NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Terpaksa Menikahi Janda Kaya

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahkontrak / Militer / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 5
Nama Author: Pratiwi Devyara

Ferdi Nichol Aditya Atmaja, seorang pria tampan berusia 27 tahun. Sangat suka meledek temanya Nova, yang kecanduan membaca novel online.

Bagi Ferdi cerita novel online yang dibaca oleh Nova sangatlah basi. Berbicara seputar perempuan miskin yang dinikahi oleh CEO dengan jalur di lecehkan terlebih dahulu.

Ferdi menilai itu semua adalah sebagai bentuk merendahkan kaum wanita. Ia mengkritik hampir semua novel online yang Nova baca. SAMPAI KEMUDIAN HIDUP FERDI BERUBAH SEPERTI CERITA NOVEL ONLINE.

Ya, ia diminta oleh ayahnya untuk menyelamatkan perusahan keluarga mereka. Dengan menikahi seorang janda kaya beranak tiga. Tentu saja Ferdi menolak, namun keadaan semakin hari semakin menghimpit.

Hingga akhirnya memaksa Ferdi untuk menempuh jalan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pratiwi Devyara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Datang Lagi

"Pa, papa yakin dengan perjodohan Ferdi?"

Frans yang masih mengingat percakapannya dengan Ferdi subuh tadi itu pun, bertanya pada Jeffri. Saat ini dirinya dan Jeffri sudah berada di kantor.

"Ferdi ada bilang menyesal, soal keputusannya menerima tawaran papa?"

Jeffri balik bertanya pada Frans. Pemuda itu pun lalu menggeleng.

"Lantas?" tanya Jeffri kemudian.

"Frans kasian sama Ferdi, pa. Dia nanya ke Frans, apa setelah menikah nanti kita semua akan tinggal terpisah atau nggak."

"Terus kamu jawab apa?"

"Ya Frans jawab, kalau sebagian besar orang yang menikah pasti akan memisahkan diri dari keluarga. Tapi Ferdi jadi tiba-tiba sedih gitu, dia kayaknya belum siap deh pa."

Jeffri menarik nafas panjang, terlihat pria itu membuang tatapannya ke suatu sudut.

"Cobalah papa pikirkan lagi. Mungkin kita masih punya jalan lain untuk menyelamatkan perusahaan. Dari pada harus mengorbankan perasaan dan kebahagiaan Ferdi." ucap Frans lagi.

Jeffri masih diam, sementara Frans kini harus melanjutkan pekerjaan.

"Frans permisi, pa." ucapnya kemudian.

Jeffri mengangguk, lalu Frans pun pergi meninggalkan ruangan tersebut. Jeffri kini menghela nafas panjang dan memikirkan apa yang barusan mereka bahas.

***

Di kantor start up milik Nath, di jam yang sama.

"Huuuuh."

Ferdi mencoba menarik nafas panjang di sela rasa pusing dan tak enak badan yang masih melandanya. Jordan dan Sean sudah menyuruhnya untuk beristirahat saja di rumah, namun Ferdi menolak sebab ia tak enak pada Nath.

Pasalnya hampir seminggu kemarin, ia menikmati berpura-pura menjadi korban pengeroyokan dan bersantai di rumah sakit.

Ia tak mungkin mengungkapkan alasan yang sama demi untuk tidak masuk ke kantor. Bisa-bisa Nath akan kehilangan kepercayaan padanya. Lagipula banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan saat ini.

"Fer, lo kenapa. Koq muka lo pucat gitu?"

Nath bertanya pada Ferdi, karena ia sejak tadi ada beberapa kali memperhatikan.

"Nggak apa-apa koq. Kurang tidur aja kayaknya."

Ferdi berusaha menyembunyikan kondisi yang sebenarnya dengan tersenyum tipis.

"Lagian lo udah maksain masuk, padahal baru keluar dari rumah sakit. Orang kek istirahat dulu gitu beberapa hari." ucap Nath lagi.

"Gue nggak apa-apa koq, Nath. Gue nggak mau pekerjaan gue malah jadi numpuk nantinya." Ferdi mencoba meyakinkan.

"Ya udah, tapi kalau misalkan lo nggak sanggup nanti. Lo bilang aja, biar ada yang nganter lo pulang juga." ucap Nath.

"Oke." jawab Ferdi.

