NovelToon NovelToon
Sang Dewi Mengembala Cinta Delapan Dewa

Sang Dewi Mengembala Cinta Delapan Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:386
Nilai: 5
Nama Author: Usu dedek

Igrisia Devalona Bharata terlahir dari darah campuran dewa dan peri, hingga memiliki kekuatan dasyat dan di akui sebagai dewi alam. Namun kekuatan itu membuat para dewa merasa takut, hingga membuatnya jatuh ke dunia manusia dan kehilangan segalanya. Tekad dendam yang membara membuatnya bangkit mencari pecahan kristal jiwa, yang kini dimiliki oleh para pangeran di tiap kerajaan. Perjuangan panjang membuatnya berhasil mencapai tujuan. Namun perasaan yang terjalin dan kontak fisik yang terus terjadi membuatnya bimbang, haruskah dia membalas dendam atau tinggal di bumi dan hidup bahagia bersama pangeran yang dicintainya. Persaingan cinta pun tak terelakkan membuat igris harus mengambil keputusan di saat yang paling krusial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kultivasi Ganda

"Semua kultivator pasti tau. Kultivasi ganda adalah tehnik paling tinggi untuk penyatuan. Itu hanya bisa di lakukan oleh penyalur dan penerima yang seimbang. Dulu aku membaca buku sejarah kerajaan, tehnik inilah yang membuat dewa meninggalkan benihnya pada manusia di bumi. Tapi kenapa tiba-tiba bertanya? Apa kau ingin melakukannya denganku?" goda Zean.

"ah... anak ini. Jika menyangkut kontak fisik dia pasti semangat sekali," gumam Igris dalam hati.

"mu... "

Tiba-tiba saja hujan turun, Igris terdiam, kata yang hendak ia ucap terhenti oleh tetesan air yang tiba-tiba membasahi wajahnya. Lalu mereka berlari ke bawah batu besar tadi. Igris kemudian mengaktifkan kekuatan dimensi yang baru dia dapatkan setelah menyatukan darah dengan Ana. Untuk mengubah suasana malam yang dingin, Igris juga menambahkan api unggun untuk penghangat. Zean tak percaya wanita yang di cintainya itu memiliki banyak keterampilan seperti sihir yang dapat mengubah benda sesuka hati. Batu besar itu berubah menjadi sebuah gua yang lumayan indah. Terdapat ranjang empuk yang lumayan besar untuk tidur berdua.

Sebenarnya mereka bisa saja kembali ke tenda, tapi Zean masih ingin bersama Igris. Entah kenapa yang keluar dari tangannya malah dimensi pengubah bukan payung untuk menahan hujan. Igris juga sempat bingung kenapa tiba-tiba dia memiliki kekuatan dimensi lain. Sejak menyatukan darah dengan Ana, dia bisa mengendalikan kekuatan bayangan. Walau tanpa harus melakukan kultivasi lebih lanjut rupanya darah emas memiliki efek yang luar biasa. Hati igris kacau sesaat saat melihat ranjang nyaman di sana. Hatinya berbisik geli,

"apa aku harus melakukan kultivasi ganda itu untuk menyerap kekuatan kristal jiwa milik Zean?"

Dewi muda itu lalu menatap dari atas ke bawah tubuh pemuda yang bersama nya di sana. Wajah Zean yang tampan dengan rambut hitam pendek yang menggoda. Igris menatap ke arah perut kotak-kotak harimau itu. Ia menelan liur. Tampak jelas batu kristal jiwa berwarna hitam pekat melekat di dada Zean. Wajahnya tersipu malu sembari memandang otot-otot perut itu. Zean penasaran apa sebenarnya yang di perhatikan sang dewi itu.

Bunyi jangkrik dan hembusan angin membuat suasana dingin semakin menusuk tulang. Igris kedinginan. Dengan polosnya dia berjalan ke ranjang di dekat api unggun, lalu duduk cantik di ujung kasur. Dia lupa jika di gua buatan itu Igris tak sendiri, ada seorang laki-laki yang bersamanya. Seorang laki-laki yang sangat ingin menanamkan benih harimau kecil padanya sejak lama.

