"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"
Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.
Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.
Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MDSC : 11
Malam itu, kediaman Barata tenggelam dalam keheningan yang jauh dari kata damai. Jam dinding berdetak pelan, dan Indira masih berada di ruang meja makan setelah acara makan malam bersama selesai tanpa banyak kata.
Rania juga masih ada di sana, karena Indira memintanya untuk bertahan sebentar, ia ingin berbincang beberapa kata pada kakak iparnya itu.
"Aku disini... untuk meminta maaf kak, " suara Indira pelan namun nadanya tegas. "Waktu itu aku sama sekali tidak tahu kalau mas Ryan sudah memiliki istri, dan pernikahan itupun terjadi tanpa seratus persen persetujuan dari ku. "
Indira menarik napas pelan. "Mungkin aku sedikit terlambat untuk mengatakan ini, namun untuk menghindari konflik yang mungkin terjadi diantara kita kedepannya, aku merasa inilah saatnya aku menjelaskan padamu, kak Rania. "
"Aku sunguh-sungguh minta maaf, tapi sumpah demi nyawaku sendiri, aku tak pernah tahu soal status Ryan yang dia sembunyikan dengan rapih selama ini, tak berniat untuk berselingkuh di belakang siapapun. "
Indira terdiam sejenak, rasanya masih begitu perih ketika menyadari kenyataan pahit yang harus ia terima ini. Pria yang kata orang tuanya baik, soleh dan mapan ternyata hanyalah seorang badjingan yang begitu pandai memainkan perannya.
Ayahnya yang gila status dan ibunya yang gila harta adalah kombinasi yang sempurna yang menjerumuskan nya ke dalam situasi ini.
Waktu itu ia hanya mengenal Ryan selama empat bulan yang awalnya di perkenalkan oleh teman ayahnya sebagai rekan kerja. Selama mengenal nya Indira diperkenalkan pada sosok pria idaman di diri Ryan, tanpa sadar itu hanyalah sebuah kedok. Mereka saling mengenal satu sama lain selama empat bulan itu dan tak ada gelagat aneh yang ditunjukkan Ryan selama mereka saling mengenal itu, hingga membuat Indira percaya jika mungkin pria itulah jodoh yang sudah Tuhan siapkan untuk nya, sampai kebenarannya terkuak dengan sendirinya.
Indira sudah menjelaskan segalanya pada Rania saat ini, dan dia tidak terlalu mementingkan apakah Rania akan percaya atau tidak, yang penting ia sudah mengatakan yang sejujurnya.
Rania masih terdiam saja untuk beberapa saat, sampai akhirnya ia menoleh untuk menatap wajah Indira.
"Sebenarnya... sejak pertama kali melihat mu, aku tahu hubungan mu dengan Ryan tidak sepenuhnya ada dalam hak mu. "suara Rania serak, nyaris pecah.
Ucapan Rania membuat Indira mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan mereka bertemu di udara yang terasa semakin berat. Tidak ada kemarahan di mata Rania--yang ada hanya kelelahan, dan luka yang terlalu lama dipendam.
“Aku bukan perempuan bodoh yang tidak bisa membaca gerak-gerik suamiku sendiri,” lanjut Rania lirih. “Ryan memang pandai berpura-pura. Bahkan di depanku, dia bisa menjadi sosok suami yang tampak sempurna.”
Indira menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, seolah setiap kata yang hendak ia ucapkan harus melewati rasa bersalah yang menyesakkan.
“Aku tidak membencimu, Indira,” kata Rania akhirnya. “Aku membenci kenyataan.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi justru menghantam lebih keras dari makian mana pun.
Indira menunduk. Bahunya bergetar halus. Ia sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk-- entah ditampar, dimaki, atau diusir. Tapi sikap Rania yang begitu tenang justru membuat dadanya semakin sesak.
“Kalau saja aku tahu dari awal… aku tidak akan pernah--”
“Sudah,” potong Rania pelan. “Semua sudah terjadi.”
Keheningan kembali jatuh. Jam dinding berdetak semakin jelas, seakan menghitung detik-detik runtuhnya hidup Indira.
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari arah lorong. Berat. Tegas. Tidak perlu menoleh pun Indira tahu siapa pemilik langkah itu.
Seno.
Pria itu berhenti di ambang ruang makan. Sorot matanya dingin saat menyapu pemandangan di hadapannya--dua perempuan yang duduk berhadapan, satu terluka, satu penuh rasa bersalah.
“Apa urusan kalian belum selesai?” tanyanya datar. Melihat keduanya, ia sudah menebak jika mereka sedang membicarakan soal Ryan.
Rania berdiri lebih dulu. Ia mengusap sudut matanya yang basah, lalu menatap adik iparnya sebentar sebelum berujar, “Aku ke kamar dulu.”
Seno tidak menjawab. Pandangannya kini sepenuhnya tertuju pada Indira.
Begitu Rania menghilang, udara di ruangan itu berubah drastis.
