Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.
Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??
kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!
Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar
Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 8
Malam ‐ Distrik elit rexport.
Satu-satunya tempat di kota yang nggak pernah tidur.
Gedung kaca menjulang, lampu neon ungu-biru nyapu langit, dan mobil hitam berlapis baja berhenti di depan Vyrion Tower, markas yang cuma orang-orang “besar” tahu fungsi aslinya.
Pharma keluar dari mobilnya, jas hitamnya rapi, tapi tatapan matanya dingin kayak pisau bedah steril.
Satpam di depan cuma liat sekilas, langsung buka jalan.
Nama “Dr. Pharma” aja udah cukup buat ngebuka lebih banyak pintu daripada izin resmi.
Lift membawanya ke lantai paling atas lantai 99.
Suara ding lembut, tapi hawa di dalam berubah begitu pintu kebuka.
Ruangan itu luas, dinding kaca memperlihatkan pemandangan kota di bawah.
Lantai marmer putih. Lampu gantung kristal.
Dan di tengah ruangan meja panjang dari kayu hitam, dikelilingi orang-orang berjas mahal, semuanya tampak terlalu tenang buat disebut manusia normal.
Ada bau tembakau mahal dan besi di udara.
Senyap. Sampai salah satu dari mereka bicara.
“Selamat datang, Dr. Pharma. Kami sudah lama memperhatikan hasil riset Anda.”
Pharma diam.
Langkahnya mantap masuk ruangan, suaranya nyaring tapi terkendali:
“Kalau kalian mau ngomong soal eksperimen itu… kalian terlambat.”
Pria yang duduk di ujung meja nyengir tipis. Suaranya berat tapi elegan.
“Tidak ada kata terlambat dalam dunia kami, Dokter. Hanya... harga yang berubah.”
Pharma menatap ke arah mereka satu-satu beberapa wajah dikenal: pejabat rumah sakit, pengusaha medis, bahkan mantan akademisi. Tapi ada juga yang aura-nya nggak bisa disembunyikan: mafia disguised as businessmen.
Dia melipat tangan di dada.
“Kalau kalian mikir aku bakal bantu kalian ngulang proyek itu-”
“Kami tidak ingin mengulang,” potong salah satu dari mereka, perempuan bergaun merah dengan tatapan seperti ular.
“Kami ingin melanjutkan. Dengan atau tanpa izin Anda.”
Pharma nahan napas, tapi matanya menajam.
“Kalian nggak ngerti konsekuensinya.”
“Kami paham betul,” sahut pria bersetelan abu-abu yang duduk di sampingnya. “Makanya kami butuh tangan yang pernah memegang Tuhan.”
Ruangan hening.
Petir di luar kaca menyambar, nyorot wajah Pharma setengah terang setengah gelap.
Dia menatap mereka dalam, lalu tertawa pendek dingin dan sarkastik.
> “Tuhan?”
“Aku cuma pernah main-main sama neraka.”
Semua mata terarah ke dia.
Tegangan di udara tebal banget, nyaris bisa dipotong pake pisau.
Pharma mencondongkan badan ke depan.
> “Sekarang bilang. Siapa dalang sebenarnya di balik semua ini?”
Perempuan bergaun merah cuma senyum pelan, mainin cincinnya yang berlogo aneh.
> “Kau akan tahu… kalau kau mau duduk di kursi itu lagi, Dokter.”
Organisasi itu..adalah
---
🩸Djd (mafia)
(author:eaa)
Kelompok bayangan yang beroperasi di balik organisasi medis dan politik. Mereka sering disebut “Divisi Jaringan Dalam” (DJD), tapi yang tahu makna sebenarnya cuma segelintir orang. Di permukaan mereka terlihat seperti konsultan riset, ahli medis ilegal, dan penghubung antar sektor. Tapi yang tahu… tahu.
---
Tessa Maymoure (Tesaurus)
Posisi: Ketua divisi / “The Enforcer”
Ciri: Tubuh tinggi besar, bekas luka di tangan kanan, selalu pakai jas panjang krem.
Sikap: Tenang tapi mengancam. Kata-katanya jarang, tapi selalu jadi perintah.
Spesialisasi: “Body retrieval” dan eliminasi sisa eksperimen gagal.