Tanpa aba-aba atau peringatan, pangeran yang telah lama menunggu itu, dengan cepat menyergap Igris. Pangeran Zean dengan cekatan merubuhkan tubuh Igris hingga terhempas ke ranjang. Dia mengeluarkan kekuatan sulur akarnya. Rambat-rambat kecil itu menutup pintu gua dan menangkap beberapa kunang-kunang sebagai penerangan.

Tangan Igris di tahan ke atas, sang dewi itu terbaring dengan jantung berdebar hebat.

"ma ... ma... mau apa?" Igris kehilangan fokus hingga bertanya pun terbata-bata. Mata liarnya memandang sorot mata panas si harimau putih.

Zean menekan kedua tangan Igris dan mengikatnya dengan sulur akar, dengan lembut bibir kecilnya menyentuh leher Igris. Kecupan lembut dan penuh hasrat itu membuat Igris bergidik. Sekelibat serangan hawa panas mulai naik ke dalam darahnya. Bagai tersetrum tegangan tinggi ciuman itu menembus asa yang terpendam.

"Bolehkah?" bisiknya manja mendebarkan hati Igris.

Wanita itu tak menjawab, bibirnya terkunci rapat, namun bahasa tubuhnya menunjukan kepasrahan. Wajahnya berpaling, tapi matanya melirik kearah dada bidang dan perut kotak-kotak milik Zean.

"Apa dewi ingin menyentuh ini?" goda Zean.

"bukan itu ... "

"Aku siap menjadi pelayan eksklusif malam ini jika kau mengizinkan," rayu Zean.

Belum sempat Igris menjawab, bibirnya sudah berada dalam kekuasaan pemuda itu. Bagai ingin melahap habis bibir kecil itu, pangeran Zean tak memberikan kesempatan bahkan untuk igris menarik nafas. Ganas dan penuh tekanan tapi juga lembut sentuhan nya membuat nafas Igrisia makin cepat.

Desahan demi desahan pelan di malam itu menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Zean terus mencumbu pasangan di bawahnya. Kunang-kunang menjadi saksi percintaan yang telah lama di nantikan sang pangeran kini hampir terwujud.

Ciuman yang terus menjalar hingga ke paha putih di sana membuat suasana panas semakin membara. Sensasi nikmat dan geli bercampur menjadi satu. Igris yang dalam posisi telentang, di gerayangi habis-habisan. Igris kembali mengigit bibir bawahnya, ia menahan desahan yang luar biasa. Rasa geli dan nikmat dari ransagan itu membuatnya bagai terjun payung dari puncak ketinggian. Tubuhnya mengeliat, irama lekukan tubuhnya membuat pangeran muda itu semakin tersulut api nafsu.

Zean menjelajahi setiap permukaan dada Igris yang putih. Jejeran bekas batu kristal yang tersusun rapi di antara tulang dada membentang di sana. Jaraknya hanya beberapa senti dengan dua gundukan besar di bawahnya. Gunung kenyal berukuran besar itu kini menjadi mainan Zean. Telapak tangan pangeran itu langsung sigap meremas hangat kedua boba itu, remasan lembut tapi bertenaga. Seolah tak puas jika tak mendengar suara desahan sang dewi, Zean langsung mengulum bulatan kecil kemerahan di sana dan menjadikan itu area kekuasaannya. Aaahhh .... Igris mendesah pelan menahan suaranya karena malu. Matanya tak sanggup melawan. Seketika lidah basah itu mengulum bulatan itu membuat Igris menahan rasa geli yang dasyat.

"jangan menunda lagi, aku benar-benar haus tuan putri,"

Bisikan Zean membuat wajah Igris memerah. Gejolak batinnya berkata cepatlah, ayolah, tapi fikirannya ingin menolak. Harimau putih itu menarik paksa gaun siluet Igris dan merobeknya hingga tubuhnya membulat.

"Zean ... ja.. .

Zean terus menciumi dirinya hingga tak bisa berbicara apapun lagi. Zean yang semakin kehausan membuka pakaiannya sendiri. Dingin malam tak dia hiraukan, karena memandang tubuh putih igris yang bulat sempurna membuat semangatnya membara dan menjadi panas.

