Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.
Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.
Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.
Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.
Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.
Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”
Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Malam kedua setelah Lorenzo kembali ke rumah berjalan jauh lebih tenang. Setidaknya bagi Alina.
Sebelum masuk ke kamar Lorenzo, dia berganti pakaian dengan piyama panjang. Wanita itu langsung naik ke ranjang tanpa banyak bicara. Ia menarik selimut sampai menutupi tubuhnya, kemudian membelakangi Lorenzo. Tiga bantal diletakkan di belakang punggungnya.
Lorenzo yang sedang duduk di sisi lain ranjang memperhatikan deretan bantal tersebut dengan wajah tidak percaya.
"Ini buat apa?"
Alina tidak menjawab.
Lorenzo mengambil salah satu bantal. "Kamu membuat benteng? Padahal aku tidak melakukan apa-apa."
"Tidurlah!"
Lorenzo menatap punggung Alina. Wanita itu membungkus tubuhnya dengan selimut begitu rapat sampai hanya bagian belakang kepalanya yang terlihat. Kalau dilihat dari belakang, bentuk tubuhnya bahkan hampir tidak terlihat.
Lorenzo menyipitkan mata. "Kenapa kamu membungkus diri seperti itu?"
"Aku kedinginan."
"Perasaan AC-nya tidak terlalu dingin."
"Aku tetap kedinginan."
"Mau aku peluk, biar hangat?" bisik Lorenzo dengan senyum nakal.
"Jangan macam-macam kamu, Lorenzo!" tegur Alina tegas.
Lorenzo menghela napas. Ia akhirnya berbaring. Namun begitu kepalanya menyentuh bantal, pandangannya kembali tertuju pada sosok di sebelahnya. Alina terlihat seperti ulat yang sedang membungkus diri dalam kepompong. Lorenzo hampir tersenyum.
Lorenzo kembali teringat dengan kejadian di kamar Alina tadi. Dia sempat melihat wanita itu mengenakan pakaian tidur seksi yang membuatnya sulit mengalihkan pandangan.
Sekarang? Alina memakai piyama. Bahkan bukan piyama biasa. Piyama itu bergambar kartun Doraemon.
Lorenzo berkedip. Kemudian menghela napas pelan.
"Kenapa dia memakai piyama Doraemon? Padahal pakaian tadi cocok dengannya."
Rasa kecewa muncul begitu saja. Lorenzo tadinya sempat berharap malam ini bisa melihat Alina dengan pakaian tidur yang tadi. Ternyata yang didapatnya justru Doraemon.
Lorenzo memalingkan wajah. Seharusnya dia tidak berharap macam-macam. Namun beberapa detik kemudian, matanya kembali melirik.
"Benar-benar Doraemon."
Alina yang mendengar gumaman itu membuka mata. "Kamu bilang apa?"
"Tidak ada."
"Kalau mau tidur, tidur." Alina kembali memejamkan mata.
Lorenzo pun berbaring sambil menatap langit-langit. Ia berusaha tidur. Tetapi pikirannya justru sibuk sendiri.
Lorenzo mengusap wajah. "Sudahlah."
Malam itu tidak ada pelukan. Tidak ada drama. Hanya tiga bantal sebagai perbatasan negara dan seorang wanita yang berubah menjadi ulat Doraemon di sisi lain ranjang.
Pagi harinya, rumah mendadak ramai.
"Alina!" Suara seorang wanita terdengar dari ruang depan.
Alina yang sedang menyiapkan sarapan langsung menoleh. Valentina, Ibu Lorenzo datang membawa beberapa kantong makanan. Alina segera menghampirinya.
"Mama?"
Valentina mengangkat kantong di kedua tangannya. "Mama membawa makanan untuk Lorenzo. Ada sup, buah, sayuran, dan beberapa makanan bergizi."
Alina membantu mengambil sebagian. "Wah, banyak sekali."
"Untuk anak Mama yang baru keluar dari rumah sakit." Valentina berjalan menuju ruang makan. "Lorenzo mana?"
"Masih di kamar."
"Sudah bangun?"
"Sudah."
Valentina mengangguk. Namun, baru beberapa langkah, ia mendengar suara Lorenzo dari arah tangga.
"Tumben Mama datang pagi-pagi." Pria itu muncul dengan pakaian formal.
Valentina langsung menatap putranya dari atas sampai bawah. "Kamu mau ke mana?"
Lorenzo berhenti. "Ke kantor."
Valentina membelalakkan mata. "Apa?"
Lorenzo berdeham. "Aku hanya mau memeriksa beberapa pekerjaan."
"Memeriksa pekerjaan!" Valentina meletakkan kantong makanan di meja dengan agak keras. "Kamu baru keluar dari rumah sakit seharusnya beristirahat."
"Aku merasa sudah lebih baik," balas Lorenzo.
"Lebih baik bukan berarti sudah sembuh!"
Lorenzo membuka mulut. "Tapi—"
"Tidak ada tapi-tapi!" Valentina langsung menunjuk kursi. "Duduk!"
Lorenzo terdiam.
"Duduk!" Valentina kembali memberi perintah sambil menunjuk ke arah kursi.
Dengan wajah pasrah, Lorenzo akhirnya duduk.
Alina yang berdiri di samping meja hanya bisa menahan napas. Ia sudah tahu. Sebentar lagi giliran dirinya.
Dan benar saja. Valentina menoleh kepadanya.
"Alina."
"Iya, Ma."
"Kenapa kamu membiarkan Lorenzo pergi bekerja?"
Alina membeku. "Aku sudah melarangnya."
"Melarang?"
"Iya."
Valentina mengerutkan kening. "Kalau begitu kenapa dia masih ingin pergi?"
Alina melirik Lorenzo. Pria itu pura-pura memperhatikan mangkuk di meja. Alina hampir ingin menunjuknya.
"Karena dia tidak mau menurut!"
Namun yang keluar dari mulutnya hanya, "Dia bilang pekerjaannya penting."
Valentina kembali menatap Lorenzo. "Kamu dengar sendiri, kan? Istrimu sudah melarang."
Lorenzo diam.
Alina menghela napas. Dalam hati, ia mulai mengomel.
"Bagus. Sekarang aku yang kena. Padahal dari tadi aku sudah bilang jangan pergi. Orang ini memang keras kepala. Coba kalau dia menurut, aku tidak akan dimarahi."
Lorenzo yang mendengar ocehan itu menundukkan kepala. Sudut bibirnya hampir bergerak. Namun ia buru-buru mengambil gelas air putih.
Valentina terus berbicara. "Kamu harus istirahat. Jangan memaksakan diri."
"Iya, Ma. Aku akan istirahat."
"Dan kamu, Alina."
Alina langsung tegak. "Iya, Ma."
"Tolong pastikan Lorenzo tidak pergi ke kantor."
Alina tersenyum kaku. "Baik, Ma."
Dalam hati ia mengeluh.
"Kenapa aku yang harus jadi penjaga di rumah ini? Kalau nanti dia kabur ke kantor, apa aku harus mengikat kakinya?"
Lorenzo hampir tersedak air.
Alina langsung menoleh. "Kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa."
Valentina memandang keduanya bergantian. "Pokoknya Lorenzo tidak boleh bekerja hari ini."
"Iya, Ma," jawab Alina.
Lorenzo mengangguk pasrah. "Baik."
Setelah sarapan, Alina bersiap pergi bekerja. Sebelum keluar rumah, ia kembali mengingatkan Lorenzo.
"Jangan pergi ke mana pun. Tetap diam di rumah," ucap Alina memberi peringatan.
"Aku tahu."
"Obatnya jangan lupa diminum."
"Iya."
"Kalau butuh sesuatu, telepon."
Lorenzo mengangguk.
Alina menunjuknya. "Dan jangan berpikir untuk pergi ke kantor diam-diam."
Lorenzo mengangkat alis. "Aku tidak akan pergi."
Alina masih curiga. Ia akhirnya berbalik dan berjalan keluar.
Begitu pintu tertutup, Lorenzo bersandar di kursinya. Rumah kembali sunyi. Dia pun memutuskan untuk bekerja di rumah.
Menjelang siang, bel rumah berbunyi. Lorenzo mengernyit. Ia merasa tidak sedang menunggu siapa pun.
Dengan langkah hati-hati dengan menggunakan kruk, ia menuju pintu. Begitu pintu dibuka, wajah Lorenzo langsung berubah.
Bianca berdiri di depan rumah. Wanita itu tersenyum. "Hai."
Lorenzo membeku. "Bianca?"
"Kamu terkejut?"
Selama bertahun-tahun, Bianca tidak pernah datang ke rumahnya. Lorenzo selalu bertemu Bianca di tempat lain yang mereka sepakati sebelumnya. Lorenzo tidak pernah memberikan Bianca kebebasan untuk datang ke rumah atau kantornya.
Sekarang wanita itu berdiri tepat di depan pintu. Lorenzo langsung merasa tidak nyaman.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Bianca mengangkat sebuah tas. "Aku ingin bertemu denganmu."
"Kita bisa bertemu di tempat lain."
Bianca mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin kamu datang ke rumah." Nada Lorenzo tegas.
Bianca terdiam sesaat. Kemudian tersenyum tipis. "Aku hanya ingin membicarakan sesuatu yang penting."
"Apa?"
"Tentang perceraianmu."
Mata Lorenzo langsung berubah. Ia menatap Bianca beberapa detik. Jadi itu alasannya datang.
Bianca melangkah maju. "Boleh aku masuk?"
Lorenzo berdiri di ambang pintu. Ia tidak langsung menjawab. Kemudian pikirannya bergerak cepat. Bianca datang untuk membicarakan perceraian. Ini justru kesempatan yang tidak boleh ia lewatkan.
Lorenzo akhirnya membuka pintu lebih lebar. "Masuk."
Bianca tersenyum dan masuk ke dalam. Namun begitu melewati pintu, pandangannya menyapu ruangan.
"Rumahmu sangat nyaman, walau tidak terlalu besar."
Lorenzo tidak menjawab.
Bianca duduk di sofa. "Bagaimana proses perceraian kamu?"
Lorenzo ikut duduk dengan jarak cukup jauh. Dia sudah menyiapkan jawabannya. Pria itu menyandarkan tubuh dan menghela napas.
"Setelah kecelakaan itu, aku kehilangan sebagian ingatan."
Bianca menatapnya. "Sebagian?"
"Ya."
"Apa saja yang kamu lupa?"
Lorenzo menggeleng. "Aku tidak tahu apa saja. Yang jelas kejadian-kejadian sebelum kecelakaan aku lupa."
Bianca mengerutkan kening.
Lorenzo melanjutkan dengan suara lebih berat. "Dokter melarang ku memaksakan diri mengingat kejadian yang terlupakan."
"Kenapa?"
"Katanya trauma di kepala masih dalam masa pemulihan." Lorenzo menatap Bianca. "Kalau aku memaksakan ingatan itu kembali, kondisiku bisa memburuk."
Bianca terlihat terkejut. "Serius?"
"Serius." Lorenzo mengangguk. "Dokter bilang aku tidak boleh mengejar ingatan yang hilang."
Ia sengaja memberikan penjelasan dengan tenang, tetapi dramatis. Dan itu cukup untuk membuat Bianca percaya.
Namun di balik wajah tenangnya, Lorenzo sedang memperhatikan setiap gerakan wanita itu. Perubahan ekspresi Bianca. Cara matanya bergerak. Cara tangannya menggenggam tas. Semuanya ia perhatikan.
Bianca kemudian bertanya, "Jadi, kamu belum mengajukan gugatan perceraian karena itu?"
"Untuk sekarang, iya."
"Kalau ingatanmu kembali?"
Lorenzo diam sesaat. "Itu urusan nanti."
Bianca terlihat tidak puas. "Tapi kamu tetap ingin menceraikan Alina?"
Lorenzo menatapnya. "Aku tidak tahu. Karena aku tidak bisa memaksakan sesuatu yang tidak kuingat."
Jawaban itu membuat Bianca terdiam. Lalu, mengangguk perlahan.
Lorenzo melihat sesuatu yang membuatnya semakin curiga. Ada ketegangan di wajah Bianca. Seolah wanita itu tidak datang hanya untuk menanyakan kondisi Lorenzo. Ada sesuatu yang lebih penting baginya. Dan Lorenzo ingin tahu apa itu.
"Kenapa kamu begitu ingin tahu soal perceraian?"
Bianca tersenyum. "Aku hanya peduli padamu."
Lorenzo menatapnya tanpa ekspresi. Dulu mungkin ia akan langsung percaya. Sekarang tidak.
Lorenzo menyilangkan tangan. "Begitu?"
"Tentu." Bianca tersenyum manis.
Namun kali ini, Lorenzo tidak membalas senyum itu. Di dalam pikirannya hanya ada satu hal. "Kenapa kamu berani datang ke sini. Jelas-jelas sudah aku larang, tapi berani melanggar. Pastinya ada sesuatu."
Lorenzo merasa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya justru menjadi berkah tersembunyi. Jika kecelakaan itu tidak terjadi, mungkin ia sudah sibuk mempersiapkan perceraian. Mungkin ia tidak pernah mempertanyakan cinta dan kesetiaan Bianca. Dan mungkin ia tidak pernah menyadari bahwa selama ini ada begitu banyak hal yang tidak ia ketahui.
Lorenzo menatap wanita di depannya. Sekarang ia hanya perlu bersabar. Sampai bukti yang dicari Marcus datang.
Alina di lawan
pasti membekas di hati
bagus Aal, kamu jangan mudah terprovokasi oleh kata2 Bianca..walaupun ada kata2 Bianca yg sedikit nya benar, tp kamu jangan takut..karena status kamu lebih tinggi dr pada Bianca yaitu seorang istri,,skali pun terjadi nya pernikahan karena perjodohan..tp kamu lebih kuat kedudukan nya, apalagi skarang Lorenzo nya udh mulai membuka hati dn membuka mata..klo selama ini dia udh d berikan berlian berkat perjodohan....
penasaran niii Thor 😆😍🙏🙏