Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.
Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.
Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.
Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DB—17
Bumantara menatap gadis itu, yang saat ini sedang berada di kantin, lalu ia pun melangkah kan kakinya, berjalan mendekati meja Arumi bersama tiga guru lainnya — salah satu nya guru olahraga itu.
Bumantara berdiri di belakang Arumi. Membuat padangan guru lain nya menjadi penasaran, raut penasaran di wajah mereka tergambarkan dengan jelas, namun Bumantara masih diam — sehingga membuat Pak Heru bertanya, "Ada apa, bumantara?"
Hening. Belum ada jawaban dari Bumantara, yang masih betah berdiri disana. Sedang kan Arumi yang menjadi objek, dari ringannya langkah kaki Bumantara untuk bisa datang ke kantin, masih betah dengan makanan yang sedang dia santap.
Tanpa memperdulikan Bumantara, Arumi takut reaksinya berlebihan jika harus bertatapan mata — jadi lebih baik ia menghindari nya, apa lagi jika mengingat kejadian pagi tadi di kamar mandi, itu sungguh membuat nya malu.
"Bumantara, kamu mau gabung makan di sini?" Asih, guru yang sedikit lebih tua dari Pak Heru, juga kembali mempertanyakan Bumantara — yang justru mengangguk pelan, lalu mendudukkan tubuh nya di sebelah Arumi yang akhirnya bergeser hingga ke sebelah Bu Asih tadi.
"Mana makanan mu, Bumantara?" Kembali Bu Asih bertanya, setelah ia tak melihat piring atau pun gelas yang di bawakan Bumantara.
Dan Bumantara hanya menunjukkan arah depan, dimana ada Axel yang sedang antri mengambil kan makanan untuk nya.
"Enak banget... jadi kamu," kata Pak Heru, menggeleng sambil menyuapi nasinya, dengan lirik kan matanya yang melihat Arumi.
Lirikan itu jelas terlihat oleh Bumantara, sehingga membuat jari tangannya ingin mencolok mata pria itu, ia tak menyukai hal itu.
"Bu Arumi, kemaren di balas Pak Heru enggak, buat antar balik? Setelah Bu Arumi ngantar Pak Heru ke bengkel," tanya guru wanita yang berjilbab.
Arumi melepaskan genggaman sendoknya, sebelum mengambil gelas dan menyesapnya, menengadah menatap Bu Jannah yang bertanya, lalu tersenyum kikuk.
"Enggak, kemaren aku langsung pulang sendiri setelah Pak Heru, sampai bengkel."
"Ihhh... enggak banget, Pak Heru ini," decak Bu Asih, menatap Pak Heru yang hanya menghela napas panjang.
"Kemaren mau tak antar Bu. Tapi ini... Bu Arumi nolak, jadi saya tertinggal deh di bengkel," sahut Pak Heru, terkekeh, seraya menatap Arumi yang meringis.
Bagaimana ia bisa mengantarkan Arumi, sedang gadis itu sudah menolak dan meninggal nya begitu saja di bengkel, bahkan ia saja tidak berboncengan dalam satu motor saat ke bengkel — akibat ban motor yang kempes, bahkan sampai ke dua-duanya, dan malah ia yang mengendarai nya sendiri. Dan alhasil justru bocah ingusan itu yang mendapat kesempatan untuk bisa memboncengkan Arumi.
"Bumantara, nih... pesanan nya sudah jadi," celetuk Axel ceria, sambil meletakkan sepiring makanan di depan nya, yang sedari tadi kaki nya menggesek kearah kaki Arumi.
Arumi dan guru lain nya menatap kearah Bumantara yang baru saja di antarkan makanan. Arumi mendesah lelah saat tangan Bumantara menyentuh paha nya, meski hanya sebentar, ia pun sedari tadi selalu menghindar setiap kontak fisik yang di layangkan Bumantara, dari kaki yang di sengaja mengarahkan kearah kakinya, dan bahkan sekarang, tangan pria itu juga dengan sengaja meletakkan di atas pahanya.
Membuat Arumi ingin cepat pergi dari meja itu, namun tak mungkin, karena Bu Jannah masih menikmati makannya yang terlalu lama.
Bumantara menengadah menatap kearah para guru yang memperhatikan nya, mengerutkan kening.
