Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Tembok Berlin dan Benteng Strategi
Naya membelalakkan matanya lebar-lebar. “Merayap ke tengah?! Sembarangan kalau bicara!” pekiknya, berusaha keras menutupi detak jantungnya yang bergemuruh makin liar.
“Terserah kamu mau percaya atau tidak,” sahut Arka santai. Ia mengambil bantal guling tebal dari sudut ranjang, lalu membentangkannya tepat di tengah-tengah kasur sebagai garis pembatas yang tegas.
“Ini tembok Berlin kita malam ini. Melintasi garis ini berarti melanggar perjanjian,” ujar Arka, kemudian menatap Naya yang masih berdiri kaku di dekat pintu.
“Sekarang, masuk dan kunci pintunya. Atau kamu mau berdiri di sana sampai besok pagi dan membiarkan Tante Vina lewat untuk menangkap basah sandiwara kita?”
Ancaman terselubung itu sukses membuat Naya bergerak cepat. Ia melangkah masuk, memutar kunci pintu kayu mahoni itu hingga berbunyi klik, lalu berbalik dengan napas tertahan.
Sensasi berada di ruang pribadi Arka terasa begitu intens. Kamar ini tertata sangat rapi dan maskulin, mencerminkan kepribadian pemiliknya yang serba teratur, dingin, dan penuh perhitungan.
“Saya mau mandi dulu,” pamit Naya terburu-buru, matanya jelalatan mencari pintu kamar mandi.
“Pintu kaca di sebelah kiri,” petunjuk Arka singkat sembari membuka lemari pakaiannya. “Ada jubah mandi bersih di dalam. Baju ganti kamu belum sempat dibawakan dari apartemen, jadi pakai saja dulu baju saya yang ada di gantungan.”
Naya tidak membuang waktu. Ia menyambar kaos hitam polos berukuran besar yang ditunjuk Arka dan langsung melesat masuk ke dalam kamar mandi, menguncinya rapat-rapat.
Di dalam kamar mandi berlantai marmer yang mewah itu, Naya bersandar pada pintu, menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Ia memandangi pantulan dirinya di cermin besar. Pipi merah padam, mata berbinar panik, dan tatanan rambut yang sedikit berantakan.
“Fokus, Naya, fokus!” bisiknya pada diri sendiri sembari menepuk pelan kedua pipinya.
“Masalah utamamu bukan tidur satu ranjang dengan Arka, tapi gala dinner minggu depan! Kamu baru saja menyanggupi tantangan Oma Soraya di depan seluruh keluarga Dirgantara!”
Mengingat senyum culas Tante Vina dan tatapan meremehkan Rendy kembali menyulut api di dada Naya. Ia tahu, jika ia gagal mengelola acara yayasan itu, bukan hanya harga dirinya yang hancur, tetapi posisi Arka sebagai calon penerus utama juga akan goyah. Dan ia menolak menjadi batu sandungan bagi pria yang sudah menolongnya dari keterpurukan.
Dua puluh menit kemudian, Naya keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang membungkus tubuhnya. Kaos hitam milik Arka berukuran oversized jatuh hingga melampaui paha atasnya, dipadukan dengan celana kain santai yang bagian bawahnya harus ia gulung beberapa kali.
Saat pintu dibuka, aroma sabun mandi herbal langsung menyeruak ke luar.
Arka yang sedang duduk di tepi ranjang sembari memeriksa berkas di tablet digitalnya mendongak. Pandangannya terpaku selama beberapa detik pada penampilan Naya. Rambut basah wanita itu terurai berantakan, dan pakaian serba kebesaran yang ia kenakan justru memberikan kesan rapuh sekaligus menggemaskan yang tidak pernah Arka duga sebelumnya.
Arka berdehem pelan, buru-buru memalingkan wajahnya kembali ke layar tablet. “Kamar mandinya bebas kamu pakai. Saya mandi sebentar.”
Pria itu bangkit, menyambar handuk, dan melangkah masuk ke kamar mandi tanpa mengungkit lagi penampilan Naya, meninggalkan Naya yang menghela napas lega di tengah ruangan.
Selagi Arka mandi, Naya memanfaatkan waktu untuk mendekati meja kerja Arka. Di atas meja kayu gelap itu, terdapat sebuah map tebal berlogo Yayasan Dirgantara.
Naya menatap map itu dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu. Tanpa ragu, ia membukanya pelan-pelan. Lembar demi lembar berisi daftar tamu VIP, konsep acara tahun lalu, hingga anggaran dana sosial mulai dipelajarinya dengan cepat. Otaknya yang terbiasa bekerja di bawah tekanan mulai memetakan strategi.
