Hiatus
Balas dendam memang dapat memuaskan hatimu, tapi itu tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik.
Kesalahan orangtua dimasa lalu berimbas pada kisah percintaan yang sudah terjalin.
Seguel dari kisah "TERPAKSA MENIKAH"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanzhuella annoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20
🍀🍀🍀
Adengan 21++ cek usia anda!
Ceklek......
Pintu kamar mandi terbuka. Muncullah Vita dengan handuk sebatas pahanya, ia tidak tau jika suaminya sudah berada dalam kamar tersebut.
Mendengar pintu kamar mandi dibuka, dengan buru-buru Vino memasukkan album dan map tadi, dan ia segera menenangkan diri, sebagaimana tidak terjadi apa-apa.
"Hah..... Beb.... kamu sudah datang? " ucap Vita dengan gugup, karena saat ini kondisinya seperti ingin mengoda.
Vita terdiam berdiri mematung, ia tidak berani mendekat karena keadaan tubuhnya. Wanita yang baru saja sah menjadi istri Dokter Vino itu menutupi dadanya dengan menyilangkan kedua tangannya, dan mengigit bibir bawahnya.
Vino menatap Vita dengan tatapan yang tidak pernah selama ini ditunjukkannya, dimana tatapan itu mengisaratkan ada sekilas balas dendam. Bayangan kedua orang tuanya seperti roda film berputar di otaknya.
"Beb.... ada apa denganmu? " Vita bisa melihat ada yang beda dengan suaminya, mau tak mau ia terpaksa menghampiri Vino yang duduk terdiam diatas ranjang. Sedangkan Vino sibuk dengan pikirannya untuk menyusun rencana apa yang ia akan lakukan.
"Beb..... " lirihnya dengan bibir bergetar, saat ini ia berusaha mengendalikan diri agar tetap bersabar. Agar emosinya bisa dikendalikan dulu, sebelum melakukan sesuatu.
"Ada apa denganmu? apa kamu sakit? " tanya Vita sembari menempelkan telapak tangannya di kening dan leher Vino. Mendapatkan rasa sejuk dari tangan Vita, membuat Vino meradang.
"Beb.... kamu sangat membuatku tergoda" ucapnya, membuat wajah sang istri memerah.
Cup
Vino membungkam mulut Vita dengan benda kenyal miliknya.
"Sayang..... bolehkah aku meminta hakku sekarang juga? " pintanya, bagaimanapun ia harus membuat wanita ini tidak curiga.
"Hmmm ini bukan saatnya Beb.....sebentar lagi kita akan menggelar acara resepsi" Vita beri pengertian dengan memeluk tubuh tegap itu, menyembunyikan wajahnya pada dada bidang.
Tangan Vino terkepal kuat menahan perasaan amarah, wanita yang sedang memeluknya saat ini adalah putri dari sang pembunuh kedua orang tuanya. Kini kedua matanya memerah dengan rahang menegang. Vino mengigit bibir bawahnya untuk menahan semua itu.
Cup
Vino mendaratkan ciuman di bibir seksi mengoda itu. Keduanya saling menikmati olah raga bibir panas itu.
"Beb.... sebaiknya jangan dilanjutkan lagi, waktu kita sudah mepet" ucap Vita mengingatkan karena sekarang sang suami tidak menggenakan apa-apa.
"Masih ada waktu 4 jam lagi, masih ada waktu" Vino mendekati sang istri dengan sorot mata sulit diartikan.
Kembali bibir seksi itu dilahapnya dengan penuh kelembutan, ia ingin membuat wanita ini tidak bisa melupakan sensasi luar biasa ini. Kini tubuh keduanya sama-sama polos seperti anak bayi yang baru dilahirkan.
Vino mengiringi Vita menuju ranjang dengan bibir saling menautkan. Tubuh sang istri dibaringkan, dan ia mengkungkungkannya sembari lidahnya bermain di seluruh tubuh indah itu.
"Sayang..... apa kamu sudah siap? " dalam situasi menegang itu Vino masih sempat meminta izin. Bagaimanapun wanita ini sudah bertahta di hatinya. Vita hanya bisa mengangguk.
Vino mendaratkan kembali benda tanpa bertulang dibagian intim milik sang istri, bagaimanapun ini pertama kali bagi keduanya.
