NovelToon NovelToon
My Shit Boss

My Shit Boss

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: ikesweetdevil

Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.

Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.

Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.

Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.

Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 18

Part 18

Keesokan paginya, Alfan menghela nafas panjangnya sembari menatap ke arah Tina yang tampak begitu pulas di alam tidurnya. Sedangkan saat ini Alfan berada di tepi ranjangnya, memperhatikan Tina setelah meletakkan sarapan di atas mejanya.

"Kamu pasti sangat lelah menjadi tulang punggung selama ini? Tapi aku justru mempermainkanmu dengan alasan supaya aku bisa dekat denganmu. Maafkan aku, aku tidak tahu kisah hidupmu, aku bahkan baru tahu bila papamu lumpuh. Aku memang lelaki egois, tanpa kamu tahu alasanku." Alfan membelai pipi Tina, merapikan anak rambut yang berada di wajahnya. Sampai saat empunya membuka mata, wajah ayunya tampak terkejut saat melihatnya.

"Bapak? Bapak kenapa pegang-pegang pipi saya?" Tina membangunkan tubuhnya, kakinya meringkuk sedikit menjauh dari keberadaan bosnya.

"Saya cuma mau membangunkan kamu untuk sarapan. Kamu tidur sudah kaya orang disuntik mati, padahal ini kan sudah pagi." Alfan mendirikan tubuhnya, ekspresinya tampak tak suka meski sebenarnya hanya ingin menutupi rasa bersalahnya.

"Maaf, Pak. Saya kelelahan." Tina menundukkan wajahnya, merasa bersalah dengan bosnya.

"Ya sudah, kamu sarapan saja dulu." Alfan menunjuk ke arah makanan yang baru ia pesan, sedangkan Tina hanya mengangguk mengerti.

"Terima kasih, Pak." Tina mengambil makanannya lalu melahapnya, di depannya Alfan mendudukkan tubuhnya di ranjang, matanya tertuju ke arah Tina yang memang tampak sangat lelah.

"Sejak umur berapa kamu bekerja sendiri?" tanya Alfan tiba-tiba, yang ditatap tak mengerti oleh Tina.

"Kenapa Bapak tiba-tiba bertanya hal itu?"

"Tidak apa-apa, saya cuma ingin tahu."

"Saya bekerja sendiri sejak Papa saya lumpuh, tepatnya sejak saya lulus SMA." Tina tersenyum tipis lalu kembali memakan sarapannya.

"Kalau boleh saya tahu, Papa kamu memiliki penyakit apa sampai bisa lumpuh?"

"Papa saya mengalami kecelakaan ...."

"Kecelakaan mobil?" tanya Alfan penasaran namun nada suaranya masih terdengar tenang.

"Mungkin ...." Tina menjawab bohong lalu menundukkan wajahnya, diam-diam ia menangis mengingat masa lalunya.

"Kamu ... kenapa nangis?" Alfan kembali mendirikan tubuhnya, merasa khawatir dengan kondisi asistennya.

"Tidak apa-apa, Pak. Maaf ...." Tina meletakkan makanannya lalu mengusap wajahnya yang basah, sedangkan Alfan mulai duduk di sampingnya, ia juga takut Tina kenapa-kenapa.

"Maafkan saya, bila ucapan saya sudah menyakiti kamu." Alfan berujar penuh rasa bersalah, tangannya merengkuh jari-jari Tina dengan hangat, berusaha untuk menenangkannya.

"Tidak kok, Pak. Saya saja yang cengeng." Tina menyunggingkan senyumnya, berusaha terlihat baik-baik saja meski yang terjadi air matanya terus-terusan jatuh membasahi pipinya.

"Pasti semua itu berat untuk kamu ...." Alfan memeluk tubuh Tina, membuat wanita itu bingung dengan sikapnya, meski ia sendiri tak memungkiri bila pelukan bosnya itu begitu menenangkan perasaannya.

"Maafkan saya bila selama ini saya terlalu keras menjadi bos kamu." Alfan melanjutkan ucapannya yang kian membuat Tina tak paham.

"Tidak kok, Pak. Kan ini sudah menjadi konsekuensi saya sebagai asisten pribadi Anda." Tina menarik tubuhnya, matanya sudah tak menangis lagi, bahkan wajah ayunya tampak kebingungan dengan sikap bosnya sekarang.

"Tapi tetap saja, saya terlalu keras ke kamu." Alfan menjawab seadanya, wajahnya tertunduk penuh rasa bersalah.

"Bapak salah makan ya?" tanya Tina yang mulai aneh dengan kelakuan bosnya yang tidak biasanya itu, sikapnya bahkan lebih mencurigakan dari pada saat dia tersenyum ingin menertawakannya.

"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?"

"Ya karena tidak biasanya Bapak bersikap seperti ini apalagi sampai mau minta maaf ke saya." Tina sedikit menjauhkan tubuhnya, tentu saja ia harus waspada kalau-kalau bosnya hanya ingin bersikap kurang ajar dengannya.

"He, apa ini caramu menanggapi permintaan maaf bos kamu? Saya ini sudah sangat tulus meminta maaf, tapi kamu malah menuduh saya salah makan? Saya tidak salah makan, saya benar-benar sadar ingin meminta maaf ke kamu. Harusnya kamu itu langsung memaafkan saya, bukan menuduh saya." Alfan mendirikan tubuhnya, merasa tak percaya dengan tanggapan Tina yang justru terkesan ingin mencemoohnya.

"Kalau seperti ini saya yakin Bapak sudah kembali ke asalnya. Lebih baik seperti ini, Pak. Bapak minta maaf itu justru terlihat aneh untuk saya," ujar Tina sembari terkekeh yang tentu saja membuat Alfan kesal meski di dalam hati ia merasa bahagia bisa melihat Tina tersenyum dengan indah.

"Terserah kamu saja." Alfan kembali duduk di ranjangnya, berusaha terlihat tenang seperti biasanya.

"Ya sudah kalau begitu saya lanjut sarapan ya, Pak."

"Hm." Alfan mengambil ponselnya, sampai saat ia mengingat sesuatu hal yang ingin ia tanyakan pada Tina.

"Kamu sudah bawa baju untuk pergi ke acara nanti malam?" tanya Alfan sembari menatap ke arah Tina yang terlihat berpikir sekarang.

"Baju kerja saya kan, Pak? Saya bawa kok." Tina menjawab seadanya, yang tentu saja membuat Alfan kebingungan dengan jawabannya.

"Baju kerja? Kita itu ke Surabaya untuk menghadiri acara pertunangan, dan kamu malah bilang kalau kamu cuma bawa baju kerja?" tanya Alfan terdengar syok, matanya bahkan hampir tak berkedip ke arah Tina yang tampak tak mengerti dengan maksud ucapannya.

"Memangnya saya harus pakai apa, Pak? Kan saya asisten pribadi Anda, jadi saya harus pakai baju kerja kan?" tanya Tina polos.

"Setidaknya kamu harus pakai gaun formal."

"Maaf, Pak. Saya tidak punya."

"Ya sudah cepat selesaikan sarapan kamu, terus kamu mandi, lalu siap-siap, kita akan pergi cari baju buat kamu." Alfan menjawab tegas, ucapannya terdengar perintah yang langsung Tina angguki.

"Iya, Pak."

1
Renjana
aku pun ikut kaget,🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!