Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Ketegangan
Malam itu, setelah acara selesai, semua tamu pun sau persatu mulai berpamitan. Namun, saat Tedjo Kartawidjaja hendak berpamitan, Raden Daksa menahan pria itu karena ada satu hal yang ingin ia bicarakan.
Raden Daksa kemudian meminta Kakek, Bapak, dan Tedjo Kartawidjaja -Bapak Astri, untuk berkumpul di salah satu ruangan yang ada di Pendopo itu. Raden Dwipa, sebagai pewaris Trah Soeradiningrat pun turut serta di ajak ke dalam ruangan yang cukup besar itu.
"Ada apa kamu mengumpulkan kami, Raden Daksa?" Tanya Soekarto Soeradiningrat -Kakek Raden Daksa.
"Ada yang ingin Daksa bicarakan, Mbah." Jawab Daksa sambil menatap lembut ke arah Mbah Kakungnya itu.
"Daksa ingin meminang Ningmas Danastri." Ucapnya kemudian dengan tenang.
Mendengar itu, semua orang yang ada disana pun terkejut. Terutama Raden Dwipa yang langsung tersulut emosinya ketika Kakaknya menyampaikan hal itu.
"Mas Daksa pasti bercanda, kan? Selama ini kalian tak pernah memiliki hubungan." Ujar Raden Dwipa.
"Saya sedang tidak bercanda, Dwipa." Jawab Raden Daksa sambil menatap tegas netra adiknya.
"Tidak mungkin. Pasti Mas Daksa memaksa Ningmas Danastri untuk hal ini." Sergah Raden Dwipa.
Tentu saja ia tak terima jika wanita yang ia cintai tiba-tiba hendak dinikahi oleh orang terdekatnya. Raden Dwipa pun sangat tau jika Raden Daksa dan Ningmas danastri sama seali tak pernah berhubungan. Bahkan keduanya tak pernah berkomunikasi sama sekali lima tahun terakhir ini.
"Memangnya kenapa jika aku ingin menikahi Ningmas Danastri?" Tanya Raden Daksa yang membuat Raden Dwipa sedikit gelagapan. Apa lagi, saat ini sorot mata para orang tua itu mengarah padanya.
"Aneh! Kenapa tiba-tiba..."
"Cukup, Dwipa." Raden Subroto Soeradiningrat meghentikan perdebatan kedua putranya.
Raden Subroto kemudian meminta asistennya untuk memanggil para wanita penting dari Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja.
Para wanita yang datang itu tampak heran ketika mereka diminta untuk datang ke Pendopo utama. Terlebih lagi suasana disana terasa cukup tegang.
"Ada apa ini?" Tanya Hartinah Soeradiningrat. Netra tuanya menatap ke arah Suaminya dan juga orang-orang yang ada disana secara bergantian.
Sementara itu, Serayu justru melihat keanehan dari Suaminya. Raden Dwipa sejak tadi terus menatap ke arah wanita yang bernama Astri itu. Tatapannya syarat akan cinta yang sangat dalam dan kerinduan pada gadis itu.
"Apa dia, kekasih Raden Dwipa?" Batin Serayu.
Tatapan itu tentu membuat Serayu merasa cemburu. Ia yang sudah menjadi istri sah Raden Dwipa pun merasa iri. Jangankan disentuh oleh suaminya, Raden Dwipa bahkan enggan menatap dan berbicara lama dengan Serayu.
Serayu dan Raden Dwipa memang memiliki perjanjian sebelum mereka menikah. Raden Dwipa tak ingin Serayu mencampuri urusannya dan meminta Serayu untuk tak berharap lebih padanya karena ia tak akan bisa mencintai Serayu. Ia juga mengatakan jika sudah memiliki wanita yang sangat ia cintai. Maka dari itu, ia meminta Serayu untuk menceraikannya setelah tiga tahun pernikahan mereka.
Tentu saja Serayu hanya mengiyakan hal itu, karena ia ingin menikah dengan Raden Dwipa yang tampan dan kaya raya kerena statusnya sebagai pewaris Trah soeradiningrat.
Namun, pastinya Serayu tak akan menuruti keinginan Raden Dwipa. Karena ia ingin selamanya menjadi istri dari Raden Dwipa. Ia pasti akan berusaha untuk mempertahankan pernikahannya dengan Raden Dwipa, bagaimanapun caranya.
Suara deheman dari Raden Daksa, memecah lamunan setiap orang yang ada disana. Semua wanita tampak mengemas rasa penasaran mereka. Hanya Astri yang bisa meraba tujuan dikumpulkannya mereka disini.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian, Raden Daksa dan Ningmas Danastri?" Tanya Subroto.
"Kenapa kamu ingin menikahi Ningmas Danastri tiba-tiba?" Tanyanya lagi.
Astri yang mendengar pertanyaan itu pun langsung membelalakkan mata. Ia tak menyangka jika Raden Daksa benar-benar bertanggungjawab atas kesuciannya.
"Aku ingin bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah aku perbuat pada Ningmas Danastri." Jawab Raden Daksa yang membuat semua orang yang ada disana terkejut bukan main.
"Kesalahan apa yang sudah kamu perbuat, Raden Daksa?" Tanya Marini, Ibunya dengan wajah yang menunjukkan kemarahan.
"Aku sudah menodai kesucian Ningmas Danastri saat sedang melakukan pameran di Tokyo, tempo hari. Kami tak sengaja menghabiskan malam bersama dalam kondisi mabuk saat itu." Jawab Raden Daksa yang membuat suasana di sana semakin menegang.
Guratan amarah tampak jelas di wajah para orang tua yang ada disana. Terlebih lagi Raden Dwipa. Raden Dwipa mengepalkan tangannya dengan erat hingga buku-buu jarinya memutih.
Ia tak terima karena Raden Daksa bilang sudah merenggut kesucian dari wanita yang amat dia cintai. Ada perasaan tak percaya juga di hatinya ketika Raden Daksa menyampaikan hal itu. Ia tau benar bagaimana Ningmas Danastri menjaga martabatnya sebagai seorang wanita.
"Kurang ajar kamu, Raden Daksa! Tak bermoral." Ujar Subroto. Suaranya begitu berat dan penuh penekanan.
Sementara itu, Tedjo Kartawidjaja hanya bisa membuang wajahnya. Ia sungguh malu setelah mendengar hal itu. Putrinya sendiri, sudah membuat aib besar di keluarganya.
"Memang aku yang salah, Bapak. Maka dari itu, aku mau bertanggung jawab atas kesalahanku." Ujar Raden Daksa yang melimpahkan semua kesalahan Astri padanya.
"Maafkan aku, Pak Tedjo, Ibu Ratri. Maafkan atas kesalahanku yang sudah menodai putri kesayangan kalian. Aku pasti mempertanggungjawabkan perbuatanku." Ujar Raden Daksa sambil menunduk.
Berbagai macam cemooh dan luapan kekesalan pun dilontarkan pada Raden Daksa yang sebenarnya tak bersalah, namun rela menanggung semua kesalahan itu. Astri yang mendengar hal itu pun pada akhirnya merasa bersalah pada Raden Daksa yang sudah menutupi kesalahannya.
"Tolong berhenti." Pinta Astri yang membuat semua orang yang ada disana menatap ke arahnya.
"Ini semua bukan benar-benar kesalahan Raden Daksa. Aku juga turut andil dalam kesalahan ini." Ujar Astri.
"Tapi, kami melakukannya dengan tidak sadar." Imbuhnya kemudian.
"Bisa-bisanya kamu masih membela diri setelah membua aib pada dua keluarga, Ningmas Danastri! Benar-benar memalukan." Cemooh Marini dengan sangat ketus.
"Dimana harga dirimu sebagai seorang wanita yang terhormat? Harusnya kamu bisa menjaga kesucianmu. Dasar perempuan tidak bermoral!" Imbuhnya yang terus mencecar Astri dengan kata-kata tajam.
"Cukup, Ibu!" Suara Raden Daksa menghentikan umpatan Ibunya.
"Jangan salahkan Astri. Aku yang memulainya. Harusnya Ibu salahkan aku saja." Raden Daksa kembali membela Astri tanpa ragu.
"Menikahlah kalian berdua." Tedjo Kartawidjaja akhirnya membuka suara setelah menelan kekecewaan yang amat dalam.
Astri menatap ke arah Bapaknya degan netra yang berembun. Ia benar-benar merasa bersalah karena memberikan aib besar di keluarganya.
"Terima kasih karena sudah bertanggung jawab atas putriku, Raden Daksa. Aku tak membenarkan kesalahan kalian. Tetapi, aku tak ingin dosa ini semakin panjang jika kalian tak segera menikah." Imbuh Tedjo Kartawidjaja dengan bijak.
Kedua keluarga itu pun berembuk untuk pernikahan mendadak Putra dan Putri mereka meski suasana tegang masih kental terasa. Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja yang tak pernah akur itu, akhirnya dengan terpaksa menyetujui pernikahan Raden Daksa dan Ningmas Danastri untuk menutupi aib.
"Jangan sampai ada yang tau mengenai aib ini. Cukup kita saja yang mengetahui masalah ini. Jangan sampai masalah ini keluar dan membuat citra keluarga tercoreng." Pesan dari Soekarto Soeradiningrat.
"Persiapkan pernikahan mereka dengan cepat dan lakukan seperti pernikahan pada umumnya." Imbuhnya lagi sebelum meninggalkan ruangan yang terasa menyesakkan itu.
🤔🤔
othor kie...🤣😄