Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Pertempuran Sengit
Hawa panas menyelimuti kamar megah di Le Manoir d'Argent saat dua raga menyatu. Bianca, yang baru saja terbangun dari mimpi buruk tentang kematian, kini justru merasakan aliran kehidupan yang begitu nyata melalui sentuhan pria itu.
Tubuhnya yang mungil diguncang oleh kekuatan pria matang di hadapannya—seorang pria dengan stamina luar biasa yang selalu tahu bagaimana menaklukkan lawan di ranjang.
Hernan menarik lembut rambut panjang Bianca, memberikan sensasi dominasi yang membuat wanita itu refleks mencengkeram sprei sutra di bawahnya. Punggung Bianca berkilau oleh keringat, menciptakan kesan yang sexy. Berbagai posisi telah mereka lalui selama satu jam terakhir, seolah waktu sengaja berhenti untuk mereka.
"Kau menikmatinya?" Hernan menuntut pengakuan.
"Iya, Hernan. Jangan berhenti," racau Bianca.
Hernan membalikkan tubuh Bianca, menatap lekat wanita yang kini berada dalam kuasanya. Tangannya merayap nakal, menjelajahi lekuk tubuh yang menggoda. Bercak kemerahan tanda gairah memenuhi kulit Bianca, sebuah peta kenikmatan yang dilukis oleh Hernan malam itu.
"Tahan, Sayang.. jangan terburu-buru," bisik Hernan saat merasakan tubuh Bianca menegang.
"Aku sudah tidak tahan, Hernan! Masuklah!" seru Bianca penuh harap agar cepat selesai karena Hernan terus menundanya.
Hernan segera berpindah posisi, pria itu sepertinya masih ingin bermain-main; ia sengaja memberikan jeda yang menggantung, membiarkan Bianca meronta dalam ketidakpastian puncak.
Sialan. Meskipun aku sudah hidup kembali, kebiasaan buruknya mempermainkanku di saat hampir mencapai puncak tidak pernah berubah, batin Bianca menggerutu.
"Sabar, Bianca. Mari kita perlambat sedikit," goda Hernan.
"Tapi ini hanya menyenangkan bagimu. Aku merasa digantung," keluh Bianca, memberikan tatapan manja sekaligus menuntut.
Hernan hanya tersenyum miring, sebuah senyum predator yang selalu berhasil meluluhkan pertahanan Bianca. Ia mengecup lembut bibir Bianca yang sedang menggerutu, lalu perlahan turun memberikan kecupan-kecupan basah di sepanjang leher dan dadanya.
Sentuhan demi sentuhan nakal dan saling menggoda mereka lancarkan, dini hari bagi mereka seolah masih sore. Tangan Hernan yang bebas memberikan stimulasi yang membuat tubuh Bianca melengkung bak busur.
Erangan demi erangan dari suara Bianca terdengar serak dan menggoda, kehilangan kata-kata untuk mendeskripsikan apa yang ia rasakan.
Hernan terkekeh rendah, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Bianca, membisikkan janji-janji manis yang beraroma gairah nakal dan cabul.
"Ini baru permulaan, Sayang. Aku tahu persis di mana titik lemahmu."
"Kalau begitu, lakukan. Buat aku merasa hidup, buat aku lupa akan segalanya," tantang Bianca sambil membelai rahang tegas pria itu. Tatapannya penuh rasa lapar; ia tak ingin lagi ada jeda.
Hernan menyeringai, tatapannya menggelap tanda kendali akal sehatnya pun mulai terkikis oleh nafsu. "Biarlah kamar ini menjadi saksi betapa kita saling membutuhkan malam ini."
Tanpa membuang waktu, dengan satu entakan yang dalam dan penuh tenaga, Hernan menghantam kembali hingga ke dasar.
Bianca memekik pelan, kepalanya mendongak dengan urat leher yang terlihat jelas di bawah cahaya lampu.
Hernan tidak lagi memberikan ruang untuk bernapas lega. Ia memacu gerakannya dengan ritme yang konstan dan bertenaga. Suara napas yang memburu dan peraduan kulit memenuhi atmosfer kamar yang kini terasa semakin sempit oleh gairah. Bianca meracaukan kata-kata tanpa makna, jemarinya mencengkeram bahu kokoh Hernan dengan kuat, meninggalkan tanda merah sebagai bukti intensitas mereka.
