NovelToon NovelToon
Malam Terlarang Dengan Om Asing

Malam Terlarang Dengan Om Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Beda Dunia / Hamil di luar nikah
Popularitas:25.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.

"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"

"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."

Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.

Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.

Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31

“Kamu mau aku temani?” tanyanya akhirnya, pelan, hati-hati.

Senja mengangguk cepat. “Iya. Tapi… cuma temani. Aku nggak akan minta berlebihan yang buat Om marah,” lirih Senja tak kalah berhati-hati, khawatir penolakan yang akan diterimanya.

Kalimat itu justru membuat dada Sagara mengencang sekaligus tersentil, seakan keputusannya menjaga jarak adalah satu hal yang kurang tepat. Ia lantas masuk tanpa banyak pertimbangan, lalu menutup pintu. Tindakan itu saja sudah terasa seperti keputusan besar.

Sagara membantu Senja duduk di ranjang. Ia mengambil bantal tambahan, menyusunnya agar istri kecilnya itu bisa setengah bersandar.

“Minum dulu,” katanya.

Senja patuh. Setelah itu, kepalanya jatuh ke bahu Sagara tanpa rencana. Hanya gerakan refleks, tapi sukses membuat Sagara menegang.

“Maaf,” Senja berucap cepat, tapi tidak langsung menjauh. “Aku pusing banget."

Ia tetap di sana, tak berniat berpaling. Aroma tubuh Sagara kembali menyelimutinya. Hangat... Menenangkan.

Senja menarik napas pelan, tanpa sadar. Ia kian mendekat. Tangannya mencengkeram piyama Sagara. Pelan, manja, seolah mencari jangkar.

Sagara menutup mata sesaat. Tangannya terangkat ragu, lalu jatuh di punggung Senja. Ia tidak memeluk erat. Hanya menahan. Menjaga. Pelukan itu berlangsung lama.

“Om,” Senja berbisik. “Kalau aku nempel gini… Om keberatan?”

Sagara membuka mata. Rahangnya mengeras, tapi suaranya rendah dan jujur. “Tidak.”

“Terus kenapa Om tegang?” Senja terlalu jujur karena hormon.

Wajah Sagara terasa panas. “Karena aku manusia.”

Senja tersenyum kecil di dadanya. “Berarti bukan aku aja.”

Kalimat itu membuat pelukan Sagara mengencang satu tingkat tanpa sadar.

Senja menghela napas lega. Kepalanya bersandar penuh. “Jangan pergi dulu,” pintanya lirih. “Sampai aku tenang.”

“Aku di sini,” jawab Sagara cepat. Ia menggeser tubuh sedikit, lalu dengan sangat hati-hati membiarkan Senja berbaring, sementara ia duduk bersandar di kepala ranjang.

Senja refleks menarik tangannya, menempel di dada Sagara. “Om hangat,” gumamnya setengah sadar.

Sagara menelan ludah. “Tidur.”

“Kalau Om pergi?” tanya Senja lagi, matanya terpejam.

“Aku nggak pergi.” Jawaban Sagara bukan sekedar janji, tapi keputusan.

Napas Senja mulai teratur. Tangannya masih menggenggam piyama Sagara.

Perutnya berdenyut kecil. Janin di dalamnya seolah ikut tenang.

Sagara menunduk, menatap wajah Senja lama.

Istri. Perempuan. Ibu dari anaknya. Dan malam ini... tubuh lemah itu kembali mempercayainya tanpa sisa, seperti malam berkabut itu.

Ia tetap di sana. Tidak berbaring, juga tidak menjauh. Ia masih mencoba menjaga jarak yang kini tinggal setipis napas.

Remang-remang lampu tidur sudah lama berbinar. Cahayanya menyapu wajah Senja yang terlelap. Napasnya teratur, dada naik-turun pelan. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang sepanjang hari menahan canggung dan gugup.