"Lanjut kan saja," ucap Bumantara santai, ia bisa melihat dari sudut matanya, jika Arumi sedikit-sedikit memperhatikan nya — dan ia tak ingin menganggu itu, biarlah gadis itu menatap nya penuh dengan binar-nya.
Kepedean yang ada di dalam pikirkan nya ,membuat ia tersenyum tipis — andai Arumi mengetahui isi pikiran Bumantara, mungkin gadis itu akan menatap nya dengan jijik, atau lebih dari itu.
__
__
Keberlangsungan di kantin tadi, berlalu dengan cepat — sekarang Bumantara kembali bolos dari jam pelajaran, apa lagi itu bukanlah mata pelajaran dari Arumi.
Bumantara melepaskan jaket nya, sembari melangkah kaki nya kearah pintu yang menuju arah bawah tanah — penjara tahanan, tempat eksekusi para musuh.
"Bos, urusan masalah dengan pria yang ada di rumah sakit itu sudah beres."
Bumantara mengangguk saat mendengar ucapan ares.
"Siapa yang kau ajak?" tanya Bumantara, sambil membuka satu pintu yang berisi pria yang tangannya sedang di ikat dengan rantai.
Saat ini ia ingin memberikan pelajaran untuk pria yang hampir membobol pintu kontrakan Arumi, karena kemaren ia tak sempat datang.
Ares berdeham, sebelum memberikan satu pisau untuk Bumantara yang sedang duduk di satu kursi sambil melihat pria kurus yang sedang tidur — akibat banyak nya siksaan dari anak buah yang lainnya.
"Kenzo, Tuan. Karena dia yang ingin ikut," jawab Ares, Kenzo memang bolos saat Bumantara dan Axel ke kantin, dia malah melipir ke rumah sakit mengikuti Ares yang sedang ingin memberi kan sedikit tekanan untuk pria yang bernama Dipta itu.
"Bangunkan," perintah Bumantara sambil memainkan pisau kecil namun tajam — cukup untuk bisa menyayat kulit.
Ares mengangguk, sembari mengambil satu ember yang di isi garam, sehingga ketika di siram di wajah pria kurus itu membuat dia terbangun dengan teriakan tertahan, karena perihnya dari setiap luka yang terkena air garam, dia berteriak gaduh dengan erangan yang tak tertahan kan.
Bumantara bangun dari duduknya, berjalan mendekati pria kurus itu, menatap dengan sorot tajam nya.
"Tolong lepaskan, aku... Tuan!" teriak pria kurus itu, dengan wajah nya yang penuh luka.
"Lepas? hmm. Bagian mana yang mau Anda lepas?"
Bumantara memainkan pisau tajam itu di atas wajah pria kurus, mengusapnya penuh kelembutan, setiap tekanan dari logam tajam itu, akan membuat goresan baru di wajah yang memang belum kering dari luka lainnya.
Ketakutan di wajah pria kurus itu, membuat kepuasan untuk Bumantara, senyum seringai di wajah Bumantara semakin membuat wajah pria kurus itu memucat ketakutan.
"Apa... bagian ini?" Bumantara menusuk telapak tangan pria kurus itu, sehingga membuat suara itu melengking nyaring, "tangan ini juga yang berani-berani nya ingin membobol pintu, milik saya hmm."
Suara berat dibalut dengan suara dingin itu, membuat Ares merinding di belakang nya.
"Maaf. Maaf... Tuan, aku tidak akan mengulangi nya lagi, tolong ampuni aku... aku tidak akan berbuat seperti itu lagi. Ampunnn... Tuan...," rintihan dengan tangisan yang memilukan dalam ruangan itu, tak sedikit pun membuat Bumantara kasian.
Justru Bumantara sedikit memberikan siksaan untuk pria kurus itu, sampai pria itu terkulai lemas, baru ia menghentikan aksinya.
"Bawa dia kerumah sakit. Lakukan seperti biasa, Ares." Bumantara melepaskan pria kurus itu.
"Siappp... Bos!"
Bumantara keluar meninggalkan Ares yang mengurus sisanya, ia kembali memeriksa ponsel nya, yang ternyata ada notifikasi dari Sean, yang saat ini sedang mengikuti Arumi, atas perintah darinya.
Nona Arumi, kerumah sakit bos. — Sean.
Lalu bergegas Bumantara pergi untuk menyusul gadis itu — Arumi, yang bisa ia tebak sedang datang untuk menemui pria bajingan itu.
—
—
Bersambung...