"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Asap cerutu tipis membubung di ruang kerja Diego. Pria itu menatap Jimmy yang berdiri tegap di hadapannya.
Tidak ada lagi seragam pengawal yang kaku, Jimmy berdiri di sana sebagai seorang pria yang baru saja mengklaim identitas aslinya di depan umum.
"Kau pikir aku benar-benar tidak tahu, James Harley?" Diego membuka percakapan dengan suara berat khasnya.
Jimmy sedikit mengerutkan kening.
"Maksudmu apa, Diego?"
Diego terkekeh sembari menyandarkan punggungnya ke kursi kulit mewahnya.
"Pelarian malammu, pertemuan rahasiamu dengan pengacara di Italia, hingga pergerakan saham Harley Group yang perlahan mulai stabil. Kau pikir siapa yang membiarkan akses komunikasimu tetap aman dari pantulan satelit William selama ini?"
Jimmy tertegun. "Jadi, kau sudah tahu sejak awal?"
"Aku sudah tahu sejak kau mulai sering menghilang saat jam istirahat malam tiga tahun lalu." Diego mematikan cerutunya di asbak krital. "Aku membiarkanmu, James. Karena aku ingin melihat seberapa besar ambisimu untuk memulihkan kehormatan Sofia Harley. Dan hari ini, di meja makan tadi, kau melakukannya dengan sangat brilian. Aku belum pernah melihat William pucat pasi seperti itu. Bahkan aku sendiri butuh waktu sepuluh tahun untuk membuatnya diam, tapi kau? Kau hanya butuh satu kalimat tentang logistik kargo."
Diego bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Jimmy, lalu menepuk bahu pria itu dengan keras. Bukan sebagai majikan, tapi sebagai seorang kawan.
"Hati-hati, jangan sampai bersentuhan dengan kulitku," ucap Jimmy memperingatkan.
"Aku bangga padamu. Kau bukan hanya berani di medan tempur, tapi kau juga punya otak untuk menghancurkan lawan di meja perundingan. Itu kualitas yang jarang dimiliki pria zaman sekarang."
Jimmy menundukkan kepalanya sedikit. "Terima kasih. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan untuk melindungi apa yang menjadi milikku."
"Termasuk putriku?" tanya Diego dengan nada yang tiba-tiba berubah serius, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Jimmy.
Jimmy tidak gentar. Ia membalas tatapan itu dengan keberanian yang sama. "Ya, terutama putrimu. Lea adalah segalanya bagiku. Alasan kenapa aku masih bertahan sampai detik ini."
Diego menghela napas, ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke taman mansion, tempat di mana Lea terlihat sedang duduk melamun di gazebo.
"Lea itu keras kepala, manja dan terkadang sangat menyebalkan jika keinginannya tidak dituruti. Tapi aku tahu, sejak dia kecil, dia hanya akan patuh pada satu orang. Dan itu adalah kau, James."
"Aku tahu. Aku mengenal setiap inci kepribadiannya," jawab Jimmy tulus.
"Harta Harley yang kau miliki sekarang... jujur saja, itu bonus yang bagus untuk membungkam mulut tua William. Tapi bagiku dan Elise, itu tidak penting." Diego berbalik, menatap Jimmy dengan sorot mata seorang ayah yang tulus. "Kami sudah memiliki semua, kekayaan, uang bahkan yang tak seorang punyai di dunia ini. Yang kami butuhkan adalah pria yang bisa memeluk Lea saat dia menangis, pria yang bisa menembak siapa pun yang berani menyentuhnya, dan pria yang mencintainya lebih dari nyawanya sendiri. Dan aku melihat itu ada padamu sejak kau pertama kali mempertaruhkan nyawamu untuknya di Milan sepuluh tahun lalu."
Jimmy terdiam, hatinya bergetar mendengar pengakuan Diego. Selama ini ia selalu merasa tidak pantas karena statusnya sebagai bawahan, namun ternyata Diego telah memberinya restu secara diam-diam sejak lama.
