Mimpi Rara hancur saat harus menikah muda dengan Aksara—pria kaya yang tak dikenalnya. Ia menganggap suaminya perusak masa depan, hingga sikapnya berubah sedingin es dan penuh kebencian.
Namun berbeda dengan Rara, Aksara justru mencurahkan kasih sayang dan kesabaran tanpa batas.
Bisakah pria itu meluluhkan hati sang istri yang keras kepala? Atau Rara akan terus buta melihat ketulusan yang ada di depan mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamoruuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba-tiba Menikah
Baju kebaya putih bersih sudah menempel di tubuh Rara, disandingkan dengan rok batik cokelat yang motifnya terpampang jelas. Di kepalanya, ronce melati segar memberikan sentuhan harum yang sedikit menetralkan baunya kamar yang sudah mulai kumuh. Ya, hari ini gadis itu akan dinikahkan dengan seseorang yang bahkan ia sendiri tidak tahu wajahnya seperti apa.
Rara menahan isak, bahu tubuhnya terus bergoyang pelan. Beberapa kali Mbak Lastri—make-up artist yang dibawa dari desa sebelah—harus menyeka air matanya yang mengalir deras, menyebarkan bedak yang baru saja dioleskan rata di pipinya.
"Jangan nangis terus, Mbak. Sudah tiga kali aku benerin make-upnya, nanti bubuknya habis sebelum akad," ujar Lastri dengan nada kesal, meskipun tangannya tetap lembut saat mengusap pipi Rara dengan kapas basah. Rara hanya bisa menunduk, jari jemari kecilnya terus mengusap sudut mata yang tidak pernah kering.
Rumah berdinding anyaman bambu yang sudah mulai menguning itu kini penuh dengan suara kerabat dan tetangga. Beberapa orang dari pihak mempelai lelaki juga sudah datang. Semua mengenakan baju yang lebih rapi dibandingkan warga desa pada umumnya. Tapi satu hal yang membuat Rara gelisah, di mana calon suaminya?
Pria yang akan dijodohkan dengan dirinya tidak kunjung muncul, bahkan setelah suara pak penghulu terdengar di depan rumah, menyapa semua tamu yang datang.
Rara dilarang keluar kamar sampai akad selesai. Tapi suara desas-desus dari luar bahwa mempelai laki-laki tak kunjung tampak membuat hatinya sedikit lega. Andai saja dia tidak datang, pikirnya sambil mengulurkan jari ke celah tirai yang sudah pudar warnanya, maka pernikahan ini bisa saja batal.
___
Pikiran Rara terbang kembali ke malam sebelumnya, saat ia berdebat dengan orang tuanya di kamar yang sama.
"Bapak tidak bisa menolak, Nak. Tapi ini bukan hanya karena kesusahan kita. Bapak ingin kamu hidup lebih baik dari Bapak dan Ibu," ucap Pak Karim--Ayah Rara, sambil menepuk-nepuk tanah liat yang menempel di celana kerjanya.
Ibu Rara--Bu Ella, hanya berdiri di belakang putrinya, tangan kanannya perlahan mengelus punggung Rara dengan jari yang kasar akibat bekerja di ladang.
"Rara baru saja lulus SMA dua minggu lalu, Pak! Kenapa harus langsung menikah? Apa akan jadi omongan orang?" Rara menatap Ayahnya dengan mata merah, tangannya menggenggam seprai kasurnya.
"Orang-orang tidak akan memberi makan kalau kita kelaparan!" Pak Karim sedikit menaikan nada suaranya hingga terdengar menggema di kamar kecil itu. "Kamu tidak tahu betapa sulitnya mencari uang sekarang ini."
"Rara bisa merantau ke kota, Pak! Rara akan bekerja dan mengirim uang untuk keluarga!" Rara masih berusaha membujuk, tubuhnya mendekat ke Ayahnya.
"Tidak bisa! Hidup di kota bukan seperti bermain-main. Lagipula, Bapak sudah mengiyakan permintaan Juragan Selamet. Bapak yakin Juragan Selamet dan keluarganya itu orang yang baik." Ucap Pak Karim sebelum berjalan keluar dari kamar, meninggalkan Rara yang terpaku di tempatnya.
Rara lalu memeluk pinggang Ibunya, matanya menyiram air mata ke baju ibunya yang sudah lusuh. "Gimana, Bu? Masih jamannya jodoh-jodohan, kah?"
Bu Ella mengangkat dagu putrinya dengan lembut, matanya juga berkaca-kaca. "Sudah, Nak. Bapakmu tidak akan mengiyakan kalau tidak berpikir matang. Ibu juga percaya, anaknya Juragan Selamet adalah orang yang baik."
"Kalau anaknya jelek banget? Atau sudah tua? Atau bahkan sudah mempunyai istri yang lain?"
"Jangan berpikiran buruk. Sekarang istirahat saja, besok kamu harus siap."
Rara hanya bisa menghela napas panjang. Astaga, bagaimana hidupku nanti?
___
Sekarang, Rara kembali mengintip dari balik tirai. Matanya berkeliling mencari sosok yang mungkin menjadi calon suaminya, hingga akhirnya matanya tertuju pada seorang pria lanjut usia yang sedang dipapah oleh dua orang muda. Semua tamu langsung berdiri ketika pria itu masuk, wajah mereka penuh rasa hormat.
"Alamak! Itukah calon suamiku?" Bisik Rara dengan suara gemetar. Lastri yang sedang membersihkan perlengkapan make-upnya pun ikut mengintip.
"Bukan lah, Mbak. Itu Kakek Tejo—Ayah dari Juragan Selamet. Orangnya sangat disegani karena suka membantu banyak orang di desa sebelah." Jelas Lastri sambil menahan tawa melihat wajah Rara yang penuh kekagetan.
"Mbak ini lucu. Juragan Selamet aja masih tampan dan tidak terlalu tua, masa anaknya tua kayak yang sudah bau tanah?" Sambung Lastri terkekeh.
Rara sedikit lega. Jantungnya yang tadinya berdebar kencang kini mulai berdetak normal. Ia mengelus dada sambil beberapa kali membuang nafas. "Astaga..."
"Memang sih, tidak ada yang pernah melihat wajah anak Juragan Selamet. Dia tumbuh dan besar di Kota bersama Kakek Tejo. Tinggal di sana dan mengurus perusahaan keluarga. Hanya Juragan Selamet dan Bu Hanifah saja yang sering bolak-balik ke sana untuk melihatnya." Ucap Lastri yang memang tinggal di desa yang sama dengan Pak Selamet jadi banyak yang ia ketahui.
"Banyak orang bilang dia misterius karena jarang pulang. Kalaupun pulang, mungkin orang-orang tidak akan mengenalinya."
"Misterius banget ya..." gumam Rara.
Suara pak penghulu kemudian terdengar jelas dari luar kamar "Sudah siapkah kita memulai akad nikah?"
"Siap, Pak." Jawab Pak Selamet dengan suara yang kuat. Dari sudut pandang Rara, ia melihat Pak Selamet sedang memegang ponselnya yang layarnya menyala. Ternyata anaknya sedang menghubunginya via panggilan video. Tapi Rara tidak bisa melihat dengan jelas seperti apa wajah anaknya itu dari jarak yang lumayan jauh.
Rara kembali duduk di ranjang kayu yang sudah mulai goyah, matanya menatap atap kamar yang berlobang-lobang. Cahaya matahari masuk melalui celah-celah itu, menyinari debu yang berterbangan di udara. Harapan bahwa pernikahan ini akan batal kini sirna. Bahkan ia bisa mendengar dengan jelas suara dua saksi yang berseru.
"Sah!" Kata yang menandakan dirinya resmi menjadi istri seseorang yang belum pernah dilihatnya.
"Selamat ya, Mbak." Ucap Lastri sambil menepuk bahu Rara. "Mbak beruntung loh, di jodohkan sama anak saudagar kaya. Kalau aku jadi Mbak, pasti tidak akan menolak. Bisa hidup nyaman tanpa harus bekerja keras seperti kita." Ia tertawa pelan. "Jaman sekarang, yang penting stabil ekonomi, yang lain bisa diatur."
Rara hanya bisa mendengus pelan. Hatinya kosong, tubuhnya merasa seperti kayu yang tidak punya daya gerak. Ia sudah pasrah pada takdir yang telah ditentukan orang tuanya.
Acara pernikahan memang sengaja dibuat sederhana, hanya mengundang beberapa kerabat dekat dan tetangga. Semua sesuai permintaan calon suaminya yang tidak ingin membuat keributan di desa. Tapi bagi Rara, semakin sederhana acara ini, semakin terasa dingin dan tidak nyaman baginya.