Pandangan Bianca mulai mengabur saat gelombang kenikmatan itu meledak secara serentak di seluruh tubuhnya. Ia membisikkan nama Hernan berulang kali dengan napas yang terputus-putus, sementara Hernan terus memacu gerakannya, memastikan mereka berdua terjatuh bersama ke dalam jurang kenikmatan yang paling dalam dan memuaskan.
Di ambang tidurnya, Bianca berbaring menyamping di depan Hernan, merasakan deru napas hangat pria itu.
"Hernan..." bisiknya pelan.
"Hmm... ada apa, Bianca? Aku mengantuk sekali," sahut Hernan parau.
"Besok pagi, aku minta uang tambahan. Aku ingin membeli perhiasan di L'Éclat Éternel. Mereka baru saja mengeluarkan koleksi terbaru, aku menginginkan gelang dan kalung berliannya."
Hernan membuka matanya sedikit, merasa aneh. Biasanya Bianca tidak seberani ini meminta tambahan di luar jatah rutinnya. Namun, saat menatap wajah polos Bianca tanpa riasan yang terpapar cahaya lampu tidur, pria itu terpaku. Bianca tampak sangat cantik, sisa-sisa gairah tadi masih membekas.
Hernan teringat pertemuan pertama mereka. Bianca hanyalah gadis penjual suvenir di sebuah toko kecil yang menyambutnya dengan ramah. Iseng, Hernan mengajaknya minum kopi di sudut Paris setelah jam kerja usai. Pertemuan berlanjut dan siapa sangka, saat bercinta untuk pertama kalinya, Bianca Wolfe ternyata masih perawan.
Kenangan itu selalu membuat Hernan merasa memiliki hak istimewa atas hidup gadis ini.
"Hanya perhiasan? Ambil saja kartu kreditku di dompet besok pagi. Beli apa pun yang kau mau agar kau tetap terlihat cantik untukku," Hernan mengeratkan pelukannya, lalu kembali terlelap.
Bianca tersenyum tipis dalam gelap.
...****************...
Enam bulan lalu, di tengah aroma kayu manis dan kertas tua yang memenuhi toko Des Buttes-Chaumont, Bianca sedang sibuk merapikan barisan miniatur Menara Eiffel yang berantakan. Ia menghela napas, jemarinya yang lentik menyeka debu halus di rak kaca, hingga sebuah suara rendah menghentikan gerakannya.
"Permisi, Mademoiselle. Aku mencari hadiah yang berkelas dan mahal untuk oleh-oleh klienku di luar negeri," ujar seorang pria dengan baju kasual yang tampak lebih mahal daripada seluruh isi toko ini.
Bianca berbalik, matanya bertatapan langsung dengan sepasang iris tajam milik Hernan. Ia tersenyum profesional, meski jantungnya berdegup sedikit lebih kencang.
"Tentu, Monsieur. Jika Anda mencari sesuatu yang tak sekadar pajangan, kami memiliki koleksi kotak musik antik dari abad ke-19 dengan ukiran tangan atau set pena berlapis emas yang elegan. Keduanya mencerminkan jiwa Paris tanpa terkesan murahan. Mari, saya tunjukkan di rak khusus di bagian dalam agar Anda bisa melihat detailnya dengan lebih jelas."
Hernan tidak langsung menjawab. Ia justru lebih tertarik memperhatikan cara Bianca berbicara dan bergerak.
"Ini bagus, aku akan mengambil pena ini. Ngomong-ngomong, apa pendidikan terakhirmu?" tanya Hernan sembari menatap Bianca lekat.
"Maaf... Kenapa Anda menanyakan itu, Tuan?" merasa heran dengan pertanyaan yang terlalu pribadi itu.
"Hanya merasa sayang jika gadis secantik dirimu hanya menghabiskan waktu bekerja di tempat seperti ini."
Bianca tersenyum tipis, "Saya menyukai pekerjaan ini, Tuan. Kebetulan saya menguasai pembukuan manajemen perkantoran dan pendidikan terakhir saya adalah sekolah kejuruan."
Hernan mengangguk pelan, "Manajemen perkantoran? Menarik. Kau memiliki potensi yang jauh lebih besar daripada sekadar merapikan rak suvenir. Bagaimana kalau kita bicarakan lebih lanjut tentang 'potensi' itu di luar jam kerjamu? Ada kafe kecil yang tenang di sudut jalan ini."
gmn laki mau menghargai
Lora lo abis di sakitin siapa weh? jdiin Bianca like u gt?