NovelToon NovelToon
Bernafas Tanpamu

Bernafas Tanpamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.

Tak ada balasan.

Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.

Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?

Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30 The Language of Tears

Kondisi Eleanor kembali menurun, namun bukan karena organ barunya menolak tubuhnya, melainkan karena jiwanya yang tersiksa. Ia terus memikirkan Liora. Setiap kali ia menarik napas dalam, ia merasa seolah sedang mencuri napas milik gadis itu. Rasa bersalah yang teramat besar membuat fisiknya kembali melemah.

​"Leo..." panggil Eleanor dengan suara yang sangat tipis. "Panggil Liora. Ibu tidak ingin dokter, Ibu tidak ingin obat. Ibu hanya ingin melihatnya..."

​Leo berdiri di samping tempat tidur dengan rahang yang mengeras. Ia benar-benar bingung. Kenapa di sisa hidupnya yang kritis ini, fokus ibunya hanya tertuju pada Liora? Kenapa seolah-olah dunia ini hanya berputar di sekitar gadis miskin itu?

​"Ibu, dia sedang 'demam'. Dia bilang dia tidak bisa datang," bohong Leo, masih merasa kesal dengan kejadian di kontrakan kemarin.

​"Bohong!" Eleanor terbatuk, matanya membelalak penuh luka. "Bawa dia ke sini, Leo. Jika kau masih menganggapku ibumu, bawa dia sekarang!"

​Leo tidak punya pilihan. Ia memberi isyarat pada Jacob untuk menjemput Liora. Ia tidak tahu bahwa Jacob sebenarnya sudah bersiaga di depan pintu kamar perawatan Liora sendiri di rumah sakit yang sama, membantu gadis itu berdiri dari ranjangnya secara diam-diam.

​Satu jam kemudian, pintu kamar VIP itu terbuka. Jacob masuk sambil memapah Liora. Gadis itu mengenakan kardigan besar untuk menutupi tubuhnya yang semakin kurus dan luka operasinya yang merembes.

​Begitu melihat Liora, wajah Eleanor yang tadinya layu mendadak bercahaya. "Liora... putriku..."

​Liora mendekat dengan langkah gemetar. Sebelum ia sempat berkata apa-apa, Eleanor menariknya ke dalam pelukan yang sangat erat. Eleanor memeluk Liora seolah-olah sedang mendekap harta paling berharga di alam semesta. Ia menciumi kening Liora, pipinya, dan mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang, persis seperti seorang ibu yang menyambut putrinya yang baru kembali dari kematian.

​"Maafkan kami, Nak... Maafkan keluarga ini," bisik Eleanor sambil terisak hebat di pundak Liora.

​Liora tidak bisa lagi membendung air matanya. Ia menangis tanpa suara di pelukan Eleanor. Ia membiarkan kehangatan wanita itu menjadi obat sementara bagi rasa sakit luar biasa di perutnya. Di sana, mereka berbagi sebuah ikatan yang lebih kuat dari darah: ikatan kehidupan yang telah berpindah dari satu raga ke raga lainnya.

​Leo berdiri di sudut ruangan, terpaku. Pemandangan itu membuatnya merasa seperti orang asing. Ia melihat Jacob, asistennya yang berhati baja, kini berdiri di dekat pintu dengan kepala menunduk dalam. Bahu Jacob berguncang hebat; pria besar itu sedang menangis tersedu-sedu, menyeka air matanya dengan sapu tangan hingga basah kuyup.

​"Kenapa kalian semua seperti ini?" suara Leo memecah kesunyian, terdengar goyah dan penuh kebingungan. "Kenapa kalian bertingkah seolah-olah ini adalah pertemuan terakhir? Dan Jacob... kau benar-benar cengeng sekali. Ada apa denganmu?!"

​Jacob tidak menjawab. Ia tetap menunduk, tidak sanggup menatap mata Leo yang masih dipenuhi ketidaktahuan yang sombong.

​"Ibu, lepaskan dia. Dia sedang demam, jangan sampai Ibu tertular," ucap Leo sambil melangkah maju ingin memisahkan mereka.

​"DEMAM?" Eleanor mendongak, menatap putranya dengan kilat amarah yang bercampur dengan rasa duka yang tak terbayangkan. "Kau menyebutnya demam, Leo? Kau menyebut pengorbanan suci ini sebagai demam?!"

​"Apa maksud Ibu?"

​Eleanor hendak bicara, hendak meneriakkan kebenaran itu tepat di wajah Leo agar putranya itu bersujud di kaki Liora. Namun, Liora menggeleng lemah ke arah Eleanor, matanya memohon agar rahasia itu tetap disimpan demi ketenangan sang ibu.

​Liora melepaskan pelukan itu perlahan, lalu berbalik menatap Leo dengan tatapan paling dingin yang pernah ia berikan. "Anda benar, Tuan Leo. Saya hanya demam. Jangan biarkan air mata Nyonya atau Jacob membingungkan Anda. Mereka hanya terlalu perasa."

​Leo menatap Liora, lalu beralih pada Jacob yang masih terisak, dan kembali pada ibunya yang terus menciumi tangan Liora. Ada sesuatu yang salah. Sangat salah. Namun, di ruangan itu, tak ada satu pun bibir yang mau terbuka untuk menjelaskan kenapa ada begitu banyak air mata untuk sebuah "demam" yang dianggap Leo lebay.

​Leo hanya bisa diam, merasa dikucilkan oleh sebuah kebenaran besar yang sedang menari-nari di depannya, menanti saat yang tepat untuk menghancurkan hidupnya selamanya.

​"Pelukan Eleanor adalah ucapan terima kasih yang tidak bisa diwakili kata-kata, sebuah pengakuan atas nyawa yang telah diberikan secara cuma-cuma."

​"Leo melihat air mata Jacob sebagai kecengengan, tanpa tahu bahwa itu adalah tangisan seorang saksi atas kekejaman yang tak termaafkan."

​"Di ruangan itu, kebenaran sedang bersembunyi di balik perban berdarah Liora, menunggu waktu untuk meledak dan membakar habis keangkuhan Leo."

​"Liora tetap diam karena ia tahu, saat Leo mengetahui kebenarannya, pria itu tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri sampai akhir hayatnya."

1
brawijaya Viloid
Thorr update setiap harii bintang 6 untuk author 🥰🥰
Ra H Fadillah: "Wow, terima kasih atas rating bintang 5 nya 💞! 🙏 Rasanya senang banget ceritanya bisa menyentuh hati kamu. Kalau penasaran dengan kisah lain yang penuh emosi dan drama, aku baru saja merilis ‘Breathing Without You’. Siap-siap terbawa perasaan, ya!"
total 1 replies
Anonymous
mo nangiss bgt wajib baca sihh 😢
Anonymous
jgn ngagantung dong authro plis 😭
Anonymous
awas menyesal leo 🥺
Anonymous
seru bgt mo nangisss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!