Empat kehidupan, satu takdir terlarang. Di balik aura Antartika sang putri tersembunyi, ada pengawal Yakuza yang rela menantang maut demi melindunginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KimiHaruka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Sisi.....
Pintu kamar Yoona terkuak sedikit sebelum tertutup dan terkunci rapat. Begitu melangkah melewati ambang pintu, dunia luar yang kaku dan penuh ornamen kayu kuno khas klan Yakuza mendadak hilang, berganti menjadi surga pribadi Yoona. Di satu sudut kamar yang luas itu, berjejer rak-rak kaca berlampu LED yang memajang puluhan limited edition action figure, deretan manga langka, serta meja PC gaming spek dewa dengan rgb lighting bernuansa soft pink dan ungu.
Yoona melepaskan kacamata hitamnya dan duduk bersila di atas karpet bulu yang empuk. Di depannya, berdiri beberapa kotak kardus besar berisi figurine mahal yang baru saja tiba sore tadi—hasil gesekan black card tanpa pikir panjang.
Kakashi melepaskan jas hitam mewahnya dan menyampirkannya di sandaran kursi. Dia menggulung kemeja hitamnya hingga ke siku, memperlihatkan guratan otot lengan serta ukiran samar tato Yakuza (Irezumi) yang membentang di kulitnya. Kain penutup wajahnya diturunkan sedikit, memperlihatkan garis rahang yang tegas dan bibir tipis yang jarang tersenyum di depan orang lain.
"Nuna, pisau pemotongnya jangan dipegang seperti itu, nanti jarimu tergores," tegur Kakashi dengan suara berat yang sangat lembut.
Kakashi berlutut di sebelah Yoona, mengambil alih pisau pemotong dari jemari gadis itu. Dengan gerakan yang sangat presisi dan hati-hati—khas keahlian tangan seorang eksekutor—Kakashi memotong selotip kardus tanpa menggores sedikit pun permukaan dus kolektor di dalamnya.
Yoona mengamati jemari Kakashi yang cekatan. Begitu dus berhasil dibuka, wajah Yoona yang biasanya membeku bagaikan benua Antartika mendadak berbinar terang. Bibirnya mengukir senyum lebar saat mengeluarkan scale figure karakter favoritnya dari dalam kemasan.
"Akhirnya datang juga... Seri ini susah banget dicari," gumam Yoona gembira, mengangkat figur tersebut ke arah cahaya lampu kamar.
Kakashi sama sekali tidak melihat ke arah figur mahal itu. Pandangannya sepenuhnya terkunci pada wajah Yoona. Bagi Kakashi, pameran figur berharga jutaan yen ini tidak ada artinya dibanding melihat binar bahagia di mata gadis di depannya. Binar yang cuma Kakashi seorang yang berhak menikmatinya.
"Kamu suka?" tanya Kakashi pelan.
"Suka banget," sahut Yoona pendek. Namun, beberapa detik kemudian, binar di matanya perlahan redup. Yoona menatap jajaran koleksinya di rak kaca dengan pandangan menerawang. "Cuma di kamar ini aku merasa jadi manusia biasa. Bukan 'kartu truf' Uchiha, bukan cewek terbuang yang dianggap tidak ada sama Ayah."
Kalimat itu meluncur pelan, tapi membawa kekecewaan mendalam yang selama ini dipendam Yoona. Fakta bahwa dia harus selalu disembunyikan dan diasingkan dari acara kumpul keluarga bulanan adalah luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Kakashi menghentikan aktivitasnya. Dia bergeser mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Tangan besarnya yang hangat terulur, menyentuh lembut pipi Yoona dan mengusapnya dengan ibu jari.
Saat Yoona menoleh, tatapan mata Kakashi terasa begitu intens dan dalam. Kerah kemeja Kakashi yang agak terbuka di dekat leher menyembunyikan tatanan tato bertuliskan nama "Yoona"—sebuah rahasia abadi yang tak pernah Kakashi ungkapkan.
"Bagi dunia luar, kamu mungkin dirahasiakan, Nuna," bisik Kakashi, suaranya sarat akan rasa protektif dan kasih sayang yang mendalam. "Tapi di sini... di mata saya, kamu adalah satu-satunya alasan tempat ini layak dijaga. Ayahmu punya aturan Yakuza-nya, tapi keselamatan dan bahagiamu adalah hidup saya."
Yoona memejamkan mata sejenak, menikmati kehangatan telapak tangan Kakashi yang menyalurkan rasa aman luar biasa. Dinding es di hatinya hancur berkeping-keping setiap kali pria berusia 30 tahun ini memperlakukannya bagaikan hal paling berharga di dunia.
Yoona menyandarkan dahinya di dahi Kakashi, merasakan hembusan napas pria itu di wajahnya. "Janji jangan pernah tinggalkan aku, Kakashi."
"Di kehidupan ini, atau kehidupan mana pun setelahnya... saya tidak akan ke mana-mana, Nuna," jawab Kakashi tegas sebelum mengecup dahi Yoona dengan lembut dan lama.
