Tujuh tahun tanpa anak, Sinta dicap mandul dan dipaksa melihat suaminya menikah lagi. Setelah dihina dan dibuang, ia pergi, bangkit, lalu bertemu CEO dingin yang pernah menyelamatkannya. Saat rahasia istri baru terbongkar, Sinta menggugat cerai dan menemukan cinta yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PINTU BELAKANG
"Kamu tidak akan melakukannya, kan, Mel?"
Sinta bertanya tanpa mengangkat pandangan dari layar ponsel yang masih menyala di tangan Melia. Kata-kata di pesan itu seperti paku yang ditancapkan satu per satu ke kepalanya. *Anak itu tidak boleh keluar dari rumah itu hidup-hidup.*
Melia menggeleng cepat, air matanya jatuh ke layar. "Aku tidak mungkin, Kak. Aku memang pengecut, aku memang bohong, tapi aku tidak akan..."
"Papamu menyuruhmu."
"Dia bukan cuma menyuruh." Melia menutup mulutnya, bahunya terguncang. "Tadi malam dia bilang kalau aku tidak bisa menyelesaikan 'masalah Sinta', dia akan menyuruh Pak Wiryo yang mengerjakannya. Dan Pak Wiryo tidak pernah gagal."
Hening di ruang tamu itu terasa seperti kolam beku. Tari menurunkan ponselnya perlahan, matanya melebar. Rini yang berdiri di lorong mundur satu langkah sambil menatap ibunya, wajahnya pucat.
"Bu," bisik Rini. "Pak Hendra itu... orang jahat?"
"Diam." Bu Retno menegakkan badan, dan sosok yang selama tujuh tahun mendikte seisi rumah itu kembali muncul. Bahunya lurus, dagunya naik, suaranya turun menjadi desisan dingin. "Rini, kunci pintu depan. Semua jendela. Sekarang."
"Bu..."
"Kunci!"
Rini berlari. Bu Retno menoleh pada Tari. "Kamu punya mobil?"
"Di depan, Bu."
"Pindahkan ke gang belakang. Parkir di belakang bengkel las. Jangan lewat jalan utama."
Tari menatap Sinta, minta persetujuan. Sinta mengangguk, dan Tari segera menyambar kunci dan menghilang lewat pintu samping.
"Kita keluar dari sini?" tanya Sinta.
"Kita tidak bisa di sini. Kalau Hendra tahu Melia membocorkan semuanya, dia tidak akan datang sendirian." Bu Retno mengangkat Melia dari sofa dengan satu tangan, kasar tapi tidak kejam. "Berdiri. Tarik napas. Kamu mengandung, jangan lemas."
"Bu, maafkan aku..."
"Minta maaf nanti. Sekarang ambil tasmu, ponsel cadangan, dan obat-obatanmu. Dua menit."
Melia terhuyung ke kamarnya. Sinta menatap punggung mertuanya yang kini sibuk membuka laci meja, mengeluarkan beberapa lembar uang tunai, kunci cadangan, dan sebuah kotak kecil berisi cincin dan gelang emas.
"Ibu menyiapkan semua ini sejak kapan?" tanya Sinta pelan.
"Sejak tiga puluh tahun lalu." Bu Retno menyelipkan semuanya ke tas kecil. "Perempuan yang hidup di rumah seperti ini belajar punya jalan keluar."
"Ibu pernah..."
"Aku pernah kabur dari rumah ini sekali. Tahun pertama aku menikah." Ia berhenti sebentar, tangannya menggantung. Hanya sepersekian detik, tapi cukup lama untuk Sinta melihat sesuatu yang selama ini tak pernah ia kira ada di wajah itu: ingatan lama yang sakit. "Mertuaku sendiri yang menyeretku pulang."
Sinta menatapnya. Ada puluhan hal yang ingin ia katakan, tapi tak satu pun terasa pantas diucapkan sekarang.
"Aku tidak bilang ini supaya kamu kasihan," ucap Bu Retno tanpa menoleh. "Aku bilang supaya kamu tahu bahwa aku tidak mengira kamu akan jadi korbanku. Itu bukan pembelaan. Itu kenyataan."
"Dan kenyataan itu mengubah apa?"
"Tidak ada." Bu Retno menutup tasnya. "Tapi kamu perlu tahu."
---
Pintu belakang rumah Wiryawan membuka ke lorong sempit yang diapit tembok tetangga dan tempat sampah bersama. Bau kubis busuk dan oli bercampur panas siang. Melia berjalan di tengah, ditopang Sinta dan Bu Retno di kiri kanannya, napasnya putus-putus. Rini mengikuti di belakang sambil menenteng tas, wajahnya basah oleh keringat dan ketakutan.
Mobil Tari menunggu di ujung lorong, mesin sudah menyala. Mereka masuk berhimpitan: Bu Retno di depan, Sinta, Melia, dan Rini berjejal di kursi belakang. Pintu belum tertutup rapat ketika terdengar suara klakson panjang dari arah jalan utama.
"Itu dia," bisik Rini, menggigit kuku. "Mobil Pak Hendra."
Sedan hitam itu berhenti di depan rumah Wiryawan. Dari celah gang, Sinta melihat dua pintu terbuka. Pak Hendra turun lebih dulu dengan jas rapi dan wajah tenang. Di belakangnya Pak Wiryo, topi pet tertarik ke bawah. Dan dari pintu belakang mobil, seorang lelaki lain yang belum pernah Sinta lihat: bertubuh tinggi, berkacamata gelap, memegang map hitam di bawah lengan.
"Siapa yang satunya?" tanya Tari sambil memasukkan gigi.
"Aku tidak tahu," jawab Bu Retno pelan. "Tapi dia bukan orang kampung."
"Jalan, Tar," bisik Sinta.
Mobil melaju keluar gang, berbelok tajam ke jalan kecil di belakang bengkel las, lalu menembus jalan raya. Sinta menoleh ke belakang melalui kaca. Pak Hendra berdiri di depan gerbang rumah, mengetuk pintu dengan sopan, seolah datang bertamu. Setelah tidak ada yang membuka, ia menoleh pada Pak Wiryo dan mengangguk sekali.
Pak Wiryo menendang gerbang.
---
Mereka berhenti di rumah kosong milik paman Tari di pinggir kota, rumah tua berpagar bambu dan halaman penuh ilalang. Tari membuka gembok dengan kunci yang disimpan di bawah pot, lalu semuanya masuk dalam diam.
Di ruang tengah yang berdebu, Melia langsung terduduk di lantai dan menangis keras, tangisan yang selama ini ia tahan. Rini duduk di sampingnya dengan wajah kosong, tak tahu harus berbuat apa. Bu Retno berdiri di jendela, menyibak tirai lusuh, memantau jalan di luar dengan mata yang awas.
Sinta menyalakan kipas kecil yang tergeletak di meja dan meletakkan gelas air di depan Melia.
"Minum."
"Kak, aku..."
"Minum dulu."
Melia menurut. Sinta berjongkok di depannya dan menunggu sampai napasnya teratur.
"Sekarang cerita. Semuanya. Dari awal. Dan jangan ada yang disaring."
Melia mengusap pipinya dengan punggung tangan. "Aku tidak tahu semuanya, Kak. Aku cuma tahu sepotong-sepotong."
"Sepotong yang mana?"
"Papa dan almarhum Pak Darmawan dulu kenal." Ia menatap Sinta takut-takut. "Mereka satu angkatan waktu kuliah kedokteran."
Sinta membeku. "Bapakku bukan dokter."
"Beliau berhenti di tahun keempat. Tidak lulus." Melia menelan ludah. "Papa pernah bilang itu salah satu kisah paling menyedihkan yang ia tahu. Katanya Pak Darmawan sebenarnya lebih pintar darinya. Tapi ada kejadian di rumah sakit pendidikan, pasien meninggal saat praktek, dan Pak Darmawan yang disalahkan."
"Kejadian apa?"
"Papa tidak pernah cerita detailnya. Tapi dia bilang..." Melia menarik napas panjang. "...dia bilang bukan Pak Darmawan yang salah. Papa yang salah."
Ruangan itu mendadak senyap. Bu Retno berbalik dari jendela, matanya menyipit. Tari, yang bersandar di dinding, menurunkan ponselnya yang sedang merekam.
"Hendra yang membunuh pasien itu?" tanya Bu Retno datar.
"Aku tidak tahu, Bu. Papa cuma pernah mabuk sekali, waktu ulang tahun Mama. Dia bilang, 'Aku mengambil hidupnya untuk menyelamatkan hidupku sendiri.' Dan waktu aku tanya maksudnya, dia bilang itu rahasia yang sudah dikubur di kampung."
Sinta merasakan telinganya berdenging. Ia teringat ayahnya di tahun-tahun terakhir: lelaki pendiam yang berhenti bicara soal masa muda, yang menyimpan buku kedokteran tua di kolong ranjang, yang kadang menatap kosong ke jendela sambil menggumamkan nama yang tak pernah ia pahami.
"Kenapa Papamu membayar operasi bapakku?" tanya Sinta lirih.
"Aku pikir..." Melia menggeleng. "Aku pikir karena rasa bersalah. Tapi sekarang aku pikir bukan. Karena kalau memang bersalah, kenapa dia juga menyuruh Ibu Retno menikahkan Kakak dengan Mas Damar? Kenapa surat pernyataan itu dibuat?"
"Karena dia mengunci saya," ucap Sinta pelan, dan semuanya tiba-tiba terasa jelas dengan kejernihan yang mengerikan. "Dia membayar operasi supaya bapak saya berutang budi. Setelah bapak meninggal, anaknya satu-satunya jadi sebatang kara. Dia membawa saya masuk ke keluarga Wiryawan, menjaga saya dalam jangkauannya selama tujuh tahun."
"Untuk apa?" tanya Tari.
"Supaya saya tidak pernah punya kesempatan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada bapak saya."
Bu Retno melangkah mendekat, dan suaranya yang biasanya tajam kini terdengar sangat rendah. "Sinta, ayahmu meninggal karena apa?"
"Gagal ginjal. Setelah operasi pertama, komplikasi."
"Siapa dokter yang merawat setelah operasi?"
Sinta membuka mulut. Menutupnya. Matanya melebar perlahan, dan ketika suaranya keluar, nyaris tak terdengar.
"Dokter Hendra. Beliau datang setiap minggu ke rumah kontrakan kami, membawa obat. Katanya sebagai teman lama. Gratis."
Tak seorang pun bicara. Di luar, jangkrik mulai berbunyi meski hari masih sore. Sinta duduk di lantai berdebu, memandangi lututnya sendiri, dan seluruh potongan tujuh tahun hidupnya yang selama ini ia kira kemalangan, kebetulan, nasib, satu per satu berbalik arah dan memperlihatkan sisi yang sebenarnya.
Ia tidak menangis. Ia hanya merasakan sesuatu yang aneh di dadanya, seperti pintu besi yang tertutup perlahan dengan bunyi yang sangat pelan.
"Dia membunuh bapak saya," ucapnya akhirnya, datar, tanpa emosi. "Sedikit demi sedikit. Lewat obat yang dibilang gratis."
"Kamu tidak punya bukti," kata Bu Retno, tapi nadanya bukan membantah, melainkan memperingatkan.
"Belum."
"Bukti itu ada di amplop."
"Dan amplop itu sekarang di tangan Pak Hendra."
"Tidak." Melia mengangkat wajah, dan untuk pertama kalinya hari itu matanya menyala tajam. "Tidak semuanya."
Semua menoleh padanya. Dengan tangan gemetar, Melia membuka tas kecil di pangkuannya, merogoh ke bagian dalam yang tersembunyi di balik lapisan kain, lalu mengeluarkan selembar kertas lusuh yang dilipat empat. Kertas itu menguning di tepinya, tulisan tangan di atasnya miring dan terburu-buru.
"Ini yang jatuh ke lantai tadi malam. Aku ambil diam-diam sebelum Pak Wiryo melihat. Aku sendiri belum berani membacanya sampai habis."
Sinta menerimanya dengan tangan yang tiba-tiba terasa dingin. Ia membuka lipatannya perlahan, dan huruf-huruf itu langsung menyergap matanya. Tulisan tangan ayahnya, tulisan yang ia kenal sejak kecil, di atas kertas surat bergaris.
*Untuk anakku Sinta, kalau suatu hari kamu membaca ini, berarti aku sudah tidak ada. Maafkan Bapak karena menyimpan ini terlalu lama. Orang yang menolongku di rumah sakit itu, Sin, bukan penolong. Dia...*
Kalimat itu terputus di tengah halaman, robek di lipatan. Sisa kertasnya tidak ada.
Sinta mengangkat wajah, dan suaranya pecah untuk pertama kali sejak malam mereka pergi dari rumah Bu Retno.
"Mana sisanya, Mel?"
"Aku cuma ambil yang jatuh, Kak. Sisanya masih di tas Pak Wiryo." Melia terisak. "Tapi aku tahu satu hal lagi. Papa menyimpan semua dokumen itu bukan di rumah. Dia punya tempat penyimpanan khusus."
"Di mana?"
Belum sempat Melia menjawab, ponsel Bu Retno berdering nyaring di ruangan sunyi itu. Semua tersentak. Bu Retno melirik layarnya, wajahnya mengeras, lalu ia mengangkatnya dan menekan pengeras suara.
"Retno." Suara Pak Hendra terdengar sangat tenang, sangat ramah, seperti dokter yang menelepon pasien untuk memberi kabar baik. "Aku di depan rumahmu. Pintunya terkunci, dan Rini serta Melia tidak ada di dalam. Kamu pasti tahu mereka di mana."
"Aku tidak tahu."
"Retno, kita sahabat lama. Jangan bohong." Jeda singkat. "Aku akan bicara terus terang, supaya tidak ada lagi kesalahpahaman. Serahkan Sinta dan Melia padaku malam ini. Kalau tidak, besok pagi seluruh kota akan tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kematian suamimu, Haryo Wiryawan, dua puluh tahun lalu."
Wajah Bu Retno kehilangan seluruh warnanya. Ponsel di tangannya bergetar.
"Dan kamu tahu persis, Retno," lanjut Pak Hendra lembut, "siapa yang menyuntikkan obat terakhir itu."