Candy seorang gadis lulusan SMK harus terjebak dalam sebuah pernikahan dengan seorang CEO muda, Ezza. Lambat laun tanpa disadari cinta mereka perlahan tumbuh sampai lahirlah putra mereka Daffin.
Tetapi restu dari Ibu Ezza tak kunjung didapat sampai ahirnya Candy dijebak ibu mertuanya dan Ezza mempercayai hal itu. Karena merasa sakit hati, Ezza pun menyetujui calon yang dipilihkan ibunya untuk menggantikan posisi Candy sebagai istrinya.
Delima hadir menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Ezza, tetapi ia hanya mengincar harta Ezza. Saat Ezza terjebak rekan bisnis hingga masuk penjara, Delima menjauh.
Saat itulah cinta mereka diuji. Candy yang berjuang demi keluarga besar Hadi Wijaya saat Ezza dipenjara. Ia pun yang memperjuangkan Ezza sampai ahirnya ia bisa keluar dari penjara.
Dengan segala ketulusan cinta Candy akankah mampu mengembalikan kasih sayang dari suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CANDY JATUH SAKIT
Happy reading all😘
.
.
Karena kelelahan dengan semua ujian yang terus menderanya, mau tak mau Candy pun jatuh sakit.
"Kek, mama kenapa?" tanya Daffin panik melihat mamanya dibawa ambulance.
"Mama cuma kecapekan sayang, Daffin jangan nangis ya?"
Daffin pun mengangguk, tetapi sayangnya ia tidak boleh ikut mamanya ke rumah sakit. Kini ia pun hanya berdiam diri di rumah bersama pengasuhnya.
"Kak, kenapa Daffin ga boleh ikut ke rumah sakit?"
"Loh den Daffin ga tau, kalau di rumah sakit itu banyak kumannya."
"Tau ... memangnya kenapa?"
"Karena di rumah sakit banyak orang sakit, dan orang sakit itu banyak kumannya, anak kecil dilarang pergi kesana."
"Lah trus kalau anak kecil sakit memangnya tidak dibawa ke rumah sakit?" tanya Daffin polos.
"Ya dibawa sih, cuma karena imun mereka sudah terserang sakit, jadi mereka gak apa-apa dibawa kesana."
"Nah kalau aden beda, kan aden lagi sehat, takutnya nanti kalau ikut ke rumah sakit, jadi tertular kuman dan virusnya gitu."
Daffin masih mendengarkan penjelasan pengasuhnya. Melihat Daffin yang masih bingung ia pun kembali menyusun kalimat yang pas buat anak asuhnya itu.
"Jadi begini kalau anak sakit atau orang yang sedang sakit itu kumannya temenan sama kuman di rumah sakit, jadi ga apa-apa."
"Nah kalau anak sehat itu beda, kuman mereka baik dan jika ketemu kuman jahat nanti mereka perang dan yang kalah bisa sakit, gitu den?"
"Ya sudah, Daffin mau bubuk aja."
Tanpa banyak berkata lagi Daffin segera naik ke lantai atas. Tak lama kemudian ia pun segera menyusul anak asuhnya itu.
.
.
"Woi, serahin duit lo!" gertak salah satu napi pada Ezza.
"Saya gak punya uang bang."
"Gak usah nyolot juga kali jawabnya, kalau gak punya uang mending lo tidur di luar, gak usah coba-coba masuk kamar," celetuk napi yang lainnya.
Ahirnya Ezza pun berbalik arah daripada mencari masalah. Tetapi belum sempat ia melangkah, kerah kaosnya sudah ditarik mundur secara paksa lalu wajah dan perutnya pun dihadiahi bogem mentah.
"Makan tu bogem mentah dari gue, orang baru tapi kere, mending tidur di luar sana!" gertak ketua geng tadi.
Meski di dalam RUTAN, yang kaya-lah yang berkuasa, kalau tidak punya uang ataupun orang baru, maka mereka akan menjadi sasaran empuk untuk para tahanan senior.
Setelah melihat Ezza tak berdaya, gerombolan tasi segera meninggalkan lokasi. Tentu saja mereka menghindari patroli petugas RUTAN.
Ezza mengelap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah, ia teringat ketika ia melakukan hal yang sama pada Candy beberapa bulan lalu.
"Beginikah rasanya sayang, maafkan aku, kini aku pun merasakan apa yang kamu rasakan saat itu."
Kini Ezza hanya bisa meringkuk di sudut lapangan. Ia tidak mendapatkan kamar ataupun bantuan dari siapapun. Kondisi RUTAN yang sudah malam dan sepi, mengisyaratkan kalau sebagian penghuninya sudah terlelap dalam dekapan dinginnya malam.
Tak ada napi yang tidur memakai selimut, jangankan selimut, tidur saja mereka di lantai. Makan berebutan, makan nasi setengah matang, belum lagi lauknya rerumputan. Membuat siapapun yang memandang mereka akan terenyuh seketika.
.
.
...⚜⚜⚜...
...Rumah Sakit Ibu dan Anak...
"Bagaimana kondisi menantu saya dok?"