...----------------...
Keesokan harinya di kediaman utama, keheningan rumah tradisional itu terpecah oleh suara langkah kaki yang santai dan siulan riang dari koridor depan. Shisui Uchiha datang mampir dengan setelan kemeja kasual yang rapi. Tangan kanan dan kirinya masing-masing menjinjing kotak bingkisan berukuran lumayan besar.
Sebagai abang favorit yang paling ramah dan peka, Shisui tahu betul cara menyenangkan dua adik bungsunya.
"Kulo nuwun! Ada orang di rumah?" seru Shisui hangat sambil melangkah ke teras kayu tempat Yoona dan Sasuke sedang berada.
Sasuke yang lagi asyik rebahan sambil main HP langsung menegakkan tubuhnya, sementara Yoona yang sedang membaca majalah fashion hanya melirik dingin lewat sudut matanya.
"Waktu kedatanganmu tepat, Kak Shisui," ujar Sasuke dengan cengiran lebar, matanya membolak-balik kotak di tangan Shisui. "Bawa oleh-oleh apa nih?"
Shisui terkekeh pelan. Dia melempar salah satu kotak ke arah Sasuke. "Nih, khusus buat lu. Limited edition cewek dewasa 21+ import langsung dari Jepang. Jangan dipakai buat hal aneh-aneh di kamar."
Mata Sasuke langsung berbinar gila. "ANJIR! Beneran seri yang ini?! Kak Shisui emang abang terbaik se-dunia!" serunya girang setengah mati sambil memeluk kotak figur itu erat-erat dan langsung ngacir masuk ke kamarnya buat unboxing.
Setelah Sasuke menghilang, Shisui duduk di sebelah Yoona dan menyerahkan kotak kedua yang terbungkus rapi. "Dan yang ini khusus buat putri Antartika-nya klan Uchiha."
Yoona berusaha mempertahankan raut wajah datarnya, tapi saat melihat judul anime langka yang tertera di kardus tersebut, matanya tak bisa berbohong. Ada binar bahagia yang terbit tipis di sana.
"Terima kasih, Kak," ucap Yoona pelan dengan nada suara yang jauh lebih lembut dibandingkan saat dia bicara pada Sasuke.
"Sama-sama, Nana," balas Shisui tersenyum hangat, mengacak rambut Yoona dengan penuh kasih sayang.
Beberapa saat kemudian, ketika Yoona kembali ke kamarnya untuk menyimpan figur baru dan Sasuke sibuk di kamarnya sendiri, Shisui memberi sinyal mata pada Kakashi. Tanpa suara, keduanya berjalan menuju lorong belakang yang sepi, dekat area taman dalam.
Aura ramah Shisui mendadak luntur, berganti menjadi raut wajah serius khas petinggi Uchiha.
"Ada pergerakan mencurigakan di area pelabuhan barat, Kakashi," bisik Shisui dengan nada rendah, menyandarkan punggungnya di pilar kayu. "Klan musuh mulai mencium ada hal besar yang disembunyikan keluarga kita. Mereka belum tahu identitas Nana, tapi mereka sadar Uchiha punya 'kartu truf'."
Kakashi berdiri tegap di balik bayangan, matanya menajam dingin. "Saya sudah membereskan beberapa penyusup kemarin lusa, Shisui. Tidak ada satu pun dari mereka yang lolos membawa informasi."
Shisui mengangguk pelan, menghela napas panjang. Dia menatap sahabat karibnya itu dengan tatapan dalam. "Gue percaya sama kemampuan lu. Tapi tetap jaga Nana ekstra ketat. Jangan sampai emosi atau ikatan pribadi lu bikin kewaspadaan lu goyah."
Kakashi hanya menyunggingkan senyum tipis di balik maskernya, suaranya tetap tenang dan tak tergoyahkan. "Naluri saya untuk melindunginya tidak pernah salah, Shisui. Nyawa saya jaminannya."
Usai bicara dengan Kakashi, Shisui melangkah menuju bagian paling dalam dan terisolasi di kediaman utama—ruang kerja khusus sang Ayah, pemimpin tertinggi klan Yakuza Uchiha.
Pintu kayu tebal tergeser pelan. Di dalam ruangan beraroma dupa kayu cendana yang remang-remang, sang ayah duduk di balik meja kayu jati kuno dengan aura intimidasi yang sangat pekat.
"Shisui," tegur sang ayah dengan suara beratnya yang berwibawa tanpa menoleh dari dokumen di mejanya.
"Pagi, Ayah," Shisui membungkuk hormat sebentar. "Saya cuma mampir menyapa sekaligus melaporkan audit berkala perusahaan legal klan bulan ini. Semuanya berjalan stabil di bawah kendali Itachi."
"Bagus," jawab sang ayah pendek.
Shisui menghentikan langkahnya di dekat pintu, terdiam sejenak sebelum memberanikan diri membuka suara. "Makan malam keluarga bulanan dan pertemuan petinggi klan akan diadakan minggu depan... Apakah kali ini Nana tetap tidak diizinkan hadir lagi?"