Sagara duduk di sisi ranjang. Masih di posisi yang sama sejak Senja tertidur. Tangannya berada di dekatnya, tapi tidak menyentuh. Belum.

Pandangan Sagara kembali jatuh ke wajah Senja. Lama, terlalu lama, seakan sedang menikmati pahatan indah yang sulit untuk diabaikan.

Bulu mata lentik Senja. Bibir yang sedikit terbuka, basah, ranum dengan cara yang tidak disengaja. Tidak berniat menggoda, pemandangan itu sungguh apa adanya, tapi justru itu yang berbahaya.

Halal, bisik pikirannya.

Sah...

Dan itu membuat dadanya terasa lebih sesak. Ini bukan soal boleh atau tidak. Ini soal kendali.

Senja menggeliat kecil. Salah satu tangannya berpindah, reflek memeluk perutnya sendiri. Gerakan naluriah seorang ibu, bahkan dalam tidur. Kain tipis yang menutupi perutnya sedikit tersibak.

Sagara menelan ludah, ingin memalingkan pandangan, tapi otak berkata lain, pandangannya tak beralih. Kulit perut Senja… terlihat lembut, putih. Perut yang menyimpan kehidupan, anaknya.

Ada denyut tajam di dadanya. Sesuatu yang selama ini ia tekan, kini mengetuk dengan keras. Ia bukan lelaki yang rapuh. Tubuhnya sehat. Nalurinya normal. Dan perempuan di hadapannya, istri sahnya, perempuan pertama yang benar-benar ia lihat dengan kesadaran penuh seperti ini.

Pertama.

Ia mengulurkan tangan, berniat menutup kembali kain itu. Hanya itu. Ia berjanji pada dirinya sendiri. Namun, ketika jarinya menyentuh kain, gerakannya melambat. Sangat lambat. Bukan karena ragu, tapi karena terlalu sadar.

Sagara membayangkan terlalu jauh dari yang seharusnya. Membayangkan bibir itu dicicipi perlahan. Membayangkan kehangatan yang akan ia temui. Membayangkan hak yang sah, yang selama ini ia tolak sendiri.

Napasnya berubah. Tangannya turun satu inci lebih rendah dari niat awal, hingga benar-benar mendarat pelan di atas perut Senja.

Lembut... Hangat... sensasi itu seketika menjalar. Jantungnya berdegup keras. Di bawah telapak tangannya, ada kehidupan kecil.

Anaknya.

Dan justru itu yang membuat pikirannya terhantam balik.

Ini bukan tentangku. Ini tentang dia. Tentang aman. Bisiknya pada dirinya sendiri.

Sagara memejamkan mata beberapa saat, lalu menarik tangannya perlahan, seolah setiap sentimeter adalah perlawanan. Baju Senja ia rapikan kembali. Rapi, aman, menutup semuanya, termasuk hasratnya sendiri.

Ia berdiri, menjauh satu langkah, lalu dua. Namun, sebelum benar-benar berbalik, ia menoleh sekali lagi. Wajah Senja tetap tenang. Tidak tahu apa yang barusan hampir terjadi.

Sagara menghembuskan napas panjang, hampir seperti lelah. “Tidurlah,” gumamnya lirih.

Entah untuk Senja. Entah untuk dirinya sendiri.

Ia berpindah, duduk di kursi, bukan di ranjang. Menjaga jarak yang kini terasa lebih berat dari sebelumnya.

Namun, tiba-tiba Senja bergerak gelisah. Alisnya mengernyit pelan, seolah mimpi yang datang tidak sepenuhnya ramah. Napasnya berubah, tidak lagi teratur. Dada kecilnya naik turun lebih cepat, lalu bibirnya bergerak.

“Om…” Suaranya nyaris tak bersuara. Lebih seperti desahan yang tersesat di antara sadar dan tidur.

Sagara yang duduk di kursi langsung menegakkan badan. Ia tidak berpikir lama. Kakinya sudah melangkah lebih dulu kembali ke ranjang.