Keduanya kini tak tertutup benang. Tubuh indah dan tak terjamah itu kini masing-masing menampakkan diri. Dua gundukan besar sama rata, kebawah sedikit menjempuai perut langsing bak biola yang menjadi dambaan setiap wanita. Pusar putih kecoklatan tampak naik turun seirama dengan nafas yang di hela. Dada bidang bahu kekar pinggang ramping menjadi pemandangan indah di atas pelupuk mata Igris.

"Apa aku benar-benar harus menjadi Dewi pengoda baru bisa menyerap kekuatan kristal jiwa? Aaahhh sial ... tapi kenapa tubuh ku malah ingin melanjutkan ketahap yang lain??" Pekik igris membatin.

Harimau putih yang begitu liar terus menjulurkan lidahnya menyapu area sekitar. Tak cukup di dada, kini lidah pangeran itu berlabuh ke pangkal paha dewi muda itu. Rasa geli dan nikmat yang menyerang langsung membuat Igris mengeliat. Seketika lidah harimau itu menuju area kedewiannya. Zean merentangkan kedua paha Igris. Wanita muda itu mengapit kedua pahanya. Gejolak batinnya ingin menolak, namun cumbuan Zeaan membuatnya perlahan membukakan kedua pahanya dengan sedikit celah. Seolah siap menerima ransangan yang lebih ekstrem, Igris memejamkan matanya.

Posisi tangan Igris masih terikat oleh sulur rambat milik Zean di dinding gua. Dada Igris naik turun dengan cepat. Nafasnya seperti orang maraton dengan kecepatan penuh. Zean membungkukan kepalanya di arah kemintiman itu. Seettt ... sekejap lidahnya menggoyang area kemerahan di sana. Igris tak mampu lagi menahan desahan nikmatnya. Aaaaahhhh... ssshhh....ouh... rintihnya manja.

Dengan lembut dan penuh tekanan berat lidah manja itu bermain dan mengecup daging kecil sebesar bijih kacang di situ. Seketika dewi kebasahan tak mampu lagi bertahan. Tubuhnya menggelepar nikmat. Zean semakin puas mendengar desahan manja sang dewi sampai membuatnya tak jelas lagi dalam berucap.

"Aaahhh ... Zean ... ja... aahh.. to.. aa.. Ze .... su ... aa..."

Entah apa yang di ucapkan Igris yang terdengar ke telinga Zean hanya kata-kata Aahhh saja. Tak lama Zean bangkit dan kembali menciumi area leher putih itu hingga meninggalkan bekas gigitan yang tampak jelas.

Zean melepaskan ikatan kedua tangan igris dari akarnya, dengan cepat dia menciumi telapak tangan sang dewi. Igris menangkap kepala Zean lalu menyerobot bibir mungil Zean. Kini dewi itu benar-benar membalas dan menuangkan keinginan yang jauh dalam lubuk hatinya. Zean yang menyadari perubahan sikap itu tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung memposisikan tubuhnya dengan maksimal.

Zean terus menyambar bibir merah igris. Tangan kanan nya dengan cepat menuju tempat yang paling intens. Saat tangan hangat itu meraba area kecil di sana lagi-lagi sang dewi itu bergidik. Tak ingin melepaskan ciuman panjangnya Zean memainkan jarinya menuju gua kehampaan yang masih tersengel. Igris langsung menjepit tangan Zean, ia tak ingin jari itu masuk terlalu jauh.

"aku mohon... aku sudah menanti satu bulan," bisik Zean.

Igris hanya membuang pandangan. Zean naik panas. Ia turun ke bawah dan memaksa kedua paha itu terbuka lebar. Igris dengan kekeh tak ingin membukakan pintunya. Ia menahan area terlarang itu dengan kedua tangan nya. Walaupun sudah di ketuk berulang kali, tamu jauh itu masih tak di izinkan masuk. Zean menciumi paha putih Igris. Sontak sang dewi itu mengeliat dan merenganggkan kakinya.

Perlahan dewi itu membuka kedua pahanya secara suka rela. Jepitan tangan itu kini melonggar. Zean mengambil posisi dan mengecup bibirnya singkat.

"Bolehkah?"

"silahkan ... "

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!