Udah Tamat, lagi di Revisi.
Di sebuah kerajaan yang makmur, tinggallah seorang ratu yang bernama Rose Margaretta, dirinya sangat di benci oleh suaminya yang merupakan raja kerjaaan tersebut.
Rose berharap dia tidak di benci oleh suaminya, karena dia tahu bahwa orang yang akan di nikahinya merupakan sahabat lamanya sewaktu kecil.
Namun harapan itu musnah, dia di benci oleh teman masa kecilnya.
Wanita itu di hina, di tuduh, di benci, dan di siksa secara mental oleh suaminya.
Suaminya berharap, bahwa istrinya mati.
Rose bertahan cukup lama, dia bertahan karena sesuatu yang memberinya semangat.
Suatu ketika, dia mendengar kabar bahwa seseorang yang membuat dia bertahan, telah tewas di bunuh, rose pun semakin depresi dan dia memutuskan untuk pergi dari kerajaan tersebut.
Setelah kepergiannya, suaminya pun mengetahui bahwa perempuan yang dia siksa adalah orang yang dia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang pengomen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 20 (Revisi)
Keesokan harinya.
" Ha.." Seorang laki-laki bergumam di pinggir jalan.
" Akhirnya aku kembali ke habitat asliku....." Gumamnya.
" Tapi..
" Sepertinya aku kembali ke istana di waktu yang kurang tepat.... "
" Memang jalan kaki lebih sehat, dari pada menggunakan sihir teleportasi. "
Laki-laki itu memiliki penampilan yang terbilang tampan, di berkulit putih, berambut panjang, dengan mata ungu muda yang indah, seperti permata.
Laki-laki itu adalah Taran Cesian, dia merupakan Kesatria kedua yang setia setelah Tensis, sekaligus sang ahli sihir.
" Ini sudah berapa tahun, ya? " Taran bertanya-tanya seraya menggaruk kepalanya.
" Aku lupa.... " Gumamnya bingung.
" Mari kita temui Yang Mulia Raja, dia pasti akan terkejut melihat kepulanganku...
" Yang mulia!! Kesatria mu ini sudah kembali!!! " Taran berteriak, dengan penuh semangat.
Di sisi lain.....
| Sepertinya perasaanku tidak enak | pikir Brayen, yang sedang bekerja.
| Kenapa rasanya akan ada bencana sebentar lagi | Pikir Alex.
...---------------...
Istana kekaisaran....
" Dimana yang mulia raja?!! " Teriak seorang laki-laki paruh baya.
Tensis menghadang laki-laki itu.
" Count ferdi!! Anda tidak boleh menemui yang mulia raja sekarang. " Tensis bicara dengan tegas.
" Aku ingin menemui beliau hari ini, ini soal anakku Rose!! " Ucap Laki-laki itu dengan penuh paksaan.
Laki-laki itu adalah ayah dari Rose, Count Ferdi Margaretta.
Count Ferdi memaksa masuk, dikarenakan dia menyebabkan keributan.
Akhirnya Brayen menyuruh dia masuk.
" Tensis, biarkan dia masuk!! " Teriak Brayen dari dalam ruangan.
" Baik, yang mulia. " Tensis patuh.
" Anda bisa masuk Count Ferdi. " Ucap Tensis, mengijinkan Count Masuk.
Count Ferdi merapikan pakaiannya, dan dia dengan sombongnya masuk.
Saat dia masuk, dia sudah di sambut oleh mata tajam Brayen yang dingin dan menakutkan.
Bukannya tidak, Brayen sangat benci kepada Count. Keluarga Count sangat serakah di bandingkan dengan keluarga bangsawan lainnya.
Brayen tahu apa tujuan kedatangan Count Ferdi datang ke istananya.
Dia pasti ingin meminta uang.
" Salam Yang Mula Raja, semoga anda di berkahi. " Count memberi penghormatan kepada Brayen.
Brayen acuh tidak peduli.
" ..... " brayen hanya diam dengan ekspresi dinginnya.
" Yang mulia, apa anda tidak mau menyuruh saya duduk, saya ini adalah mertua anda, bagaimana mungkin anda tidak menghormati saya sama sekali. " Ucap Count Ferdi sombong.
" Duduk!!! " Perintah Brayen tegas, dan singkat.
Count tetap duduk, meski tatapan Brayen tidak bersahabat.