“Senja?” panggilnya rendah.

Tidak ada jawaban. Tapi wajah Senja semakin tegang. Tangannya bergerak ke samping, meraba sebelahnya yang kosong. Jemarinya membuka-menutup, mencari sesuatu yang tidak ia temukan.

“Om…” gumamnya lagi. Kali ini lebih jelas. Lebih rapuh.

Sagara duduk di sisi ranjang. Tangannya menyentuh bahu Senja, ringan, hati-hati. “Aku di sini."

Sentuhan itu membuat Senja sedikit tenang, tapi tidak sepenuhnya. Ia masih mengernyit, lalu menggeliat kecil. Satu tangan naik ke perutnya, menekan pelan seolah mencoba menahan rasa mual yang datang bergelombang.

“Kepala… pusing,” bisiknya lirih, tanpa membuka mata.

Sagara menelan ludah. Dinding pertahanannya retak satu per satu. Ia membantu Senja miring sedikit, menopang punggungnya dengan bantal. Tangannya refleks menyentuh dahi Senja, hangat.

“Kamu mual?” tanyanya pelan.

Senja mengangguk kecil. Gerakan yang lebih terasa seperti refleks tubuh daripada jawaban sadar. Tangannya kembali bergerak, meraba, hingga jemarinya menyentuh lengan Sagara dan tidak dilepas. Jemarinya justru mencengkeram pelan, seolah takut kehilangan.

“Jangan pergi…” gumamnya setengah sadar.

Nadanya tidak meminta. Ia terdengar seperti anak kecil yang takut terbangun sendirian.

Hal itu membuat Sagara terdiam. Ada bagian dalam dirinya yang runtuh begitu saja. Ia menatap wajah Senja, mata terpejam, bulu mata basah, ekspresi lelah yang tidak dibuat-buat. Senja tidak sedang menggoda. Tidak sadar. Tidak berniat apa pun. Ia hanya membutuhkan.

Sagara menghela napas panjang. Lalu, dengan keputusan yang terasa seperti menyerah sekaligus melindungi, ia melepas sandalnya, merapikan selimut, dan berbaring di sisi Senja. Tidak mendekat. Belum.

Namun, Senja yang entah bagaimana langsung merasakan kehadiran itu, bergerak lebih dulu. Tubuhnya condong, kepalanya bersandar ke dada Sagara. Tangannya melingkar, memeluknya, erat, menempel, seolah tubuh Sagara adalah penyembuh.

Sagara menegang. Seluruh ototnya kaku. Napasnya tertahan. Untuk sesaat, ia benar-benar tidak bergerak. Ini terlalu dekat. Terlalu nyata.

Namun, Senja justru menghela napas panjang, nafas lega. Seperti seseorang yang akhirnya menemukan posisi paling aman di dunia. Ia kian mengusel, pipinya berhenti di tulang selangka, hidungnya tepat di leher Sagara. Dan di situlah masalah berikutnya muncul.

Aroma.

Senja menyukai bau tubuh Sagara, bersih, hangat, menenangkan. Bahkan dalam setengah sadar, ia menggeser wajahnya sedikit, menghirup lebih dalam, lalu menggumam kecil, hampir tak terdengar.

“Enak…”

Sagara memejamkan mata. Dadanya terasa panas. Wajahnya ikut memanas. Ia tahu betul bau itu. Dan ia tahu betul apa arti gumaman polos itu. Bukan rayuan, bukan kesengajaan. Justru itu yang membuatnya berbahaya.

“Senja…” panggilnya lirih.

Tidak ada jawaban. Senja sudah kembali tenggelam lebih dalam ke tidur. Tapi pelukannya tidak mengendur. Akhirnya, Sagara menyerah.