Hubungan dengan Pharma: Pernah bekerja di proyek yang sama di masa lalu.
---
Alcemia Vos (Vos)
Posisi: Sniper dan eksekutor jarak jauh.
Ciri: Tubuh kurus tinggi, selalu bawa tas instrumen mirip biola tapi isinya senjata biotek.
Sikap: Sadis, tapi ekspresinya lembut. Sering ngomong dengan nada datar seperti sedang membaca puisi.
Kebiasaan: Mengumpulkan suara detak jantung target sebelum eksekusi.
Julukan: “The Whisper.”
---
Tarn (nama samaran)
Posisi: Pemimpin spiritual DJD.
Ciri: Jas ungu khas, bertopeng logam setengah wajah, aura berwibawa tapi menyeramkan.
Sikap: Memiliki kepercayaan kuat bahwa dunia medis harus “disucikan” dari tangan kotor.
Fakta: Identitas aslinya tidak pernah diketahui, bahkan oleh anggota DJD lain.
Suara: Dalam, menenangkan, tapi bisa membuat orang lain berlutut ketakutan.
---
Kaon Neykara (Kaon)
Posisi: Spesialis penyiksaan & sistem saraf.
Ciri: Rambut acak, postur ramping, selalu senyum kecil.
Sikap: Seolah ramah, padahal satu kata salah bisa bikinmu lumpuh sementara.
Kemampuan: Manipulasi arus listrik dan alat medis untuk interogasi ekstrem.
Julukan: “The Pulse.”
---
Heleranei (Helex)
Posisi: Data broker & penjaga lapangan.
Ciri: Besar, berjas hitam, selalu makan sesuatu.
Sikap: Santai tapi kejam kalau diserang.
Perannya: Menghapus jejak dan data korban.
Julukan: “The Cleaner.”
---
Misi aktif mereka saat ini:
Mengawasi setiap pergerakan Pharma, karena rumor tentang “Proyek Sparkline” eksperimen medis yang dulu diciptakan Pharma dianggap bisa mengubah batas antara manusia dan mesin.
Mereka ditugaskan oleh seseorang yang disebut hanya dengan nama “The sparkline"
***
Pharma berdiri kaku waktu pria berjas abu-abu itu menyodorkan layar kecil. Di situ bukan ancaman kosong, melainkan rekaman kamera bawah tanah: pipa, ruang mesin, kabel yang merayap seperti ular, dan… sebuah kotak kecil hitam yang jelas bukan bagian fasilitas rumah sakit. Di ujung layar, angka detik yang belum jalan; hanya label: “Armed — Remote Trigger”.
Tessa, dengan suara dingin seperti kulkas, mencolek punggung tangan Pharma sambil menatapnya lekat.
“Kau pikir ini hanya permainan kata-kata? Kalau kau mencoba mengkhianat, satu sinyal saja. Kami bisa menghapus Delfi dari peta dan membuat semuanya tampak seperti kecelakaan industri. Dan kau tahu siapa yang paling rugi: pasien, staf, reputasi. Kau faham risikonya, Dokter.”
Pharma menelan. Mulutnya kering, tapi tidak ada panik yang gelisah cuma selembar kedinginan di matanya. Ia hampir saja tertawa sinis, cuma satu kata yang ingin ia lontarkan: Tidak mungkin. Tapi yang keluar hanyalah anggukan yang tak bernyawa. Di dalam, ia sudah merencanakan langkah penebusan yang kejam dan cerdik.
“Baik,” suaranya datar. “Aku akan bantu. Tapi satu syarat.”
Tessa mengangkat alis. “Syarat?”
“Aku minta kontrol atas proses pengambilan sampel —aku yang memutuskan subjek dan waktu. Dan” ia berhenti, menimbang, “aku minta sekutu aman untuk mengeksekusi beberapa pembenahan teknis di sistem bawah tanah. Waktu 48 jam. Aku butuh itu.”
Mereka tertawa berlahan. Kaon mencondongkan badan. “Permintaan murahan. Tapi kau punya nilai. Kami beri 24 jam. Jangan coba main-main.”
Mereka pergi dengan senyum khas orang yang baru saja menandatangani kontrak dengan neraka. Lift menutup, meninggalkan Pharma sendirian di puncak menara, dengan kota yang berkedip di bawah seperti tribunal tak berperasaan.
