Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.
Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.
Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.
Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.
Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.
Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAHAYA DI UJUNG KEGELAPAN
Mata Nyonya Tua Shen dan Shen Tingting berkaca-kaca. Kalimat mantap dari mulut Xiao Luo bergaung bagaikan sabda dewa di dalam gubuk kayu yang kusam itu.
Bagi keluarga yang telah pasrah menunggu maut di tanah terbuang ini, janji seorang wanita berpakain aneh dari dimensi lain bukanlah sekadar kebaikan—melainkan seutas tali takdir yang mengulur dari langit.
"N-Nona Xiao... apakah Anda bersungguh-sungguh?" suara Nyonya Tua Shen bergetar hebat. Jemarinya yang keriput melayang ragu, ingin menyentuh lengan Xiao Luo namun ditahannya karena takut impian indah ini mendadak buyar. "Dunia Anda... membawa makanan dan obat untuk kami?"
"Saya bersumpah," tegas Xiao Luo, matanya berbinar penuh keyakinan. Ia menunduk, menatap Shen Yu Jin yang bernapas teratur dalam dekapannya. "Lihat anak ini. Ia berhak untuk tumbuh dewasa. Saya punya akses ke makanan yang bergizi, susu yang bisa membuatnya kuat, dan obat yang bisa menyembuhkan sakit. Kalau sumur itu memang takdir yang diberikan padaku, maka aku tidak akan menyia-nyiakannya.
Shen Tingting menyapu air mata yang menetes di pipi tirusnya. Kepalan tangannya yang semula mengetat karena dendam pada ketidakadilan istana, kini perlahan melunak.
"Terima kasih... Terima kasih, Xiao Luo," bisik Tingting dengan nada serak, untuk pertama kalinya memanggil nama wanita itu tanpa keraguan.
"Tapi kita harus menyusun rencana," potong Xiao Luo, naluri praktisnya sebagai manusia abad ke-21 langsung bekerja. Ia menatap sekeliling ruangan yang serba kekurangan. "Aku tidak bisa langsung membawa barang dalam jumlah besar sekaligus. Orang-orang di pulau ini pasti akan curiga jika tiba-tiba gubuk kalian melimpah dengan makanan. Nyonya bilang tadi, di pulau ini ada pengawas kekaisaran dan puluhan keluarga buangan lainnya, bukan?"
Nyonya Tua Shen mengangguk cepat, teringat akan bahaya yang mengintai. "Benar sekali, Nona Xiao. Para prajurit pengawas sangat jeli. Jika mereka melihat kita memiliki barang-barang aneh atau makanan mewah, mereka bisa saja merampasnya—atau lebih buruk, menuduh kita mencoba menyelundupkan barang terlarang."
"Kalau begitu, aku akan membawakan bahan-bahan pokok yang bentuknya bisa disamarkan terlebih dahulu," jelas Xiao Luo. "Susu bubuk bayi, beras, garam halus, gula, dan beberapa obat-obatan dasar seperti antiseptik dan vitamin. Aku juga harus membeli wadah-wadah kayu atau kain kelim yang sesuai dengan zaman kalian agar tidak memancing kecurigaan."
Xiao Luo melirik jam di pergelangan tangannya—sebuah jam tangan digital yang untungnya tidak disadari oleh kedua wanita itu sebagai alat penunjuk waktu. Hari mulai beranjak malam di dunianya.
"Aku harus kembali ke duniaku sekarang untuk membeli pasokan pertama," ujar Xiao Luo perlahan. Ia dengan sangat hati-hati memindahkan Shen Yu Jin ke lengan Nyonya Tua Shen.
Ajaibnya, meski ada gerakan sedikit, bayi mungil itu hanya menggeliat pelan dan meneruskan tidurnya. Kehangatan yang diberikan Xiao Luo selama beberapa jam terakhir tampaknya telah memberikan rasa aman yang cukup bagi jiwanya yang rapuh.
"Hati-hati di jalan, Nona Xiao," bisik Nyonya Tua Shen penuh haru. "Pintu gubuk kami akan selalu terbuka untuk Anda."
Xiao Luo tersenyum hangat, lalu melangkah keluar menuju sumur tua di belakang gubuk. Dipimpin oleh pendar liontin giok yang masih berada di sakunya, ia melompati batas dunia dan kembali menyembul di pelataran rumah barunya yang tenang.
Langit malam telah membungkus kota. Udara segar membentur wajah Xiao Luo begitu ia memanjat keluar dari bibir sumur di belakang rumahnya. Suara bising kendaraan dari jalan raya yang berjarak beberapa blok seolah menyentak kesadarannya kembali—mengingatkan bahwa beberapa meter dari gerbang rumahnya, dunia modern berjalan seperti biasa.
Tanpa membuang waktu, Xiao Luo merengkuh tas pinggangnya. Ia memeriksa sisa uang tunai yang dimilikinya. Ada sekitar beberapa ratus ribu tersisa—sisa dari uang tabungan setelah membeli rumah tua ini.
"Cukup untuk tahap awal," gumamnya.
Ia bergegas berjalan kaki menuju minimarket 24 jam dan apotek terdekat. Di sana, Xiao Luo membeli dua kaleng besar susu formula khusus bayi usia nol hingga enam bulan, botol bayi sederhana (yang nanti akan ia pindahkan cairannya ke mangkuk kayu atau menggunakan kain bersih), beberapa kantong beras premium, gula pasir, garam, serta kotak pertolongan pertama yang berisi obat penurun panas, antiseptik, dan kain kassa.
Tak lupa, ia membeli beberapa bungkus roti gandum lunak dan makanan instan tinggi nutrisi yang bisa langsung dikonsumsi oleh Nyonya Tua Shen dan Tingting untuk memulihkan stamina mereka.
Sekembalinya ke rumah, Xiao Luo melakukan "penyamaran". Ia menyobek kemasan plastik bermerek modern, lalu mengemas ulang gula, garam, dan beras ke dalam kantong-kantong kain polos yang ia temukan di lemarinya. Susu bubuk ia masukkan ke dalam toples kaca polos tanpa label.
"Sempurna," bisik Xiao Luo puas.
Mengangkat tas ransel tebal berisi perbekalan tersebut, Xiao Luo kembali melangkah ke pelataran tengah rumahnya. Dengan percaya diri, ia turun ke dasar sumur kering dan melangkah menembus tirai gaib menuju Pulau Pengasingan.
Grebeg...
Langkah kaki Xiao Luo yang mendarat di tanah gersang membuat Shen Tingting yang berjaga di ambang pintu gubuk langsung berdiri kaget. Saat matanya menangkap sosok Xiao Luo yang memikul ransel besar, wajah pucat gadis itu seketika diterangi oleh binar kebahagiaan.
"Xiao Luo! Kau... kau benar-benar kembali!" panggil Tingting setengah berbisik, bergegas menyambutnya.
"Aku sudah berjanji, kan?" Xiao Luo tersenyum tipis seraya menyapu peluh di dahi. "Ayo masuk. Kita harus menyeduh susu untuk Yu Jin dan memberi kalian makanan."
Di dalam gubuk yang hanya diterangi penerangan lilin minyak yang redup, Xiao Luo membongkar muatan ranselnya di atas meja kayu yang berdebu. Nyonya Tua Shen dan Shen Tingting menatap benda-benda yang dikeluarkan Xiao Luo dengan mata membelalak tak percaya.
Kain-kain bungkusan itu dibuka. Butiran beras putih yang begitu bersih tanpa kerikil, gula pasir manis yang begitu halus, serta aroma harum gandum dari roti segar langsung menyerbu indra penciuman mereka yang telah berbulan-bulan hanya mengecap sup encer berbau lempung.
"Ini... beras jenis apa? Mengapa begitu bersih dan harum?" bisik Shen Tingting takjub saat meraba butiran beras dari dunia modern.
"Ini beras dari duniaku," sahut Xiao Luo. "Dan ini adalah bubuk nutrisi pengganti air susu ibu. Tolong ambilkan air hangat, aku akan menyeduhkannya untuk Yu Jin."
Dengan cekatan, Xiao Luo menyeduh susu formula hangat di dalam mangkuk tanah liat milik keluarga Shen. Menggunakan sendok kayu kecil, ia dengan sabar meneteskan susu hangat itu ke dalam mulut Shen Yu Jin yang telah terbangun.
Begitu mengecap rasa manis dan gurih dari susu formula modern, bayi mungil itu langsung mengisap sendok dengan lahap. Tak ada lagi tangisan melengking; yang ada hanyalah tegukan-tegukan kecil penuh dahaga yang akhirnya terpuaskan.
Nyonya Tua Shen menutupi mulutnya, menahan tangis haru yang pecah saat melihat cucunya menyusu dengan sangat tenang. "Tujuh hari... tujuh hari ia menyiksa dirinya dengan kelaparan. Dan malam ini... dewa mengirimkan penyelamat."
Xiao Luo menyodorkan sepotong roti gandum hangat dan secangkir air gula hangat kepada Nyonya Tua Shen dan Tingting. "Makanlah ini dulu. Tubuh kalian sangat lemah. Kalian tidak akan bisa menjaga Yu Jin jika kalian sendiri pingsan kelaparan."
Dengan tangan gemetar, Nyonya Tua Shen menerima roti itu. Gigitan pertama membuat air matanya menetes semakin deras. Kelembutan dan rasa manis roti gandum itu bagaikan makanan surgawi bagi lidah yang sudah terbiasa dengan penderitaan.
Saat kedua wanita itu menikmati makanan yang sudah lama tidak mereka kecap, Xiao Luo memandangi mereka dengan pikiran yang berputar cepat.
Ini baru permulaan, batin Xiao Luo. Aku tidak bisa hanya mengandalkan gajiku yang tiga juta untuk menopang kehidupan dua dunia. Aku harus mencari cara untuk menghasilkan uang lebih banyak di duniaku... atau mungkin memanfaatkan potensi di tempat ini.
Tiba-tiba, mata Xiao Luo tertambat pada sebuah kotak kayu tua yang tergeletak terbuka di sudut ruangan. Di dalamnya, terdapat sisa-sisa kain sulam tangan milik mendiang Xin Nian dan beberapa helai tanaman herbal liar yang dikeringkan oleh Shen Tingting.
Sebuah gagasan cemerlang perlahan terbit di benak Xiao Luo—sebuah rencana yang mungkin tidak hanya akan menyelamatkan keluarga Shen, tetapi juga mengubah garis nasibnya sendiri di dunia modern.