"Sakit beb... " teriak Vita sembari mencakar punggung kokoh itu. Vino pun menghentikan sejenak.
"Tenang sayang.... "
"Ahhkk sakit.... " teriaknya kembali, bulir bening itupun bergulir dikedua sudut matanya. Ternyata Vino berhasil mencetak gol untuk pertama kalinya.
Vino membenamkan pusakanya, ia menatap wajah sang istri yang merasa kesakitan. Kedua mata keduanya bertemu cukup lama.
Vino memacukan kudanya dengan gerakan santai, agar keduanya menikmati jalanan panjang. Teriakan kesakitan kini berubah menjadi racauan yang sangat mengoda bagi sang suami.
"Aahhh..... " inilah suara panjang dari keduanya karena sama-sama menumpahkan lahar panas yang langka. Akhirnya keduanya merasakan surga dunia yang selama ini membuatnya penasaran. Mereka melakukan beronde-ronde, sampai Vita kelelahan.
"Terima kasih istriku" Vino mengecup kening sang istri yang mulai memejamkan mata karena kelelahan. Kini wanita itu sudah terbawa ke alam mimpi.
Vino melihat ada noda merah diatas seprei, bukti dialah orang pertama merenggut mahkota milik sang istri.
Vino menatap lekat-lekat wajah tenang sang istri dengan sendu, tiba-tiba kilasan kedua orang tuanya menari-nari di kepalanya. Seketika rasa dendam itu memenuhi dirinya.
"Akan aku buat kalian memohon seperti tidak punya harga diri didepan banyak orang. Aku akan buat kejutan yang tidak pernah terlupakan" Vino membatin.
Vino pun keluar kamar hotel dengan diam-diam, iapun menghubungi seseorang yang biasa disuruhnya.
"Oke..... lakukan apa yang sudah kuperintahkan" ucapnya dalam sambungan telepon.
Saat ini Vita sudah di rias oleh para MUA, penampilan wajah beserta gaun yang dikenakannya begitu mempesona.
Sebelum para MUA merias wajahnya Vita merasa malu karena maha karya dari sang suami memenuhi lehernya. Para MUA tersenyum-senyum karena mengerti, mereka membatin memuji keliatan mempelai pria. Tapi maha karya itu bisa ditupi dengan alat make-up, sehingga tidak terlihat.
"Beb.... kamu sangat cantik" puji Vino sekilas melihat keanggunan sang istri.
"Kamu juga sangat tampan sayang.... " balasnya mengagumi ketampanan sang suami.
"Apa masih sakit? " bisiknya pelan karena para MUA masih berada dalam kamar itu. Mendengar pertanyaan itu membuat Vita jadi malu, kini wajahnya memerah karena mengingat permainan panas itu.
"Hmmm sedikit" lirihnya.
"Sayang..... apa kalian sudah siap? ayo kita harus berangkat" ucap Mami Sinta diambang pintu kamar.
"Iya Mi.... kami berfoto dulu" sahut Vita karena mereka disuruh berfoto dalam hotel.
Mata Vino menatap tajam kepada kedua paruh baya itu, yang merupakan mertuanya. Tatapan yang tidak pernah ditunjukkannya selama ini. Tangannya terkepal kuat didalam saku toxedonya.
"Hmmm kalian berangkat duluan saja, aku masih ada yang ingin dipersiapkan" ucap Vino yang dimana membuat istri dan sang mertua menatapnya.
"Beb.... kita harus sama-sama menuju ke Mansion, bagaimana bisa begitu" sahut sang istri dan dibenarkan oleh kedua mertuanya.
"Aku ingin menyiapkan kejutan Beb....jadi menurut lah" ucap Vino berusaha menahan gejolak.
"Hmmm baiklah jika begitu" ucap Papi Anugerah.
"Buatlah kejutan yang luar biasa" ucap sang Mami sembari mengelus wajah Vino dengan lembut.
Deg
"Iya aku akan membuat kejutan luar biasa, yang tak terlupakan" batin Vino memandang sang istri bersama rombongan keluarga meninggal Hotel.
Bersambung.....
🌻🌻🌻
Jangan lupa vote like dan comennya.