---
Kembali di laboratoriumnya, hujan masih membentur jendela seperti pukulan kecil yang seragam. Pharma bergerak cepat bukan karena takut terhadap DJD, tapi karena takut gagal. Keputusan sudah dibuat; tak ada lagi ruang untuk lirikan moral yang manis. Sekarang waktunya aksi
Mempersiapkan Darah Palsu.
Di freezer ada stok kultur jaringan, donor sintetis, scaffold biopolimer yang ia gunakan dulu untuk eksperimen simpanan. Pharma tahu kode biokimia yang DJD butuhkan. Dia mencampur, memodifikasi supaya tampak sempurna di analisis awal, tapi pada level molekuler ada sabun biologis: protein yang membuat sampel tidak bisa dikembangkan menjadi progenitor. DJD akan puas pada pandangan pertama; mereka akan mendapatkan ‘materi’ mereka tanpa kemampuan meregenerasi.
Membuat Jejak Palsu.
Pharma menanam metadata palsu di sampel label, waktu pengambilan, dan ID pasien yang, jika dilacak, akan mengarah pada alamat lama yang sudah tidak beroperasi. Semua rapi; semua bisa dilihat di audit pertama. Tapi bila DJD mencoba eksperimen lanjutan, mereka akan menemukan zero viability. Kekecewaan akan memaksa mereka mencari sumber lain dan di situlah ia akan mengulur waktu.
Menyelinap Pesan Ke Seseorang yang Bisa Bergerak.
Ia tidak mau langsung melibatkan Ratchet, Revan, atau Loen mereka semua terlalu terikat, terlalu berisiko. Jadi Pharma mengacak alamat pengirimannya: pesan terenkripsi tanpa nama diteruskan ke jalur operasi polisi sebuah note yang diarahkan ke nomor yang ia simpan sejak dulu: kontak anonim di unit
penanggulangan ancaman (magnus? mungkin tapi bukan lewat nama). Pesan itu singkat: “Ada bom di bawah Delfi. Koordinat X. Hentikan aliran listrik di sektor B, kunci remote.” Tanpa tanda tangan. Sebuah harapan kecil bahwa seseorang yang profesional akan bertindak cepat.
Mengatur Panggung.
Untuk memastikan DJD tak curiga, Pharma mengantarkan sampel itu sendiri demi kredibilitas. Di kepala ia sudah menyiapkan skenario: jika DJD menuntut bukti lebih, ia akan pura-pura menolak sementara untuk membeli waktu. Namun hatinya gelap karena tahu konsekuensi: satu langkah salah, dan bukan hanya Delfi yang runtuh, tapi juga nyawa yang tak terhitung.
Sambil menyiapkan, tangannya gemetar bukan karena takut mati, tapi karena takut kehilangan akal sehat. Ia membungkus sampel palsu, menulis label dengan tulisan yang rapi tapi hati yang terbelah, dan mungkin saja rencana ini tidak akan berhasil..
---
Di luar hujan makin deras. Farmatracker menunjukkan sinyal ping samar dari ruang bawah tanah yang sudah ada sejak lama, bekas proyek lama. Pesan terenkripsi terkirim, melintasi server anonim ke jaringan polisi kota. Di sisi lain, pesan lain terkirim ke alamat DJD yang ditentukan: “Sampel siap. Datang ambil malam ini. 00:30.”
Pharma tahu malam ini ia harus pergi kembali ke Vyrion Tower. Ia tahu juga waktu ia punya sedikit: 24 jam, bukan 48. Ia tahu juga bahwa apa pun yang ia lakukan, garis moralnya akan ternoda. Tetapi satu hal ia jaga: nama-nama yang tak bersalah Lyra, Loen, Aidil, tak akan jadi korban jika masih bisa dihindari.
Dia mengunci pintu lab, menatap bayangan dirinya di kaca yang diguyur hujan. “Kalau aku mau bermain iblis, aku akan jadi iblis yang cerdik,” ia berbisik. “Biar aku pelan-pelan melubangi perutnya sampai DJD muntah racun sendiri.”
Dan dengan itu, ia berangkat ke victory lap yang licin antara menyelamatkan dan menjual jiwanya.