Rheyna Aurora adalah istri dari seorang pria yang cuek dan minim perhatian yang bernama Bagas Awangga.
Bagas bekerja sebagai Manager pada perusahaan milik sepupunya, Arlo Yudhistira adalah CEO perusahaan tersebut.
Arlo menaruh hati pada Rheyna sudah sejak lama….
Tak semudah itu hubungan Arlo dan Rheyna berjalan,karena Arlo adalah sepupu dari Bagas dan Arlo telah memiliki istri dan 2 orang putri…..
Akankah Rheyna ertahan dengan Bagas? Ataukah berpaling pada Arlo? Atau ada yang lain?
Selamat membaca dan selamat menikmati karya pertama saya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhecella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memberanikan Diri
Ketika aku tersadar dari pingsanku, aku berada di mobil entah ini mobil siapa, sepertinya mobil mas Arlo sebab hanya dia yang memiliki mobil sebagus ini di keluarga Bagas dan keluargaku.
“Mah kamu sudah sadar” tanya Bagas yang duduk menemaniku, aku hanya diam dan memandangnya sinis.
Aku duduk dan mengumpulkan kesadaranku, kemudian menuruni mobil itu dan aku menyaksikan makam Vano sudah tertutup gundukan tanah, nampak beberapa orang menaburkan bunga, aku berjalan menuju kerumunan orang tersebut, dengan membawa hatiku yang hancur. Aku menatap Nisan itu, papa memelukku dan memberikan satu keranjang bunga untuk ku taburkan di atas makam Vano.
“Tegarkan hatimu ingat nak, Vano sudah gak sakit lagi sekarang” kata-kata yang di ucapkan papa saat menyerahkan sekeranjang bunga
“Sayangnya mama sudah gak sakit lagi ya nak?” Sambil mengelus nisannya dan tersenyum pilu,
“Tunggu mama ya nak, sampai waktunya kita berkumpul kembali” aku mencium nisannya, membayangkan sedang menciumnya seperti saat dia masih ada. Setelah beberapa saat aku berjongkok didepan nisan Vano, akhirnya aku memutuskan untuk berdiri.
Setelah semua saudara dan teman berpamitan dan menyalamiku, ada satu orang yang menggenggam tanganku sangat erat, seolah merasakan kepedihan hatiku, memberikan ku kekuatan bahkan dia membelai lenganku sebentar dan berguman ‘yang kuat ya’ hanya gerak bibirnya yang aku lihat tanpa ada suara yang aku dengar, dan hanya aku jawab dengan anggukan kepalaku, dia mas Arlo.
Semua sudah pulang, tinggal ada aku, Bagas, mama, papa, mbak Sari dan juga orang tua Bagas. Tatapanku terus tertuju pada nisan Vano, membelai nisannya,
“Ayo nak kita pulang” mama menyadarkanku dari lamunanku, aku hanya menjawab dengan anggukan saja
“Biar Rheyna pulang sama saya ma” kata Bagas
Mama memandangku, meminta persetujuanku,
“Aku pulang sama mama, papa, mbak Sari aja”kataku pada mama. Aku tak ingin memandang Bagas, hatiku masih sakit mengingat perlakuan Bagas pada Vano.
Aku kembali melanjutkan jalanku menuju mobil papa, duduk bersebelahan dengan mbak Sari yang terus memegang tanganku untuk memberikan kekuatan. Bagas mengendarai mobilnya sendiri.
Sesampainya dirumah aku memasuki rumah yang terlintas dibenakku saat memandang ruang TV adalah saat-saat aku menemani Vano bermain, aku kembali menitikkan air mataku. Memasuki kamar aku kembali teringat pada setiap tawa, tangis putraku.
Aku memutuskan untuk mandi membersihkan diriku dibawah guyuran air dingin. Setelah selesai mandi aku meringkuk di atas tempat tidur, kembali berurai air mata, hingga tanpa sadar aku tertidur dalam tangis.
Bagas memasuki kamar kami dan mencoba membangunkan aku,
“Mah makan yuk, kata mbak Sari kamu belum makan dari tadi pagi” kata Bagas membangunkan aku
“Aku gak laper” jawabku malas
“Ayo dong sayang makan dulu yah” rayu Bagas sambil membelai rambutku
“Gak usah pegang-pegang” kataku sambil menghindar, memajukan badanku untuk menjauhinya
Bagas meninggalkan ku sendiri dikamar,
Tok…Tok…Tok
“Non, boleh saya masuk?” Tanya mbak Sari dari balik pintu
“Masuk mbak” jawabku
Ceklek….
