Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.
Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.
Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.
Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6—Tertukar
Di sebuah hutan lebat dengan pepohonan tinggi yang menaungi langitan, sebuah sungai kecil mengalir tenang di antara bebatuan. Airnya jernih dan dingin, mengalir perlahan sambil memantulkan cahaya yang menembus celah-celah daun. Di tepi sungai itu, seorang anak laki-laki sedang berjongkok di pinggir airnya.
Dengan hati-hati, ia membasuh tangannya yang terluka. Air sungai mengalir melewati luka-luka lebar di kulitnya, membuatnya sesekali meringis pelan. Rasa perih itu jelas terasa, tetapi ia tetap melanjutkan pekerjaannya, ia tahu luka yang tidak dibersihkan hanya akan memperburuk keadaannya. Setelah selesai mencuci tangannya, ia menyiramkan air ke tubuhnya untuk membersihkan kotoran dan darah yang menempel sejak tadi. Pakaian yang dikenakannya dilepas dan diletakkan di atas batu datar di tepi sungai.
Tubuh anak itu kecil dan kurus, memperlihatkan jelas bekas-bekas luka yang belum sepenuhnya pulih. Di bagian perut kanannya terlihat sebuah bekas luka yang cukup besar, seperti bekas tusukan yang pernah menembus cukup dalam. Bekas itu tidak lagi terbuka, tetapi garisnya masih terlihat jelas di kulitnya. Selain itu terdapat juga beberapa luka semacam cakaran dan gigitan yang mungkin saja di dapat dar serangan hewan buas.
“Untuk seukuran anak seperti mu, kau punya cukup banyak cerita ya?” Wuxu berkata dari dalam pedang. Ia cukup terkesan melihat coretan-coretan kisah dari tubuh bocah yang tak lain adalah Yuofan.
Yuofan terkekeh kecil. “Ini hanya sebagian, tak sebanding dengan penderitaan ibuku…” ia menunduk melihat bayangan wajahnya dari gelombang air sungai.
Setelah merasa cukup bersih, ia keluar dari air dan mengambil tas kecil yang dibawanya. Ia membukanya perlahan, lalu mengeluarkan pakaian ganti. Kemudian ia mengibaskan sisa air dari rambutnya terlebih dahulu sebelum mulai berpakaian. Dari dalam tas, ia mengambil selembar kain tipis untuk mengeringkan tubuhnya yang masih basah. Gerakannya tenang dan terbiasa, seolah ia telah melakukan hal seperti ini berkali-kali sebelumnya.
Lalu setelahnya ia mengambil pakaian bersih dari dalam tas. Kainnya sederhana, tidak terlalu tebal, tetapi cukup rapi dibandingkan pakaian yang sebelumnya ia kenakan. Ia mengenakannya satu per satu, memastikan setiap bagian terpasang dengan benar agar tidak mengganggu pergerakannya. Sesaat kemudian, ia merapikan bagian ujung pakaian itu dengan tangannya, lalu mengikat kembali tas kecilnya sebelum menyampirkannya ke bahu.
“Astaga!” Yuofan tertegun mengingat sesuatu yang ia lupakan.
“Aku tidak membawa cemilan apapun untuk ibu!” Ia merogoh tasnya dan tidak mendapati apapun selain kantung uang dan pakaian kotor sebelumnya. Ia pun mengambil kantung itu dan membuka isinya, kembali rasa terkejut membuat ekspresi tak terkendali.
“Sial!” umpatnya pelan sambil melemparkan kantung yang baru saja ia buka, membuat kantung itu jatuh ke tanah bersama isinya.
“Ini bukan kantung milikku,” gumamnya sambil menatap ke arah benda-benda yang kini berhamburan di tanah. Beberapa koin menggelinding menjauh, berhenti di antara rumput dan bebatuan kecil. Di bawah cahaya yang menembus sela pepohonan, permukaannya memantulkan kilau kekuningan yang terang.
Itu adalah koin emas!
Jumlahnya cukup banyak hingga membentuk tumpukan kecil di tanah. Kilau logamnya tampak mencolok di tengah warna hijau hutan yang redup. Ia pun bingung bagaimana mungkin koin perak miliknya berubah menjadi koin emas seperti saat ini.
Sedangkan disisi lain…
Di sebuah sudut kumuh yang dipenuhi tumpukan sampah dan bau menyengat, seorang anak laki-laki terlihat melemparkan barang-barangnya dengan wajah kesal. Tanah di sekitarnya kotor, dipenuhi sisa-sisa barang yang tak lagi terpakai. Tak jauh dari sana berdiri sebuah tenda kecil yang tampak usang, yang menjadi tanda bahwa anak itu tinggal di tempat ini.