Suasana ruangan mendadak membeku. Sang ayah meletakkan penanya, mengangkat pandangan dan menatap Shisui dengan mata tajam yang dingin.
"Kamu tahu alasannya, Shisui," jawab sang ayah tanpa keraguan sedikit pun. "Keberadaan anak perempuan klan ini adalah takdir sekaligus kelemahan terbesar kita jika musuh mengetahuinya. Dia harus tetap tak tersentuh dan tak terlihat oleh dunia luar. Itu demi keselamatannya sendiri."
Shisui mengepalkan tangannya pelan di balik saku celana. Dia tahu keputusan ayahnya demi kebaikan klan dan keselamatan adiknya, tapi dia juga tahu betapa dalamnya luka di hati Yoona karena selalu merasa 'dibuang' dan diasingkan dari keluarga.
"Saya mengerti, Ayah," bisik Shisui pelan sebelum membungkuk hormat dan pamit mundur dari ruangan dingin tersebut.
...----------------...
Malam makin dingin di kediaman utama Uchiha di Tokyo. Aroma hujan gerimis beradu dengan wangi kayu cendana yang menyeruak dari dalam ruangan. Yoona masih berada di kamarnya, merapikan figur barunya bersama Kakashi yang masih berdiri setia di sampingnya.
Suara geseran pintu terdengar pelan. Kakashi refleks bergerak mundur setengah langkah, kembali ke mode pengawal resminya saat Shisui melangkah masuk usai menemui Ayah mereka.
"Belum tidur, Nana?" sapa Shisui dengan senyum hangat khasnya.
Yoona menoleh pelan dari meja kacamata cantiknya. "Belum, Kak. Ada apa?"
Shisui menghela napas tipis, matanya melirik Kakashi sebentar sebelum kembali menatap Yoona. "Minggu depan... makan malam bulanan klan dan pertemuan petinggi Yakuza bakal diadakan di restoran Kaiseki tradisional di daerah Ginza."
Atmosfer di dalam kamar langsung berubah membeku. Yoona tidak perlu bertanya lagi. Ekspresi wajah Shisui yang serba salah sudah cukup memberikan jawaban yang sama seperti bulan-bulan sebelumnya.
"Dan aku tidak diizinkan ikut lagi, kan?" potong Yoona dingin. Suaranya pelan, tapi sarat akan rasa sakit yang terpendam.
Shisui menunduk pelan, mengusap tengkuknya.
"Ayah cuma mau kamu aman, Nana. Situasi dengan klan musuh di Tokyo lagi agak tegang belakangan ini. Ayah nggak mau mengambil resiko ini, jadi keselamatan kamu lebih penting."
Yoona menyunggingkan senyum sinis yang mendinginkan suasana.
"Alasan yang sama setiap bulan. Aku dimanja dengan fasilitas, dibebaskan belanja apa saja di Ginza, tapi diasingkan bagaikan tidak pernah lahir di keluarga ini."
Shisui melangkah mendekat, mengusap bahu Yoona dengan penuh penyesalan. "Maaf ya, Nana. Tapi nanti Kak Shisui belikan pencuci mulut matcha favoritmu dari toko langganan di Kyoto sepulang dari sana, ya?"
Yoona hanya diam, menancapkan pandangannya ke luar jendela kamar yang memantulkan rintik hujan di atas taman batu Zen. Shisui akhirnya mengangguk pelan pada Kakashi, memberi isyarat agar Kakashi menenangkan adiknya, lalu pamit keluar dari kamar.
Begitu pintu geser tertutup rapat, Yoona mengepalkan tangannya di atas pangkuan. Kebekuan Antartika di wajahnya runtuh, berganti dengan kilatan emosi dan rasa terbuang.
Kakashi berlutut di samping Yoona. Tangan besarnya yang hangat melingkari kepalan tangan Yoona, mengusap jemari gadis itu dengan sangat lembut.
"Nuna..." bisik Kakashi dengan suara beratnya yang menenangkan.
"Sampai kapan aku harus bersembunyi di sini, Kakashi?" gumam Yoona pelan, menatap mata pria di depannya.
"Semua orang tahu Uchiha punya tiga putra berprestasi di Tokyo, tapi tidak ada yang tahu aku ada."
Kakashi membawa jemari Yoona ke bibirnya, mengecup punggung tangan gadis itu dengan dalam.
"Biarkan seluruh Tokyo dan dunia luar tidak mengenalmu, Nuna. Tapi selama saya masih bernapas, kamu adalah pusat dari seluruh dunia saya."
...----------------...
FYI : Cerita ini mengandung sedikit unsur kekerasan, adegan dewasa dan Age Gap (Cinta beda usia), bagi yang tidak suka boleh skip aja.
Cerita ini hanya fiksi belaka, tidak ada hubungan dengan tokoh atau organisasi manapun. Mohon bijak dalam membaca dan berikan komentar, saran, atau kritik yang sopan dan membangun. Arigatou Gozaimasu.