Ini menceritakan kisah seorang pemuda yang memiliki sembilan Akar Spiritual, yang dianggap sebagai sampah oleh dunia kultivasi. Namun, tanpa sengaja, ia justru dibimbing oleh dua sosok legendaris yang telah berdiri di puncak dunia kultivasi.
Membawa dua cincin warisan tersegel yang menyimpan kekayaan dari dua sekte besar, Shen Luo memulai perjalanannya di dunia kultivasi.
Di tengah perjalanan, ia harus terseret ke dalam perselisihan masa lalu kedua gurunya, berhadapan dengan seorang Iblis Suci yang mematikan, serta terikat dalam perjodohan dengan seorang Putri Es yang telah mencintai pria lain.
Dengan sembilan Akar Spiritual yang dianggap sebagai kelemahan, Shen Luo harus bertahan hidup dan mengungkap rahasia kekuatannya, hingga suatu hari segel kedua cincin warisan itu terbuka dan takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Pengasingan ke Puncak Hantu
Debu dari reruntuhan pintu batu perlahan tersapu angin gunung. Di tengah alun-alun yang masih sunyi, Shen Luo berdiri tanpa mengalami luka berarti.
Puluhan ribu pendaftar dan para tetua sekte menatapnya dengan wajah sulit percaya. Tidak ada aura dahsyat yang memancar dari tubuhnya, apalagi cahaya menyilaukan seperti yang biasa muncul dari para jenius.
Namun setelah menyaksikan apa yang baru saja terjadi di dalam Lorong Pedang Besi, tidak seorang pun berani memandangnya seperti sebelumnya.
Di atas panggung batu giok, wajah Tetua Kepala justru semakin muram.
Lorong Pedang Besi seharusnya menjadi ujian yang hanya mampu dilewati oleh murid-murid berbakat dengan tubuh dan kemauan yang luar biasa.
Namun pemuda yang baru saja dicap memiliki bakat terburuk itu berhasil melewatinya, bahkan menghancurkan pintu keluar dengan satu tendangan.
Bagi Tetua Kepala, hal tersebut bukan sekadar kerusakan pada pintu batu.
Itu adalah tamparan terhadap martabat Sekte Bintang Jatuh.
"Kau menghancurkan pintu sekte!"
Seorang tetua pengawas menunjuk Shen Luo dengan marah.
Shen Luo menoleh kepadanya dengan tenang.
"Aturan ujian hanya mengharuskan peserta bertahan hidup dan mencapai ujung lorong. Tidak ada aturan yang melarangku membuka jalan keluar sendiri."
Ia menatap para tetua di atas panggung.
"Atau apakah sekte ingin menghukum seseorang yang telah lulus ujian hanya karena caranya berbeda?"
Alun-alun kembali sunyi.
Para tetua saling berpandangan, tetapi tidak ada yang langsung menjawab.
Shen Luo benar.
Jika mereka menghukumnya setelah ia berhasil melewati Lorong Pedang Besi, Sekte Bintang Jatuh justru akan menjadi bahan tertawaan. Puluhan ribu orang telah menyaksikan ujian itu dengan mata kepala sendiri.
Tetua Kepala menarik napas panjang.
Ia tahu dirinya tidak bisa membunuh Shen Luo di tempat.
Kalau begitu, masih ada cara lain.
Ia akan membuat pemuda itu menyesal karena berani menantang otoritas sekte.
"Bagus. Sangat bagus."
Tetua Kepala akhirnya tersenyum dingin.
"Kau memang memiliki tubuh yang kuat. Namun jangan mengira kekuatan tubuh saja cukup untuk berdiri di Sekte Bintang Jatuh."
Ia mengangkat tangan dan menunjuk Monumen Giok Pengukur Takdir.
"Monumen itu sudah menunjukkan bakatmu. Sembilan Akar Spiritual."
Suaranya menggema ke seluruh alun-alun.
"Meridianmu terlalu terbagi. Dengan bakat seperti itu, kau akan kesulitan menyerap Qi spiritual dan menguasai teknik sekte. Menjadikanmu murid pelataran dalam hanya akan membuang sumber daya."
Bisikan segera terdengar dari kerumunan.
Beberapa pendaftar yang sebelumnya terpukau oleh kekuatan Shen Luo mulai kembali memandangnya dengan sinis.
Tetua Kepala melanjutkan,
"Karena itu, meskipun kau berhasil melewati ujian fisik, kau tidak akan menjadi murid pelataran dalam."
Ia mengibaskan lengan bajunya.
Sebuah token kayu hitam melayang ke arah Shen Luo.
Shen Luo menangkapnya dengan dua jari.
Dua aksara terukir jelas di permukaannya.
Tukang Sapu.
"Mulai hari ini, kau menjadi murid luar yang bertugas menjaga kebersihan."
Senyum tipis muncul di wajah Tetua Kepala.
"Kau akan ditempatkan di Puncak Hantu Kesunyian. Kau dilarang turun tanpa izin dan tidak akan menerima tunjangan batu spiritual."
Tatapannya menjadi dingin.
"Pergilah."
Begitu nama Puncak Hantu Kesunyian disebut, kerumunan langsung riuh.
"Puncak Hantu Kesunyian?"
"Bukankah itu gunung terlarang di perbatasan sekte?"