"Kau pantas bersanding dengannya, James. Bukan karena kau seorang Harley, tapi karena kau adalah satu-satunya pria yang bisa menaklukkan hati singa kecilku itu," sambung Diego dengan senyum tipis.
Ruangan itu menjadi hening sejenak, hanya detak jam dinding yang mengisi kekosongan. Jimmy merasa beban besar yang selama ini menghimpit pundaknya perlahan terangkat.
Jimmy bukan lagi seorang pelarian yang bersembunyi di balik bayang-bayang, ia adalah pria yang diakui oleh pria paling berpengaruh dalam hidupnya.
Diego melangkah kembali ke mejanya, mengambil sebuah map biru tua dan melemparkannya ke depan Jimmy.
"Itu data intelijen terakhir tentang keberadaan Sofia Harley dua tahun lalu. Daren menyembunyikannya di sebuah sanatorium tua di perbatasan Austria. Penjagaannya ketat, tapi aku tahu itu bukan masalah besar bagimu. Dan semoga saja dia masih ada di sana," ucap Diego.
"Terima kasih, Diego. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas ini," sahut Jimmy menyambar map itu dengan tangan gemetar. Ia tak percaya, akhirnya setelah sekian lama, ia akan bertemu ibunya.
Diego menatap Jimmy dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan seorang pria yang ingin kepastian.
"Kau tidak perlu membalasnya dengan uang atau aset pelabuhanmu," ucap
Diego lalu bertanya dengan suara yang sangat tegas, "Katakan padaku, James. Setelah kau menemukan ibumu dan menyelesaikan urusan darah ini dengan Daren, kapan kau akan menikahi Lea secara resmi? Aku tidak ingin melihat putriku terus-menerus merayap ke balkon pengawalnya seperti pencuri di rumah sendiri."
Jimmy menegakkan punggungnya sembari mengepalkan tangan. Ia akan memberikan jawaban yang sudah ia simpan di dalam jiwanya sejak malam mereka bersatu di apartemen.
"Segera, Diego! Begitu aku menginjakkan kaki kembali di mansion ini bersama ibuku, aku akan melamar Lea secara resmi di depanmu dan Elise. Aku tidak akan membiarkan dia menunggu lebih lama lagi."
"Bagus. Pergilah. Jemput ibumu, dan bawa pulang kehormatan keluarga Harley. Setelah itu, persiapkan dirimu untuk pesta pernikahan paling megah yang pernah dilihat keluarga Frederick," ucap Diego.
Jimmy membungkuk hormat untuk terakhir kalinya, lalu berbalik keluar dari ruang kerja dengan langkah yang mantap.
"Tunggu James!" seru Diego.
"Ya?" Jimmy memutar tubuhnya.
Diego mendekat, lalu berbisik di samping telinga Jimmy. "Ada sesuatu yang terus mengganjal di pikiranku. Tapi aku harus menanyakan ini."
"Katakan saja Diego." Jimmy mulai merasakan firasat yang tak enak.
"Kau belum menyentuh Lea lebih dari sekedar pelukan dan ciuman, bukan?" tanya Diego membuat Jimmu diam membeku di tempat.
apaan coba lagi lagi gak bisa menahan keinginanmu untuk menanam saham itu🤣🤣
ingat Lea terburu buru ada kelas pagi 😭
ini malah berharap kecambahnya tumbuh 🤣🤣
udah ganti sekarang bukan Jimmy lagi
Diego pria itu sudah menyentuh putrimu lebih dari satu kali
kecanduan dia pengen terus🤣
hadapi dulu calon mertua mu itu hahaha🤣🤣🤣
rasanya pengen tertawa ,menertawakan Wil Wil arogan itu
Tuan Wil mau nikah lagi anda?
bentar nanti di carikan sama pembuat cerita ini 😂
.jawab jim😁😁