“Begitu rupanya...” gumam Naya pelan.
“Tante Vina pasti berpikir aku akan canggung menghadapi kalangan sosialita. Tapi dia lupa, acara galang dana bukan soal seberapa mewah dekorasinya, melainkan seberapa pintar kita menyentuh ego para donatur.”
“Analisis yang bagus.”
Naya terlonjak kaget sampai map di tangannya hampir terjatuh. Ia berbalik dan mendapati Arka sudah berdiri tak jauh di belakangnya. Pria itu hanya mengenakan celana piyama hitam dan kaos putih santai, dengan rambut pendeknya yang masih sedikit basah berantakan.
“Pak Arka kalau jalan bisa pakai suara tidak, sih?” protes Naya sembari mengelus dadanya.
Arka tidak menjawab protes itu. Ia berjalan mendekat, menyandarkan satu tangannya di tepi meja, tepat di samping tubuh Naya, membuat Naya terkurung di antara meja dan dada bidang Arka.
“Kamu benar-benar serius mau memegang gala dinner itu?” tanya Arka dengan suara rendah, tatapannya mendalam menatap manik mata Naya.
“Oma tidak pernah main-main. Satu kesalahan kecil, dia tidak akan segan menendangmu keluar dari rumah ini.”
Naya mendongak, menantang tatapan Arka tanpa gentar sedikit pun. Kecanggungan yang tadi menyelimutinya kini berganti dengan keteguhan yang tajam.
“Saya tahu risiko itu, Pak Arka,” jawab Naya tegas. “Dan justru karena Oma Soraya tidak main-main, saya akan membuktikan bahwa saya bukan beban untuk Anda. Saya tidak berniat menjadi titik lemah yang bisa dimanfaatkan Tante Vina.”
Arka memperhatikan pancaran keberanian di mata Naya. Ada rasa hangat yang asing menyelusup ke dalam dadanya, sebuah rasa kagum yang makin sulit ia sangkal.
Sudut bibir Arka terangkat tipis, membentuk lengkungan senyum tipis yang hampir tak terlihat. Perlahan, ia menegakkan tubuhnya, memberi Naya ruang untuk bernapas lega.
“Bagus kalau kamu sadar posisi,” ucap Arka santai sembari mematikan layar tabletnya. “Strategi gala dinner kita bahas besok pagi. Sekarang, saatnya tidur. Saya ada rapat direksi jam delapan pagi.”
Pria itu melangkah menuju sisi ranjang sebelah kiri, mematikan lampu utama kamar hingga menyisakan pendar hangat dari lampu tidur di atas nakas, lalu merebahkan tubuhnya di bawah selimut.
Naya menelan ludah. Pandangannya tertuju pada kasur berukuran king size yang kini tampak begitu mengintimidasi. Bantal guling yang membentang tegak di tengah-tengah ranjang menjadi satu-satunya benteng pertahanannya.
Dengan langkah ragu, Naya mendekat. Ia menaiki ranjang dari sisi kanan, menarik selimut sebatas dada, lalu berbaring membelakangi Arka. Seluruh otot tubuhnya terasa kaku, napasnya ditahan sehalus mungkin agar tidak menimbulkan suara.
Suasana kamar mendadak hening. Hanya terdengar detak jarum jam dinding dan hembusan napas teratur Arka dari seberang guling pembatas.
Suasana hening yang merayap di dalam kamar itu bukannya menenangkan, melainkan justru mempercepat detak jantung Naya. Aroma kayu cendana dan cedar yang maskulin khas milik Arka, terhirup jelas dari bantal dan selimut yang membungkus tubuhnya. Pria itu berada sangat dekat, hanya terpisah satu bentangan bantal guling yang diletakkan persis di tengah ranjang.
Naya memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memaksa otaknya beristirahat.
Namun, pikirannya melayang ke mana-mana, mulai dari bayangan ketegangan di meja makan malam bersama keluarga besar Dirgantara, tatapan licik Tante Vina, hingga tantangan penggalangan dana yayasan dari Oma Soraya.
“Bagaimana caranya memenangkan hati donatur senior tanpa terkesan memamerkan kemewahan yang sia-sia?” tanya Naya dalam hati. Pikirannya sibuk merancang strategi komunikasi hingga tanpa sadar ia berbalik badan, menghadapi bantal guling pembatas.
–tbc–
lanjut
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak