Bu Rena adalah guru kelompok bermain (KB) Mentari, sosoknya yang ceria dan supel menjadikannya disukai banyak anak dan teman sejawatnya,
Berkisah tentang segala aktivitas kegiatan mengajarnya, kisah percintaannya, kegiatan dengan masyarakat sekitar dan kesabaran dia dalam menangani banyak anak yang berbeda karakter.
Hingga berakhir dengan kehilangan suami tercintanya yang menjadikan dia kuat harus dalam memulai hari barunya.
Akankah dia bertahan dengan keadaan yang ada? Menikmati kesendirian dan segala kesibukannya? Atau membuka lembaran baru dengan menerima seseorang yang mampu dijadikan sebagai Ayah pengganti untuk anak semata wayangnya Khayrullah Hizam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Widiawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Status IG
Hari ini matahari benar-benar enggan untuk menunjukan dirinya. Mendung masih saja mendominasi langit. Rena berpisah dengan Bu Genti di pertigaan jalan. Dia menuju rumah uyut untuk menjemput Hizam. Baru beberapa langkah, ada sebuah motor matic hitam menghadang jalannya.
Bisa di tebak siapa lagi kalau bukan si onar pembawa masalah. Sholeh!
"Re, kenapa gak balas pesanku? " Sholeh langsung to the point.
"Mas, aku mohon sudah cukup kamu ganggu aku, aku harus ngomong pakai bahasa apa lagi si biar kamu ngerti" Rena bersuara pelan namun tegas.
Dia tak mau ambil resiko kalau-kalau ada orang melihat dan menyebarkan berita viral dengan judul seorang guru sedang bertengkar di pinggir jalan bersama seorang lelaki yang tidak dikenal identitasnya! ngeri cuy!.
"Kalo kamu mau bikin rumah tangga aku berantakan, kamu sudah melakukannya mas!
kamu bener-bener gak ada hati banget ya! Aku mohon stop hubungin aku! " Rena berjalan menjauh dan segera masuk kedalam gang kecil, untuk memastikan dirinya tak bisa dijangkau oleh Sholeh lagi.
sabarkan hatiku ya Allah
Tiba di rumah uyut, Hizam sedang tidur dengan lelapnya,
"Baru tidur Re, kamu pulang aja istirahat. Nanti Tika yang antar pulang ke rumah. Apa kamu ikut tidur aja sini sekalian" Uyut memberikan saran kepada Rena.
"Iya tidur sini aja mbah, sambil nunggu Hizam bangun, lagian di rumah juga sendirian." Rena Melepas sepatu dan ikut merebahkan diri di sebelah anaknya.
Rena membuka HP nya, berniat untuk memblokir nomor Sholeh. Mungkin hal ini seharusnya dilakukan sejak awal dulu. Sebelum menjadi masalah di rumah tangganya.
Pikirannya menerawang jauh, mencoba menghubungkan kejadian yang satu dengan lainnya. Sebelum akhirnya suara uyut membuyarkan lamunannya.
"Jadi nanti kamu di rumah hanya berdua? Berani tidak?" Uyut memberikan secangkir teh hangat.
"Ya bertiga lah mbah, 'kan ada mas Banu" Rena beranjak dari tidurnya, untuk menerima teh "Terimakasih" jawabnya kemudian.
"Lah, tadi pagi Banu waktu nganter Hizam pamit bilangnya mau keluar kota dan gak pulang, nitip Hizam sama kamu. Memangnya gak bilang? kalian sedang baik-baik saja kan? Uyut mencercanya.
"Astaghfirullah iya mbah, Rena lupa.. Sudah bilang tadi pagi. Karena besok juga jalan ke sana jadi ya Rena suruh untuk mencari penginapan di sana aja, dari pada bolak-balik capek kasihan" Rena beranjak dari duduknya kemudian keluar, menjauh dari sang uyut.
Rena mencoba menghubungi Banu, sudah dia telpon berkali-kali namun tidak ada jawaban.
Mungkin dia sedang dijalan
Rena mengetik sebuah pesan, Apakah kamu benar-benar marah padaku?
Pesan terkirim. Dia bisa melihat terakhir WA dilihat pukul 10.00.
"Berarti memang dia sedang di jalan. " Rena bergumam sendiri.
"Makan dulu, Re. Sudah Mbah siapkan nih, Ayo kesini, " Uyut melambaikan tangannya, minta Rena untuk mendekat.
Rena mendekat, "Sayang sekali Rena masih kenyang mbah, tadi dibelikan roti sobek sama Bu Genti." Memang dia sama sekali tak bernafsu dengan makanan di depannya. Pikirannya melayang jauh, sebegitu marahkah suaminya hingga sudah diniati tidak pulang?
Tak bisakah menyelesaikan masalah dengan baik-baik tanpa meninggalkan rumah?
"Ya udah dibungkus aja buat sore, jadi kamu gak usah masak. Tinggal dipanaskan saja, Nanti malah gak kemakan, disini juga sudah pada makan." Uyut masuk ke dapur, mencari tempat makan untuk diisi sayur.
"Bu, Ibu Rena.. Ibu Rena" suara Hizam membuyarkan lamunannya.
"Iya sayang, sudah bangun? " Rena mengecupi pipi gembul anaknya.
"Izam mao pulan, mao mimi cucu, ayo kita pulan, Bu!" Hizam merengek.
"Mau maem dulu tidak? " Rena menuntun Hizam untuk duduk di pangkuannya.
"Mao pulan.. Mao pulan!" Menangis dengan keras.