Nath pun kemudian kembali ke ruangannya dan Ferdi kembali berkutat dengan komputer dan melanjutkan pekerjaan.

***

Siang itu, saat jam makan siang. Clara kembali menyambangi kantor Ferdi dan kali ini mereka berbicara berdua saja di mobil Clara. Sambil Clara mengemudikan kendaraan tersebut untuk mengitari jalan sekitar.

"Maaf ya mbak soal kemaren." Ferdi berujar pada wanita itu, ketika mobil telah cukup jauh meninggalkan kantor.

"Nggak apa-apa, lagian salah aku juga koq. Aku datang di waktu yang nggak tepat." ucap Clara Kemudian.

"Mbak memangnya ada perlu apa sama saya?" tanya Ferdi lagi.

"Mmm, nggak ada apa-apa sih sebenarnya. Kemarin itu cuma tiba-tiba kepikiran aja sama kamu. Takutnya kamu kenapa-kenapa, pasca keluarnya kamu dari rumah sakit." jawab Clara.

Ferdi menatap dashboard mobil lalu tersenyum.

"Mbak berlebihan ya, Fer?" tanya Clara dengan nada yang seperti malu serta tak enak pada Ferdi.

"Mbak tuh emang over thinking orangnya, selalu kepikiran berlebihan akan sesuatu." lanjut wanita itu lagi.

Ferdi pun makin tersenyum.

"Nggak apa-apa koq mbak, makasih udah mengkhawatirkan saya. Padahal kita baru kenal." ujar pemuda itu seraya menoleh sejenak, lalu kembali menatap jalanan yang ada di depan.

"Mbak nggak enak, Fer. Tapi mbak kalau lagi over thinking tuh harus benar-benar turun langsung, cari tau dan pastikan, biar puas."

Ferdi kini tertawa kecil.

"Sekarang mbak udah liat kan kalau saya baik-baik aja." ujar pemuda itu lagi.

"Iya sih dan jujur mbak merasa lega." Clara berkata sambil ikut tertawa.

"Oh ya, yang kemaren itu pacar kamu?"

Clara melontarkan pertanyaan yang membuat Ferdi sedikit terdiam.

"Iya mbak." jawabnya kemudian.

"Oh, oke."

Clara berujar sambil mencoba tersenyum. Ia tak ingin mengorek keterangan lebih jauh lagi. Sebab sepertinya Ferdi dan pacarnya itu tengah mengalami masalah yang cukup serius.

Ferdi pun tak menceritakan lebih lanjut mengenai Jessica. Karena baginya mengingat pun sudah sedemikian sakit, untuk apa diceritakan pada orang lain yang bahkan baru ia kenal.

Mereka terus berjalan sambil berbincang, lalu mampir ke sebuah tempat makan. Disana Ferdi makan tak terlalu banyak, karena tubuhnya sendiri masih terasa gamang. Hal tersebut tentu saja mengundang perhatian dan pertanyaan dari Clara.

"Kamu koq makannya sedikit banget, Fer?"

"Nggak apa-apa mbak, lagi kurang baik aja selera makannya." jawab Ferdi.

"Kamu tuh mungkin belum sehat betul, tapi udah minta pulang dari rumah sakit."

Ferdi tersenyum, meski kini perasaan tak enak itu kembali menjalar di sekujur tubuhnya.

"Iya, mungkin." jawab Ferdi lagi.

"Ke dokter lagi aja yuk!" ajak Clara.

"Nggak usah mbak, saya nggak apa-apa koq. Lagian kan saya juga harus balik kerja."

"Oh jadi laki-laki itu pacar kamu."

Sebuah pesan singkat masuk ke handphone Clara dan untungnya pesan tersebut tak di baca oleh Ferdi. Padahal handphone ia letakkan di atas meja dan notifikasi pesannya terpampang nyata.

Itu adalah pesan dari mantan suami Clara, yakni Nando. Refleks Clara pun melihat sekitar, namun tak berhasil menemukan keberadaan laki-laki itu. Tentu saja, sebab laki-laki itu berada di dalam mobilnya di halaman parkir.

Ia telah melihat Clara dan Ferdi sejak mereka keluar dari dalam mobil tadi. Saat itu ia baru selesai makan dari tempat yang sama. Tempat makan tersebut adalah tempat favoritnya dengan Clara semasa masih menjadi suami istri dahulu.

