Warning!!!
21+
(DALAM TAHAP REVISI)
Sarah Fergueson, gadis berusia 16 tahun itu tak terkejut melihat tamu di rumah nya, Devano Lake, seorang pria berusia 25 tahun, sahabat sekaligus rekan kerja kakak nya itu memang sering bertamu kesana, namun apa jadi nya jika kedatangan Devano kali ini malah akan merubah hidup Sarah.
"Aku dan Sarah telah lama menjalin kasih, kami bahkan sudah bercinta, aku ingin menikahi nya sebelum dia hamil dan akan mempemalukan kalian"
Sarah hanya membuka mulut nya lebar dengan mata yg melotot sempurna, ibunya terkena serangan jantung, ayahnya begitu shock dan kakak nya sangat marah.
"Itu tidak mungkin" seru sang Kakak sembari bersiap memukul Devano, namun Devano segera menunjukan chat antara dirinya dan Sarah yg memang sangat romantis selama tiga bulan terakhir.
Devano melirik Sarah yg masih terkejut sambil ia berseringai bak iblis dan menatap Sarah penuh kemenangan. Sementara Sarah hanya bisa menyesali tindakan bodoh nya yg mengikuti tantangan sahabat nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18
Sarah makan malam sendirian karena Devano belum juga pulang, meskipun pulang juga Sarah tak akan peduli.
Di tengah menikmati makan malam nya, Devano akhir nya muncul namun Sarah mengabaikan nya. Ia tetap makan sambil menonton YouTube, ia bahkan tak menyapa Devano atau menggoda Devano seperti biasa nya.
Hal itu tentu membuat Devano seperti kehilangan sesuatu, ia merasa ada yg kurang tanpa godaan nakal dari istrinya. Namun Devano tetap pada ego nya, ia pun mengabaikan Sarah dan segera pergi ke kamar nya.
Sarah yg sudah menyelesaikan makan malamnya pun segera pergi ke kamar untuk belajar, karena minggu depan sudah ujian akhir simester.
Sarah mengambil buku dan laptop nya kemudian ia kembali turun ke ruang tengah karena ia tak ingin bersama Devano.
Sementara Devano yg kini sudah mandi, ia mencoba tidur lebih awal karena semalaman ia tak bisa tidur nyenyak. Tapi tanpa ada Sarah di ranjang nya, Devano mulai merasa tak nyaman, ranjang nya seolah terasa dingin dan kamar nya terasa sepi. Walaupun selama ini mereka hanya sekedar tidur di sisi ranjang masing masing tapi rupanya ada dan tidak ada nya keberadaan Sarah tetap membuat sebuah perubahan bagi perasaan Devano.
.
.
.
Sudah beberapa hari Sarah dan Devano saling mengabaikan, mereka bahkan hampir tak saling bicara kecuali jika ada yg sangat penting. Walaupun begitu, Devano tetap memenuhi kewajiban nya sebagai suami yaitu memperhatikan kebutuhan materi Sarah.
Devano juga tak lagi membatasi Sarah dalam hal apapun, namun ia tetap meminta Aldo untuk melapor padanya apa saja yg Sarah lakukan, kemana saja dia pergi dan bersama siapa saja.
Hingga ujian Sarah tiba, Sarah lebih sering begadang untuk belajar di ruang tengah, dan hal itu membuat Devano merasa kasihan pada Sarah. Ia pun membeli meja belajar yg sangat lengkap dan meletakkan nya di kamar nya.
Sarah sangat senang dan hampir saja berteriak girang dan mengucapkan terima kasih, namun ia tahan hal itu dan Sarah juga tak memakai nya. Setiap kali mau belajar malam, ia selalu ke ruang tengah dan bahkan sering ketiduran disana. Dan hal itu membuat Devano sangat marah, ia sudah tak tahan lagi di abaikan oleh Sarah seperti itu, Devano sudah tak tahan lagi jika terus terusan tak berbicara dengan Sarah, tak ada lagi godaan, candaan, atau saling mengancam, dan hal itu ternyata membuat hati Devano seperti hampa.
"Cukup! Aku rasa ini sudah cukup!" Sarah yg sedang belajar langsung mendongak mendengar suara tegas Devano, kedua nya saling melempar tatapan sesaat, namun kemudian Sarah kembali menunduk dan fokus pada buku pelajaran nya.
"Sarah...!" seru Devano menghampiri Sarah dan mencengkaram rahang Sarah, membuat Sarah mau tak mau langsung mendongak dan menatap mata Devano namun Sarah tetap bungkam.
"Apa masalah mu, huh?" tanya Devano sembari melepaskan cengkramannya.
"Aku sedang sibuk, kalau kamu bisa melihat nya" jawab Sarah tenang. Dan ia kembali ingin fokus pada pelajaran nya, namun Devano malah mengambil buku nya dan menjauhkannya dari Sarah.
"Aku bisa membuat mu naik kelas tanpa mengikuti ujian sialan itu, Sarah. Sekarang kita harus berbicara" tegas Devano dengan rahang yg mengeras dan tatapan nya yg setajam elang. Menanggapi power Devano itu, Sarah tertawa hambar.
"Semudah kamu menikahi gadis di bawah umur ini, bukan?" ejek nya yg membuat Devano semakin menggeram marah.
"Sialan" geraman Devano sambil memukul meja membuat Sarah terkesiap "Aku sudah mengeluarkan uang yg engga sedikit untuk membeli meja belajar kamu itu supaya kamu nyaman belajar, Sarah. Setidaknya hargai sedikit hal itu"
"Oh, jadi itu untuk ku?" tanya Sarah dengan nada mengejek sekali lagi sambil menaikan sebelah alis nya.