Pelan... sangat pelan, ia mengangkat lengannya, membalas pelukan itu. Awalnya kaku, canggung, seperti seseorang yang lupa caranya memeluk. Namun, beberapa detik kemudian, lengannya mengencang sedikit. Menarik tubuh Senja lebih dekat, lebih aman.

Ia menunduk. Bibirnya menyentuh ujung kepala Senja. Sekilas. Singkat. Hampir seperti permohonan maaf yang tak terucap.

“Sekali ini saja,” bisiknya pada diri sendiri.

Senja bergerak kecil, lalu tenang sepenuhnya. Napasnya kembali teratur. Mualnya mereda. Kepalanya nyaman di dada Sagara.

Dan Sagara?

Ia terjaga. Sepenuhnya terjaga dengan denyutan yang menyakitkan. Menatap langit-langit, merasakan berat tubuh Senja di lengannya, kehangatan yang tidak bisa ia abaikan, dan fakta pahit yang akhirnya ia akui dalam hati. Menjaga jarak dengan perempuan ini akan jauh lebih sulit

saat ia justru paling membutuhkannya.

Dan malam ini, untuk pertama kalinya, Sagara tidak yakin apakah benteng yang ia bangun

masih cukup kuat untuk bertahan besok pagi.

Bersambung~~

1
Najwa Aini
Ya harus lahh
Najwa Aini
Wahh hebat..eh aku ralat. tidak hebat.
tdk butuh keahlian untuk mengendalikan berita negativ. tidak butuh skill, tidak butuh smart. cukup gak punya hati aja, sedikit memoles narasi, cuzz berita buruk itu berlari, menyebar, singkat.
Mia Camelia
kasian senja, udh mulai di bully😂😂😂
Ayuwidia
Astaghfirullah, kejam banget omongannya
Ayuwidia
Sunyi itu malah lebih mengerikan dari pada ucapan kasar
Nofi Kahza
ada banyaakkk
partini
tuan saga apa ga bisa kasih bodyguard bayangan buat istrimu dia hamil loh sesuatu bisa terjadi apa lagi banyak yg ga suka be smart dong pak dosen jangan lemot
partini: ah suka yg kehujanan dulu baru beli payung ok ok
total 2 replies
Ayuwidia
Sagara suami siaga, meski tidak banyak kata, atau aksi yg bisa dilihat oleh mata
Ayuwidia
Betul
Ayuwidia
Aku pingin kuliah di sana, tapi cuma bisa bermimpi tanpa berkeinginan untuk mewujudkan
Ayuwidia: udahhh 🤭
total 2 replies
Ayuwidia
Nggak kebayang gimana sulitnya Sagara menahan gejolak rasa pingin itu
Nofi Kahza: ngilu mbook...😆
total 1 replies
Najwa Aini
ngopi ☕..yak tapi diminum nanti. siang masih puasa
Nofi Kahza: makasih kaka sayangku../Kiss/
total 1 replies
Najwa Aini
Aku kawal. bener..jangan sampai Senja ku kenapa².
Najwa Aini
Top Markotop deh Sagara..👍
Najwa Aini
setuju.
kayak aku bermimpi, karyaku banyak dibaca, banyak disukai, bukan karena aku merasa pantas, tapi aku mau kayak itu. ya walau faktanya sepi. seperti mengulang sepinya LL..yang sepi, rapi, presisi. tak pernah bertambah hingga ke ujung cerita..
Najwa Aini: Benar juga...tapi energiku masih habis sekarang
total 2 replies
Najwa Aini
Saat² penyiksaan bagi Sagara dimulai..
yuk lanjut. aku pantau 😎😎😎..
Najwa Aini
Gak suka sama jelita. tapi gak setuju juga dia diperlakukan kayak gitu
Najwa Aini
Slam ini nama grup band luar negeri yg sempat aku suka dulu
Najwa Aini
definisi antara ada dan tiada, mungkin si pandi ini ya
Najwa Aini
eaa..eaa..dermawan kok ke amarah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!