"Nggak usah ngurusin hidup gue, mana tanggung jawab lo ke anak?".

Clara membalas pesan sang mantan suami.

"Dasar murahan." balas mantan suaminya itu lagi.

"Dih kenapa lo, cemburu?" Clara kembali mengirimkan jawaban.

"Hahaha, ngapain gue cemburu. Laki-laki kayak gitu doang."

"Kalau nggak cemburu, ngapain lo chat gue?. Rajin amat. Bilang aja lo insecure kan, yang ini jauh lebih ganteng dan muda dari lo."

Clara kembali membalas sang mantan suami, sementara mantan suaminya itu kini naik darah. Ia memang cemburu pada Ferdi dan itu tak dapat dibantah.

Namun ia juga gengsi untuk mengakui, mengingat ia dan Clara telah resmi bercerai dan dirinya kini sudah menikah lagi.

"Sorry ya, ngapain gue cemburu sama laki-laki receh model begitu."

"Hahaha, masih nggak ngaku juga. Tapi terus ngebalas chat gue. Caper dasar."

"Gue cuma nggak mau aja anak-anak gue punya bapak tiri yang modelnya kayak dia."

"Emang anak-anak setuju, saat lo menikah sama si jablay?. Hah?. Pikir pake otak. Lo nggak berhak ngatur-ngatur hidup gue. Gue udah bukan bini lo lagi. Mau gue nikah sama siapa kek, itu urusan gue. Sok peduli sama anak, nafkah aja pelit anjay."

Clara kemudian menonaktifkan handphone dan memasukkannya ke dalam tas, terlihat jelas wajah wanita itu sangat kesal. Ferdi sendiri bisa menangkapnya, namun enggan bertanya. Sebab takut hal tersebut akan mengganggu Clara.

1
kalea rizuky
ayaah donk
jeon_niie
lahhh lama bangett lohhh aku nunggu² up eh udah tamat aj..

s2 gak kau thor...
s2 yaaaaa🙏🙏🤣🤣🤣🤣
jeon_niie
lahhh lama bangett lohhh aku nunggu² up eh udah tamat aj..

s2 gak kau thor...
s2 yaaaaa🙏🙏🤣🤣🤣🤣
Devyara (IG : oh_ya_ra): Hehehe, nanti kita buat cerita yang lain ya
total 1 replies
Wahyudhi Hidayat
sehat selalu thor 💪💪💪💪
😍😍😍😍😍😍
Devyara (IG : oh_ya_ra): Terima kasih 😍😍😍
total 1 replies
Asniarty Asniarty
happy ending...thax thour. good job/Heart/
Devyara (IG : oh_ya_ra): Iya, udah lama banget cerita ini menggantung. hehehe
total 1 replies
Evitha Junaedy
akhirnya pada bhgia y.. mksh byk m author ni udh d tamatin🙏🙏
La Rue
masih seru²nya ni kak Dev,eh udah tamat rupanya 😥
Devyara (IG : oh_ya_ra): Nanti aku kasih bonus bab
total 1 replies
Annie Tandaua
Arvel dan Cindiy apa kabarnya? penasaran sama mereka berdua
Devyara (IG : oh_ya_ra): Sudah ada di episode terakhir, ditambahin
total 1 replies
yanahana
yah ko udah tamat ka Dev padahal aku masih menanti cerita ini 😪
Devyara (IG : oh_ya_ra): Nanti mungkin ditambah bab, atau dibuat sekuel ya
total 1 replies
Evitha Junaedy
jgn2 mama Arvel tuh
Evitha Junaedy
s jesika ni emg wajib d geprek pake cabe setan biar kapok tuh...
Evitha Junaedy
akhirnya terkuak jg ternyata Adrian gk berkhianat y... cieee arver cindi...
La Rue
Apakah itu ibu kandungnya Arvel ? 😱
yanahana
di tunggu up selanjutnya ka Dev
Evitha Junaedy
nah knp nath bisa ciuman duuuh kasian angeline dah...
Evitha Junaedy
semoga sll up jg authornya sehat sll
Evitha Junaedy
angeline cewek baik tuh... sumpah sesek bacanya ni
Evitha Junaedy
kgk kapok2 tuh s ninis jg s jes2 tuh
Evitha Junaedy
akhirnya author🙏🙏🙏🙏
Asniarty Asniarty
udah tamat ya Mbak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!