Marisa Sartika Asih sedang berada di titik terendah hidupnya. Dalan satu hari, ia kehilangan pekerjaan dan batal menikah karena tunangannya, Bara, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditengah keputusasaan dan jeratan kebutuhan biaya rumah sakit ibunya di kampung, Marisa bertemu dengan Dalend, seorang Pria asing yang misterius.
Dalend menawarkan sebuah kesepakatan tak terduga. Marisa cukup berpura-pura menjadi pasangannya di depan keluarganya selama dua minggu hingga satu bulan. Imbalannya adalah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Terdesak oleh gengsi dan kebutuhan ekonomi, Marisa pun dihadapkan pada pilihan sulit antara harga diri atau jalan keluar instan dari keterpurukannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 (Part 2)
Tuan Wijaya, yang merupakan pria dengan insting bisnis dan manusia yang sangat tajam, mulai mencium aroma pengkhianatan yang lebih busuk dari saus mana pun. "Bima, makan," perintah Tuan Wijaya. Pendek, namun mutlak.
Bima berkeringat dingin. Seluruh mata direksi dan investor tertuju padanya. Dan tangan gemetar, ia mengambil sendok dan mencicipi sedikit saus tersebut. Dalam hitungan detik, ekspresi wajahnya berubah menjadi mual yang hebat. Bau amis yang disamarkan oleh rempah kini memenuhi indra perasanya.
"Ini... ini busuk!" Teriak Bima spontan, sambil terbatuk. Marisa segera memberi isyarat kepada asistennya. "Hentikan semua penyajian! Ambil set cadangan dari mobil sekarang!"
Asisten Marisa dengan cepat membawa nampan baru yang masih tersegel rapat. Saus yang disajikan kali ini adalah saus yang asli, yang disimpan Marisa di tempat tersembunyi.
"Tuan Wijaya, mohon maaf atas ketidaknyamanan ini," ujar Marisa sambil menyajikan bistik yang baru.
"Tampaknya ada oknum yang mencoba menyabotase dapur tenda. Untungnya, saya selalu menyiapkan cadangan di bawah pengawasan pribadi saya."
Dalend mengeluarkan tablet dari sakunya dan memutarnya di depan ayahnya. Layar itu menunjukkan rekaman staf housekeeping suruhan Bima yang menuangkan cairan ke panci saus satu jam yang lalu.
"Papa, ini adalah rekaman kamera keamanan yang dipasang. Marisa pagi ini," kata Dalend dengan nada dingin. "Dan ini adalah laporan mutasi dana dari rekening pribadi Bima kepada staf tersebut."
...
Nyonya Elvira terdiam seribu bahasa, wajahnya memerah karena malu. Rencananya untuk mendukung Bima menjatuhkan Marisa justru meledak di depan para investor asing.
Tuan Wijaya berdiri. Ia tidak berteriak. Ia hanya menatap Bima dengan pandangan yang membuat pria itu langsung berlutut di tanah.
"Bima, kamu adalah orang kepercayaan yang aku rawat selama sepuluh tahun," suara Tuan Wijaya terdengar seperti guntur yang jauh. "Tapi kamu mempertaruhkan reputasi Angkasa Raya di depan investor hanya untuk dendam pribadi. Keluar dari sini. Tim hukumku akan menemuimu sore ini untuk tuntutan sabotase dan penggelapan dana."
Bima mencoba bicara, namun petugas keamanan sudah menariknya keluar dari tenda VVIP. Kejatuhannya sangat cepat dan sangat hina.
...
Setelah suasana mulai tenang dan makanan cadangan Marisa mendapat pujian dari para investor-terutama karena kesegarannya yang tetap terjaga-Tuan Wijaya memanggil Marisa dan Dalend duduk Meninggalkan tenda.
Suasana menjadi sangat sunyi. Hanya suara angin yang menggesek terpal tenda.
"Marisa," Tuan Wijaya memulai, suaranya kini lebih lunak. "Aku akui, aku meremehkanmu. Aku mengira kamu hanyalah alat bagi Dalend untuk melarikan diri daei tanggung jawabnya."
Marisa menunduk sedikit, bukan karena takut, tapi karena hormat. "Saya hanya melakukan apa yang perlu dilakukan untuk melindungi apa yang saya bangun, Pak."
"Kamu cerdik. Dan kamu punya integritas yang jarang aku temui bahkan di kalangan direksiku sendiri," lanjut Tuan Wijaya. Ia melirik Nyonya Elvira yang masih memalingkan wajah. "Kontrak kateringmu... aku tidak akan memberimu masa percobaan tiga bulan lagi. Mulai hari ini, 'Dapur Sejati' resmi menjadi mitra jangka panjang Angkasa Raya."
"Terima kasih, Pa," kata Dalend.
Dalend menggenggam tangan Marisa di bawah meja. Kemenangan ini terasa jauh lebih manis daripada $100 juta mana pun.
"Jangan berterima kasih padaku, " potong Tuan Wijaya. "Berterima kasihlah pada wanita di sampingmu. Dia baru saja menyelamatkan mukamu di depan investor Singapura. Tapi ingat, Dalend... dunia bisnis jauh lebih kejam dari Bima. Pastikan kalian berdua siap."
Tuan Wijaya berdiri, diikuti oleh Nyonya Elvira yang pergi tanpa sepatah kata pun, meski ia sempat melirik Marisa dengan tatapan yang tidak lagi penuh kebencian, melainkan sedikit kekalahan yang enggan diakui.
...
Saat matahari mulai terbenam di ufuk utara Jakarta, menyisakan warna ungu dan emas di atas kerangka bangunan yang mulai menjulang, Marisa dan Dalend berdiri di tepi area proyek yang mulai menjulang, Marisa dan Dalend berdiri di tepi area proyek yang kini sepi. "Kita berhasil, " bisik Marisa, menyandarkan kepalanya di bahu Dalend.
"Kita baru saja mulai, Marisa," Dalend merangkulnya erat. "Tapi setidaknya, tidak ada lagi tikus di dapur kita." Marisa tertawa kecil. "Ngomong-ngomong soal dapur, aku ingin pulang ke apartemen. Aku lelah menghadapi drama. Aku hanya ingin tidur tanpa memikirkan bumbu atau Bima."
"Tidur? Kamu lupa janjimu?" Goda Dalens.
"Janji apa?"
"Janji untuk merayakan kemenangan ini," Dalend menarik Marisa menghadapnya, menatap mata wanita itu dengan intensitas yang dalam. "Bukan dengan pesta mewah, tapi dengan sesuatu yang kamu sebut... kejujuran."
Dalend mendekat, dan kali ini, di bawah bayang-bayang fondasi Angkasa Raya yang kuat, ia mencium Marisa. Bukan untuk sandiwara, bukan untuk kamera, tapi untuk masa depan yang kini benar-benar milik mereka berdua. "Gue sayang sama Lo, Marisa," bisik Dalend di antara ciuman mereka.
"Gue tahu, Pewaris Kotor, " balas Marisa dengan senyum paling cantik yang pernah Dalend lihat. "Gue juga."