“Non makan dulu yuk, ini saya bawakan” kata mbak Sari menghampiri ku
“Aku gak laper mbak” kataku lemah
“Ayo non makan sedikit aja, kasian Vano kalau lihat mamanya jadi lemah seperti ini” kata mbak Sari mengingatkanku
“Makan sedikit ya non” pinta mbak Sari
Aku mengangguk dan bangun dari tidurku, duduk dan bersandar pada punggung tempat tidur, mulai menyuap nasi yang mbak Sari bawakan. Hanya setengah porsi yang aku makan. Mbak sari keluar membawa nampan berisi makanan yang tak habis ku makan.
***
Selama seminggu ini aku tak lagi memperdulikan Bagas. Setiap dia ingin berbicara padaku, aku selalu menghindarinya. Sudah seminggu ini pula Bagas selalu dirumah, itu yang aku dengar dari mbak Sari. Dia tidur selalu di sofa depan TV, mandi menggunakan kamar mandi tamu. Dia masuk kamar hanya jika mengambil pakaian saja.
Saat aku sedang mengambil minum di dapur, aku mendengar suara orang di garasi mobil Bagas. Aku berjalan ke arah ruang tamu, di sana aku bisa mendengar lebih jelas siapa yang sedang berbicara,
“Iya sabar dulu, Rheyna masih terluka, dia bahkan gak mau bicara sama aku” entah pada siapa Bagas berbicara
“Iya kalau semua sudah membaik aku kesana”
“Jangan sekarang, aku gak mau Rheyna berpikir aku tak kehilangan Vano” aku bertanya-tanya siapa yang sedang berbicara pada Bagas
Bagas mengusap wajahnya kasar,
“Ya sudah aku kesana sebentar lagi, aku lihat Rheyna dulu, kalau dia sudah tidur aku langsung kesana, ingat hanya sebentar aku mengantar belanja” aku bergegas kekamarku setelah mendengar Bagas akan melihat apakah aku sudah tertidur.
Aku letakkan air minum yang baru ku ambil di atas nakas, menidurkan badanku dengan posisi membelakangi pintu, lampu sudah ku matikan.
Ceklek…
“Mah kamu sudah tidur?” Panggil Bagas seraya membelai rambutku, aku diam saja tak bereaksi apapun, karena jika aku menepis tangan Bagas maka dia akan tahu bahwa aku belum tidur. Setelah beberapa saat tak ada gerakan dari badanku, akhirnya Bagas keluar dari kamar.
Saat aku mendengar Bagas sedang menyalakan mobilnya, aku bergegas mengganti pakaianku. Menunggu hingga Bagas mengeluarkan mobil dari Garasi.
“Mbak Sari tolong sekarang bukakan pintu pagar mobil saya ya” kataku ketika menghampiri mbak Sari yang ada di kamarnya
“Lho non mau kemana? Udah jam tujuh low non” kata mbak Sari bingung
“Nanti aja ya mbak jelasinnya, saya lagi buru-buru” kataku tergesa
Begitu mobil Bagas dikeluarkan dan pagar garasinya dia tutup, kemudian dia menjalankan mobilnya. Aku bergegas menaiki mobilku, menstaternya, sedangkan mbak Sari bergegas membuka pagar.
“Nanti saya telp mbak” kataku yang kemudian tancap gas tanpa menunggu jawaban dari mbak sari.
Aku mencari-cari keberadaan mobil Bagas, untungnya aku menemukannya, aku berjalan tak terlalu dekat karena takut Bagas melihat mobilku yang sedang membuntutinya.
Tak berapa lama dia memasuki kawasan perumahan, yang sialnya aku tak bisa ikut masuk karena petugas menanyakan aku hendak kemana dan menemui siapa, aku bingung akhirnya aku memutuskan untuk memutar balik mobilku dan berhenti tak jauh dari pintu masuk perumahan tersebut.
Tak berapa lama aku menunggu, ada mobil yang juga berhenti di belakang ku, hanya berjarak sekitar 5meter, ‘owh mungkin itu driver online lagi nunggu orderan’ pikirku.
Selang 15menit ada mobil mewah datang dari arah berlawanan arah mobilku, lampunya yang terang membuat mataku silau, ingin tahu siapa yang berhenti dengan kurang ajarnya di depanku dan tak mau mematikan lampunya. Tiba-tiba ada seseorang disebelah pintu kemudiku, membuka pintu mobil yang lupa untuk ku kunci.
Bersambung…….
...Kira-kira siapa ya yang samperin Rheyna? 🤭...
...Bantu like dan koment dong teman-teman,...
...Jangan lupa jaga kesehatan semua😘...