"Beruntung menantu bapak segera dibawa kesini, jadi kandungannya masih aman, tetapi ada satu hal yang sangat mengkhawatirkan."
"Apa itu dokter?"
Dokter Richard menghela nafasnya, ia tak kuasa menyembunyikan hal ini pada mertua Candy, sampai ahirnya ia pun menyatakan kebenarannya.
"Begini Pak, saya minta maaf sebelumnya."
"Iya ..."
"Sejak awal kehamilan Nyonya Candy saya sudah memperingatkan agar ia menjaga kandungannya."
"Kenapa?"
"Karena ada ketidakberesan terhadap kehamilannya kali ini."
"Sejak awal ia periksa, saya sudah memprediksi kalau Nyonya Candy terkena pre-eklamsia."
"Apa itu?" tanya Tuan Hadi penasaran.
"Jadi begini, pre-eklamsi adalah sebuah kondisi komplikasi kehamilan yang berpotensi berbahaya, yang ditandai dengan tekanan darah tinggi."
"Lalu apakah Anda tidak memberinya obat?"
"Sudah pak, saya sudah memberi obat dan vitamin untuk meringankan agar gejalanya tidak berlanjut, tetapi nyatanya hal itu tetap berlangsung."
"Dan kondisinya semakin memburuk, begitulah maksud dokter."
"Iya."
"Saya mohon maaf, tetapi saya bisa menjamin hal itu bisa sembuh setelah bayi lahir."
"Begitukah?"
"Iya."
"Ya sudah, lakukan yang terbaik untuk menantu saya."
"Baik pak, akan saya usahakan yang terbaik untuk Nyonya Candy."
.
.
Setelah keluar dari ruangan dokter, Tuan Hadi memijit pelipisnya. Satu persatu masalah yang menerpanya kini mulai membuatnya lelah. Begitu pula dengan Candy, beruntungnya kandungan Candy masih bisa diselamatkan.
Sempat kecewa tetapi ia tau bahwa Candy anak yang baik. Sikap yang tidak pernah membagi lukanya pada orang lain semakin membuat Tuan Hadi bangga memiliki anak menantu seperti Candy.
"Terimakasih Candy sudah berjuang dengan papa sejauh ini, setelah Ezza keluar papa harap ia akan lebih bertanggung jawab lagi. Aamiin."
Setelah berpamitan pada menantunya, kini ia pun menuju rumah sakit tempat istrinya di rawat.
.
.
Ezza yang menyadari kesalahannya kini hanya bisa meringis di balik jeruji penjara. Hatinya yang buta membuat ia tidak bisa membedakan kebaikan hati istrinya dan sikap ibunya.
Dengan langkah sedikit tertatih, ia menyeret kakinya menuju sebuah musholla. Ia pun mulau membasuh wajah dan melakukan wudhu. Setelah itu ia pun menunaikan ibadah sholat.
"Maafkan hamba ya Allah, karenamu aku semakin sadar bahwa apapun yang hamba miliki tak selayaknya hamba sombongkan."
"Maafkan hamba karena telah menyakiti istri hamba, tolong jaga dia dan calon anak hamba ya Allah."
Tak terasa bulir airmata mulai membasahi kedua pipinya. Perih yang ia rasakan karena air matanya mengenai bekas luka di wajahnya. Tetapi ia tidak bisa membayangkan hati dan perasaan Candy saat ini.
"Candy, maafkan aku..." ucapnya lirih.
Hingga tak lama kemudian ahirnya matanya terpejam.
.
.
Keesokan harinya ...
"Cuit ... cicuitt ..."
Suara burung di pagi hari saling bersahutan diantara ranting-ranting pepohonan di area rumah sakit.
Dengan perlahan Candy mulai membuka matanya.
"Astaghfirullah dokter..." ucapnya kaget.
Sedangkan dengan polosnya dokter Richard hanya tersenyum manis.
Entah sejak kapan, dokter muda itu berada di dalam ruangan Candy. Sejak semalam ia memang memutuskan untuk tidak jadi pulang dan lebih memilih untuk menjaga Candy.
Dokter muda itu mungkin sudah gila karena jatuh cinta pada istri orang, tetapi entah kenapa semakin ia menepis perasaannya, Tuhan memberikan kesempatan bertemu dengannya lebih banyak.
"Salahkah perasaanku ini," gumamnya dalam hati.
Sedangkan Candy sudah kikuk luar biasa. Maklum saja lelaki yang pernah dekat dengannya sejauh ini hanya Ezza, ayah mertuanya dan beberapa kolega bisnis ayahnya. Meski ia sering bertemu dengan dokter Richard tetapi hal seperti ini sungguh membuatnya bingung.
"Ma-maaf untuk apa sepagi ini dokter ada disini?" tanya Candy polos.
.
.
...Ahai... ada apa ya? wkwkwk.. skip untuk besok ya......
.
.
...Jangan lupa dukung author selalu dengan like, share, komen dan rate bintang lima ya.. makasih banyak...lope-lope sekebon stroberi 😘😘...
salam dari jodohku Cinta Pertamaku 🙏🙏🙏