" Yang mulia, keluarga saya sedang kesusahan, jadi saya ingin anda memberikan uang harian Yang Mulia Ratu, saya tidak akan meminta uang dari Yang Mulia Raja. Saya hanya ingin mengambil uang anak saya.." Dengan muka tebalnya, Count meminta uang kepada Brayen.
" Jika besan keluarga kekaisaran terlihat miskin itu tidak akan baik di mata para bangsawan lain. Itu akan sangat memalukan bagi anda Yang Mulia. " Sekali lagi Count berbicara.
|Sudah ku duga, dia datang cuma meminta uang, padahal putrinya sekarang sedang sakit, tapi dia tidak bertanya sedikitpun.| Pikir Brayen.
" ......... " Brayen masih diam.
" Yang Mulia Raja? " Tanya Count tidak sabar.
" Kau ingin bertemu denganku karena ini? " Tanya Brayen acuh.
" A—apa? " Count menjadi gugup, karena Brayen menatapnya dengan tajam.
" Aku tidak suka mengulangi perkataanku!!" Brayen membentak Count.
Count yang sedari tadi sombong, sekarang lebih menciut ketakutan, dia terlihat lebih gemetar setelah Brayen membentaknya.
Ada rumor yang mengatakan, jika membuat yang mulia Raja kesal, atau pun marah, maka kepala mereka akan melayang.
Mengingat rumor tersebut, Count Ferdi ketakutan.
" Sa—saya butuh uang yang mulia. " Ucap Count Ferdi gugup.
" Apa kau pikir, aku tidak tahu apa-apa?! " Tanya Brayen Malas.
" M—maksud anda? " Count heran.
Brayen mengambil sebuah dokumen, yang di berikan oleh Tensis, dan dia membacanya.
" Count Ferdi, kau menghamburkan uang mu untuk berjudi di Kasino sebesar 5 Juta emas, dan kau kalah dalam perjudian itu....
" Kau memakan makanan mewah setiap hari, jika di hitung, itu setara dengan 10 juta emas perhari.
" Jadi dimana yang kau bilang kesulitan?.... " Brayen bertanya dengan wajah yang dingin sekaligus menyeramkan.
Count Ferdi diam tidak bersuara, dia memang berbohong, dia hidup sangat mewah di Mansionnya sendiri.
" Sa—saya hanya.......
Seperti biasa Brayen tidak mau mendengar alasan-alasan yang tidak berguna.
" Lebih baik kau keluar sekarang!! Sebelum aku memenggal lehermu yang tidak berharga itu!! " Bentak Brayen keras.
" Sa—saya akan keluar yang mulia... " Count bicara sembari berdiri dengan tergesah-gesah.
" Sala—
" Keluar!! Aku tidak mau mendengar salam dari mulutmu!! " Brayen berteriak emosi.
Count Ferdi akhirnya keluar dari ruangan itu.
| Manusia serakah memang tidak akan puas dengan segala hal. Aku lebih baik mengunjungi kamar ratu, sudah 6 hari berlalu dia masih belum sadar. | Pikir Brayen.
...----------------...
Kamar Rose......
Brayen kembali duduk di kursi samping tempat tidur Rose. Ketika brayen ingin mengelus kepala Rose, dia menarik kembali tangannya.
Seperti biasa dia bergumam, tentang apa yang dia lakukan sekarang. Brayen juga bertanya kapan Rose akan bangun.
" Kapan kau membuka mata? " Brayen bertanya hal yang sama seperti kemarin
Brayen melihat ke arah mata Rose, bulu matanya sedikit bergerak, itu seperti dia sedang mencoba untuk membuka matanya
Benar saja, Rose membuka matanya.
Rose masih terdiam dia membayangkan berapa lama waktu telah berlalu. Dia melihat Brayen sendirian, jauh di dalam pikirannya.
"...Yang Mulia, mengapa Anda ada di sini? "
Brayen terkejut dengan suaranya yang lemah, dan dia menatap Rose. Brayen menatapnya dengan mata tenang seolah-olah dia tidak membenci itu.
Rose tidak percaya hal pertama yang dilihatnya saat dia membuka matanya adalah Brayen, dan rose terus menatap Brayen seolah mencoba melihat apakah ini mimpi atau kenyataan.
...----------------...
BERSAMBUNG.......
JANGAN LUPA COMMEN DAN LIKE
NANTIKAN CHAPTER SELANJUTNYA...
APA SEBENARNYA HUBUNGAN COUNT FERDI DENGAN ROSE?......
SEE YOU NEXT CHAPTER