Dengan gerakan kasar, ia melemparkan sekantung koin ke tanah. Kantung itu terbuka, memperlihatkan beberapa keping koin perak yang bergulir keluar.
“Bangsawan miskin!” umpatnya kesal, ia menatap koin-koin itu seolah merasa tertipu.
“Seorang bangsawan terkenal hanya punya beberapa keping perak? Yang benar saja!” lanjutnya, sebelum menendang sebuah tong sampah di dekatnya hingga terguling dan menumpahkan isinya.
Ia menghela napas panjang, lalu menjatuhkan diri ke sebuah kursi kayu yang sudah lapuk dan hampir patah. Wajahnya masih dipenuhi rasa kesal, tetapi perlahan ekspresinya berubah. Seolah ada sesuatu yang baru saja terlintas di pikirannya, dan seketika itu tiba-tiba matanya melebar sedikit.
“Apa mungkin… kantung kami tertukar?!” serunya tiba-tiba.
Di waktu yang hampir bersamaan, di tempat lain, Yuofan juga berhenti sejenak dengan pikiran yang sama.
“Apa mungkin kantung kami tertukar?!”
Yuofan mendekati tumpukan emas itu, ia pun dengan cepat mengemasi kembali koin-koin itu tanpa tersisa sedikitpun. Senyuman lebar terlihat jelas disudut bibirnya.
“Dengan senang hati aku akan menghabiskan nya!” ujarnya dengan bersemangat. Ia pun menganggap bahwa koin ini sebagai bayaran atas apa yang menimpanya sebelumnya. Walaupun ia memiliki Istana Kesunyian berserta isinya bersamanya, ia tetap menyukai momen ini. Karena uang adalah cinta keduanya dalam kehidupan.
Dengan gerakan cepat ia memasukan kantung itu kedalam tasnya kembali, ia pun segera mencari buah-buahan sebagai ganti untuk makan malam hari ini.
......................
Yuofan membawa banyak buah didalam tasnya, ia juga menggunakan sebuah tameng berbentuk bulat untuk membawa sebuah air. Ia membawa semua itu dengan tangan yang bahkan belum sempat ia perban, tetapi ia tetap memasuki gua dengan senyuman lebar tanpa menampilkan raut kesakitan sedikit pun. Sedangkan pedang hitam ia ikatkan pada pinggangnya menggunakan daun pandan besar
“Ibu, aku pulang!” sautnya seraya menyimpan tameng itu di sisi gua. Ia perlahan mengeluarkan buah-buahan dari dalam tasnya dan berjalan mendekati ibunya.
Di sudut gua, terlihat seorang wanita duduk bersandar pada dinding batu yang dingin. Kedua tangannya terikat ke belakang dengan tali kasar, membuatnya sulit bergerak bebas. Keadaannya jauh dari kata baik, rambutnya panjang dan berwarna putih pucat, jatuh berantakan menutupi sebagian wajah dan bahunya. Warna putih itu bukan karena usia, melainkan akibat tekanan dan penderitaan yang terlalu berat untuk ditanggung.
Helai-helainya kusut dan tak terurus, seolah telah lama tak disentuh sisir.
Wajahnya dipenuhi bekas luka lebam dan goresan tipis seperti bekas cakaran. Beberapa sudah menghitam, sementara yang lain masih tampak kemerahan. Namun di balik semua itu, garis wajahnya tetap halus. Bahkan dalam keadaan yang kacau dan menyedihkan, kecantikannya masih dapat terlihat jelas.
Matanya berwarna biru terang, terlihat begitu jernih tetapi tidak tenang. Tatapannya kosong dan tidak terfokus, seolah pikirannya berada jauh dari tempat itu. Tubuhnya terlihat lemah, tetapi satu hal tampak mencolok: perutnya yang membesar. Ia sedang mengandung, dan usia kehamilannya sudah cukup tua.
Yuofan kemudian mendekat, ia mengupas sebuah pir segar menggunakan pisau kecil yang memang ia sediakan disana untuk mengupas buah-buahan. Tangan kecil itu dengan lihainya membelah pir tersebut menjadi beberapa bagian yang bisa langsung dimakan. Setelah nya ia dengan hati-hati dan lembut menyuapinya pada sang ibu, tetapi sang ibu terlihat menolak bahkan menangis ketakutan, ia terus mencoba membujuknya agar sang ibu mau untuk makan.
Karena terus di tolak, Yuofan dengan terpaksa harus melakukan nya dengan cara yang kasar. Ia membuka mulut ibunya, lalu memasukan potongan kecil pir itu dan segera menutup mulut ibunya agar tidak bisa di muntahkan.