"Apa yg salah dengan mu, huh? Kenapa kamu diam dan mengabaikan aku setiap hari? Kenapa kamu engga menghargai pemberian ku? Kenapa kamu sangat menyebalkan?" desis Devano dan jujur saja pertanyaan beruntut itu membuat Sarah menganga namun kemudian ia kembali tertawa hambar.
"Kenapa aku serba salah? Aku bicara, kamu bilang aku menggoda, engga tahu malu, dan sebagai nya. Aku diam juga salah, mau mu apa sebenarnya?" teriak Sarah sambil berdiri dan mendongak supaya ia bisa menatap Devano yg saat ini juga berdiri.
Devano terdiam, ia sendiri tak tahu sebenarnya apa mau nya. Yg pasti, dia mau Sarah selalu ada bersama nya, menyapa nya, menggoda nya dan tidak mengabaikan nya seperti hampir dua minggu ini.
"You freak" gumam Sarah kemudian ia berlari naik ke atas, masuk ke kamar nya dan Devano mendengar suara gebrakan pintu.
Devano menghela nafas berat kemudian menjatuhkan diri di sofa, kenapa perasaan nya sekarang kacau?
"Tuan..."Eni datang menghampiri Devano yg tampak frsutasi "Tidak seharusnya orang lain di hukum karena kesalahan orang lain, kan? Sarah seperti Caitlin, dia masih begitu polos dan tidak tahu apapun"
Devano tak bergeming, seolah dia tuli dan sangat enggan mendengarkan nasehat Eni.
"Dan Nyonya Sarah masih sangat muda, Tuan. Dia pasti ingin di perlakukan layaknya seorang remaja"
"Aku engga berlaku buruk sama dia, Bibi En" akhir nya Devano buka suara "Dia nya aja yg menyebalkan, sulit di atur, suka membangkang" gerutu nya.
"Seorang remaja itu akan bersikap sesuai dengan bagaiamana kita memperlakukan nya, Tuan" jelas Eni singkat, Devano tak menggubris hal itu, ia malah langsung pergi ke ruang kerja nya dan sama seperti Sarah, ia menutup pintu dengan kasar hingga terdengar suara gebrakan yg sangat keras.
Eni tertawa kecil dengan hal itu, setidaknya ia merasa ada kehidupan di rumah itu setelah sekian lama, setidaknya nya ia melihat sebuah emosi di mata Devano setelah sekian lama, dan itu semua berkat Sarah. Walaupun harus Eni sayangkan karena Sarah adalah adik dari seorang pria yg telah menghancurkan hidup nona muda nya.
.
.
.
Sarah kembali ke sekolah seperti biasa, semua siswa pasti tegang dengan ujian tanpa terkecuali Sarah. Namun ketegangan Sarah kali ini bukan hanya karena ujian nya, melainkan karena sebuah pemberitaan hangat tentang kebangkrutan perusahaan keluarga nya, dan yg paling membuat Sarah terpukul adalah kabar miring tentang ayahnya.
Semua teman teman nya menatap Sarah sambil saling berbisik satu sama lain, membuat Sarah merasa sangat risih, bahkan salah satu siswi yg bernama Karin terang terangan menanyakan hal sangat menyakitkan itu pada Sarah.
"Aku harap sih itu cuma gosip belaka, tapi semua bukti mengatakan bahwa memang benar ayah mu korupsi di perusahaan nya sendiri, kamu tahu itu engga sih?" tanya Karin tanpa peduli perasaan Sarah. Mata Sarah bahkan sudah berkaca kaca dan dada nya terasa sesak.
Naina segera datang dan memarahi Karin.
" Jaga omongan mu ya" bentak Naina, kemudian ia menarik Sarah masuk kedalam kelas nya karena sebentar lagi ujian di mulai. Karin sendiri hanya mengedikkan bahu sambil mencebikkan bibir nya.
"Sarah, kamu masih sekolah di sini? Aku fikir kamu akan langsung pindah ke sekolah yg lebih murah setelah ayahmu bangkrut" seru salah satu siswi di kelasnya. Sarah sudah hendak pergi dari sana karena tak tahan, namun Naina menahan nya.
"Jangan dengarkan kata mereka, Sarah. Kita fokus saja pada ujian" ujar Naina membawa Sarah duduk.
"Aku mau pulang, Naina. Aku mau tahu kebenaran kabar ini, aku mau tahu apa yg sebenarnya terjadi" lirih Sarah berusaha menahan air mata nya agar tak tumpah.
"Nanti sepulang sekolah kita cari tahu bersama, okey? Sekarang fokus pada ujian ini" bujuk nya, awalnya Sarah menolak, apa lagi teman teman nya yg terus melemparkan pertanyaan dan sindiran pedas pada Sarah. Bahkan si gadis nakal Karin merekomendadasikan sekolah murah pada Sarah, katanya itu cocok untuk Sarah yg sekarang sudah tak punya apa apa lagi.
Namun Naina terus membela Sarah dan meminta Sarah mengabaikan mereka.
"Oh Tuhan, apa yg sebenarnya terjadi"
.
.
.
Devano tersenyum miring sembari menonton kabar kehancuran Fergus Corp yg kini menjadi berita hangat, ia sangat menikmati hal itu. Bahkan untuk tujuan nya ini, Devano harus bela belain berpura pura menjadi partner bisnis William, pura pura menjadi sahabat nya dan mendekati keluarga nya, hanya untuk tahu kelemahan mereka, seluk beluk perusahaan mereka dan itu akan membuat nya mudah menghancurkan nya seperti sekarang.
"Ini baru permulaan, William. Permainan yg sesungguhnya akan segera di mulai"
▫️▫️▫️
Tbc...