"Lah kok jagoan ibu nangis, cup.. cup ya udah yuk kita pulang, tapi nangisnya udahan ya, nanti dilihatin orang, 'kan malu.. cup.. cup.. cup!" Rena menghapus air mata anaknya dengan tissue. "Yuk, salim dulu sama uyut. Uyut mana yaa.. Uyut.. Uyut Hizam mau pulang nii."
Uyut muncul, "Mau pulang sekarang hem?" Mendekati Hizam dan mengecup pipinya.
"Iya, uyut, Izam pulan dulu ya, becok main ladi cama Uyut. Calim dulu." Hizam mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman, sementara Rena mengambil tasnya.
"Acalamualaitum uyut tlimakaci, dadaaaddd!" Hizam berjalan mendahului Rena.
"Yaudah Rena pamit ya, Mbah, Asalamualaikum".
Mereka akhirnya pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Tangan Rena yang kiri membimbing anaknya sementara tangan kanannya memegang payung. Mereka berjalan dengan bersenandung ria bersama. Ya, Rena memang paling juara untuk menutupi kesedihannya, baginya segala bentuk kepahitan hidup tak perlu di tunjukan kepada orang-orang. Cukup dia dan Tuhannya yang tahu.
Udara malam yang dingin tak menjadikan Rena lekas beranjak dari duduk risaunya. Selepas sholat isya dan menidurkan Hizam, dia menunggu kedatangan suaminya di teras depan rumah. Seharian ini dia mencoba menghubungi suaminya namun nihil. Tak ada kabar ataupun jawaban dari pesan yang dia kirim lewat WA pun, semua hanya bercentang satu.
Sebegitu marahkah dia?
Tidakah ingin mendengar penjelasan dariku dulu?
Hingga malam semakin larut dia memutuskan untuk masuk ke rumah, menuju kamar Hizam dan merebahkan diri disampingnya. Memeluk jagoanya dan mengecupi ujung kepalanya. Tanpa terasa air matanya menetes.
Bertahun-tahun berumah tangga sepertinya baru kali ini Banu marah sampai meninggalkan rumah. Bila dihitung-hitung Renalah yang hobi mutung. Dan itupun tak akan pernah sampai keluar dari rumah.
Dia tahu betul hukuman bagi istri yang berani meninggalkan rumah tanpa seizin suami, apalagi dalam keadaan marah. Jangankan keluar rumah, tidak sekamar dan suami tidak ridho maka dia akan di laknat oleh para malaikat sampai subuh tiba.
Dia membuka sosial medianya, menscroll Instagram, mengalihkan pikirannya dari kekecewaan hati terhadap suaminya.
Jarinya terhenti saat melihat sebuah postingan suaminya. Foto background langit malam dengan sebuah bulan sabit, bercaption "Sendiri lebih baik".
Apa maksudnya?
terposting 2 jam yang lalu.
Ternyata sudah banyak yang komentar. Rena tertarik dengan komentar simpel tapi cukup membuat rasa penasaran semakin menggelora, akun bernama @MsDywi "Apakah sudah terbuka untuk aku" ditambah emoticon ❤ diakhir kalimat.
Tak ada balasan di komentar akun tersebut. Juga di komentar-komentar lainnya, mungkin sepertinya Banu tidak tertarik untuk membalas komentar, atau dia sengaja tak ingin membalasnya.
Rena kemudian mencoba menghubungi suaminya lewat telepon seluler biasa. Tersambung, namun tidak diangkat. Tak menyerah dia terus mencoba menelpon. Hasilnya nihil.
Sudah cukup emosi, dia mencoba untuk menulis SMS, Beginilah cara kamu memperlakukan istrimu?. Sukses, pesan terkirim.
Mungkin data seluler dimatikan. Tapi mengapa bisa buka IG??
Rena mencoba membuka WA kembali, dan benar saja dugaannya, sudah centang dua namun sengaja tidak dibuka.
Oke kalau ini caramu
Rena kemudian mematikan telepon dengan perasaan kecewa. Ingin marah tapi kepada siapa? tak ada yang bisa memahami dan mengerti perasaannya. Mungkin sekarang suaminya sedang emosi, tetapi tidak dibenarkan juga meninggalkan anak dan istrinya sendiri.
************
Mutung di daerah aku itu artinya Ngambekan atau tersingungan😁 mutung itu biasanya disebabkan karena adanya hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan hati kita. Makanya jadi mutung. Kalau keinginan kita tidak langsung terpenuhi sebaiknya belajar sabar aja, jangan langsung mutung. Mutung menyebabkan hati menjadi panas, hati juga ikut emosi, dan emosi menyebabkan imun jadi menurun. Jadi kesimpulannya mutung menyebabkan emosi dan emosi menyebabkan imun menjadi turun dan berakibat kesehatan akan menurun😁😁
hahahha udah udah jangan mutung ya kalo ini gak nyambung 😅
Happy Reading😘...
seharusnya cerita2 gini nih yg banyak peminatnya bukan hanya tentang CEO aja
aku suka menceritakan kehidupan dan kesederhanaan hidup ,natural ceritanya
makasih y thor
sehat selalu
semangat dan semoga selalu sukses
😍😘🤗
ehhh,,,atau jangan2 emang kisah nyata yaaa
jempol banyak2 dech pokoknya
pinginnya ada bonchap 😁😁😁😁😁😁
terima kasih thor....sukses selalu...
kapan malam pertamanya udah hamil aja😅😅😅nunggin part MP nyaa,,malah udah end,,makasiih tor