tampak begitu tegang.
“All is well. Tumornya berhasil diangkat.” Jelas Edward dengan lega. Ia menepuk pundak Syamir.
“Alhamdulillah.” Syamir langsung sujud syukur, betapa bahagianya ia saat mendengar ibunya telah berhasil dioperasi.
“You should thanks to someone too.” Ucap Edward, ia keceplosan. Hampir saja ia memberi tahu rahasia yang harus ia tutup rapat-rapat.
“Siapa dok?” tanya Syamir.
“Ah, tidak. Orangnya tidak ada. Yasudah, aku pamit dulu ya. kamu bisa menemui ibumu di ruang pemulihan.” Edward tampak agak panik, tetapi ia berhasil berdalih. Edward pun bergegas pergi dari sana.
“Baik dok.” Ucap Syamir.
Syahira bersembunyi di balik tembok, ia takut jika Edward melihatnya sedang bersama Syamir. Syahira begitu bahagia saat mendengar operasinya berjalan lancar. Setelah Edward pergi, Syahira lalu menghampiri Syamir kembali.
“Syam bagaimana operasinya?” Sayhira pura-pura tidak tahu.
“Kau sudah kembali Sya? Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar Sya. Kita tinggal menunggu si Mbok dipindahkan ke ruang pemulihan saja. Di sana kita bisa menemui si Mbok.” Jelas Syamir.
“Aku lega mendengarnya Syam.” Ucap Syahira.
Zulaikha hanya terdiam, dari tadi ia tak berbicara sepatah kata pun. Ia mencoba memendam rasa sakitnya, melihat Syamir yang kini telah jadi milik orang. Zulaikha mencoba bersabar dan menerima apa yang telah menjadi takdirnya.
Si Mbok lalu dipindahkan ke ruang pemulihan, di sana Syamir dan Zulaikha menunggu Si Mbok. Si Mbok lalu dibaringkan di ranjang pasien. Kondisinya belum sadarkan diri. Syahira sudah pergi saat si Mbok dipindahkan ke ruang pemulihan. Syahira takut jika si Mbok menemuinya lagi si Mbok akan marah seperti sebelumnya. Belum lagi kini kondisi si Mbok masih lemah. Syahira terpaksa mengalah dan pergi.
Syamir lalu menitipkan si Mbok kepada Zulaikha sebentar, Syamir berniat ingin menemui Syahira. Dengan kerelaan dan kebesaran hati Zulaikha, Syamir diizinkan untuk menemui Syahira.
Saat itu Syahira hendak pulang karena jam kerjanya telah selesai. Syamir lalu menemui Syahira di parkiran mobil. Syahira sudah hampir menyalakan mobilnya.
“Sya.” Ucap Syamir. Syahira lalu keluar dari mobil.
“Ada apa Syam?” tanya Zulaikha.
“Sya, Sya ingatkan kalau kemarin Syam sudah janji akan menemui keluarga Syahira untuk memberitahu mereka soal pernikahan kita?” kata Syamir.
“Ya, aku ingat.”
“Sya, jika si Mbok sudah keluar dari rumah sakit, Syam berencana akan menemui keluarga Sya dan memberi tahu mereka soal pernikahan kita.”
“Apa? Apa kau yakin Syam? Nanti kau akan dicaci maki habis-habisan oleh keluargaku. Aku tak tega padamu Syam.”
“Syam tidak peduli. Syam siap dengan segala resiko yang akan Syam tanggung. Pernikahan kita harus memperoleh restu Sya, restu dari keluargamu dan restu dari Si Mbok. Pasal si Mbok, nanti biar Syam yang menanganinya.”
“Tapi Syam,” Syahira begitu ragu.
“Jangan khawatir Sya, insyaAllah, Allah pasti menolong.” Syamir lalu memegang lengan Syahira.
Syahira kembali menangis, ia bingung dengan perasaannya saat ini.
“Tak apa Sya.” Syam lalu memeluk Syahira dan mengusap kepalanya. Syahira lalu memeluk Syamir dengan erat.
“Sebentar, Syam punya sesuatu untuk Sya.” Syamir lalu melepaskan pelukannya.
“Apa?” Syahira tertawa kecil.
Syamir lalu mengeluarkan benda kecil dari sakunya.
“Sya, selama menikah, Syam belum sempat memberikan mas kawin yang layak untuk Sya selain alat Shalat. Ini adalah cincin kawin si Mbok, si Mbok suruh Syam yang simpan. Kata si Mbok, jika Syam telah menemukan jodoh Syam, maka Syam harus memberikan cincin itu padanya. Dan kini Syam sudah temukan jodoh Syam. Sini lengan Sya, biar Syam pasangkan.” Syamir lalu meraih lengan Syahira. Ia lalu memasangkan cincin itu di jari manis Syahira. Cincin itu terlihat serasi dengan jari Syahira.
Mata Syahira berkaca-kaca, ia merasa sangat terharu.
“Cantik sekali.” Ucap Syamir.
“Terima kasih Syam.” Kini Syahira menitikan air mata, bukan karena sedih melainkan karena sangat bahagia.
“Sama-sama Sya.” Syamir lalu memeluk kembali istrinya itu. Meski hari ini terasa sangat berat bagi mereka berdua, tapi malam ini terasa hangat dan bahagia. Mungkin malam ini juga akan menjadi malam yang tidak akan pernah mereka lupakan.