Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.
Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.
Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersama ku .... lagi...
Darah serasa surut dari wajah Darian, meninggalkan kulitnya dingin dan pucat laksana pualam.
Kata-kata Bram di seberang telepon dia dijemput bergema di dalam kepalanya, berubah menjadi skenario-skenario mengerikan yang berkelebat secepat kilat. Dijemput.
Bukan pergi. Bukan melarikan diri. Sebuah tindakan pasif. Seseorang telah menunggunya. Seseorang telah mengambilnya.
“Siapa?” desis Darian, suaranya serak, cengkeramannya pada ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
“Siapa yang menjemputnya? Estrel? Atau keluarganya?”
“Kami tidak tahu, Tuan. Mobil itu… gelap. Tanpa plat. Kami kehilangan jejaknya setelah dua blok. Kami sedang mencoba menarik rekaman dari CCTV kota, tapi—”
“Lupakan!” potong Darian, otaknya yang biasa bekerja dengan logika dingin kini berpacu liar, didorong oleh adrenalin dan kepanikan.
Memeriksa seluruh CCTV akan memakan waktu. Waktu yang tidak ia miliki.
Tiba-tiba, sebuah ingatan melintas di pikiran Darian. Ponsel. Ponsel baru yang ia berikan pada Queenora seminggu lalu dengan dalih agar lebih mudah dihubungi jika ada keperluan Elios.
Ponsel yang diam-diam telah ia pasangi aplikasi pelacak. Sebuah tindakan posesif yang dulu ia anggap sebagai langkah pengamanan, kini menjadi satu-satunya tali penyelamatnya.
“Aku tahu di mana dia,” gumam Darian, lebih pada dirinya sendiri.
Pria itu memutus panggilan Bram tanpa pamit, jemarinya sudah bergerak lincah di atas layar, membuka aplikasi yang tersembunyi di dalam sebuah folder utilitas.
Sebuah titik biru berkedip di peta. Stabil. Tidak bergerak. Lokasinya berada di sebuah area pinggiran kota yang terkenal dengan motel-motel murah dan jalanan yang remang. Hatinya mencelos. Apa pun yang terjadi, itu bukan tempat yang aman.
“Darian, mau ke mana kau?” Suara Adreine terdengar cemas di belakangnya.
“Menjemputnya kembali,” jawab Darian tanpa menoleh, langkahnya cepat menuju pintu, menyambar kunci mobil dari mangkuk di meja konsol.
“Anak itu butuh waktu, Darian! Kau tidak bisa memaksanya!” seru Adreine, mencoba menahannya.
“Aku tidak peduli apa yang dia butuhkan, Bu!” balas Darian, suaranya nyaris sebuah bentakan, rasa takutnya termanifestasi menjadi amarah.
“Dia ada di luar sana, masuk ke mobil orang asing entah siapa. Dia bisa dalam bahaya. Apa Ibu mau aku duduk diam saja?” Ia tidak menunggu jawaban.
Darian membanting pintu depan di belakangnya dan menghilang ke dalam garasi.
Deru mesin mobil sportnya membelah keheningan malam beberapa detik kemudian, meninggalkan Adreine yang hanya bisa menghela napas pasrah di ambang pintu.
***
Bau pengap dari karpet lembap dan asap rokok basi menyambut Queenora saat ia membuka pintu kamar motel nomor 27.
Ruangan itu kecil dan menyedihkan. Seprai tipis dengan noda samar, sebuah televisi tabung tua, dan lampu neon yang berkedip-kedip di atas cermin yang retak.
Ini adalah dunia yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari kemewahan steril di rumah Darian. Tapi di sini, setidaknya, ia merasa memegang kendali.
Gadis itu duduk di tepi ranjang yang berderit, mengeluarkan ponselnya. Bukan untuk menelepon siapa pun, melainkan untuk menatap satu-satunya foto yang ia miliki.
Wajah Elios yang sedang tertidur pulas di pelukannya, diambil diam-diam oleh Nyonya Adreine beberapa minggu lalu. Sebuah sengatan rindu yang tajam menusuk ulu hatinya. Ia merindukan aroma bayi itu. Ia merindukan berat tubuh mungilnya di dadanya. Ia bahkan merindukan tangisannya yang melengking di tengah malam.
Air mata mengancam akan tumpah, tetapi ia menelannya kembali dengan paksa. Tidak. Ia tidak akan menangis. Ia pergi bukan untuk menjadi lemah, melainkan untuk menemukan kekuatannya.
Tiba-tiba, pintu kamarnya digedor dengan brutal, bukan ketukan, melainkan pukulan yang membuat seluruh kusen kayu yang rapuh itu bergetar.
BRAK!
BRAK!
BRAK!
“Queenora! Buka pintunya! Aku tahu kau di dalam!” Suara Darian. Penuh amarah, serak, dan putus asa. Jantung Queenora berdebar kencang, tetapi ia tidak takut. Ia menarik napas dalam-dalam, berjalan ke pintu, dan membukanya.
Darian berdiri di sana, terengah-engah, rambutnya acak-acakan dan matanya berkilat liar. Ia tampak seperti badai yang baru saja menerjang. Tanpa sepatah kata pun, ia masuk ke dalam, matanya menyapu kondisi kamar yang menyedihkan itu dengan ekspresi jijik, sebelum kembali menatap Queenora.
“Apa yang kamu pikirkan?” tuntutnya, suaranya rendah dan mengancam.