"Konon Niat Pedang liar di sana bisa merusak meridian. Murid yang pernah dihukum ke sana bahkan ada yang menjadi gila."
Beberapa orang mulai tertawa.
"Sepertinya Tetua Kepala ingin membunuhnya secara perlahan."
"Sembilan Akar memang pantas mendapat hukuman seperti itu."
Cemoohan terdengar dari berbagai arah.
Namun Shen Luo sama sekali tidak terganggu.
Ia menatap token hitam di tangannya, lalu mengingat kembali apa yang baru saja dikatakan Tetua Kepala.
Puncak Hantu Kesunyian.
Bagi murid lain, tempat itu mungkin tidak berbeda dari tempat pembuangan.
Namun bagi Shen Luo, justru ada sesuatu yang menarik.
Murid pelataran dalam harus selalu berada di bawah pengawasan para tetua. Kalau aku ditempatkan di sana, Qi Darah Iblis yang diajarkan Kakek Hitam mungkin akan lebih mudah diketahui.
Puncak Hantu Kesunyian berbeda.
Tidak ada murid. Tidak ada tetua. Tidak ada yang akan menggangguku.
Semakin dipikirkan, semakin cocok tempat itu baginya.
Shen Luo mengangkat kepala dan membungkuk ringan kepada Tetua Kepala.
"Terima kasih, Tetua."
Tetua Kepala sedikit tertegun.
Ia tidak menyangka Shen Luo akan menerimanya dengan begitu tenang.
Shen Luo tersenyum tipis.
"Aku akan menjaga gunung itu dengan baik."
Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan meninggalkan alun-alun.
Para pendaftar yang berada di jalurnya tanpa sadar menyingkir. Tidak seorang pun berani menghalangi langkahnya.
Perjalanan menuju Puncak Hantu Kesunyian memakan waktu setengah hari.
Semakin jauh Shen Luo berjalan, semakin sedikit bangunan sekte yang terlihat. Jalan batu giok perlahan berubah menjadi jalan tanah berbatu, sementara paviliun megah dan taman spiritual berangsur-angsur menghilang dari pandangan.
Udara pun menjadi semakin dingin.
Ketika akhirnya tiba di kaki gunung, Shen Luo mendongak.
Puncak Hantu Kesunyian tampak tandus dan kelam. Pohon-pohon pinus mati berdiri dengan ranting-ranting kering yang menyerupai cakar, sementara batu-batu di sepanjang lereng dipenuhi bekas tebasan yang dalam.
Angin melewati celah bebatuan dan menghasilkan suara panjang yang terdengar seperti ratapan pedang.
Shen Luo melihat sekeliling.
"Pantas saja tidak ada yang mau tinggal di sini."
Ia justru tersenyum kecil.
Lalu ia melangkah melewati batu penanda di kaki gunung.
Saat itulah suasana di sekitarnya berubah.
Tekanan tajam langsung menyapu tubuhnya, seolah ribuan bilah pedang menembus kulit dan meridian sekaligus.
Itulah sisa Niat Pedang yang telah mengendap di gunung selama bertahun-tahun.
Kultivator biasa mungkin akan kesulitan bertahan hanya dengan berdiri di tempat seperti ini.
Namun Shen Luo tidak mundur.
Sebuah hembusan angin tajam tiba-tiba melesat ke arahnya.
Wussh!
Shen Luo mengangkat tangan dan menahan tebasan itu dengan telapak tangannya.
Trak!
Niat Pedang pecah menjadi serpihan Qi yang kemudian menghilang di udara.
Shen Luo tidak langsung menurunkan tangannya.
Ia memejamkan mata dan merasakan sisa kekuatan yang baru saja menyentuh telapak tangannya. Semakin ia merasakannya, semakin akrab aura tersebut.
Perasaan itu...
Ia mengenalnya.
Niat Pedang ini memiliki sifat yang sama dengan kekuatan yang selama bertahun-tahun memenuhi tubuhnya ketika Kakek Putih membantunya menempa meridian.
Shen Luo perlahan membuka mata dan menatap puncak gunung.
Jadi selama ini, Puncak Hantu Kesunyian bukan sekadar tempat pembuangan.
Niat Pedang yang membuat para murid sekte ketakutan berasal dari seseorang yang sangat ia kenal.
Seseorang yang pernah menguasai gunung ini.
Sikong Jian.
Shen Luo menyentuh Cincin Bintang Suci di jarinya. Senyum tipis muncul di wajahnya.
Tetua Kepala mengira dirinya telah membuang Shen Luo ke tempat paling buruk di seluruh sekte.
Namun tanpa menyadarinya, ia justru mengirim Shen Luo kembali ke tempat yang pernah menjadi milik gurunya.
Shen Luo menatap puncak yang diselimuti awan.
"Aku pulang, Kakek Putih."
Setelah itu, ia mulai menaiki tangga batu menuju puncak.
Langkahnya tetap tenang.
Ia tidak tahu apa yang menantinya di sana, tetapi satu hal sudah pasti.
Puncak Hantu Kesunyian bukanlah akhir dari jalannya sebagai murid Sekte Bintang Jatuh.
Justru di tempat inilah, warisan gurunya mungkin akan membawanya memasuki jalan kultivasi yang sebenarnya.
Moga2 MC nya ga kegatelan ma cewek2, dan ga punya banyak bini /Facepalm//Facepalm/