Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Edgar Melamar Ivy
Setelah makan malam itu, hubungan Ivy dan Edgar perlahan menjadi semakin dekat.
Hari demi hari, mereka semakin sering bertemu. Edgar selalu hadir di saat Ivy merasa kesepian. Tanpa pernah memaksa, pria itu perlahan mengisi hari-hari Ivy yang sebelumnya terasa begitu kosong.
Edgar selalu memiliki cara untuk membuat Ivy tersenyum.
Terkadang, dia mengajaknya berjalan-jalan ke taman, atau nonton, berburu kuliner, dan masih banyak lagi atau mereka hanya akan duduk bersama di apartemen Ivy sambil menikmati secangkir kopi dan berbicara tentang hal-hal sederhana.
Bagi Ivy, kebersamaan itu terasa begitu berharga, setelah bersama Edgar Ivy tidak lagi merasa sendirian lagi, bersama Edgar dia juga merasa lebih di hargai.
Setahun pun berlalu.
Selama satu tahun itu, Edgar tidak pernah sekalipun membuat Ivy merasa bahwa dirinya adalah seseorang yang harus dikasihani karena masa lalunya.
Edgar mencintainya apa adanya, tanpa memandang bagaimana masa lalu Ivy atau seperti apa Ivy dimasa lalu.
Dan tanpa Ivy sadari, perlahan hatinya kembali belajar mencintai.
Hari itu, Edgar mengajak Ivy pergi ke sebuah taman yang sangat indah. Taman itu dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran, sementara cahaya matahari sore membuat suasananya terasa hangat dan tenang.
Ivy berjalan di samping Edgar sambil tersenyum.
"Kenapa kau tiba-tiba mengajakku ke sini?" tanya Ivy penasaran, matanya terp
"Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu." Kata Edgar sambil tersenyum tipis.
Ivy terkekeh kecil.
"Setelah satu tahun, jawabanmu masih saja sama." Kata Ivy.
Edgar berhenti berjalan, Ivy yang tidak menyadarinya sempat melangkah beberapa langkah sebelum akhirnya berbalik.
"Edgar?"
Pria itu berdiri di belakangnya, kemudian perlahan Edgar berlutut di hadapan Ivy. Mata Ivy langsung membesar, tangannya refleks menutup mulut.
"Edgar..." Bisik Ivy.
Edgar mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Ketika kotak itu dibuka, terlihat sebuah cincin indah di dalamnya.
"Ivy Alexandra Myles."
Suara Edgar terdengar lembut, tetapi penuh keyakinan.
"Aku tahu kau pernah mengalami banyak hal yang membuatmu terluka. Aku juga tahu ada bagian dari masa lalumu yang mungkin tidak akan pernah bisa kau lupakan."
Ivy menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Tapi aku tidak ingin mengubah masa lalumu."
Edgar tersenyum, tatapannya tulus.
"Aku hanya ingin menjadi bagian dari masa depanmu." Lanjut Edgar.
Air mata Ivy perlahan jatuh, dia merasa sangat terharu, Edgar lalu mengulurkan tangannya.
"Jadi, Ivy Alexander Myles maukah kau menikah denganku?" Tanya Edgar sambil mengulurkan sebuah cincin pada Ivy, cincin yang terlihat begitu indah dan di berikan oleh seorang pria yang benar-benar tulus mencinta dirinya
Untuk beberapa saat, Ivy hanya terdiam. Di dalam pikirannya terlintas semua luka yang pernah dia alami. Luka yang pernah di berikan oleh keluarganya, oleh mantan suaminya Mateo, juga mantan mertuanya, apalagi setelah dia kehilangan putrinya Grizella. Semua rasa sakit yang pernah membuatnya merasa bahwa hidupnya tidak berguna, namun kini di hadapannya ada seseorang yang selalu membuatnya berharga dan membuatnya bahagia, seseorang yang selalu membuatnya tersenyum, dan seseorang yang benar-benar memilih dirinya.
Ivy menghapus air matanya, kemudian tersenyum.
"Ya."
Edgar tertegun.
"Ya?"
Ivy mengangguk sambil tertawa kecil di antara air matanya.
"Aku mau menikah denganmu, Edgar."
Senyum bahagia langsung menghiasi wajah Edgar, dia berdiri dan memasangkan cincin itu ke jari Ivy.
Kemudian, Edgar menggenggam tangan Ivy erat-erat.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ivy merasa bahwa mungkin hidup memang memberinya kesempatan kedua.
Bukan untuk menghapus masa lalunya.
Tetapi untuk memberinya masa depan yang jauh lebih indah.
Bersambung