Amira Anastasya, yang setia menunggu janji dari Glen Anggara yang akan segera pulang dalam dua tahun setelah menyelesaikan pendidikannya di Eropa dan menikahi nya. Namun tidak sesuai dengan ala yang Amira harapkan.
Bertahun-tahun Amira menunggu akan tetapi Glen tidak kunjung datang, bahkan tidak pernah menghubungi Amira setelah satu bulan di Eropa tiba-tiba saja dia menghilang tanpa kabar, dan Amira pun tidak dapat menghubunginya.
Hingga lima tahun kemudian, ketika Amira dibandara dan hendak pergi keluar negeri tanpa sengaja mereka bertemu. Saat itu juga Glen pulang dari luar negeri.
Melihat kepergian Amira, Glen merasa sedih ketika dia hendak menemui Amira tetapi kenapa malah amira pergi keluar negeri dan tidak mau mendengarkan Glen saat itu.
Selama di Indonesia Glen berusaha mencari tahu kehidupan Amira selama ini, apakah dia baik-baik saja selama dia tidak ada atau malah sebaliknya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penpena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Tidak bisa melupakan
Melly terdiam sejenak, mengingat-ingat.
"Oh, itu baju kakak aku."
"Kak Dara pakai baju cowo?." tanya Amira tidak menyangka.
"Bukan, baju suami nya. bulan lalu mereka menginap di rumah ku, mungkin baju nya ketinggalan kali."
"Oh, aku pikir kamu menyembunyikan pria di rumah ini." Ucapnya Amira terkekeh
"Enggak."
"Tapi hampir ajah aku senang tadi kalau sampai itu pakaian pacarmu, akhirnya setelah sekian lama sahabat ku ini dapat pacar juga, nyatanya pikiran ku salah." Melly hanya tersenyum mendengar ucapan Amira yang selalu nyeleneh.
"Sudah-sudah lupakan tentang pacar dulu, mending kita membuat agenda tempat apa ajah yang akan kita kunjungi disini. kalau bahas tentang pacar terus, bisa-bisa tujuan utama mu datang kesini tidak tercapai."
"Nah, ide bagus. kira-kira tempat yang bagus apa ya di negara ini?."
"Banyak Mir, pokoknya aku akan bawa kamu mengelilingi semua penjuru tempat yang bagus disini selama dua minggu ini."
"Asik, makasih Melly sahabatku yang selalu terbaik." Ucap Amira memeluk Melly kesenangan.
"Hahaha, sama-sama, Mir. kalau kamu senang aku pun jadi senang."
Amira jadi terharu mendengar ucapan Melly yang selalu ada untuknya.
**
"Hai bro." Sapa Alvero teman dekat Glen ketika masih kuliah di Eropa dulu, dua minggu sebelum Glen datang ke Indonesia, Alvero terlebih dahulu datang karena ada urusan keluarganya yang ada di Indonesia.
"Eh, Al. Hai bro!." ucap Glen membalas tosan tangan Alvero.
"Akhirnya setelah tiga tahun kita bisa ketemu juga. gimana kabar mu selama ini, Glen?."
"Yah, gini lah bro, aku baik-baik saja selama ini. Kamu bagaimana?."
"Yah, seperti yang kamu tahu, siapa yang baik-baik saja kalau mengikuti alur kedua orang tua." Ucapnya menerima nasip nya yang selalu mengikuti apa perkataan kedua orang tuanya sampai tidak pernah bebas melakukan apa yang dia mau dalam hidupnya, semuan tentang hidupnya dikendalikan kedua orang tuanya.
"Haha, memang harus seperti itu bro, kalau mau jadi anak alim."
"Sebenarnya, aku muak sih kayak gini terus. Rasanya cape, aku malah pengen kayak kamu Glen hidup sesuai kemauan mu." Tuturnya.
Glen hanya bisa diam menekuk ludah nya saja.
"Tenang bro, ingat yang punya kendali sama dirimu ya kamu sendiri, selagi semuanya masih bisa kamu ubah maka lakukan, dari pada kamu akan menyesal pada akhirnya."
"Wah, bro. aku tidak pernah menyangka kamu akan berkata-kata seperti itu, seolah-olah kamu sudah pernah mengalaminya. Tapi benar juga apa kata mu."
Glen hanya tersenyum.
"Oh iya, kapan kamu kembali ke Eropa?." Tanya Glen mengalihkan pembicaraan.
"Em, kayaknya aku di sini masih satu bulan lagi. karna kakak ku mau menikah, dan butuh waktu yang sangat panjang untuk mempersiapkannya. Kamu kapan?."
"Aku, gak tahu."
"Lah?." Alvero menatap Glen bingung. "Oh iya tujuan mu datang kesini ngapain?, mau liburan?."
"Bukan."
"Trus, Apa?."
"Aku mau menemui seseorang."
Alvero terkekeh mendengar ucapan Glen. "Siapa?, cewe yang pernah kamu ceritakan dulu?."
"Hem," Ucap Glen mengangguk."
"Wah, bro. masih bertahan ya selama itu?, aku pikir kamu sudah melupakan dia."
"Aku gak bisa melupakan dia, meskipun aku berusaha melupakan dia. Gak tahu kenapa selama ini pikiran ku hanya dia saja."
"Ya ampun bro, aku turut prihatin sama perasaan mu. Trus gimana?, kamu sudah menemuinya setelah datang kesini?."
"Iya, kami pernah bertemu."
"Trus trus?."
"Tapi dia sudah pergi."
"Ha?, maksudnya gimana?."
"Kami bertemu di bandara, kemaren. aku keluar dia malah masuk dan tujuannya Internasional. artinya dia pergi keluar negeri dan aku tidak tahu dia kemana, dan kenapa pergi."
"Kenapa kamu gak mengehentikan dia Glen?."
"Aku memang bodoh, entah kenapa saat itu aku terdiam tiba-tiba sampai kehilangan dia."
"Yah, trus gimana dong ini?."
"Aku bakal usahakan mencari tahu tentang kehidupannya selama di sini, aku juga merasa kalau dia pergi cuman sementara saja dan bakal kembali lagi kesini. Dan aku akan menunggu dia, gak peduli kapan pun." ucap Gen bertekad.
"Trus kalau misal dia gak kembali?."
"Aku akan berusaha mencari dan menyusulnya."
"Wah, wah. kamu memang pria sejati Glen. kalau aku jadi kamu, aku pasti mencari wanita lain."
"Masalah nya dia itu wanita yang berbeda, Al. gak ada yang bisa menggantikannya dalam hidupku, entah kenapa aku selalu berharap bisa hidup selamanya dengan dia."
"Aku yakin, Glen, usaha mu pasti tidak akan sia-sia. Respect." Ucapnya mendukung Glen.
~2 Minggu berlalu~
Di kamara, Mira terlihat sibuk untuk mengemasi barangnya ke dalam koper. Dia berusaha untuk menyusun barang-barangnya sedemikian rupa agar muat didalam kopernya, yang sebelumnya ketika datang ke New Zealand kopernya masih terasa tidak penuh, sekarang malah tidak muat. Ya, benar dia sangat banyak berbelanja disini, membeli banyak ole-oleh untuk nya dan untuk orang-orang terdekatnya di Indonesia.
"Sepertinya aku membutuhkan tas lain untuk barang-barang ku ini, aku gak sadar membeli apa ajah selama ini sampai-sampai sebanyak ini." Ucapnya menghela nafas.
"Tenang, aku punya koper. masih baru, belum pernah aku pakai. kamu bisa pakai MIr. Bentar aku ambil ya."
Amira terharu kepada Melly yang selalu membantunya padahal tadinya berniat untuk memesan secara online saja.
"Kamu beneran, Mell?."
"Iya dong, masa bohongan sih."
Lagi-lagi Amira melihat gemas temannya itu dengan eskpresi imut nya.
"Haha, gak usah lebay. Ini dia, kamu bisa pakai, untuk kamu ajah."
"Makasih Melly sayang. Teman ter Good ku, Kamu memang selalu pengertian." Tuturnya terus memuji.
"Yah, jadi sepi lagi dong." Keluh Melly membayangkan Amira akan segera kembali Ke Indonesia.
"Cup cup cup, Aku juga sedih harus meninggalkan Melly ku disini, gak bisa menikmati masakan mu lagi dan entah kapan lagi aku bisa menikmatinya." Amira juga sama sedihnya, bisa dibilang selama disini dia sudah sangat betah, andai dia tidak punya usaha di Indonesia pasti dia akan pindah kesini supaya dekat dengan Melly.
"Maknya jangan pulang." UCap Melly bercanda.
"Hem, gimana ya?. Pengennya sih gitu, tapi apalah daya ku yang sebatang kara harus bekerja keras supaya bisa hidup."
"Halah, bisnis mu sudah seberkembang itu, dan kamu masih bisa mengatakan supaya bisa hidup?."
"Hahaha, belum berkembang. Doakan ya Mell, supaya cepat berkembang."
"Pasti dong, Aku selalu mendokan hal baik untuk mu kok."
"Sekali-kali doakan hal baik untuk mu juga, Mell biar segera dapat jodoh dan gak kesepian disini." Candanya.
"Heh, sebelum mengatai ku alangkah lebih baiknya pikirkan diri mu, Mir." Balasnya gak mau kalah.
"Seperti yang aku bilang, aku sudah nyaman sendiri. Gak butuh seorang lelaki lagi dihidup ku. Sementara kamu, dulu kamu sering curhat pengen dapat pacar. Tapi kok sekarang enggak lagi?, Kenapa?. Apakah kamu sudah patah semangat mencari lelaki?." Tanyanya sambil terkekeh.
Melly terdiam mendengar ucapan Amira barusan. Amira yang melihatnya pun menghentikan tawanya.
"Em, maaf Mell. Aku cuman bercanda." Jelasnya takut kalau Melly tersinggung dengan perkataanya barusan padahal niatnya cuman bercanda, dan biasanya juga Melly akan membalasnya dengan candaan tapi kali ini Melly hanya diam seperti memikirkan sesuatu.
"Ha?, Gak kok gak apa-apa. Benar kata mu Mir, aku gak bersemangat lagi cari Laki-laki." Ucapnya tersenyum.
"Ya ampun, sejak kapan teman ku ini patah semangat." Ucapnya geleng-geleng kepala menatap Melly yang seputus asa itu, tidak seperti Melly yang dulu setiap melihat pria ganteng langsung berusaha mengejarnya.
"Entah kenapa, semakin kesini semakin prinsipku sama kayak kamu, Lebih enak hidup sendiri."
"Hahaha, jangan salahkan aku kalau suatu saat kamu tersadar membutuhkan lelaki juga ya, Mell. Aku seperti ini karna hatiku sudah kandas di pria yang aku cintai, tapi dia mematahkan hati ku hingga aku tidak bisa membuka hati lagi sama pria lain. Sementara kamu, apa kamu mengalami hal yang sama juga, Mell?."
"Hem." Ucap Melly cemberut.
"Astaga astaga, pria mana yang menyakiti hati mu, biar ku hajar dia, bisa-bisanya dia memperlakukan sahabatku seperti ini."
"Heh, sebelum menghajar dia, hajar dulu pria yang menyakiti mu." Ledek Melly. Lalu mereka saling tertawa lepas merenungi kehidupan mereka yang ada saja masalahnya.