“Pergi di tengah malam? Masuk ke mobil orang asing? Kamu mau bunuh diri, hah?!” Queenora menutup pintu dengan tenang.
“Itu taksi yang saya pesan lewat aplikasi, Tuan. Bukan mobil orang asing.”
“Jangan panggil aku ‘Tuan’!” bentaknya.
“Dan itu tidak menjawab pertanyaanku! Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu lari?”
“Saya tidak lari,” jawab Queenora, suaranya mantap, mengejutkan Darian dan dirinya sendiri.
“Saya pergi untuk memberi Anda ruang. Untuk memberi Elios kesempatan hidup normal tanpa skandal yang saya bawa.”
“Omong kosong!” Darian mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi.
“Kamu pikir aku peduli dengan skandal? Aku mengadakan konferensi pers untuk membelamu di depan seluruh dunia, dan ini balasanmu? Meninggalkanku dengan secarik surat menyedihkan?”
“Anda membela seorang korban,” kata Queenora pelan, menatap lurus ke mata Darian.
“Bukan saya. Anda tidak bisa mengakui saya di depan mereka. Saya mengerti. Tapi saya tidak mau hidup sebagai aib yang harus Anda sembunyikan selamanya.” Kata-kata itu menghantam Darian. Amarahnya yang membara tiba-tiba padam, digantikan oleh sesuatu yang lain.
Sesuatu yang dingin dan menusuk. Ia menatap Queenora, gadis yang berdiri dengan punggung tegak di tengah ruangan kumuh ini, wajahnya pucat tetapi matanya menyala dengan ketetapan hati yang baru.
Dan dalam sekejap, sebuah kesadaran yang mengerikan menghantamnya. Kehilangan Luna adalah duka. Sebuah lubang menganga yang ditinggalkan oleh masa lalu.
Tapi kehilangan Queenora… ini adalah amputasi. Pemotongan bagian dari dirinya yang baru saja mulai hidup kembali.
Rasa sakitnya lebih tajam, lebih nyata, lebih menakutkan. Kehilangan Luna adalah akhir dari sebuah babak. Kehilangan Queenora adalah akhir dari seluruh buku.
“Bukan seperti itu… bukan karena aku malu,” bisiknya, suaranya pecah.
Kekuatan seolah terkuras dari tungkainya.
“Itu bagian dari strategi. Untuk melindungi…”
“Saya tahu,” potong Queenora lembut.
“Tapi hati saya tidak tahu, dia egois, hati saya tidak mau tau itu. Hati saya hanya merasakan tidak pantas.”
Darian maju selangkah, lalu selangkah lagi, sampai ia berdiri tepat di depan Queenora. Ia bisa melihat pantulan dirinya di mata gadis itu.
Seorang pria yang hancur, panik, dan menyedihkan. Semua topeng keangkuhan dan kendali dirinya telah luruh.
“Aku salah,” Darian berkata , suaranya nyaris tak terdengar.
“Aku salah, Queenora. Aku minta maaf....”
Dan kemudian, pria yang tidak pernah menunjukkan kelemahan itu melakukan sesuatu yang tak pernah Queenora bayangkan.
Darian berlutut di hadapannya, di atas karpet motel yang kotor dan lembap. Ia menundukkan kepalanya, tangannya meraih tangan Queenora dengan gemetar.
“Kumohon… pulanglah,” pintanya, suaranya teredam oleh rasa sakit.
“Aku tidak peduli lagi soal Elios butuh ibu susu atau tidak. Aku tidak peduli soal Estrel atau media. Aku… aku butuh kamu. Elios butuh kamu. Tapi yang paling penting… aku butuh kamu, pulang lah bersamaku aku mohon. ”
"A-aku mencintaimu Quuenora ... Kembali lah bersamaku...."
Air mata akhirnya mengalir di pipi Queenora. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata haru melihat pria itu meruntuhkan seluruh dinding pertahanannya. Ia berjongkok, menyamakan tingginya, dan menangkup wajah Darian dengan kedua tangannya.
“Aku juga mencintaimu, Darian,” bisiknya tulus.
“Karena itulah aku tidak bisa pulang.”
Darian mengangkat kepalanya, tatapannya penuh kebingungan dan luka.
“Apa… apa maksudmu?” Darian menatap Queenora penuh tanya.
“Aku tidak akan kembali sebagai wanita lemah yang butuh diselamatkan,” jelas Queenora, ibu jarinya mengusap air mata yang mulai terbentuk di sudut mata Darian.
“Aku tidak akan kembali sebagai korban yang harus kau bela. Aku tidak bisa menjadi pasanganmu jika aku sendiri belum utuh. Aku tidak akan membiarkan masa laluku menjadi senjatamu, atau senjata musuhmu.”
“Lalu… apa yang akan kamu lakukan?” tanya Darian putus asa.
Queenora melepaskan wajahnya dan berdiri. Ia berjalan ke meja kecil, mengambil ponselnya. Ada tatapan dingin yang baru di matanya, sebuah api yang telah lama padam kini menyala terang.
“Aku akan kembali,” katanya, suaranya kini setajam baja.
“Tapi tidak sekarang. Aku tidak akan kembali sampai aku membawa keadilan untuk diriku sendiri.”
Queenora membalikkan ponselnya menghadap Darian. Di layar, sebuah kontak ditampilkan dengan jelas, siap untuk ditekan tombol panggilnya. Darian membaca nama yang tertera di sana, dan napasnya tercekat di tenggorokan.
Arya Pratama