“Kau puas?” tanya Seno pelan, namun nadanya mengandung sinisme yang menusuk. “Setelah menghancurkan rumah tangga orang, sekarang bermain peran sebagai korban?”
Indira berdiri tergesa. “Aku tidak pernah berniat--”
“Tentu,” sela Seno cepat. Ia mendekat selangkah. “Perempuan sepertimu selalu punya seribu alasan.”
Indira menggenggam jemarinya sendiri. “Aku sudah menjelaskan segalanya pada kak Rania, dan itu sama sekali tidak seperti yang kau katakan."
Seno terkekeh kecil, tanpa tawa. “Dan kau pikir aku akan percaya begitu saja?”
Ia memalingkan wajah, seolah menahan amarah yang siap meledak. “Sudahlah. Tidak ada gunanya membahas masa lalu.”
Seno melirik jam tangannya. “Ikut aku. Kita perlu bicara.”
Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam semakin larut ketika mereka duduk berhadapan di ruang kerja kecil milik Seno. Lampu meja menyala temaram, menciptakan bayangan tajam di wajah tampan pria itu.
Indira duduk kaku di seberang meja. Jantungnya berdebar tak beraturan. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.
“Kau yang meminta perjanjian kontrak pernikahan, bukan?” buka Seno dingin.
Indira mengangguk pelan. “Aku hanya ingin semuanya jelas sejak awal.”
Seno menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Baik. Aku sudah menyiapkannya.”
Ia membuka laci meja dan mengeluarkan beberapa lembar kertas. Lalu, dengan gerakan tenang, ia mendorongnya ke arah Indira.
“Baca.” titahnya.
Indira meraih kertas itu dengan tangan sedikit gemetar.
Poin demi poin tertulis jelas, rapi, dan tanpa basa-basi.
(Tidak ada cinta.
Tidak ada campur tangan urusan pribadi.
Tidak ada hak untuk mencampuri masa lalu maupun masa depan satu sama lain.)
Indira menghela napas lega sesaat-- sampai ketika matanya berhenti pada satu bagian yang membuat dadanya seolah diremas.
(Kewajiban suami-istri tetap dijalankan sebagaimana mestinya.)
Indira mengangkat wajahnya cepat. “Ini--”
“Kewajiban,” potong Seno tajam. “Bukan pilihan.” tekannya.
Sorot matanya menusuk tanpa ampun. “Kau pikir pernikahan palsu ini bisa berjalan tanpa sentuhan? Tanpa ranjang?”
Indira berdiri refleks. “Aku tidak pernah menyetujui hal itu!”
Seno ikut bangkit. Tinggi tubuhnya membuat Indira harus mendongak. “Kau tidak dalam posisi menawar, Indira. Dan ingatlah apa yang kukatakan saat malam pertama kita. "
Dahi Indira mengernyit, lantas ketika ingatannya kembali pada saat Reno menekan nya dengan kata-kata yang sama soal hubungan suami- istri di atas ranjang, lantas membuat wajahnya menegang.
Mata Seno tajam lalu ia mendekat, cukup dekat hingga Indira bisa merasakan napasnya. “Kau sudah menyeret keluargaku ke dalam aib. Jangan berpikir kau bisa keluar dari ini dengan bersih.”
Indira menggeleng. “Ini tidak adil.”
“Adil?” Seno tersenyum miring. “Dunia tidak pernah adil pada wanita penggoda seperti mu. "
Kata- kata itu menusuk lebih perih dari benda tajam mana pun.
Ia menjauh selangkah, lalu menatap Indira dengan dingin. “Aku beri waktu satu tahun. Satu tahun menjalani sandiwara ini. Setelah itu, kau bebas pergi.”
Indira mengepalkan tangan, bola matanya bergetar. Cukup lama ia terdiam sampai mulutnya terbuka kembali.
“Dan selama satu tahun itu… aku harus--”
“Menjadi istriku,” potong Seno tegas. “Di atas kertas. Di depan keluarga. Dan di atas ranjang.”
Indira memejamkan mata, menarik napas pelan.
Seno menambahkan dengan nada rendah, penuh kebencian, “Jangan salah paham. Aku tidak menginginkanmu. Aku muak bahkan hanya dengan memandangmu.”
Indira membuka mata, menatapnya lurus.
“Lalu kenapa?” tanyanya lirih.
Seno mencondongkan tubuhnya sedikit. Suaranya dingin, menusuk hingga ke tulang.
“Karena pernikahan ini ada semata-mata untuk menyelamatkan rumah tangga kakakku,” katanya. “Dan kau akan membayar kesalahanmu--dengan caraku.”
Ia menepuk meja pelan. “Tanda tangani. Atau kau bisa keluar sekarang dan lihat sendiri bagaimana hidupmu hancur di luar sana.”
Indira menatap lembar kontrak itu lama. Sangat lama.
Sampai akhirnya, dengan tangan gemetar, ia meraih pena.
Dan malam itu, tak hanya namanya yang ia torehkan di atas kertas, melainkan juga kebebasannya.
******
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah