Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Setengah jam kemudian, pintu ruang operasi akhirnya terbuka.
Laila melangkah keluar dengan raut wajah lelah namun lega karena tindakan pembedahan berjalan sukses.
Ia sudah mengganti pakaian operasinya kembali ke pakaian semula, tetapi karena terburu-buru ingin menemui suaminya, Laila lupa mengenakan cadarnya yang tertinggal di ruang ganti.
Yusuf yang sedang berdiri menjaga area lorong refleks mendongak.
Saat matanya menangkap paras ayu Laila yang terpancar alami tanpa penutup wajah, ia tertegun sejenak.
"Masya Allah, ada bidadari." gumam Yusuf takjub tanpa sadar.
Laila yang mendengar bisikan itu mengulas senyum tipis yang amat manis dan menyejukkan.
Namun, dari dalam ruang tunggu VIP ber dinding kaca, Musa menyaksikan pemandangan itu.
Matanya membelalak kaget saat melihat wajah cantik istrinya terekspos bebas di depan pria lain—termasuk di hadapan Dokter Nakula yang masih duduk di sana.
Aura dingin yang mencekam seketika membakar dadanya.
Ceklek!
Pintu ruang tunggu dibuka dengan kasar. Musa bangkit berdiri, melangkah lebar dan cepat menghampiri Laila.
Sebelum ada pria lain yang sempat memuaskan pandangannya, Musa merogoh saku jasnya, mengambil selembar saputangan kain hitam miliknya, lalu dengan gerakan posesif dan cekatan menutupi bagian bawah wajah Laila dari belakang, mengikatnya lembut layaknya pengganti cadar.
"Musa," bisik Laila terkejut, mendongak menatap sepasang mata tajam suaminya yang berkilat penuh kecemburuan.
"Mana cadarmu, Gadis Nakal.?" ucap Musa rendah dan serak tepat di depan wajah Laila, menyalurkan nada protektif yang tak terbantahkan.
BUK!
Suara buket bunga mawar yang terjatuh ke lantai memecah keheningan.
Dokter Nakula, yang berdiri tak jauh dari sana, terpaku membisu dengan mata terbelalak kaget menyaksikan tindakan teramat mesra dan posesif dari pria yang dikiranya hanya seorang kenalan biasa itu.
"Laila," panggil Dokter Nakula terputus-putus, menatap tak percaya pada sepasang manusia di hadapannya.
Laila dengan lembut merapikan ikatan saputangan hitam milik Musa di belakang kepalanya, lalu membalikkan badan menghadapi Nakula.
Ia berdehem pelan, menetralkan rasa canggung atas keposesifan suaminya yang mendadak.
"Dokter Nakula, maaf." tutur Laila santun di balik penutup wajahnya.
"Perkenalkan, ini suami saya, Ustaz Musa."
"S-suami.?" sahut Dokter Nakula terbata-bata.
Mata Nakula membelalak lebar, memandangi Musa dan Laila bergantian.
Bunga mawar merah yang tadi dibawanya kini tergeletak begitu saja di atas lantai dingin rumah sakit, persis seperti hatinya yang mendadak mencelos hebat.
Pria bertubuh tegap berbusana muslim yang baru saja menjabat tangannya dengan begitu erat ternyata adalah pemilik sah dari wanita yang selama ini diam-diam diagungkannya.
Musa melangkah setengah jengkal ke depan, sengaja mengikis jarak dan menyembunyikan sebagian tubuh Laila di balik bahu kokohnya.
Tangan tegapnya mendarat di pinggang Laila, merangkulnya rapat-rapat dengan pendar mata tajam yang mengunci Nakula secara mutlak.
"Iya, Dokter. Laila adalah istri saya," potong Musa dengan suara berat, tenang, namun sarat akan penekanan kepemilikan yang mendinginkan suasana.
"Terima kasih sudah perhatian pada istri saya, tapi mulai hari ini, segala perhatiannya cukup menjadi urusan saya."
Di belakang Musa, Yusuf hanya bisa mengurut dadanya lega sembari membatin.
Untung cuma diancam pakai omongan, kalau versi mafia murni udah melayang itu buket bunga sekalian sama orangnya.
Melihat keterkejutan dan perubahan raut wajah rekan sejawatnya, Laila merasa tak enak hati.
Ia menghela napas pelan, mencoba mencairkan suasana yang teramat tegang di koridor tersebut.
"Dokter Nakula, silakan duduk sebentar," ajak Laila lembut sembari menunjuk kursi di ruang tunggu.
"Biarkan saya jelaskan semuanya."
Dokter Nakula menarik napas panjang dan melangkah gontai, mendudukkan dirinya di atas kursi dengan pandangan kosong.
Musa, meski hatinya panas, tetap berdiri kokoh tepat di samping Laila, menggenggam erat tangan istrinya seolah tak mau melepaskannya sedetik pun.
"Maafkan saya jika berita pernikahan ini mengejutkan Anda, Dokter Nakula," tutur Laila dengan nada santun dan tenang.
"Pernikahan kami memang berlangsung cukup cepat. Namun, saya sangat menghargai hubungan profesional dan kebersamaan kita selama ini. Saya ingin kita tetap berteman baik seperti dulu, Dokter."
Mendengar kata 'berteman', pertahanan diri Dokter Nakula runtuh seketika.
Setetes air mata menetes perlahan melintasi pipinya, jatuh tanpa bisa ia tahan.
Pria yang biasanya tampak gagah dan berwibawa di ruang operasi itu kini terlihat begitu rapuh.
"Berteman, Laila.?" bisik Nakula dengan suara bergetar dan serak.
Ia mendongak, menatap Laila dengan pendar luka yang mendalam.
"Kamu tidak pernah tahu, sudah sejak masa kuliah dulu aku memendam rasa padamu. Aku berjuang keras menjadi dokter spesialis agar bisa berdiri setara di sampingmu, Laila. Aku mencintaimu, sudah sangat lama."
Pengakuan tulus nan memilukan itu bergaung di udara.
Musa yang mendengarnya langsung memicingkan mata tajam, gurat kecemburuan kembali membakar rahangnya.
Namun, ia memilih menahan diri demi menghormati istrinya.
Nakula yang masih diliputi rasa syok dan patah hati hebat tak sanggup lagi berada di ruangan itu.
Ia langsung bangkit bergegas dari duduknya, membalikkan badan, dan melangkah pergi meninggalkan mereka tanpa menoleh lagi—membiarkan buket bunga mawar merahnya tertinggal layu di lantai.
Laila menatap punggung Nakula yang perlahan menghilang di balik belokan koridor dengan perasaan campur aduk. Ada rasa bersalah yang mengganjal di dadanya.
Ia berpaling, mendongak menatap sepasang mata tajam milik suaminya.
"Musa" bisik Laila lirih di balik kain penutup wajahnya.
"Apakah aku kejam?"
Musa menatap lurus ke dalam sepasang mata Laila yang berembun.
Aura dingin dan tegang yang tadinya membalut tubuh pria itu perlahan menyurut, berganti dengan tatapan yang teramat dalam dan sarat akan kelembutan.
Ia mengusap lembut sudut mata istrinya dari balik kain penutup wajah.
"Apakah kamu mencintainya?" tanya Musa pelan, suaranya terdengar begitu dalam dan menuntut kejujuran paling murni dari dasar hati Laila.
Laila menggelengkan kepalanya dengan cepat. Pandangannya tidak sedikit pun beralih dari iris mata Musa.
"Demi Allah, tidak, Musa. Di hatiku tidak ada lelaki lain selain suamiku," tegas Laila tulus tanpa ragu.
Musa mengulas senyum tipis—sebuah senyuman hangat yang jarang sekali ia perlihatkan kepada siapa pun di dunia ini.
Rasa cemburu membara yang sempat membakar dadanya sirna seketika, tergantikan oleh rasa lega yang membuncah.
"Aku percaya denganmu, Sayang. Dan, kamu tidak kejam." bisik Musa penuh kehangatan.
Ia meraih jemari Laila dan menggenggamnya erat. "Jadi, ayo kita pulang."
Krucuk... krucuk...
Suara nyaring dari dalam perut seseorang mendadak memecah momen romantis dan haru di koridor rumah sakit tersebut.
"Duh, Perut Umi lapar," celetuk Yusuf tanpa dosa sambil membungkuk mengambil buket bunga mawar yang tergeletak di lantai, lalu mengendus aromanya santai.
"Bunganya mubazir, Bos, buat saya pajang di markas saja."
Laila tersentak kaget, lalu menahan senyumnya, sementara Musa merotasikan matanya pasrah menatap tingkah tangan kanannya itu.
Musa kembali mengalihkan pandangannya pada Laila, merangkul pinggang istrinya protektif.
"Ayo, kita cari makan malam dulu. Kamu mau makan apa?"
"Terserah, Musa," jawab Laila pelan.
Musa menghentikan langkahnya sejenak, memiringkan kepala menatap Laila dengan raut wajah pura-pura bingung.
"Terserah? Apa ada masakan terserah? Atau rumah makan terserah?"
Laila yang tadinya masih merasa bersalah dan ingin meneteskan air mata, seketika menghapus sisa air matanya dan tertawa terbahak-bahak di balik kain penutup wajahnya.
Humor kering dari suaminya yang terbiasa bersikap dingin itu benar-benar tak terduga.
"Musa, ayo, ah! Aku lapar," seru Laila gemas sembari menarik pelan lengan suaminya.
"Kita beli sop iga saja!" ucap Laila yang ingin makan berkuah.
tp kak ,, khawatir juga sih kalo org udh gelap mata oleh rasa iri gx bisa di bendung ,, bisa berbuat nekat senekat nekat ny ,,
jgn sampe deh rumah tangga Musa dan Laila di ganggu oleh fitnah Musdalifah
😒😒😒😒😒🥱🥱🥱
makany jgn coba2 ngusik umi Laila ,,
jd hancur lebur kn Hrga diri kalian ,, 😏😏😏😏😏
umi Sinta bisa menerima Laila dg baik ,,
bisa2 ny pak kiyai nikahin perempuan model gtuu ,,
semangat Musa berantas semua org2 yg udh nyakitin Laila ,,
sedangkan Nakula ny B aj ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
msh aj di pilih ,, buka mata mu lebar2 umiiiiii